Desember 08, 2010

hanya jika membuat kita lebih baik


Namira teman ku adalah sosok perempuan muda masa kini yang dinamis. Cantik. Langsing. Periang. Punya posisi bagus di tempat kerja. Populer. Dan punya banyak deretan pria-pria pengagum. Berbeda denganku yang cenderung introvert, dan malas berinteraksi dengan orang baru. Dua sifat yang sangat berbeda, ya? Rasanya tak percaya kami bisa bersahabat sekian lama.
Ummm. Maksudku, aku menanggap namira sahabat, karena kebetulan Cuma dia satu-satunya teman dekatku. Tapi rasanya, namira hanya menganggapku tempat sampah curhat saja. *miris*
Seperti hari ini misalnya. Setelah beberapa hari Namira tidak menujukkan batang hidungnya, tiba-tiba saja ia muncul pada jam makan siang di ruangan tempatku bekerja. Matanya sembab, rambut lurusnya yang biasanya sempurna dibiarkan kusut masai. Ia memakai sweater merahnya yang kedodoran. Celana senam hitam yang membalut tungkainya. Dan sepasang sandal rumah yang sudah buluk. Ia berkali-kali menyusut hidungnya.
Aku tidak heran dengan adatnya ini.
Pasti masalah viktor, cowoknya yang terakhir.
“elsa, aku putus dengan viktor. Hiks. Hiks. Hiks.”
Kannnn, apa kubilang.
3 bulan yang lalu ia juga tampak sangat menderita saat putus dengan ferdy.
5 bulan yang lalu ia hampir bunuh diri saat putus dengan aris.
Setahun yang lalu, ia bahkan sempat di rawat dirumah sakit karena kekurangan nutrisi saat putus dengan david.
Ipk-nya Cuma satu koma, waktu ia putus dengan andre menjelang ujian akhir semester saat kuliah dulu.
Makanya aku tidak terlalu histeris dengan keadaan namira.
“elsa, padahal kami sudah merancang surat undangan kami. Hiks.hiks.” katanya lagi.
What?
Bayangkan, baru pacaran 3 bulan dan sudah merancang surat undangan?
“huhuhu. Kami juga sudah akan menamai anak-anak kami kelak.”
Sumpah. Aku gak bisa menahan tawa.
“kok malah ketawa, si, els?” ia bertanya dengan sewot.
“lha kamu, baru pacaran 3 bulan kok udah rencana macem-macem. “
“karena aku bosan menjadi lajang, els. Aku ingin cepat-cepat menikah. Aku sudah 27. Pacaran membuatku menderita di akhir periode. Aku ingin bahagia, mempunyai keluarga kecil yang harmonis. Happily ever afterlah pokoknya.”
Ia mengambil tissue di meja kerjaku dan mengusap wajahnya setelah mengatakan itu.
“tapi viktor itu pemboros. metroseksual”
Yeah, namira mengeluhkan ini di awal jadian. Padahal tadinya ia mengharapkan pria yang menjaga penampilan.
“ia kurang suka anak-anak. “
Namira juga mengeluhkan ini paska ia pergi ke pesta ulang tahun ponakannya mengajak viktor.
“matanya suka jelalatan kemana-mana”
Ini juga pernah dikeluhkan. Sebentar lagi ia akan menyebutkan sederet sifat buruk viktor.
“pecemburu, suka omong besar, tidak suka makan yang pedes-pedes, dan blablablabla”
Nahhhh, kan……
Ajaib, ya? Bagaimana bisa cinta tiba-tiba berubah menjadi seperti ini.
Aku menyingkirkan nota-nota penjualan ke pinggir meja, dan menatap namira.
“Nam, inget gak, saat kita sama-sama masih jomblo?” tanyaku.
Namira berhenti terisak, dan menatap langit-langit kantorku.
“inget pergi ke parang tritis? Jalan-jalan wisata kuliner di demangan? Gila-gilaan di foto box?” kataku lagi.
Namira tersenyum.
“ya ingatlah. Nonton dvd gokil di rumahku sampe mamah marah karena kita cekikikan terus? Jalan-jalan ke Surabaya, trus menggembel di Bandung. Aduhhh, inget, deh. Happy-happy pokoknya,”
“menurutmu, lebih bahagia mana menjadi lajang atau menjalin hubungan?”
Namira diam.
“Menurutku, Nam, kalo menjadi single saja kita sudah bahagia, seharusnya kita hanya menjalin hubungan kalo hubungan itu bisa menambah kebahagiaan kita, membuat kita semakin kuat, membuat kita lebih hebat, lebih baik. lain dari itu, ya tinggalkan saja. Bukankah menjadi lajang saja kita sudah cukup bahagia?”
Aku mengendikan bahuku. Menatap Namira yang masih terdiam. Bukankah happily ever after hanya akan kita dapatkan dengan orang yang tepat? Bukan terpaksa ditepat-tepatkan?

November 25, 2010

mencontek dan korupsi

subuh hari beberapa bulan yang lalu, teman saya sejak smp, siti salamah p.a, bercerita tentang beratnya menjadi guru jaman sekarang. suatu hari ia terpaksa merobek pekerjaan 2 siswanya karena ketahuan men-contek di depan matanya. waktu saya tanya apa ia tidak takut nanti akan dicap menjadi guru killer, ia menjawab tidak takut. ia bilang, 2 siswanya itu sudah keterlaluan. ia ingin siswanya menghargai keberadaannya sebagai guru. waktu saya bilang, biarlah sekali dua kali siswa nyontek. orang kan perlu melakukan sedikit kebohongan untuk menghargai arti kejujuran. *tsaaahhhh* tapi teman baik saya itu berkeras bahwa kebohongan kecil, lama-lama membuat orang terbiasa dan tidak peka lagi. lalu meluncurlah kalimat sakti dari mulutnya:


"nyontek itu membentuk karakter koruptor, mek."



saya diam-diam seperti di pukul kayu. karena jaman sekolah dulu, saya tukang nyontek. hehe. contekan di kertas kecil itu layaknya jimat bagi saya. sampai-sampai saya dan teman-teman membuat guyonan bahwa kami gak akan pede masuk ke ruang ujian tanpa bekal contekan. :D

dan benarlah seperti itu kejadiannya. saya memang belajar keras di rumah, sampai saya selalu minta dibangunkan subuh-subuh oleh mbah simak agar bisa belajar dulu sebelum ujian. tapi teteeep saja saya selalu 'sangu' contekan si kantung baju saya. sedia payung sebelum hujan, pikir saya.

sampai suatu ketika saya benar-benar ketahuan mencontek. sampai di jewer bu guru segala. sejak itu saya tidak pernah mencontek lagi. sampai saya lulus sekolah di Jogjapun, saya tidak mencontek. (meski kalo benar-benar blank, saya terpaksa meminta jawaban pada teman yang mencontek. hehe)

untunglah sekarang saya tidak (belum, semoga tidak) menjadi koruptor. saya curiga mungkin koruptor-koruptor itu tadinya adalah pencontek-pencontek di sekolahnya. :D



mungkin benar berat menjadi guru, seperti teman saya itu. kadang sedih juga kalo melihat karakter guru yang tidak pada tempatnya. sering mangkir dari pekerjaannya, memaki-maki di kelas, marah sampai memukul siswa, mencabuli siswanya sendiri, pilih kasih, menjual soal ujian, memanfaatkan siswanya untuk ikut les ini itu yang ujung2nya untuk menambah tebal kantongnya sendiri, dan sebagainya. tapi saya percaya akan selalu ada orang-orang baik yang ditakdirkan menjadi guru yang bertanggung jawab, peduli dan memikirkan karakter yang mungkin terbentuk pada murid-muridnya atas pengajarannya.



selamat hari guru, siti. dan seluruh guru di Indonesia.

November 21, 2010

ceritakan padaku sebuah kisah

"ceritakan padaku sebuah kisah" pinta anak kecil kepada wanita muda cantik jelita pada hari minggu jam delapan pagi. wanita muda yang tak lain ibunya itu menghentikan sapuan bedak di wajahnya, tersenyum, dan menggandeng si bocah kecil ke ruang tengah dimana televisi besar berada. ia menyalakan televisi, dan mencarikan film-film kartun minggu pagi untuk anaknya,

"kisah ini yang kau maksud, kan, sayang?" katanya pada si kecil.

dan ia melanjutkan kegiatan berdandannya. suaminya sudah menunggu untuk pergi kondangan ke seorang kolega.



***

"ceritakan padaku sebuah kisah" pinta anak kecil kepada wanita muda cantik jelita pada jam empat sore di hari minggu. wanita muda yang tak lain ibunya itu menghentikan obrolan di telphon dengan seorang sahabatnya, ia tersenyum, dan mengambilkan sebuah buku cerita anak untuk anaknya.

"kau sudah pintar membaca, kan, sayang? baca sendiri, ya." katanya pada si kecil.

dan ia melanjutkan obrolan di telpon genggamnya lagi.

"sampai mana tadi, ya, jeng?" tanyanya pada benda bernama telphon itu.



***

"ceritakan padaku sebuah kisah" pinta anak kecil pada seorang eksekutif muda yang baru saja pulang main tenis pada jam delapan malam di hari minggu.

eksekutif muda yang tak lain ayahnya itu tersenyum, meletakkan peralatan tennisnya, membuka tasnya, dan mengeluarkan keping vcd bergambar robot.

"minta mama menyetelnya untukmu, ya, sayang." katanya pada si kecil.

ia menyerahkan vcd pada anaknya, mencium pipi anaknya, dan cepat-cepat ke kamar mandi. harus segera mandi, pikirnya, bahan untuk presentasi di kantor esok pagi harus selesai malam ini.



***



ibu guru muda membaca tulisan murid-murid kecilnya. hari sabtu kemarin, di pelajaran bahasa Indonesia, ibu guru memberi tugas murid-muridnya untuk meminta orang tua mereka bercerita atau mendongeng, kemudian menuliskannya di kertas. ibu guru muda ingin anak didiknya mendengar cerita atau dongeng dari orang tuanya. ibu guru muda tertegun membaca tulisan anak kecil.



"ceritakan padaku sebuah kisah" kataku pada mama. lalu mama menyetelkan tivi untukku. lalu mama memberiku buku cerita untuk kubaca sendiri.

"ceritakan padaku sebuah kisah" kataku pada papa. lalu papa memberiku vcd cerita robot.

sepertinya mama dan papa tidak punya cerita apa-apa untuku, buguru.







sudah kau ceritakan sebuah kisah untuk anakmu, malam ini?

November 14, 2010

ikuti suara hati

Saya termasuk orang yang punya khayalan sangat tinggi. Dipicu oleh sedikit hal saja, imajinasi liar saya bisa ndladrah kemana-mana. misalnya, beri saya gambar kue dengan coklat yang berleleran, maka saya akan membayangkan bahwa kue itu adalah kue bikinan saya sendiri, di buat di dapur elegannya si beib di global tivi, badan saya seksi seperti farah quinn yang memasak dengan lihai dan penuh gaya, di tunggui suami dan anak-anak saya yang imut-imut, di sebuah rumah mungil nan asri. bla-bla-bla. nah, kan, jadi ngelantur.

pokoknya jadi seperti itulah. kadang-kadang saya juga membayangkan hal-hal yang mengerikan. misalnya ketika saya naik motor sendirian di malam hari, saya membayangkan ada seorang psikopat naik mio putih menebas leher saya, lalu saya terjatuh dari motor dan tiba-tiba ada truk besar yang melidas tubuh saya, lalu tubuh saya remuk-remuk, tidak ada seorangpun yang akan mengenali jasad saya...

hiyyyy. ngeriiii.....

seperti pagi tadi. Pulang dari tempat kerja, seperti biasa, saya menaiki jembatan layang janti, terus keselatan, memilih jalur roda dua, terus menuju perempatan blok o. kira-kira kurang 200 meteran dari perempatan blok o, saya berpapasan dengan seorang bapak yang menuntun sepeda tua, sarat dengan barang-barang rongsokan. di belakangnya, berjalan terponta-pontal seorang ibu kurus -mungkin istrinya- mengikuti dari belakang sambil sesekali mengambil barang dari jalan. pemandangan yang biasa, sebenarnya. tetapi menjadi tidak biasa, karena sambil lalu, saya merasa seperti melihat lengan kurus menyembul dari keranjangnya yang penuh barang tetek bengek.

Saya berusaha tidak mempedulikannya. jalan terus, ka. kata saya.

tapi tidak. saya tidak bisa mengalihkan pikiran saya dari lengan kurus yang menyembul dari keranjang rongsok si bapak. pikiran saya mengembara kemana-mana.

mungkinkah bapak itu seorang pembunuh yang sedang berusaha membuang korbannya?

bagaimana kalo bapak itu adalah korban meletusnya gunung merapi yang sedang mencari pertolongan. ia membawa saudaranya yang telah mati menuju gedung Jogja Expo Center yang dijadikan barak pengungsian untuk memminta bantuan.

atau, bisa saja bapak itu membawa anaknya berobat ke rumah sakit di pojokan perempatan blok o. anaknya terkena demam berdarah akut, si bapak sudah meminta bantuan kemana-mana tapi tak ada yang mau menolongnya, sehingga anaknya ia angkut sendiri dengan sepedanya. bagaimana jika terlambat? bagaimana jika anaknya mati di dalam keranjangnya?

pikiran saya melayang-layang tidak karuan. saya merasa harus berbalik dan melihat apa yang ada di balik keranjang si bapak. rasanya seperti, ummmm, kebelet pipis sangat. rasanya kau harus cepat-cepat kembali kekamar mandi kalo tidak mau ngompol di celana. seperti itu.

sampai akhirnya, setelah perempatan blok o, di depan pom bensin, saya memutuskan untuk berbalik.

saya tidak tau apa yang akan saya lakukan.

tapi saya benar-benar perlu berbalik untuk melihat apa sebenarnya itu.

seandainya si bapak benar-benar pembunuh, mungkin saya bisa menyelamatkan barang buktinya,

seandainya si bapak benar korban erupsi merapi, saya bisa membatu mempercepat jalannya menuju JEC.

seandainya si bapak benar membawa anaknya yang terserang demam berdarah, saya bisa membantunya cepat-cepat ke rumah sakit.

apa saya yang saya bisa.



saya cepat-cepat memacu motor saya agar tidak tertinggal.

dari jauh saya bisa melihat bapak itu masih menuntun sepedanya.

saya menjajari sepedanya.

dan, duh Gusti Allah, ternyata lengan kurus yang saya lihat dari keranjangnya adalah lengan kurus kecoklatan seorang bocah perempuan kecil. tadinya ia ada di dalam keranjang sehingga yang terlihat hanya lengannya. sekarang ia nangkring di atas tumbukan barang-barang bekas, sehingga terlihat seluruh tubuhnya, dan kuncir dari rambut kemerahannya. dan mukanya yang cemat-cemot, dan bajunya yang lusuh.

tidak ada pembunuhan.

tidak ada korban erupsi merapi.

tidak ada anak yang terkena demam berdarah.

semua itu hanya khayalan saya semata.

ini hanya keluarga pemulung yang pergi mencari barang rongsok.

khayalan ngawur saya memang keterlaluan.

tapi saya lega.

dengan kikuk, akhirnya saya menyapa si bapak dan menyerahkan nasi ayam goreng jatah sarapan saya yang saya bawa dari tempat kerja. ayam goreng dengan potongan paling besar. saya memesan pada teman saya yang bertugas di dapur untuk menyisihkannya. saya perlu yang paling besar, karena sampe rumah, saya akan membaginya dengan adik saya.

Tapi saya dan eneng kan sudah sering makan ayam goreng. saya tau bagaimana rasanya memakan ayam goreng setahun sekali pas lebaran saja. saya tau, saya pasti akan gembira sekali bila saya dalam posisi si anak kecil berlengan kurus itu.

seperti kata teman saya, memberi itu membuat lebih banyak orang berbahagia. orang yang diberi berbahagia, dan kita akan jauh lebih bahagia lagi. sesuatu yang kecil, bisa saja menjadi sesuatu yang berarti bagi orang lain.



saya juga berpesan kepada si bapak, kapan waktu lewat gedong kuning, supaya mampir ke gang di kos saya. saya mengumpulkan banyak botol bekas minuman dan kresek-kresek yang tidak terpakai. siapa tau bermanfaat.

jadi, ka, ngapain nulis seperti ini? mau pamer?

enggak juga. cuman kek gini aja kok dipamerkan. malu, ah.

hanya saja, sering kali kita tidak mengikuti suara hati. ada apa-apa di jalan, lewat aja dengan cueknya. hati sudah berteriak-teriak untuk berbalik, tapi kita berfikir, ah, biarin aja, toh nanti ada orang lain.

bagaimana jika semua orang berfikir seperti ini?

ikuti suara hati. ikuti rasa penasaran. siapa tau kita bermanfaat. bukankah sebaik-baiknya manusia, adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain?



*apaaaaaannnn, si, ka*

November 10, 2010

pulang

sandy tupai memandang crusty krab yang penuh daging panggang dan bacon dg sedih. airmata memenuhi seluruh helm kedap airnya. ia berkata pada spongebob, "rumah itu tidak sekedar daging panggang & bacon, spongebob. rumah adalah tempat dimana kau dikelilingi orang2 yang menyayangimu"

spongbob squarepants-episode a slice of texas





Sepulang dari stadion maguwoharjo jum'at pagi itu, tiba2 saya berfikir tentang pulang. pulang adalah hal yg paling dinanti setiap orang diakhir aktivitasnya. dari bekerja, sekolah, jalan-jalan, bertamasya, belanja. setiap orang pasti ingin pulang. tapi, bagaimana jika kau tak bisa pulang? bagaimana jika pulang menjadi kegiatan yg paling berbahaya dalam hidupmu?



melihat pengungsi-pengungsi lansia, tua muda, balita yang berjajar-jajar di stadion pagi itu, tiba-tiba saya menjadi mual memikirkan bilamanakah mereka pulang nanti. tua. lemah. lelah. tertatih-tatih. terluka hati dan badan. sekujur tubuh tertutup abu. mata merah. kehilangan segalanya. dan tak bisa pulang ke rumah. bukankah tak ada tempat seindah rumah? sedih rasanya melihat ini smua tapi saya tak bisa berbuat banyak.



betapa gunung yang terlihat cantik seperti lukisan dilangit setiap kali saya berangkat kerja itu tiba-tiba menjadi monster yang menakutkan. menghantam semuanya, sehingga orang-orang tak bisa pulang. mengeluarkan muatannya sampai penduduk yang menganggapnya sahabat selama ini harus menjauh. membiarkan ia marah sendirian.



rasanya tak ada artinya tangan yang kepanasan dan ngapal karena membungkus beratus-ratus bungkus nasi. didiamkan beberapa jam juga sudah sembuh. rasanya tak ada artinya abu tipis yang menyelimuti jalanan dpn tempat kerja. toh disiram air juga sudah hilang. rasanya tak ada artinya abu vulkanik yang berterbangan dijalanan itu, pake masker juga sudah tidak terasa. rasanya tak ada artinya bekerja marathon sepanjang hari itu. toh, setelahnya saya bisa istirahat di kos-kosan. setidaknya saya punya tempat untuk pulang. rasanya sungguh memalukan kalo mengeluh untuk hal-hal seremeh ini.



dan disinilah saya. pulang. berbaring di kos-kosan saya yang sederhana dan nyaman. bersukur untuk segalanya yang sudah saya miliki dan saya lakukan. membayangkan betapa saudara-saudara saya tak mungkin bisa senyaman ini. kadang-kadang saya merasa kenyamanan saya dirumah sungguh tidak adil dan tidak pada tempatnya. tapi mungkin Tuhan sengaja membuat sebagian berlebih agar bisa membantu yang kurang. bukankah selalu ada hikmah dari setiap kejadian?



banyak sekali tempat untuk menyalurkan bantuan. mari berbagi. yang sedikit bagi kita, mungkin sangat berarti bagi mereka.

November 09, 2010

bahagia yang sederhana

kebahagiaan tidak selalu di dapatkan karena hal-hal besar. kadang-kadang, hal-hal kecil yang sederhana pun bisa membuatmu bahagia.

seperti sore berhujan ini. saat kau julurkan tanganmu dari jendela, dan kau biarkan ia bersentuhan dengan hujan yang turun gemericik. kau tahu semuanya akan baik-baik saja, dan kau akan bahagia.

sesederhana itu.

atau saat sore berhujan ini kau longokkan kepalamu dari pintu, dan melihat daun-daun bergoyang mengikuti iraman angin. tiba-tiba saja hatimu hangat, dan kau menjadi bahagia.

sepertinya kebahagiaan jatuh dari langit begitu saja.

seperti sinar matahari.

atau seperti hujan.

Oktober 20, 2010

surat untuk anakku


Selamat sore, sayang, ini mama. Menjengukmu dari jendela kamar kontrakan mama. Maafkan mama meninggalkanmu sendirian di bawah sana, nak. Maafkan mama yang telah membuatmu tiada sebelum kamu benar-benar ada didunia, nak. Maafkan mama.

Banyak alasan kenapa mama melakukannya, anakku. sungguh bukan karena mama menbencimu. mama sungguh mencintaimu, itulah kenapa mama tak mau ada hal-hal buruk yang menimpamu kalau kau ada.

Mama tidak mau melihatmu seperti Santhy anak tante Imel itu, sayang. Kamu tahu, setiap pulang sekolah, shanty selalu diejek teman-temannya. Dikatain anak pelacur, anak haram, anak singkong. Sampe tante imel harus repot-repot mencarikan shanty sekolah yang agak jauh supaya tidak dihina teman-temannya. Kalau kau mau tau, nak. Mama tidak mau membuatmu seperti itu.

Ada lagi, nak, yang membuat mama terpaksa menghilangkanmu didunia. Mama takut suatu hari nanti kamu bertanya siapa nama bapakmu. Karena mama benar-benar tidak tau. Mama lupa waktu itu mama melakukannya dengan siapa. Terlalu banyak orang yang bisa jadi dia adalah bapakmu. Bisa karto, Richard, sony, suryo, aduh, nak. Mama bahkan tak ingat satu-persatu. Mama tak bisa menyalahkan salah satu dari mereka dan meminta pertanggungjawaban untuk menjadi bapakmu, nak. Tidak bisa. Karena mereka konsumen. Mama saja yang bodoh karena lupa menenggak pil-pil ajaib.

Mama tidak mau, setelah kamu dilahirkan, tinggal bersama mama disini, lalu kamu mengikuti jejak hitam mama seperti ini. Kamu tau tante lina? Iya, tante lina yang masih 16 tahun itu. Yang anaknya tante Sonia. Dia akhirnya jadi pelacur juga mengikuti jejak ibunya. Karena mama sangat mencintaimu, sayang, maka mama tak rela hal itu menimpamu. Biarlah mama saja yang menjadi rusak di keluarga kita.

Jangan iri pada frida, kakakmu. Ia ada jauh sebelum mama ada disini. Bapak kakakmu frida meninggalkan mama begitu saja untuk merantau dikota, dan tak pernah kembali. Mama waktu itu masih muda sekali, sayang, kebutuhan terus meningkat, dan nenek-kakekmu yang sudah tua tak mungkin bisa memenuhi kebutuhan mama dan kak frida. Jadi mama pergi ke kota, nak, mencari bapak kak frida, tanpa bekal keterampilan apapun. Tapi sampai sekarang, mama tak pernah bertemu juga dengan laki-laki brengsek itu. Mama sudah bekerja di mana-mana. Mejadi pembantu, penjaga warung kopi, tukang sapu. Tapi tak satupun dari pekerjaan itu yang mampu menutup kebutuhan hidup. Mama harus membiayai hidup mama disini, dan mengirim uang untuk nenek, kakek dan kak frida. Semakin hari, semakin banyak saja kebutuhan di kampung, nak. Penghasilan mama yang tidak seberapa tak cukup untuk menutupinya.

Sampai kemudian mama bertemu tante imel. Dan disinilah sampe sekarang mama berada. Tak perlu keterampilan khusus. Mama hanya perlu berdandan, minum pil, dan terlentang. Kemudian berlembar-lembar uang akan memenuhi dompet mama. Mama bisa mengirim uang ke kampung, dan kebutuhan mama terpenuhi. Lebih dari cukup malahan.

Tapi kalau kau mau tahu, nak. Sebenarnya mama muak dengan pekerjaan ini.

Pekerjaan ini begitu penuh resiko, nak. Harus sembunyi-bunyi agar tidak ketahuan aparat, atau bapak-bapak berpeci itu, nak. Juga penyakit-penyakit kelamin yang mengancam setiap saat.

Siapa yang mau bekerja sebagai pelacur, coba? Siapa mau bekerja pada pekerjaan yang tak bisa kau tulis di ktp, di kartu puskesmas, dan tak bisa kau sebutkan saat orang bertanya apa pekerjaanmu. Siapa yang mau bekerja pada pekerjaan yang dilaknat orang-orang?

Tapi siapa yang bisa lari dari segala kebutuhan hidup? Orang yang menhujat mama tak ada satupun yang mau menanggung hidup mama, kak frida, nenek dan kakek. Mereka hanya pintar bicara dosa dan neraka.

Kalo saja mereka bisa berfikir, nak. Mama lebih takut kelaparan dan tak bisa mengirim uang ke kampung dari pada dosa. Tuhan tidak memberi kita uang cash, nak.

Maafkan mama, nak. Terpaksa memutus rantai kehidupanmu bahkan sebelum wajahmu terbentuk sempurna. Mama bahkan belum tau apa kelaminmu, nak. Kau tau, bertahun-tahun terkahir ini, benda bernama sama milik mama itu menjadi begitu penting.

Maafkan mama harus menempatkanmu di bawah jendela kamar mama, berkalang tanah. mama sengaja menanam mawar di atasmu. Semoga akar-akar mawar itu tidak menyakitimu, sayang. Mama hanya ingin selalu dekat denganmu. Mama ingin mawar-mawar yang mengandung saripati-mu itu mengharumkan kamar mama setiap hari.

Anakku yang tak pernah ada, maafkan mama.


::perempuan berpaling ke kaca rias di samping jendela, mengoleskan lipstick warna merah, membedaki hidungnya, menebalkan blush-on dipipinya, menyemprotkan parfum ke tubuhnya, dan meraih gadget dari atas meja rias.

From: imel

08547682XXX

Hotel arjuna. Kamar 215. Jam 17.30. direktur bank, puas-puasin, ya ,

Oktober 19, 2010

kematian pawang hujan

Sudah seminggu ini, sasmito setyo pawiro, bapakku, meniggal dunia. Kuburannya masih merah dan basah. Pertama karena hujan tidak berhenti turun berhari-hari ini, dan kedua, karena setiap hari, sebelum maghrib, aku dan ibu selalu datang ke kuburan bapak untuk menyiramkan air bercampur kembang telon dan daun dadap srep yang sudah di bacakan surat yaasin oleh pak kaum setiap selesai tahlilan sego gebing seminggu ini. Pipi kami juga basah. Tak kuasa menahan tangis setelah ditinggal bapak.
Bapak meninggal karena tersambar petir minggu lalu. Kalo biasanya orang meninggal karena tidak sengaja tersambar petir, maka bapak sengaja memberikan tubuhnya untuk disambar petir. Bapakku seorang pawang hujan. Namanya cukup terkenal di imogiri, Jogjakarta dan sekitarnya. Kadang-kadang, beberapa orang dari Surakarta dan klaten juga jauh-jauh datang kerumah kami untuk meminjam jasa bapak sebagai pawang hujan. Bapak juga pernah di panggil pihak keraton jogja saat pawang hujan keraton sakit, padahal mereka sedang menyelenggarakan hajatan besar. Tapi sejak setahun ini bapak menghentikan profesinya sebagai pawang hujan. Beliau prihatin dengan cuaca yang tak menentu, dan menyalahkan dirinya atas kekacauan cuaca ini. Setahun terakhir bapak lebih sering mencangklung di depan jendela rumah joglo kami sambil memandangi hujan yang datang tidak sesuai musimnya.
Bapak meninggal di usia 64 tahun. Di usianya yang ke 32, beliau menikahi ibuku yang masih muda belia. Baru di ulang tahun pernikahannya yang ke 12 ibu melahirkan aku. Pada hari kelahiranku itulah untuk pertama kalinya bapak memperoleh ilmu menyingkirkan hujan. Menurut cerita bapak, dihari kelahiranku waktu itu, cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras seperti ditumpahkan dari langit, petir menyambar-nyambar, sementara air ketuban ibu sudah pecah. Bapak kebingungan karena rumah kami yang di perbukitan imogiri jauh dari rumah bidan. Akhirnya, sebisanya bapak menyiapkan uba rampe seadanya dan memohon kepada yang maha kuasa untuk menghentikan hujan agar ia bisa membawa ibu ke rumah bidan. Dan ajaib. Hujan tiba-tiba berhenti. Bapak segera membawa ibu ke bidan untuk melahirkan aku.
Sejak saat itulah bapak menjadi terkenal sebagai pawang hujan. Kemampuan yang kemudian menjadi anugrah bagi kami sekeluarga. Bagaimana tidak, bapak yang tadinya hanya buruh tani miskin yang mengerjakan sawah milik orang lain, tiba-tiba menjadi buah bibir dimana-mana dan sering kedatangan tamu priyayi-priyayi bermobil yang membutuhkan jasa pawang hujan. Bahkan bapak terikat kontrak dengan salah satu penyelenggara event organizer yang cukup terkenal di Yogyakarta.
Bapak menganggap kelahiranku sebagai berkah kehidupannya. Aku sering diajak saat bapak harus bertugas menyingkirkan hujan di lokasi hajatan. Biasanya kami dijemput dengan mobil oleh orang yang menyelenggarakan hajatan itu . kami membawa ubarampe yang sudah di persiapkan ibu sebelumnya. Ubo rampe itu adalah setakir pasir khusus dari Laut Kidul, setakir tanah, setakir telur ayam kampung digoreng ceplok, setakir telur ayam kampung mentah, setakir kacang hijau, dupa kemenyan madu, kembang liman serta uang seribu rupiah yang disandingkan dengan untaian sapu lidi yang pada ujungnya diikatkan cabai merah, bawang merah dan bawang putih sebanyak 25 biji. Khusus untuk bawang putih dengan cabai merah hanya disediakan empat buah guna dipasang disetiap sudut area hajatan setelah usai dibacakan mantera .
Untuk melaksanakan ritual itu bapak harus bersuci terlebih dahulu dengan cara mandi junub, membasahi seluruh tubuhnya dengan mandi keramas. Setelah itu baru menyiapkan uba rampe yang sudah disiapkan ibu untuk caos dahar terhadap danyang penguasa gaib daerah yang akan diusahakan agar hujan tak jadi turun. Untuk cabai merah dan bawang merah yang ditancapkan pada ujung sapu lidi yang baru dan belum pernah dipakai untuk menyapu sengaja dipasang terbalik sebagai penolak. Setelah semua sesaji sudah disipakan di halaman lokasi, japa mantera segera dirapalkan. Usai merapalkan japa mantera dan doa-doa,bapak akan memindahkan uba rampe ke tempat lain yang tidak mengganggu tamu, dengan posisi sapu tetap tegak. Saking seringnya ikut bapak mawang hujan, aku menjadi hafal ritual bapak. Yang aku tidak tau hanyalah mantra-mantra yang dikomat-kamitkan bapak.
Sampai-sampai, orang sering meledekku karena sering ikut bapak,
“tyas besok kalo udah gede juga mau jadi pawang hujan, ya? Kok ikut bapak terus?”
Saat digoda seperti itu, aku biasanya melendot di jarik batik motif parang rusak yang harus dipakai bapak bersama beskapnya. Bapak tersenyum dan menyahut,
“ya ndak, Pakdhe, tyas besok kalo sudah besar mau jadi dokter. Biar bapaknya saja yang jadi pawang hujan. Katanya sambil terkekeh, dan menepuk-nepuk kepalaku.
Setelah agak besar, aku mulai jarang ikut bapak. Kadang-kadang saja. Saat aku sedang libur sekolah atau saat aku sedang mau saja. Aku lebih sering ikut ibu berjualan kelontong di pasar imogiri. Lebih nyaman. Aku bisa duduk sambil belajar di kios ibu daripada harus nginthil bapak memasang lidi di empat penjuru mata angin. Bapak membelikan kios di pasar imogiri untuk ibu sejak ia sering pergi untuk memawang hujan kemana-mana. Selain untuk menambah pendapatan, juga sebagai kegiatan tambahan untuk ibu, agar ibu tidak nglangut sendirian dirumah saat beliau pergi. Dan setahun terakhir ini, pendapatan dari kios kelontong benar-benar membantu setelah bapak tidak praktek lagi.
Setahun belakangan ini benar-benar aneh rasanya. Bapak yang kupikir sangat menikmati pekerjaannya, tiba-tiba membatalkan semua janji mawang hujan di beberapa tempat. Bapak juga memutuskan kontrak dengan event organizer di Yogyakarta. bapak menjadi lebih sering termenung di depan jendela. Memandangi jalanan yang becek di depan rumah. Kadang bapak juga pergi kesawah, melihat dengan sedih tanaman tomat dan bawang merah yang rusak karena terendam air. Setahun ini memang hujan turun nyaris setiap hari, selalu dengan petir yang menyambar-nyambar. Jalanan-jalanan terendam air. Beberapa daerah malah banjir.
Bapaklah orang yang selalu ada di depan tivi setiap jam 4 sore. Membawa cangkir seng hijau dan rokok lintingan sendiri, menonton berita daerah, yang di dominasi berita banjir dimana-mana. Wajahnya selalu menjadi pias dan memerah tiap disebutkan daerah yang terkena bencana banjir. Kalau aku sedang ada di sebelahnya, ia lantas bertanya,
“nduk tyas, sepertinya kita pernah mawang hujan ke daerah ini, ya?”
Dan selalu. Wajahnya selalu khawatir.
Sudah kejelaskan padanya, bahwa hujan yang turun tidak di musimnya ini kemungkinan karena pengaruh la nina, yang muncul karena efek adanya pemanasan global. Tapi bapak berkeras. Ia merasa hujan yang tak menentu ini sebagian besar karena pratek tolak hujannya.
“sesuatu yang ditahan-tahan itu, ya, nduk, suatu saat akan meledak . mungkin hujan yang tidak berhenti-berhenti setahun ini karena selama 19 tahun ditahan-tahan untuk tidak keluar. Nah, sekarang, waktunya keluar. Gusti mesti marah besar iki.” Kata bapak dengan wajah penuh penyesalan.
Kasihan bapak. Setahun ini, ia jarang tidur. Gelisah terus setiap hari. Ibu bahkan terpaksa menutup kiosnya beberapa hari untuk menemani bapak. Ibu takut terjadi sesuatu dengan bapak. Firasatnya tidak enak.
“Duh gusti, seandainya hamba boleh memilih, lebih baik hamba menjadi miskin seperti dulu daripada kelinuhian hamba malah menyebabkan kekacauan semacam ini.” Suatu malam aku mendengar tangis bapak dari kamarnya.
Ibu berkali-kali menenangkan bapak, dan berkata bahwa semua ini bukan salahnya.
“bumi makin tua, pakne. Hujan salah musim itu bukan salahnya pawang hujan. Memang Gusti yang menakdirkan demikian.”
Dan bapak ku yang tinggi besar meski telah berumur itu, tetap sesenggukan di pelukan ibuku.
***
Sore itu masih sangat jelas di kepalaku. Hujan seperti hari-hari sebelumnya turun dengan deras sekali. Aku dan ibu tidak pergi membuka kios kami di pasar imogiri. Kami dirumah saja. Menanti hujan reda. Bapak berjalan hilir mudik tak sabar. Sudah jam 4 sore dan listrik tidak menyala juga. Bapak perlu sekali menonton siaran berita daerah dari tvri jogja. Bapak merasa perlu sekali tau daerah mana lagi yang terkena musibah banjir. Ia sudah gelisah sepanjang hari.
Aku duduk dilantai menemani ibu memarut kelapa. Ibu sesekali berkata pada bapak agar tenang saja, semua bukan salahnya.
Tapi bapak mana bisa tenang. Berkali-kali ia meyingkap gorden untuk melihat hujan. Bahkan beliau sekarang mulai membuka pintu depan.
“mau kemana, pak? Ada petir. Nanti tersambar petir.” Kata ibu mengingatkan bapak.
Bapak masuk kembali ke dalam.
“bune, tyas, mungkin ini saatnya bapak menebus dosa-dosa bapak pada masyarakat. Hujan setahun ini butuh tumbal. Kalo tidak, hujan tidak akan berhenti selamanya. Kita semua akan terendam banjir. Jaga diri baik-baik, bune. tyas, jaga dirimu dan ibu baik-baik, nduk”
Kemudian bapak mencium keningku dan ibuku. Kami benar-benar tidak mengerti apa yang akan dilakukan bapak.
“ngomong opo, to, pakne. Nyebut, pak. Nyebut.” Ibu mulai berdiri dan memegangi tangan bapak.
Bapak menepis tangan ibu dan berlari keluar. Ibu jatuh tersungkur sambil berlinang air mata.
Aku sungguh kaget sekali sampai tidak tau harus berbuat apa. Aku kemudian membantu ibu berdiri.
Lalu DUAAARRRR. Langit berpijar. Tatit besar tampak di langit. Jandela kaca bergetar semuanya. Ibu berlari kedepan, dan berteriak keras sekali.
“Bapaaaaaaakkkkkkk”
ibu meratap di samping jasad bapak yang gosong. Asap mengepul dari tubuh bapak. Seperti arang menyala yang tiba-tiba tersiram air.
Aku berdiri di depan pintu rumah kami. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Hujan masih turun dengan deras. Seperti tak peduli dengan musibah yang menimpa kami. Seperti tak peduli bahwa baru saja bapak merelakan tubuhnya untuk dijadikan tumbal agar ia berhenti turun dari langit.
Seperti tak berjiwa, aku berjalan lunglai menembus hujan mendekati ibu yang terus meratapi bapak. Air mataku meleleh. Bapakku, sasmito setyo pawiro, mati menyerahkan diri di tangan kekuatan alam yang sering di taklukannya.

Oktober 14, 2010

buku bekas bagus


apa yang membuatmu tergerak untuk membeli sebuah buku sebelum kamu membaca resensinya? apakah karena judulnya, penulisnya, penerbitnya, sipnosis di halaman belakangnya, atau harganya?


untuk saya sendiri, saya akan memadukan hal-hal tersebut, membuat analisis singkat, menimbang, mengingat, memperhatikan ini itu, sampai akhirnya saya akan memutuskan buku mana yang akan dibeli atau tidak. yang pertama saya lihat adalah pengarangnya. itu penting, karena saya termasuk orang yang belajar pada pengalaman. biasanya, sekali saya membaca buku milik penulis x, cocok dengan gaya tulisan dan caranya bercerita, maka saya akan jatuh hati dan mencari buku-bukunya. pokoknya, kalo buku milik pak Dan Brown bagus, deh. begitu biasanya saya beranologi. biasanya, buku-buku yang ditulis orang luar negeri bagus-bagus. saya belum pernah kecewa dengan buku-buku milik orang bule sono. biar saya belum pernah dengar namanya, tapi semua isinya bagus. jangan, jangan cari buku dengan penulis orang indonesia yang kamu belum tau sepak terjangnya, atau belum pernah kamu dengar namanya, saya sudah sering dikecewakan karena hal itu. ini perkara membeli, masalahnya. beda dengan meminjam. kalo meminjam, buku apa aja, karangan siapa aja, hajar, bleh!!


yang kedua adalah penerbitnya. penerbit yang sudah terkenal biasanya hanya menerbitkan buku-buku bagus. tapi gak jarang juga penerbit gak terkenal menerbitkan buku yang bagus juga. mungkin masalah untung-untungan juga, kali, ya. tapi, percaya, deh. saya pernah membeli novel (obral) dengan nama penulis yang saya belum pernah dengar sebelumnya, dengan penerbit yang belum pernah juga saya dengar namanya, novelnya benar-benar mbulet, gaya bahasa ajaib, pokoknya, gak saya banget, deh. :D saya gak tau penerbitnya sedang pusing ato gimana bisa menerbitkan buku itu, atau memang saya saja yang bloon mau-maunya nyari buku di keranjang obral.


gimana dengan sipnosis? emmm, saya malah gak terlalu memperhatikan hal itu. karena kadang-kadang, sipnosis gak menceritakan isi buku itu. kadang cuma dijelaskan sedikit banget. dengan diakhiri pertanyaan, apakah sii XX akhirnya akan bla bla bla. bagaimana kisah selanjutnya bla bla bla, dan sebagainya. duhh, malah bikin penasaran. bisa-bisa saya terkecoh dan penasaran sehingga membeli buku tanpa memperhatikan faktor-faktor yang lain. ato, memang sipnosis dibuat seperti itu, ya? biar orang penasaran trus jadi beli tanpa pertimbangan.


nah, inilah bagian yang paling saya pertimbangkan dalam pembelian buku-buku saya. harga. yak betul. harga, sodara-sodara. kenapa harga? karena sebagai orang yang masih berada di hierarki terendah dalam teori hierarki kebutuhannya pak Abraham Maslow, dimana kebutuhan akan rasa aman masih menjadi prioritas utama, bagi saya, uang adalah hal yang utama yang akan dijadikan pertimbangan dalam membeli sesuatu. yeah, uang memang bukan segala-galanya, tapi segalanya kan butuh uang, ya? kadang, saya tak habis pikir saat saya melewati meja kasir di toko buku-toko buku ternama. alamak, relanya orang-orang ini menghabiskan uang senilai setengah gaji saya sebulan untuk membeli beberapa buku. saya bisa membayangkan betapa laparnya saya sepanjang hari kalo separoh gaji saya habis dibelikan buku-buku. tapi sekali lagi, orang-orang itu, jelas tidak berada di tingkatan yang sama dengan saya pada teori hierarki kebutuhan maslow. :D


lalu kenapa saya bisa-bisanya melewati meja kasir di toko buku-toko buku ternama? kok cuma lewat, ka? ya iyalah, mana mampu saya beli. toko buku-toko buku bagus (dan mahal) itu, cuma cocok dijadikan tempat nongkrong dan baca gratis saja bagi saya. atau tempat membandingkan harga-harga. saya hafalkan harganya dan judulnya di kepala saya, lalu saya akan pergi ke toko buku adul-adulan, untuk mencarinya. seperti nasib toko buku berlabel SA di jalan solo, jogja. pertama-tama saya akan pergi kesana, memarkir sepeda motor saya, melihat-lihat sambil membaca-baca gratis buku yang gak di plastikin (meski lebih banyak yang diplastik) cek harga, hafalin judul dari buku yang jadi inceran saya, dan pergi. tentu saja saya membayar parkirnya. kalaupun saya tidak membeli, setidaknya, mereka mendapatkan pendapatan parkir dari saya. selanjutnya, saya pergi ke toko buku adul-adulan disebelahnya, lalu dimulailah perburuan saya, mengaduk-aduk buku inceran saya, sampai mbak-mbak penjaganya menatap saya dengan pandangan cari-dan-cepat-pergilah. hehe.


ato saya akan pergi ke tempat bapak-bapak favorit saya. namanya pak Zul. pemilik lapak buku bekas di sebelah perempatan gondomanan, kalo dari arah kantor pos jogja, tinggal lurus sampe ketemu perempatan, belok selatan sedikit. kios pak Zul ada di ujung paling selatan dari deretan kios2 itu. pak Zul adalah bapak tua berkaca mata retak yang sudah saya kenal sejak saya masih sekolah di jogja, dan masih kemana-mana mengendari phanter saya. bapak-bapak yang menutup kiosnya jam 9 malam itu, bapak paling baik yang saya kenal. ia ikurt serta dalam upaya mengisi otak saya yang tumpul ini dengan bacaaan-bacaan yang cocok dengan kantong saya *halah*. meski saya sempat meninggalkan yogyakarta selama satu tahun untuk berpetualangan *jah. bahasanyaaaaa* beliau masih ingat saya. saya selalu berpesan padanya untuk menyimpankan novel-novel bekas yang ia punya untuk saya. dan gak main-main, saya mendapatkan supernova-petir, novelnya dewi lestari dengan kondisi masih bagus seharga 5 ribu. novel rojak milik fira basuki dengan harga 3 ribu. dan buku bekas-buku bekas lainnya.


baru kemarin saya kesana dan mendapatkan novelnya very barus, de jurnalis, terbitan tahun 2010, masih berplastik seharga 2 ribu rupiah. mantaps, kan? kadang-kadang, saya ingin menjadi anaknya pak Zul saja biar saya bisa menguplek-uplek isi kiosnya. lain waktu, saya pasti ceritakan tentang pak Zul yang baik ini. :D


oh iya, saya lupa, di kios buku bekasnya pak Zul, saya bisa mendapat bonus majalah apa saya yang suka. selesai transaksi, saya akan menatap pak zul dengan wajah berseri dan senyum mengembang, sambil bilang, pak zul, bonus majalah, yaaaaa.... lau pak Zul yang baik tersenyum dan mengangguk. hihi. tentu saja saya tau diri dengan mengambil majalah bekas paling atas. tidak mengobrak-abrik semuanya.


terus, gimana kalo ternyata buku-buku inceran saya tidak ada di jajaran buku bekas itu? oh, saya akan menunggunya sampai ada. biar. biar kadaluarsa biarlah. biar orang lain sudah menganggapnya terlambat, karena buku itu sudah tidak booming ketika saya akhirnya mampu membelinya, tapi bagi saya, kenikmatan membacanya tetap menjadi sesuatu yang baru. baru tidaknya suatu hal itu kan urusan pribadi, ya?


ehem. sebenarnya saya terlalu berhitung, atau memang pelit, ya?


hihi. ndak tau. yang jelas, saya bagi saya, kalo ada yang murah, kenapa mesti beli yang mahal. bukannya saya gak menghargai penulisnya, penerbitnya atau gimana. tapi, please, deh. bagi saya buku-buku mahal itu masih termasuk barang mewah. harus benar-benar menjadi kereaktif untuk bisa mendapatnya. dan memangnya kenapa dengan buku bekas?


:D

Oktober 06, 2010

kereaktip project




lilin dari minyak kelapa dan kembang-kembangan dari plastik bekas bungkus

ini memang hari benar-benar kurang kerjaan, sampe saya sempat-sempatnya membuat prakarya macam anak sd ini. lucu. lilin minyak kelapa bekas ini, bisa dipakai pas mati lampu. lumayan, bisa ngirit lilin. trus, kembang-kembangan dari plastik bekas dan kaleng minuman ini, bisa di taruh di meja kerja. buat lucu-lucuan aja. dari pada plastiknya nambah-nambahin timbunan sampah. kan lumayan, tuh, bisa dimanfaatkan. gampang pulak. :D

Oktober 04, 2010

menunda

menunda memang penyakit akut saya. padahal saya selalu kena batunya karena kebiasaan buruk saya ini. masih ditahun yang sama, saat saya masih di kalimantan, saya menunda pekerjaan saya, sampe akhirnya kepulangan saya ke tanah jawa tertunda beberapa hari karena saya harus menyelesaikannya sebelum saya pulang. saat itu saya sudah berjanji tidak akan menunda pekerjaan saya lagi.

saya menunda diet saya, sampai saya menjadi sebesar ini. besok saja, kata saya. mulai minggu depan aja, deh. kan tanggung minggu ini. nanti saja, selesai makan malam saya akan diet. dan akhirnya, tak sekalipun saya berdiet karena saya selalu menundanya.

saya menunda membeli bensin saat melewati spbu, sampe akhirnya saya benar-benar kehabisan bensin di jalanan. saya menunda membersihkan buku-buku saya, sampe akhirnya beberapa dari buku saya, lembab dan berayap. saya menunda mencuci baju, sampe akhirnya saya benar-benar kehabisan baju dan terpaksa memakai baju yang sama dalam 3 hari. saya menunda membersihkan tempat ikan, sampe semua ikan saya mati. saya menunda skripsi saya, sampe menghabiskan spp satu semester untuk kesia-siaan saja. saya menunda mandi sampe tubuh saya gatal-gatal.

cuma 3 hal yang tidak saya tunda, makan, tudur, dan buka puasa. hehe.

hebatnya, saya selalu punya dalih untuk itu semua. kalo saya tidak berhenti di spbu untuk membeli bensin, saya akan bilang, duhhh, susah sekali nyebrangnya, rame banget. kalo saya menunda mencuci baju, saya bilang, kan masih ada baju yang ini. pas saya menunda skripsi saya, saya bilang, tempat kerjaku buka cabang baru, je. jadi saya sibuk sekali. ya cuma itu kehebatan saya, berdalih untuk kebiasaan saya. mencari pemakluman, agar saya tidak terlalu merasa bersalah dengan kebiasaan buruk saya yang akut ini. padahal alasan yang sebenarnya adalah: M A L A S.

oh iya, menunda itu, selain membuat kita benar-benar kena batunya, juga benar-benar membebani kepala kita. seharusnya kepala kita sudah terbebas dari suatu beban, tapi ternyata beban itu belum juga benar-benar tuntas. menambah beban pikiran, membuat kita jadi marah-marah tanpa sebab. kadang-kadang, bahkan membuat tidur kita tidak nyenyak.

saya pikir, penyakit menunda ini seperti bibit kanker. kalo didiamkan saja, tanpa diobati, ia bisa menggerogoti seluruh jaringan tubuh kita. ia akan merusak jaringan syaraf, sistem pencernaan, sistem pernafasan, dan lama-lama akan membunuh kita. :D

nanti. besok. lusa. minggu depan. sepertinya kata-kata itu harus dihilangkan dari perbendaharaan kosa kata saya. karena cuma ada satu kata: sekarang!!

tunggu saja sampai berapa lama saya keranjingan motivasi, sebelum saya mulai malas dan menunda-nunda lagi. mungkin nanti kalo malaikat maut datang, saya akan bilang padanya, 'pak, tunggu sebentar, saya belum selesai...'



You may delay, but time will not..

Benjamin Franklin

September 07, 2010

pembenci mudik


Bagaimana mungkin kita merasa kehilangan, padahal kita tidak pernah memiliki.



Rasanya setiap tahun, hal yang paling penting bagi orang2 saat menjelang lebaran adalah mudik. Orang-orang lebih mementingkan acara mudiknya daripada memenuhi tempat-tempat ibadah dengan ibadah yang makin getol. Keluarga dan sanak saudara benar-benar menjadi prioritas utama berlebaran orang-orang di negeri ini. Tak pernah ada yang jera dangan aneka Jenis kecelakaan yang terjadi setiap tahun. Dan aneka kejahatan tentu saja. Demi kampung halaman dan keluarga dirumah, kata mereka. Padahal kalo hanya ingin menengok kampung halaman dan keluarga dirumah, memangnya harus pas lebaran? Kalo hanya untuk pulang dan menengok saudara di rumah, untuk apa harus repot2 membawa aneka macam perhiasan, aneka kendaraan dan barang2 mewah saat mudik? Kadang2, saya curiga ada sedikit niat pamer saat orang-orang mudik.

“lihat, nduk, si Tina anaknya lek warno itu, lho. Baru 1 tahun dijakarta, sekarang kemana-mana kalungan hengphon. Katanya mbak siti, bentar lagi dia mau dilamar. Kenalannya dijakarta sana, nduk. Pegawai negeri.” Begitu kata mbah simak saya 8 tahun yang lalu. Saat saya untuk pertama kalinya pulang mudik ke purworejo, kota kelahiran saya.

Bukan mudik tepatnya, karena saya hanya pergi satu jam kearah timur. Ke yogyakarta, kota pelajar yang dipenuhi pendatang, hingga sebagian warga aslinya justru bekerja pada pendatang itu. Tapi mengikuti apa yang biasa di gembar-gemborkan orang, pulang saat hari raya seperti itupun juga disebut sebagai mudik.

“ndak usah sekolah tinggi-tinggi, nduk. Buat apa. Wanita itu dimana-mana nantinya juga hanya akan menjadi kanca wingking. Tugasnya ya ming melayani suami. Masak. Manak. Macak.”

Seperti biasanya saya diam saja. saya tidak pernah mendebat mbah simak. Memang begitulah orang tua. Menjadi orang yang lahir dimasa penjajahan, tanpa bangku sekolah sama sekali, yang diketahui mbah simak ya memang begitu. Subuh bangun, nenuwun sama Gusti, memasak, mencuci baju, membersihkan rumah, melayani suami dan anak-anak. Begitu saja kegiatannya. Paling cuma setiap jumat sore saja beliau pergi ke pengajian dengan simbah-simbah lainnya. Jadi tidak akan pernah berguna kalau aku mendebatnya, menjelaskan tentang emansipasi, kartini, cut nyak dien dan lain-lain padanya. Satu-satunya hal yang ia ketahui tentang kartini adalah kain sutera ungu yang disimpannya bersama jarik-jarik batik dilemari jati. Salah satu benda yang tidak boleh saya pakai untuk bermain –main saat kecil.

“ora oleh, nduk. Ini kerudungnya ibu kartini. Simak belinya mahal. Dulu, pas simak menyang jogja sama mbah kakekmu. Ibu kartini itu pahlawan. Kerudungnya ora ilok yen di nggo dolanan.” Lalu beliau merebutnya dari tangan saya, dan menyimpannya di lemari jati, di rak yang paling tinggi. Hingga tubuh kec il saya tidak mampu meraihnya lagi. Setelah dewasa, kadang-kadang saya berfikir bahwa mungkin saja simbah simak saya hanya di tipu orang perihal kerudung sutra ungu itu. Kok bisa kerudung ibu kartini yang dijepara tiba2 ada di Yogyakarta.

“nduk, kapan sekolahmu selesai? Kapan nggonmu dilamar priyayi? Simak udah pengeeeen nggendong buyut. temanmu si menik kae, lho. Anake 2. Jaaaan, gantheng temenan. kemaren simak, ketemu yu amat katul, ngemban anaknya menik yang baru pulang dari Jakarta itu. Owalah, nduk, simak jadi pengen ndang2 ngemban buyut juga. Mumpung isih kuat, nduk.”

Katanya di hari lebaran 5 tahun yang lalu. Di balai-balai belakang rumah kami.

Itulah yang tidak kusukai dari budaya mudik ini. Pulang. Dan pamer pada tetangga. Hingga semua anak muda di kampung saya semua pergi ke kota. Bagaimana nggak pengen, melihat tetangga-tetangga yang pulang mudik selalu gemerlap dan tampak lebih modern dari anak-anak kampung? Bagaimana nggak ngiler, melihat para tetangga menjadi lebih cantik dan lebih melek mode sepulang dari Jakarta? Kalo tidak menjadi kaya,mampu membangun rumah gedong magrong-magrong, maka ia akan dilamar para priyayi sugih. Kalo nggak pegawai negri, ya juragan dari Jakarta, ato setidaknya, anak juragan.

Maka jadilah rumah simbah simak saya menjadi rumah terburuk dikampung saya sekarang. Saat smua anak dari setiap keluarga lulus sekolah, menjadi pekerja di Jakarta, dan mampu mengirim uang ke kampung halaman untuk membangun ruma h-rumah mereka menjadi gedong magrong-magrong, maka rumah simbah saya semakin keriput mengikuti kulitnya. Dan saya, si cucu durhaka yang tidak mau pergi ke Jakarta ini akan menjadi contoh yang buruk di kampung saya.

“jangan contoh sumirah cucune mbah atmo kae, yo, nduk, le. Sekolah ning tetep kere. Mesake simbahe. Wis tuwo ning ora tau dikirimi duit. Mulakno sekolah sing pinter, yo, le, nduk. Gek ndang lulus. Gek ndang kerjo maring Jakarta. Dadi wong mulyo. Mulyake wong tuwo.” Begitu para orang tua menasehati anak-anaknya.

Lihat, Kadang-kadang, budaya mudik yang tersisipi niat pamer membuat para orang tua menjadi matre. Yang mereka tau adalah, orang2 yang mudik selalu tampak lebih keren. Jakarta itu keren. Uang lebih banyak disana daripada di kampung. Mana mereka tau kehidupan Jakarta sebenarnya.

Dan lebaran 4 tahun lalu adalah mudik saya yang terakhir. Tanpa simbah simak tentu saja. Simbah simak meninggal 5 hari sebelumnya. Itu mudik saya yang terlama, saya ingat, membatalkan smua pekerjaan partime yang saya dapatkan demi membayat uang semesteran, dan tinggal di rumah reot simbah saya untuk menangisinya setiap hari. Dan sepertinya, saya belum pernah merasakan kehilangan yang lebih besar dari ini.

Seminggu setelah lebaran, pakdhe saya yang tinggal di Surabaya datang untuk membereskan segalanya. Segalanya. Termasuk menjual tanah dan rumah reot peninggalan simbah kakek saya. Pakdhe membagi sepertiga hasil penjualan itu untuk saya. Karena ibu saya pergi saat usia saya satu minggu, kata pakdhe, maka saya berhak mendapatkan warisan itu sebagai pengganti ibu. Saya meminta pakdhe untuk menyimpannya saja.

Tidak enak rasanya menggunakan uang hasil penjualan rumah yang saya tinggal disana lebih dari 18 tahun.

Sejak hari itu, praktis saya tidak mempunyai kampung halaman lagi. Saya mengajukan surat pindah ke Yogyakarta. ktp saya menjadi ktp jogja, dan saya diakui sebagai family ibu kos agar bisa masuk ke kartu keluarga mereka.

Maka lebaran-lebaran setelahnya, saya selalu bingung kalo ditanya mau mudik kemana.

Sejak hari ke seminggu sebelum lebaran, teman-teman kerja dan teman-teman kos akan sibuk membicarakan keluarganya dirumah. Tentang ibunya yang selalu membuat kue nastar, tentang budhenya yang ketika pulang kampung membawakan bertoples-toples kue kering, tentang sepupunya yang artis, tetang wisata bersama keluarganya ke pantai. Bla bla bla bla bla. Kecut muka saya mendengarnya.

Tiga hari menjelang lebaran kos-kosan sudah sepi. Hanya tinggal saya. Dan pak satpam yang asli orang kampung sini. Semuanya mudik, termasuk keluarga ibu kos saya. Sebenarnya setiap lebaran paldhe saya yang tinggal di Surabaya selalu menawari saya untuk lebaran dirumahnya. Mungkin ia kasihan, karena hanya tinggal dialah keluarga saya satu-satunya. Tapi, toh, sama saja, pakdhe saya juga akan mudik ke jember, kampung halaman istrinya. Jadi saya lebih memilih di kos-kosan saja. Sendirian. Menontoni berita- berita tentang mudik –yang lebih banyak berisi kemacetan dan kecelakaan-, dan mengutuk pemerintah karena tidak pernah belajar dari tahun-ketahun.

Setelah semua orang sudah kembali, baru kemudian saya akan ke purworejo. Ke kuburan mbah simak dan mbah kakek saya. Disana saya biasanya ketemu pak gimin. Juru kunci. Yang juga ayah teman saya waktu sd, wagito. Biasanya saya akan menanyakan kabarnya, dan kemudian kabar wagito. Saya lupa di lebaran yang keberapa pak gimin bercerita kalo wagito sudah menikah, karena lebaran satu tahun yang lalu, pak gimin bercerita kalo istri wagito sudah meninggal di jakarta. Kena maag akut, katanya. sebelum pulang, saya akan memberikan beberapa ribu rupiah dalam genggamannya, sebagai ucapan terimakasih karena sudah merawat kuburan simbah simak dan simbah kakek saya. Dan jawabannya dari tahun ketahun tak pernah berubah,

“rasah nduk. Wis, ben wae, sing mbales sing kuoso. “

Tapi tetap saja ia menerima uangnya.

3 tahun ini saya makin membeci ritual mudik. Mungkin lebih ke iri karena saya sendiri tidak penah mudik lagi, sebetulnya. Semua orang akan sibuk bersayang-sayangan dengan keluarganya sementara saya sendiri tidak. Bapak dan ibu saya pergi ketika saya masih berusia satu minggu. Kecelakaan, katanya. Nenek dan kakek saya sudah meninggal. Pakdhe saya bersama keluarganya, dan saya tidak pernah kenal dengan keluarga bapak saya. Sementara lebaran adalah hari keluarga, saudara dan kerabat. Dan untuk orang tanpa keluarga seperti saya, lebaran jelas tidak jauh beda dengan hari-hari biasa. Hanya saja, hari ini menjadi lebih sepi.

Saya pikir, saya tidak akan pernah menemukan teman yang sama sepinya dengan saya saat lebaran.

Sampai saya bertemu dengannya. Kami sama-sama tidak punya orang tua. Ia tidak yatim piatu seperti saya. Ayah ibunya masih ada. Mereka bercerai dan sudah punya keluarga sendiri. ia merasa canggung bila berada diantara keluarga ayah atau ibunya. Makanya ia memilih tidak mudik ke salah satu orang tuanya.

Kemarin saya bertanya padanya apakah ia kehilangan figure ayah dan ibu.

“nggak, lah, bagaimana mungkin kita kehilangan Sesuatu padahal kita tak pernah memilikinya.”

Jawabnya.

“ kok bisa gak memiliki?. Orang tuamu kan masih ada.”

“mereka bercerai sejak aku masih bayi. Sejak itu, aku diasuh nenek dan kakek dari pihak ayah. Memiliki orang tua, tapi tak pernah ada rasanya sama saja dengan tidak memiliki orang tua.”

Tiba-tiba saya senang. Tidak pantas memang. Tapi saya senang karena punya teman yang senasib. Mungkin memang orang-orang yang memiliki kesamaan cenderung lebih cocok untuk berteman.

“tapi tak apa. Kalo jalan hidup kita terlalu lurus, kita tidak akan sekuat sekarang,” katanya lagi.

“jadi, kalo kamu gak mudik, apa kegiatanmu saat malam takbiran?” Tanya saya.

“gak ada. Tapi biasanya aku selalu pesta seorang diri.”

“mau kutemani?”

“wah, mau sekali, oke. Jadi kita ketemu pas malam takbiran, ya. Aku yang bawa camilan, ato kamu yang bawa?” tanyanya.

“kita bawa sendiri-sendiri, oke?”

Duhhh, senang sekali. Akhirnya lebaran ke 4 tanpa mudik ini saya punya kegiatan yang menggembirakan. Dengan orang yang mempunyai kisah hidup mirip dengan saya. Punya hobi yang sama dengan saya, dan punya selera yang sama dengan saya. Saya pernah membaca bahwa orang yang memiliki kesamaan cenderung berjodoh. Oh, tapi saya ragu saya membacanya, atau mengarangnya saja.:D

Akhirnya malam takbiran ini datang juga. Saya sudah duduk berjam-jam denganya. Membicarakan segala hal. Cuaca, negeri ini, hobi, kucing, makanan dan lain hal. Suara takbir kemenangan dari masjid sudah diganti dengan suara takbiran dari kaset, karena orang mulai sibuk membagi-bagi zakat ke dalam plastik-plastik.

Saya menuang air kuning berbusa ke dalam gelas dan menenggaknya.

“sudah mabuk, ya, mir?” tanyanya.

“ah, enggak, kamu yang mabuk, kali.”

“haha. Aku gak bakal mabuk, lah. Aku ahlinya. Ini sudah hampir habis sebotol”

Aku meminum minumanku lagi. Pandangan mataku pada monitor mulai kabur dan jari-jariku mulai tidak terkontrol menari nari ke atas keyboard dengan liar.

“addfkahgkuuuuu nngggggaakkkkk maaaaaaaabuuuuuuuuuuukkk,” ketikku di jendela chatting.

“senang mengisi malam takbiran denganmu, mir”

“iiiiiiiyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaaaa. Sammmmmmmmmmmmmmmmmaaaaaa-sasssmmmmaaa”

“selamat lebaran, mir, besok chatting lagi, ya. “

Dan saya, sudah terlampau mabuk untuk menjawabnya…..





*nah, gak nyambung, kan???? Sape suruh baca ampe sini. Bwek!

Agustus 21, 2010

belajar dari bang bang tut, eh, bang pug

inget obrolan kita yg lalu gak?

intinya tadi aku dpt teori menarik dari dosen

jadi tadi aku kan tanya, ke beliau

ketika di satu sisi orang yg santai2 tapi gaji tinggi

namun di sisi lain, orang susah payah banting tulang penghasilnanya segiu2 aja, bahkan cenderung rendah

beliau mengibaratkan pekerjaan borongan

ada tukang batu, yang susah payah keringatnya banyak tapi upahnya cuma 30

ada mandornya yang kerjaannya jalan2 ma tunjuk2 sana-sini upahnya bisa 50



lha arsiteknya cuma mikir, malah 100

trus hebatnya, kontraktornya, yang ikut ngomel2 nuntut 300

nah dosenku tanya balik ke aku, kira2 kesimpulannya gimana?

nah bingung kan aku?

jawabannya adalah....

eng..ing...eng....



terkadang, adil di mata kita, ternyata belum tentu adil di mata orang laen,

apalagi di mata Allah...

kalo tukang batu itu dapet 30, bwt kita itu gak adil, krn diantara mereka,tukang batulah yg paling capek, harusnya dapet yg paling gede kan?

tapi ternyata mandor dapet lebih besar, itu pun ada alasannya...

ingatkah kita bahwa hal yang paling besar di dunia ini adalah amanah...

dalam contoh kasus ini, mandor dapet amanah, utk mengawasi anakbuahnya,

okelah mandor sering marah2 sama anak buahnya ketika anak buahnya salah..

tapi taukah kita bahwa mandor itulah yg bertanggungjawab atas pekerjaan anak buahnya

mungkin itu alasan "mbodho'nya

trus kenapa arsitek lebih tinggi lagi, itu sih jelas...

bahkan dalam alQuran ada ayatnya

bahwa Allah akan meninggikan derajat hamba-Nya yang berilmu

jadi di sini kasus asitek dapet penghargaan karena ilmunya

nah kalo kontraktor itu kembali ke teori awal, tadi udah bener, bahwa modal emang berpengaruh

tapi bukan semata-mata karena itu..

bila pekerjaan ggal, siapa yang paling bangkrut? tentunya yang modalnya paling besar..

itulah sebabnya, dlam teori ekonomi, ada manajemen resiko, ya fungsinya utk antisipasi kegagalan itu

tapi itu kan dilihat dari sisi duniawi saja...

padahal sering kita lupa utk melihat sisi lain

yaitu keadilan itu sendiri..

adil itu bukan berarti harus sama rata, sama rasa

buan berarti yg ini harus lebih besar atau sama

yapp...

juga apakah yang diterima itu sesuai dengan haknya?

nah ada sisi lain lagi yang blum dibahas...

yaitu keikhlasan

dari beberapa yg disebutin tadi siapa yang paling ikhlas?

siapa yang tau?

jangan2 tukang batu itu ternyata sangatikhlas menerima segitu, karena kebutuhna sehari2nya ternyata hanya 20,sehingga dia masih bisa menabung

siapa tau kerja di tempat lain dia hanya dapet 15

siapa tau, mandor itu justru gak ikhlas karena iri sama arsitek yg dapet 100

jangan2 yg pnya modal gak ikhlas ngasih 30 ke tukang batu merasa kebanyakan

nah kalo kek gini kasusnya, tentunya yg paling ikhlas adalah tukang batu kan?

tentunya derajatnya menjadi lebih tingi di mata Allah..

padahal dari semua yang udah kita bahas, inilah yang paling utama

tul gak?

any coment??


ini sebagian obrolan saya yang layak terbit dengan mas2 kakak kelas saya jaman smp, yang sedang belajar di malang sana. di share dicatatan setelah diijinkan oleh beliau. siapa tau bermanfaat bagi kita smua.



makasih, bang pug. sukses, yak!

Juli 31, 2010

barongsai


gara-gara liburan mekso (baca:mbolos) dari kerjaan, saya jadi kurang kerjaan. hihi. sore itu selepas muter-muter di pasar mbanteng, brebah, sleman, cuman buat nyari rujak es krim, saya dan adik saya lanjut ke mandala krida. nonton balapan sebentar, makan mpek-mpek seribuan, lanjut ke jalan mataram buat nyari mp3 bajakan. setelah itu, iseng-iseng jalan ke seputaran tugu, dan mampir ke klentheng di belakang pasar kranggan, utara tugu. kebetulan pas disana ada acara hut entah-hut-apa. saya lupa. pokoknya disana ada acara pertunjukan barongsai gitu. rame. banyak yang nonton.

di kampung saya, kutoarjo, juga ada klentheng. saya inget, dulu, waktu saya kecil, saya dan teman2 suka jalan-jalan kesana. iseng2 kami sering ngintip lewat pagar merah di depan klentheng. saya sering ngiler liat bakpao hijau besar yang sering ada di meja dekat dupa-dupa. katanya, orang-orang di klentheng itu, memelihara naga didalamnya. naga itu dilepas di hari-hari tertentu. nah, bakpau hijau yang besar-besar itu adalah makanan naga. hahaha. kok ya dulu saya percaya dengan cerita kek gitu, ya?

lain waktu, saya baru tau kalo naga jadi-jadian itu ternyata topeng barongsai dan liong yang sering diarak keliling kampung pas imlek.

ngomong2 tentang barongsai, ternyata ada sejarahnya, lho. Barongsai adalah tarian tradisional Cina dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa[1]. Barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke tiga sebelum masehi[2]
Kesenian Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda.

Kesenian Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda. info ini didapat dari sini

tadinya saya ndak suka nonton barongsai dan liong2 kek gitu. berisik. bikin telinga sakit. tapi, kalo diliat lagi dengan lebih cermat, ternyata kesenian ini bagus juga, lho. kagum sama mas-mas dan mbak-mbak yang lincah banget. bisa bikin naga bohong2an itu serasa hidup beneran. :)

menunda

Menurut Psikolog terkenal asal Amerika, Kathy Peel, menunda pekerjaan sama saja dengan melarikan diri dari situasi yang tidak menyenangkan. Dan ini sama saja dengan tindakan seorang ‘pengecut’. Padahal saat Anda menunda pekerjaan, sesungguhnya Anda telah kehilangan banyak kesempatan untuk melakukan yang terbaik.

sepertinya menunda memang cocok menjadi nama tengah saya. apa-apa yang bisa saya tunda pasti akan saya tunda. mencuci baju, berolah raga, mengirimkan lamaran pekerjaan, mengerjakan pekerjaan saya, pergi ke suatu tempat. bahkan buang airpun, kalo bisa, juga akan saya tunda. cuma makan, tidur dan melamun yang susah saya tunda. :D

padahal saya sering kena batunya karena kebiasaan jelek saya ini. saya pernah ketinggalan kereta karena menunda-nunda keberangkatan. saya pernah terpaksa mengerjakan pembukuan nonstop 3 hari, karena saya menunda mengerjakannya tiap hari. menunda. menunda. menunda.

seorang teman pernah memberikan pendapatnya tentang kebiasaan jelek saya ini, katanya, kalo kecenderungan saya memang menunda, maka saya cuma perlu membuat skala prioritas saja. pilah kegiatan menjadi: harus, penting, setengah penting. tidak terlalu penting,dan tidak berguna. nah, kalo ingin menunda, tunda kegiatan yang tidak penting dan tidak berguna. katanya, dengan begitu, saya tetap bisa menjadi penunda, tapi tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

bener juga, sih. masalahnya kegiatan yang tidak penting dan tidak berguna itu adalah kegiatan-kegiatan menyenangkan. sedang kegiatan yang penting dan harus dilakukan adalah kegiatan yang tidak terlalu menyenangkan. :D

kadang-kadang saya harus memaksa-maksa tubuh saya untuk melakukan sesuatu yang penting. rasanya seperti seseorang seperti saya keluar dari tubuh saya, dan menyeret-nyeret tangan saya yang sedang memeluk guling, sambil berteriak, ayo, to, ka. ayo. saya kadang bangun dengan terpaksa untuk menghentikan gerakan paksaan dari seseorang seperti saya yang nampak keluar dari tubuh saya. namun tak jarang saya menulikan telinga dan tetap berkutat dengan hal-hal tidak penting saya. nanti saat jam sudah mepet, dan saya sadar saya terlambat, lalu bergegas-gegas terburu-buru, seseorang seperti saya keluar lagi dari tubuh saya, dan berkata, rasakno...

hihi. lucu juga membayangkan ada manusia seperti saya yang membawa sifat baik dan sifat buruk tinggal dalam tubuh saya.

mungkin karena kebiasaan saya yang menunda ini, yang membuat saya sering menyalahkan jarum jam yang terlalu cepat berputar. padahal aslinya memang saya yang males.

ah, udahlah, hari saya mau pergi nyari mp3 bajakan sama adik saya. gak terlalu penting, tapi gak akan tertunda lagi. hihihi.

wake up

tentu saja lebih menyenangkan bersembunyi dibawah selimut daripada bangun dipagi yang dingin luar biasa dan menemui-Nya. tentu saja lebih menyenangkan bergelut dengan mimpi-mimpi daripada bangun dan membuat mimpi-mimpi itu menjadi berkaki. tentu saja lebih mudah terus memejamkan mata, memeluk guling lebih erat dan membiarkan waktu menyelinap daripada bangkit dari tempat tidur dan menyelesaikan apa-apa yang belum selesai.

tapi hidup selalu membutuhkan pergerakan. kartini. soekarno. diponegoro. ahmad dahlan. dan orang-orang yang membuat perubahan. dan orang-orang yang melawan kantuk tiap pagi untuk bangkit dan melakukan pergerakan.

bagaimanapun, inilah kehidupan. kau tak akan bisa mengalahkan siapa-siapa, sebelum kau kalahkan dirimu sendiri.

CHANGE!. get up and do what has to be done!.*


*tulisan di sampul proposal dari sbuah universitas di seputaran babarsari.

bangun, yuk!. :D

Juli 10, 2010

pergi atau bertahan

saya heran. bgmana mungkin orang2 bisa memikirkan byk hal dalam satu waktu. pekerjaan, keluarga, hubungan asmara, kemasyarakatan, sosial, politik dll. sedang saya tidak bisa. jangankan hal2 itu, memikirkan satu hal yg bernama pekerjaan saja sukses membuat saya terbayang-bayang sepanjang malam. selalu bgtu. setiap sy bekerja dan mengerahkan sgala daya upaya sy utk pekerjaan, maka sya tdk akan bsa melepaskan diri darinya. dimanapun sy berada, saya selalu memikirkannya. jauh lbh dalam dari apapun.
mungkin karena latar belakang ekonomi yg kurang baik pd awalnya, hingga mempunyai pekerjaan adl sgalanya bg saya. gak masalah saya gak punya apa2 lagi, kalo saya yakin, nanti akhr bulan, saya punya gaji yg bsa sya andalkan. sdikit skalipun. dan untuk orang dg latar belakang ekonomi seperti saya, tidak ada orang lain yg bsa diandalkan kecuali diri sendiri. jadi dalam keadaan apapun, situasi sesulit apapun, hal yg paling mutlal saya miliki adalah: pekerjaan.
mungkin smuanya akan baik2 saja kalau sgalanya berjalan sebagaimana mestinya. tapi saat satu tatanan diubah, dan perubahan itu tidak sesuai dg hati saya, maka saat melaksanakannya, hati saya seperti tercabik-cabik. baru 4 hari dan rasanya saya hampir tak tahan.
aneh rasanya melakukan hal2 yang tidak sehati. seorang teman bahkan mengatai saya bebal karena saya selalu ngeyel pada hal2 yg tidak cocok dg hati saya.
saya memang ngeyel, dan saat pengeyelan saya tidak berpengaruh pada apa2, saat saya tidak bisa merubah apa-apa, saat saya melakukan hal-hal yg berbenturan dengan hati saya, maka pilihanya cuma dua: pergi atau bertahan.
seandainya pilihan itu bukan pada hal paling krusial dalam hidup saya, mungkin mudah mengambil keputusan. tapi, ah, sudahlah. mungkin saya hanya terlalu banyak mengeluh saja...

Juni 20, 2010

waktu

maka saat aku terbangun di pagi hari, dan tidak menemukanmu di sampingku lagi. aku tau kamu sudah pergi. berlari, kadang terbang, kadang meroket.

aku tau kamu menyelinap pergi saat aku terlelap, atau terlena, melamun, melakukan sesuatu. saat aku sadar, aku tau, aku sudah kehilangan kamu.

banyak hal yang dimulai tanpa selesai. banyak hal yang direncanakan tanpa dimulai. karena kamu selalu membatasi segalanya. lebih cepat katamu. ini terlalu lambat.tambah kecepatan. lalu kamu akan cepat-cepat pergi. sambil tersenyum sombong, menertawakan aku yang berjalan tertatih-tatih. berlari. terbang. meroket. tak perrnah menungguku. tak pernah mau dijajari langkahnya.

rasanya seperempat abad terlalui sia-sia. hanya bersisa kenangan dan jejak-jejak.

bumi terlalu cepat berputar, sementara aku masih mencari jawaban-jawaban. banyak hal-hal yang tak kumengerti. tapi selalu, kamu tak berpihak kepadaku. selalu cepat-cepat pergi. berlari. terbang. meroket. dan aku tak pernah diberi kesempatan untuk mengulang segalanya.

Juni 17, 2010

hidup saya normal kembali


hidup saya normal kembali. saya kembali bangun pagi dan menjalankan aktivitasa lainnya seperti biasanya.

bangun pagi. mandi. sarapan. menyusuri gedong kuning. menaiki jembatan layang janti. mengagumi merapi, gunung cantik yang tampak seperti lukisan di cakrawala. babarsari. dan sampailah saya di tempat kerja jam setengah delapan pagi.

bebarapa hari yang lalu ritual pagi itu sempat terenggut karena seorang teman saya harus menunggui istrinya yang melahirkan. sekarang istri dan anak laki-laki barunya sudah bisa ditinggal kembali. ia kembali bekerja, dan saya harus segera meninggalkan kehidupan malam untuk kembali pada pekerjaan saya sebelumnya.

tadinya saya pikir bekerja malam hari itu menyenangkan. saya bisa memanfaatkan malam2 saya yang insom dengan hal2 positif, dan siangnya saya bisa bermain-main. ya. menyenangkan. untuk dua tiga hari pertama. hari-hari selanjutnya, setiap bangun sore, rasanya seperti terbangun di neraka. payah sekali rasanya membuka mata dan beranjak dari kasur. rasanya tidur sesiangan masih kurang lama.

mungkin karena tubuh sedang melawan jam-jam biologisnya, kali, ya?.

dan kualitas tidur siang dan malam itu sungguh berbeda. kalo pagi2 bangun setelah tidur malam, tubuh terasa fresh, maka terbangun pada sore hari setelah tidur siang, tubuh malah terasa sakit semua. di tempat kerja pun saya akan menguap beratus-ratus kali. kepala terasa berat, dan selalu merindukan kasur saya untuk tidur. bekerja di malam hari, sesantai apapun pekerjaannya, ternyata bukan perkara mudah. salut saya pada teman2 yang selalu bekerja di malam hari.

yang paling saya sesalkan saat bekerja malam hari adalaha kehilangan momnent ini: bangun pagi. mandi. sarapan. menyusuri gedong kuning. menaiki jembatan layang janti. mengagumi merapi, gunung cantik yang tampak seperti lukisan di cakrawala. babarsari. dan sampailah saya di tempat kerja jam setengah delapan pagi. kangen memandangi deretan gunung, kampung, pohon-pohon, stasiun, mall-mall, dan kendaraan lalu lalang di bawah saya dari jembatan janti. rasanya sungguh menakjubkan. seperti suntika semangat tiap kali berangkat kerja.

tapi ada juga yang saya sesalkan meninggalkan dunia malam yang beberapa hari ini saya lakoni. tidak ada lagi kopi bergelas-gelas. guyonan gayeng bersama geng air es. ngerumpi tentang segala hal. merencanakan perjalanan-perjalanan aneh yang akan kami lakukan siang hari. gojek2 jorok. tertidur di jam kerja. jus ekstra joss-susu-dan air soda. nasi goreng jadi-jadian. roti bakar. dan minuman soda berbotol-botol. menyenangkan mengingatnya. kapan2, saya ingin mengulangnya sekali lagi. teman2 baik itu adalah anugrah paling manis yang pernah dikirim Tuhan.

saya akan bekerja pagi hari kembali hari ini. menjalankan rutinitas saya kembali. mungkin untuk beberapa hari ke depan saya akan menyukainya. tapi entah setelah rutinitas ini kembali kehilangan ruhnya, saya mungkin akan bosan, penat dan mengeluh lagi.*nyengir*

tapi gunung cantik seperti latar belakang cerita dongeng2 itu. yang tampak seperti dilukis Tuhan di langin utara itu, lengkap dengan kabut bergulung-gulung, yang bisa saya nikmati keindahannya dari jembatan layan gjanti, jelas akan memberikan energi positif tiap pagi.

selamat pagi. ini saya, hendak berangkat kerja, dan menikmati ritual hari-hari sebelumnya: bangun pagi. mandi. sarapan. menyusuri gedong kuning. menaiki jembatan layang janti. mengagumi merapi, gunung cantik yang tampak seperti lukisan di cakrawala. babarsari. dan sampailah saya di tempat kerja jam setengah delapan pagi.....

Juni 16, 2010

cerpen: melepaskan

Perempuan itu melingkarkan tangannya ke pingganggku. Kepalanya di atas lengan kananku. Nafasnya naik turun teratur terhembus mengenai dadaku. Dalam tidurnya ia tersenyum. Kami baru saja melepas rindu setelah sebulan lebih aku meninggalkannya untuk bekerja di Jakarta.
Perempuan itu istriku. 4 tahun yang lalu aku menikahinya dengan mas kawin seperangkat alat sholat yang masih ia pakai hingga kini. Sehari 5 kali belum termasuk aneka sholat sunnah yang lain. Katanya setiap kali ia memakai mukena itu, ia selalu merasa nyaman dan bersukur sekali bersuamikan aku. Katanya kalo ia memakai mukena itu,artinya ia setia kepadaku. aku selalu tersanjung dengan semua ucapannya. Ia tunduk pada aturan agamanya untuk selalu membahagiakan suaminya. Menuruti semua perintahnya.
4 tahun naik turunnya kehidupan ekonomi keluarga kami, tak pernah sekalipun ia menuntut apapun. Pakaiannya sederhana. Bedaknya tetap ia beli dari pasar. Bedak murahan. Tapi tetap tampak serasi di wajahnya yang ayu. Tak pernah ia tertarik untuk membelinya dari salon. Bahkan kesalon untuk potong rambutpun tak pernah dilakukan. Ia memanjangkan rambut tebalnya yang halus. Menutupinya dengan jilbab lebar. Tak pernah sekalipun ia memperlihatkan rambutnya pada lelaki lain selain aku dan keluarganya. Katanya rambutnya adalah aurat sekaligus mahkota. Katanya hanya orang istimewa seperti ku yang boleh menikmatinya. Sungguh aku benar2 tersanjung…
Aku menyentuh pipinya, menyibakan sebagian anak rambut yang menutupi wajahnya. Ia tampak semakin ayu saat tidur. Hidungnya mancung dan wajahnya selalu tampak tersenyum.
Tiba2 aku jadi ingat perempuan lain di Jakarta sana. Tidak terlalu cantik, namun memiliki tawa renyah yang mampu melumerkan hati. Ia tidak menyembunyikan rambutnya di balik jilbab, bahkan memotong rambutnya cepak. Ia bukan perempuan lugu yang shalih. Ia perempuan kota yang aktif dan efektif. bertolak belakang dengan istriku. perempuan2 kota sama sekali bukan tipeku. Tapi perempuan satu itu benar2 membiusku. Cara berfikir dan pandangannya mengenai kehidupan benar2 menawanku.
Dua bulan yang lalu ia juga melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku ingat ia memakai kemeja kuning muda dan celana panjang krem ketat. Rambut cepaknya baru saja di cat warna merah kecoklatan. Aku juga ingat ia berjinjit saat mencium pipi kananku. Katanya semuanya harus berkahir, kami harus saling melepaskan. Katanya beberapa hal tidak bisa kumiliki sekaligus.
Itu terakhir kalinya aku berjumpa dengannya. Di stasiun kereta. Hari saat aku mengantarkan istriku yang berkunjung kejakarta kembali ke kampung. Dan ia, perempuan baik berambut cepak itu memaksaku mengenalkannya pada istriku. Pura-pura bahwa ia adalah kolegaku. Entah apa yang ada dalam pikirannya setelah itu. Tiba2 saja ia menghilang dan tidak bisa dihubungi lewat apapun. Ia bahkan tak pernah ada di kantornya tiap aku kesana. Di apartemennya pun tak ada.
Tiba-tiba aku rindu sekali padanya. Jauh lebih rindu dari rinduku pada istriku sendiri. Gusti, kenapa aku harus bertemu dengannya justru pada saat aku sudah terikat dengan perempuan shalih dan penyabar ini….
Aku memijit bel pintu apartemennya. Percuma menggunakan kunci duplikat. Ia sudah mengganti kuncinya sejak sebulan yang lalu. Aku harap ia ada. Aku baru saja tiba di Jakarta dengan kereta dan langsung kesini. Bahkan nasi dan ayam goreng buatan istriku belum sempat kumakan. Masih tersimpan di wadahnya dalam tasku.
ia nampak terkejut saat menemukan ku dibalik pintu apartemennya. Aku tau ia belum tidur. Ia masih mengenakan baju kantor. Bau alkohol menguar dari mulutnya. Bercampur dengan bau asap rokok.
“elsa, aku rindu sekali padamu” kataku.
Ia menatapku dengan tatapan kosong. Entah kenapa firasatku mengatakan bahwa ia juga rindu padaku.
“ aku lebih rindu lagi.” Katanya datar. “tapi bukankah sudah kubilang bahwa tidak semua hal bisa kita miliki?.“ katanya lagi.
“elsa, aku sudah bilang pada istriku. Dia mau kok dipoligami. Aku cinta kamu, elsa.”
Ia tersenyum. Menatapku, tapi pandangannya kosong.
“aku lebih cinta lagi, tapi kamu tau?, cinta itu bukan membelenggu. Cinta seharusny a membebaskan. Jadi tolong, bebaskan aku. Seperti aku membebaskanmu. Tidak semua hubungan cinta harus berakhir dengan pernikahan.pulanglah. kembali pada istrimu. Aku tidak tega mencuri cintanya. Sedikit sekalipun.”
Kemudian ia menutup pintu apartemennya perlahan. Membiarkan aku menunduk menahan air mata. Cinta itu membebaskan. Bukan membelenggu. Mungkin benar apa katanya….

Mei 21, 2010

malu


kalo saya sih, masih bisa menahan lapar, mbak. tapi anak-anak saya tidak.

bapak itu datang pada saya. selepas maghrib. saat saya dan adik saya sedang makan dengan sambel terasi dan lauk yang saya bawa pulang dari tempat kerja. menaiki sepeda tua yang buruk rupa, jauh lebih buruk rupa dari pada phanther. mukanya pucat dan suaranya terbata-bata. bercerita ini itu ini itu ini itu. dan saya melihat matanya merah, meski ia mencoba menyembunyikannya dengan bicara tanpa mau menatap saya. seorang bapak, dengan 4 orang anak yang masih kecil dan istri yang meriang. bersepeda dari sagan ke gedong kuning, dan nanti harus pulang dengan bersepeda lagi ke kalasan. ia hanya ingin pinjam uang, 50 ribuuuu saja.

tiba-tiba saja saya merasa seperti ditampar. dengan sandal jepit. berpaku pula. tiba-tiba saya merasa menjadi orang paling sombong sedunia. tiba-tiba saya ingin menggali tanah dibawah saya dan masuk kedalamnya. saya malu sekali. saya tau semua benda di kamar kos saya sedang menahan tawa. menertawakan kebodohan saya. saya malu. benar-benar malu.

betapa uang sejumlah itu bisa saja habis dalam satu kibasan saja ditangan saya. betapa pulsa sejmlah itu bisa saya habiskan hanya dalam waktu singkat. betapa saya bisa pergi ke toko kue dan membeli jajanan sejumlah itu yang akan saya habiskan dalam sekejap saja. betapa uang sebesar itu bisa saya bawa jalan-jalan dengan adik saya, dan blasss, tiba-tiba sudah tidak ada. betapa uang itu seharga 2 karcis nonton film di twentyone dengan durasi 1,5 jam-an. betapa uang sebesar itu sering saya habiskan untuk membeli novel dan hanya akan habis saya baca dalam waktu 2 jam.

dan bodohnya, saya menyebutnya sebagai pengeluaran profesional, sebagai ganti atas kepenatan saya pada pekerjaan. saya menyebutnya harga yang pantas dibayar untuk sebuah kenikmatan.

seandainya saya lebih bijaksana, mungkin saya tidak akan semalu ini.

saya malu. benar-benar malu.

jangankan lapar, belum lapar saja saya sudah makan, berlebih malah. kadang sampe glege'en karena kekenyangan. kadang sampe terbuang makanan karena tidak termakan selama berhari-hari. sedang anak kecil dikalasan sana, dikhawatirkan lapar, kalo orang tuanya tidak membawa apa-apa malam itu.

saya tau betapa minimnya upah minimum propinsi di jogja. jangankan mendekati, untuk orang-orang yang berkerja di sektor informal, gaji separoh ump itu sudah sangat beruntung sekali. masih untunggggg, ada kerjaan, kata mereka.

saya tidak berniat sombong ato menyebarluaskan kemiskinan. semua orang juga tau saya sama miskinnya dengan mereka. hanya mungkin di beberapa hal, saya lebih beruntung.

saya bersukur saya punya pekerjaan tetap. saya bersukur tidak kesulitan mencari pekerjaan. tapi saya sering malu karena ada beberapa orang tidak seberuntung saya, dan sayapun tidak bisa berbuat banyak untuk mereka. jelas saya cuma omong besar saja. mungkin malaikat-malaikat cuma akan ketawa sambil mencatat di pundak kiri, halah, bersukur opo, ka, ka.

ah, sudahlah, sore ini akan sangat menyebalkan kalo dihabiskan dengan membaca ocehan omong kosong saya. yuk mari peduli, agar kita tidak semalu saya nanti. :D

Mei 16, 2010

ini pagi

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin mambakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi

(pada suatu pagi hari, oleh sapardi joko damono)



disinilah saya, tengkurap ditemani setoples kerupuk udang. dan secangkir kopi. sudah mandi, mencuci dan berseragam batik. berencana sarapan dengan sebungkus bubur gudeg pinggir jalan. sambil berharap. semoga hari ini tidak hujan. sebab kalo hujan, besok saya harus memakai baju ini lagi. padahal kemarin sudah saya pakai. aihhhhh.........


*jadi, apa hubungannya coba dengan puisinya pak sapardi?. :D

Mei 14, 2010

saya cemburu


saya cemburu. pada suara kokok ayam di pagi hari. saya cemburu. pada cericit burung-burung di pagi hari. saya cemburu pada sinar matahari yang masuk lewat jendela yang tak sempurna tertutup tirai. saya cemburu pada celoteh anak kecil sebelah rumah. saya cemburu. pada bau ayam rebus yang tercium dari rumah sebelah. saya cemburu. pada mas-mas koran yang pagi-pagi sudah menyelipkan koran dirumah-rumah. saya cemburu. pada mbok-mbok yang membawa tenggok dipasar pagi-pagi. saya cemburu. pada tukang roti yang lewat depan rumah.

bagaimana bisa mereka bangun pagi dan begitu bersemangat?.

saya cemburu. karena setiap bangun pagi, saya hanya menginginkan satu hal, yaitu tidur lagi. hehe.

saya ingin seperti mereka.


keterangan gambar: pantai sanur pagi hari, saat saya main kerumah teman baik, dan teman baik satu lagi. *kedip*

Mei 12, 2010

twenty sumthing and nothing




bagi saya, hari ulang tahun gak beda dengan hari-hari yang lain. kalo jatuh hari senin, maka rasanya seperti hari senin. kalo jatuh hari jumat, ya rasanya seperti jumat-jumat yang lain. dan rasanya setiap bertambah usia, -atau sebenarnya berkurang jatah hidup?-, saya selalu merasa biasa saja. tidak ada perasaan seperti tiba-tiba layaknya memasuki dimensi lain atau apa. biasa saja. saya bangun, dan saya tetap manusia yang sama dengan kemarin.

ulang tahun seperti ceremony biasa saja. seperti upacara bendera dihari senin, peringatan tujuh belasan, atau peringatan-peringatan yang lain. tapi aneh rasanya kalo ulang tahun dirayakan. bukanya makin tambah umur, kita makin dekat dengan kematian?. jadi merayakan hari ulang tahun sepertinya sama halnya dengan merayakan kematian yang makin dekat. ya, kan?. :D

ahh, mungkin yang orang-orang maksud bukan merayakan kematian. mungkin hal-hal lain yang lebih menggembirakan. seperti makin tua makin dewasa, makin tua makin sukses, makin tua makin banyak uang, makin tua makin peduli. hal-hal semacam itulah.

atau justru bersukur karena masih diberi umur sampai sekian, ya?.

iya. saya bersukur. meski sudah duapuluh berapa dan saya tetap bukan apa-apa, saya selalu punya teman-teman baik. teman-teman yang bertahan, teman-teman baru, teman-teman lama yang dipertemukan kembali. teman-teman yang tetap ada meski saya bukan siapa-siapa. terimakasih banyak....

dan disinilah saya, subuh hari, masih menjadi manusia yang sama dengan kemarin. sepertinya sudah lama saya tidak peduli dengan panggilan untuk bersukur.




keterangan gambar: kue ultah dari adik saya. difoto sebelum habis diganyang. trims, ya, nenk.:D

April 28, 2010

lelah

kenapa kita lebih banyak mengeluh daripapa bersukur?. karena saat senang kita hanya inget senang-senang. saya lelah. perlu tidur. agar besok saya kuat lagi. kuat menahan rindu. menahan amarah. dan menggebuk hari. dan hanya mimpi-mimpi yang membuat kita melupakan segala kenyataan yang tidak selalu seperti yang kita harapkan.

April 18, 2010

tidak menantang

memilikimu sehari semalam, tanpa ada yang ditakuti, malah membuatku tidak nikmat. ada yang hilang. sensasi takut ketahuan dan lain-lain. aku jadi tahu. mungkin, sebenarnya yang yang ku inginkan adalah sensasi sembunyi-sembunyinya. bukan tanpa hambatan seperti ini. ini terlalu mudah. dan aku malah jadi tidak suka.

April 05, 2010

arsiran

saya selalu kagum pada teman-teman saya yang hidupnya selalu lempeng. lurus. bener. tepat pada relnya. seperti meng-arsir ruangan diantara 2 garis memanjang, dan arsir-an itu begitu rapi. gak ada arsir-an yg keluar dari garisnya. saya kagum pada ketahanan jiwa mereka untuk tidak mencoba hal-hal diluar rel. saya kagum pada betapa tidak bosannya mereka pada hidup yang lempeng2 saja.

sedang hidup saya, kalo diibaratkan meng-arsir ruangan diantara 2 garis memanjang, maka arsir-an saya tidak penuh dan lebih sering melewati garis. garisnyapun tidak lurus. bengkak-bengkok gak karuan.

bukanya saya gak punya kontrol diri atau apa. tiap kali jalan saya melenceng dari rel, saya sepenuhnya sadar, dan berkata pada diri saya sendiri, 'ayo, ka, kembali ke rel. itu salah. bukan jalurmu'. biasanya saya trus kembali ke rel. tapi kadang saya menulikan telinga dan jalan2 dulu diluar rel saya. mengarsir tempat2 yang salah. dan sesuatu yang dilanggar, biasanya menyenangkan. mendebarkan.

berjalan lempeng sepanjang rel yg seharusnya kadang sangat membosankan. itu-itu saja. kurang menantang.

baitewai, apa kbr teman2 saya yg jalanya lurus2 gak pernah keluar rel itu?. sbagian besar dari mereka nampaknya sekarang sukses. sepenglihat saya, lho. dari segi ekonomi ato kehidupan pribadi. itu kali, ya, buah dari kesabaran. kalo kau sabar, berjalan didalam relmu, tidak melenceng, Tuhan sdh menyiapkan hadiah2 di sepanjang rel-mu.

lalu, apakah orang seperti saya, yg sering mengarsir di luar garis tdk akan sukses?. entahlah. mestinya segala sesuatu kan ada batas toleransi-nya. mungkin keluar garis beberapa senti masi bisa dimaklumi, kali, ya. :D


Jadiii, bgmana dg arsir-an kalian?.



insomnia sialan membuat saya ngoyoworo.

Maret 25, 2010

sejauh ini pekerjaan saya baik. saya bersukur bisa bekerja di bidang yg sy suka, dan di bgian yg nyambung dg hal2 yg sy pelajari. sy mempelajari byk hal2 baru. bertemu teman2 baru. intinya, meski sy gendud-item, hidup gak buruk2 amat, kok. :p
hari ini, tanpa sengaja, temuan2 di bagian saya, sempat membuat seorang teman marah. salahkan sy yg benar2 tdk pintar mengolah kalimat. mungkin sy perlu memlester mulut pake lakban dan mulai belajar berkomunikasi lewat bhs isyarat.:p sy tdk tau dibgian mana kalimat sy menyinggungnya. bertanya tentang suatu hal yg tdk jelas adl salah satu dari jobdesk sy. sy membayangkan kalo smua orang yg saya tanyai marah pada sy, pasti mengerikan bekerja dg mereka smua.
selama ini, sy meyakini satu hal, bhwa pas seseorang marah, sbnrnya dia sdg bermasalah dg dirinya sendiri. dia sdg mencari alasan utk meledak. klo kbtulan kita iseng2 nyalain korek di dktnya, tar!. dia menyalahkan orla & meledak. mungkin, sebenarnya, teman saya, memang sdg bermasalah dg dirinya.:D
saya juga pemarah. dan apakah sy bermasalah dg diri sy sendiri saat marah?. umm, keknya iya. pernah ktmu orang yg bgt pemarah, tapi aslinya dia rapuh dan penyayang?. pernah tau seorang suami yg status sosialnya dibwh istri trus jadi lbh pemarah?. pernah kenal seorang perawan tua yg pemarah?. *sigh*. begitulah....
sy juga pernah membca, katanya marah itu seperti menancapkan paku di tembok. bekasnya selalu ada, meski kau sdh mencabutnya. percayalah, itu bener. terutama kalo kau benar2 tdk berniat memancing amarah, tp lwn bicäramu malah marah. clap!. rasanya spt hatimu ditancepin paku. beberapa menit kmdian, masalah kami clear, dan kami maaf2-an. kami tetap berteman. tapi sy ragu, bhwa sy akan lupa kalo ia pernah marah pd saya. duhh, saya jadi ingin membeli sekaleng dempul untuk sy bagikan pada orang2 yang pernah saya lukai hatinya karena saya marah. maaf saja sepertinya tidak cukup untuk menghapus luka hati yg kita buat pada mereka.
kata nabi, kalo kita marah saat duduk, sebaiknya berbaring, kalo marah saat berdiri, sbaiknya duduk. saya setuju. kita tidak boleh ngapa2in pd saat marah. bicara, bekerja, mengambil keputusan, bercerai, pergi. karena saat marah, otak kita tdk bekerja dg logika. kita bisa saja menolak sekotak eskrim coklat gratis cuma karena sdg marah. rugi, kan?. ;-)
anyway, saya tau, marah tdk akan pernah membuat seseorang nampak lbh kuat & cerdas. marah justru akan membuatmu tampak labil & tolol. tapi sulit skali menahan marah.

Maret 22, 2010

nasi-nasi yang tidak habis

Saya pikir, pasti senang bekerja di bìdang boga. saya bìsa belajar hal2 baru. berfikir bahwa nanti saya bisa spt rudi choirudin membuat saya bersemangat.:p

tapi, begitu melihat kelakuan tamu2 & teman2 baru saya, saya malah sedih. saya sedìh melìhat betapa banyak nasi & lauk yg di buang karena tidak habis. padahal mereka mengambil sendiri. bukankah seharusnya mereka bisa mengira-ira seberapa besar kapasitas perut mereka, ya?.

seingat saya, saya jarang meninggalkan makanan saya bersisa di piring. kecuali terpaksa skali. sebisa mungkin, saya akan menghabiskan apa2 yg sudah saya ambil. kalo diporsi, & sy terlalu kenyang untuk menghabiskannya, saya tidak akan malu untuk membungkus sisa makanan itu, nanti akan saya habiskan dirumah.

kebangetan, ya?. iya memang. saya cuma ingat mbah kakek & mbah simak saya. cerita2 beliau tentang jaman belanda dulu. tentang betapa tidak enaknya kulit singkong, bonggol pìsang, nasi aking, & nasi jatah dari pemerintah begitu apek, penuh kutu & batu. saya ingat uang saku saya dulu begitu sedikit, hingga sy harus makan kenyang2 supaya gak jajan di skola. saya ingat kalo kami susah makan, beliau mengingatkan kami tentang bangsa somalia. saya ingat bahwa katanya ayam2 kami akan mati kalo makanan kami tìdak habis. saya ingat cerita dewi sri, yg mbah simak ceritakan pada saya, bahwa dewi padi itu akan sdh skali kalo kita membuang-buang nasi.

ingin sekali saya men-dublek2-an nasi2 yg tidak habis itu pada si pengambil. & menceramahi mereka bhwa rejeki akan lbh lancar kalo mereka lbh menghargai makanan. tapi, lagi2, yg kami tau adalah, nasi yg sdh dibayar, sepenuhnya menjadi hak mereka. terserah mau diapain. saya cuma bisa menelan ludah tiap kali melewati dapur, melirik sisa makanan itu bertumpuk2 mubazir. mungkin, skali2, seseorang memang harus miskin.

iya. mengbskan makanan tdk akan membuat kita tiba2 kaya. tapi ini perkara bersukur & kemampuan mengukur kemampuan kita,kan?. memulai sesuatu kan dari hal kecil. dan mengukur kapasitas perut, imo, adl salah satu diantaranya.

pernahkah berfikir, bhwa mungkin saja, orang2 yang lbh sulit mencari rejeki daripada kita, bisa jadi sakit hati melihat kita buang2 makanan?.

sepele. tapi saya rasa, penting skali. bagaimana bisa menilai orang lain, sementara mengukur kemampuan sendiri saja tak bisa.

percayalah, kau tidak akan mjd gendud (spt sya), krn menghabiskan spt makanan yg kamu ambil sendiri. gendud saya uda default, kok. :D

Februari 21, 2010

cerpen: perempuan ke dua

setiap anak yang tidak tinggal dengan orang tuanya selalu berharapa bahwa ayah atau ibu meninggalkan mereka adalah orang hebat. mungkin seorang bintang film, seorang astronot, seorang pilot, seorang anggota dewan, atau siapapun mereka, mereka adalah orang hebat. Begitu juga denganku. dengan daya khayal kanak-kanakku yang tinggi, serta omongan orang-orang tentang ayah biologisku, aku berharap bahwa ayahku adalah seorang berperawakan tinggi besar, ganteng luar biasa, disegani oleh orang-orang disekelilingnya, dan berpangkat tinggi di angkatannya.

Tapi saat aku membulatkan tekad untuk menemuinya, menuntaskan rasa penasaran yang mengendap bertahun-tahun, alih-alih seperti yang kubayangkan, atau paling enggak orang biasa saja, aku justru kecewa berat dengan ayah biologis yang saat kutemui hanya tinggal nama saja itu.

"bener ya, embak ini gak ada hubungan apa-apa dengan pak irwan?", perempuan setengah baya itu bertanya padaku dengan pandangan menyelidik. aku mengalihkan pandanganku. sedikit melirik pada mesin obras yang terletak di sisi kiri ruang tamu sederhana ini.

"enggak, kok, bu, saya cuma mau silaturahmi aja. ibu saya dulu teman pak irwan." jawabku padanya. bukan jawaban yang jujur, sih. tapi itu yang ibu pesankan padaku, sebelum ia memberikan alamat terakhir pak irwan, ayah biologisku.

3 hari yang lalu, aku meminta pada ibuku alamat terakhir pak irwan, orang yang hanya kukenal lewat nama dan foto-fotonya saja. sebenarnya sudah sejak lama aku ingin bertemu dengan ayah biologisku. bukan untuk apa-apa. bukan untuk meminta warisan, mencaci maki, balas dendam, pamer bahwa aku bisa eksis tanpanya atau apa. aku cuma ingin bertemu dengan saja. ingin membuktikan omongan orang-orang di sekitarku yang katanya, perawakan, pembawaan dan watakku mirip sekali dengan ayahku.

dan siapa sangka, setelah bertahun-tahun tak pernah ketemu, malah ternyata ayah biologisku sudah meninggal sejak 2 tahun yang lalu. benar-benar mengecewakan. padahal selama ini aku selalu berdoa agar aku dapat bertemu dengan ayahku dalam keadaan baik, bertemu dengan keluarganya juga dalam keadaan baik. tapi rupanya Tuhan tidak mengabulkan doa yang terlalu banyak.

aku melirik foto berpigura besar di dinding sebelah kiri, tepat diatas mesin obras. tampak sebuah foto keluarga disana. dan percaya atau tidak, aku seperti melihat diriku sendiri disana. seorang laki-laki berpangkat letkol, perempuan separuh baya itu, seorang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki, semuanya berbadan gempal, berkulit gelap dan berambut keriting sepertiku. untung saja rambut keritingku sudah ku rebonding beberapa hari yang lalu, dan diet golongan darah yang kujalani sudah membuatku tubuhku susut beberapa bulan ini.

"ya beginilah, mbak, keadaan kami. Pak irwan meninggalkan banyak hutang setelah kematiannya. rumah kami sudah disita orang. untunglah kami tidak diusir dari rumah dinas ini. tapi entahlah beberapa waktu lagi." katanya melanjutkan obrolan.

aku mengangguk. dalam hati bersukur karena kehidupanku jauh lebih baik dari keluarga ayahku ini.

"sebenarnya kami gak akan kekurangan seperti ini kalo saja bapak lurus-lurus saja saat bekerja. ia sering menggunakan pangktnya untuk macam-macam. bapak orangnya keras. kasar. kalo diberitahu malah marah-marah gak karuan. saya saja pernah di tonjok sampe pelipis berdarah."

aku menunduk, walau perempuan ini gak tau, kalo aku anak pak Irwan, malu juga rasanya punya ayah yang suka main tangan.

"anak saya yang perempuan itu, juga pernah di tendang. sekarang entah dimana anak saya itu. sudah lama dia pergi dari rumah sejak bapaknya mencaci maki pacarnya."

aku tambah menunduk. aku bisa mendengar ibu itu menyusut hidungnya.

"meninggalnya bapak juga dalam keadaan gak baik. minum-minum di kafe, terus kena serangan jantung. saya sampe malu sama tetangga, mbak."

"Rofik, yang nomor dua sekarang cuma bisa bantu-bantu saya di rumah. dia depresi. malu sering di ejek tetangga sebelah, karena bapaknya gak beres." ia melanjutkan.

dan seorang anak laki-laki seumurku, berperawakan besar, berkulit gelap, berambut keriting dan bermata besar, menghampiri bu irwan, duduk sambil menggelayut manja padanya.

"harapan saya cuma Haris, anak saya nomor 3. alhamdulillah, dia sudah bekerja sebhabis lulus tahun lalu. cuma jadi cleaning servis. tapi lumayanlah, sudah tidak jadi beban lagi."

tiba-tiba aku ingin cepat-cepat pergi dari rumah dinas sederhana itu. bukan cerita macam ini yang ingin ku dengar tentang ayahku. bukan cerita tentang betapa kasarnya ia, alkoholik, ato pejabat yang melindungi judi dan peredaran minuman keras seperti itu. aku ingin mendengar cerita yang baik-baik tentang ayah bioligisku. tentang keluarganya yang bahagia. tentang alasan ia meninggalkan ibuku karena ia begitu mencintai keluarganya. tentang betapa keren ayahku dimata orang-orang terdekatknya. karena kalo seperti harapanku itu, aku bisa mengerti dan lego lilo nrimo dengan perlakuannya pada ibu dan aku. bukan cerita buruk seperti ini. apalagi mengingat ia telah meninggal.

memang seharusnya aku gak berharap terlalu banyak. karena lagi-lagi, orang yang punya banyak harapan, harus bersiap-siap untuk kecewa. untuk kekecewaan sebesar ini, sepertinya aku gak terlalu siap.

dan entahlah, aku ada di garis tepi antara bersukur dan sedih. bersukur karena ternyata keuarga ayahku juga gak kalah sengsaranya denganku, atau sedih karena mereka gak sebahagia yang kuharapkan. duh gusti, semoga aku tidak sejahat yang kupikirkan.

"gak ada hubungan apa-apa kan, mbak?". Tanya bu Irwan lagi penuh selidik.

aku menggeleng sambil mengigit bibirku. aku tidak berani memandang wajah tuanya yang nelangsa. usianya pasti gak jauh beda dengan ibuku. tapi mungkin ia tak serajin facial dan body language seperti ibuku.

"kemarin2, banyak orang kesini mau nagih hutang. bagaimanapun, pak irwan kan suami saya. jadi saya terpaksa bertanggung jawab." katanya lagi.

aku tersenyum, mengangguk, dan berjalan menuju mobilku diparkir.

"sebenarnya hutangnya pada saya dan ibu saya banyak, bu, tapi sudahlah, saya iklas, kok."

iya, hutang meninggalkan aku sejak kecil. hutang menjadikan ibuku perempuan kedua dan mencampakkannya. hutang membuatku miskin. hutang karena membiarkankn berjuang sendiri. dan hutang mengecewakanku setelah kematiannya.

Bu irwan bertubi-tubi mengucapkan terima kasih. ia tampak salah tingkah. perempuan polos yang menikah dengan penipu. sungguh malang nasibnya. jauh lebih malang dari ibuku, ternyata.

tiba-tiba ponselku berdering. my secret baby.

"sayang, hari ini aku gak jadi ketempatmu. istriku merajuk. minta di temenin terus. aku gak bisa curi-curi waktu untuk menemuimu." suara laki-laki di ujung sana menelusup ke telinga. suarannya selalu membuatku luluh. pria beristri. satu-satunya pria yang membuatku bisa jatuh cinta. satu-satunya pria yang mampu membuatku rela menyerahkan segalanya. padahal aku tau, jelas ia gak akan pernah bisa menjadi miliku.

"iya, gak papa. lagian hari ini aku jadi pergi klinik. kayaknya bapak gak bisa kesini dalam beberapa hari." jawabku sambil mengelus perut.

"sayang, kamu jadi aborsi?. jangan sayang, dosa, aku janji akau menikahimu, kok."

aku tersenyum sinis. hah?. dosa?. setelah semuanya, bisa-bisanya kita berfikir tentang dosa?.

"gak. aku akan tetap ke klinik. sekalian men-sterilkan kandunganku. agar hubungan kita aman. dan gak ada korban berikutnya."

klik.

aku mematikan ponselku. iya, supaya tidak ada korban berikutnya. satu perempuan saja. entahlah, aku tak pernah habis pikir. bagaimana bisa buah apel selalu jatuh tidak jauh dari pohonnya. aku takut buah apelku kelak juga jatuh tidak jauh dari pohonnya. karena itu aku memutuskan untuk tidak berbuah saja. agar tak ada lagi buah apel yang jatuh di dekat pohonnya.....