Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Mei 25, 2012

menunggu kereta

       Duduk sendiri di pojokan bangku stasiun sambil menunggu kereta benar-benar menyebalkan. Ditambah kenyataan bahwa hari ini Adit –mantan pacarku- menikah dengan wanita yang jauh lebih muda dan lebih cantik dari aku membuatku makin galau. Foto prewedding keduanya yang dicetak di undangan mereka benar-benar menari-nari di mataku. Senyum mereka berdua seakan-akan mengejekku.
       Dua hari yang lalu aku memutuskan untuk datang saja ke pernikahan mereka. Setidaknya untuk menujukkan sopan santunku karena Adith sudah bersopan-sopan menyampaikan undangannya padaku, perempuan 34 tahun yang sudah 5 tahun dipacarinya. Selain itu, aku ingin menunjukan pada Adith, bahwa aku bukan pecundang yang tidak berani datang ke pernikahan mantannya. Aku sudah membeli gaun mahal dan memesan salon untuk mendadaniku secantik mungkin. Aku bertekad akan tampak lebih cantik dari mempelai wanitanya. Agar ketika Adith melihatku, ia akan menyesal sekali karena telah mencampakkan gadis semanis aku 3 bulan yang lalu. Aku bahkan sudah berlatih berjalan sambil mendongak dan latihan tersenyum sombong agar Adith makin shock dan menyesal tiada tara.
         Tapi kemarin, tiba-tiba aku meragukan ketegaranku. Aku takut kalo aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, dan tiba-tiba bertingkah tolol. Seperti melempar Adith dengan gelas, atau merenggut sanggul si pengantin perempuan dan merobek-robek gaunnya, atau merusak kue pengantin sambil berteriak-teriak. Kau tau kan, perempuan kadang-kadang tidak bisa mengontrol emosinya. Bagaimanapun aku masih kecewa dengan Adith.
          Jadi hari ini, disinilah aku berada, duduk sendiri di pojokan stasiun Tugu, menunggu kereta Prameks ke Kutoarjo berikutnya datang, melupakan ide untuk membuat Adith menyesal telah meninggalkanku. Karena setelah kupikir-pikir, lelaki berusia 35 tahun, jelas memilih perempuan muda berusia 22 tahun kan, daripada yang berusia 34 tahun? Yah, lelaki matang kan memilih perempuan yang sedang mekar-mekarnya. Aku memutuskan untuk libur 3 hari dan meninggalkan Yogya. Semoga di rumah aku bisa membebaskan diri dari penyakit ‘kasihanlah diriku’ ini.
          Mungkin karena sedang terlalu galau, aku sampai tidak sadar ada seorang gadis kecil menangis di dekatku. Ia berambut keriting dan berjaket denim biru. Usianya sekitar 4 tahunan. Kaus kaki pinknya tampak tak cocok dengan roknya yang berwarna hijau. Aku mendekatinya.
        “Hey, kenapa menangis, dik?” tanyaku lembut. Baiklah, sapaan ‘dik’ untuk anak kecil bagiku memang tidak pantas. Tapi kan sudah teranjur. “Papa hilang” isaknya. Aduhhh, ini papanya yang hilang, atau dia yang hilang.
          “Namamu siapa, nak?” Nah, tampak lebih pantas sekarang, kan?
           “Anisa” katanya masih sesenggukan. Aku berlutut dihadapannya, tersenyum, dan memegang tangannya untuk membuatnya percaya padaku.
         “Oke, Anissa, Tante akan bawa kamu ke kantor informasi, agar Mama dan Papamu mudah mencarimu, ya?” Anissa mengangguk.
        Aku meraih ranselku, dan menggandengnya ke kantor informasi. Saat kami hendak memasuki pintu kantor informasi stasiun, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara laki-laki.
        “Anisa” teriaknya. Anisa menoleh, matanya berbinar.
        “Papa” Jeritnya gembira Si pria berlari mendekati kami, Ia kemudian berlutut dan memeluk Anisa.
        “Anisa, kemana saja kamu? Papa sibuk cari-cari kamu. Papa suruh tunggu malah pergi-pergi” Pria yang kutaksir berusia 43 an dan mengenakan kaos polo garis-garis hitam abu itu bangkit berdiri. Ia menyerahkan bungkusan dua gelas es teh pada Anisa
.        “Maafkan telah merepotkan Ibu, tadi saya suruh Nisa menunggu di dekat pintu sementara saya membeli es teh. Tapi kemudian dia menghilang.” Katanya padaku dengan nada menyesal.
         “enggak merepotkan, kok. Saya baru mau membawa Anisa ke kantor informasi, omong-omong, Saya masih embak-embak.” Kataku sambil tersenyum dan menunjukkan muka se-innocent mungkin. Jengah, lho di panggil ibu, kalo belum menikah. Yah, meskipun wajahku sebenarnya sudah pantas beranak dua. :D
       “Oh, maaf, Bu, eh, mBak” kata si pria malu.
        “Gapapa. Wajah saya memang boros. Hehehe” tapi memang saya sudah tua, kok. Lanjutku dalam hati.    
        “lha ini mamanya mana?” tanyaku lagi mencoba basa-basi. Ia terdiam. Anisa sibuk menyedot es tehnya.
          “ummm, mamanya Nisa sudah meninggal, mbak. Oh iya, saya Santoso, Papanya Anisa, kami sedang menunggu kereta prameks ke Kutoarjo.” Ia menjulurkan tangannya. Aku mengusapkan tanganku di celana jeansku, dan menyalaminya.
         “Saya Andini. Wah, sama dong, saya juga sedang menunggu kereta prameks ke Kutoarjo.” Kataku.       
         “Kebetulan sekali. Mari menunggu bersama-sama, saya mau mengambil tas dulu di dekat pintu. Ayo Nisa, kita ambil tas dulu” Ia tersenyum lucu.
         “Oh silakan” Tapi Anisa malah memegang tanganku dengan erat, ia menggelendot manja di pahaku.  
          “Papa, Nisa mau sama tante Andini” katanya. Matanya tampak memohon pada papanya. Aku terkejut tidak tau harus berkata apa. Aku hanya mengangkat bahu.
          “Waahh, sepertinya Annisa menyukai mbak Andini. Selama ini dia tidak pernah ramah dengan satupun teman wanita saya” Santoso tersenyum sambil menatapku.
          Aroma musk menguar dari kaos polonya.
          Aku tersipu malu.
           Tiba-tiba aku lupa kalau beberapa menit yang lalu aku galau sekali. Aku mau menunggu kereta berjam-jam kalo begini ceritanya…..


 Hahahaha, ngimpi!!!! Membaca novel-novel chicklit dan harlequeen benar-benar tidak di rekomendasikan untuk perempuan 27 tahun yang belum menikah. :D

Aisha tidak sekolah

Pagi ini Aisha tidak masuk sekolah. Tadi, waktu bangun tidur, kepala Aisa pusing sekali. Badannya juga panas. Aisha sakit. Mungkin karena kemarin sore kehujanan saat pulang mengaji. Jadi, hari ini ia tidak masuk sekolah. Tadi pagi ibu sudah membuat surat ijin, dan meminta Fatia, kakaknya, untk menyampaikan surat itu pada wali kelas Aisha. Ibu menyuruh Aisha istirahat saja di tempat tidur supaya cepat sembuh, tapi Aisha nekat ikut ibu ke pasar Giwangan. Aisha takut di rumah sendirian. Bapak kerja, dan Fatia sekolah. Sayangnya hari ini Aisha sial sekali. Saat Ia sedang menunggu ibu membeli buah, tiba-tiba Ia di kejutkan oleh suara-suara yang memanggil namanya. 'ais-ais, ais-ais' Astaga. ternyata itu teman-teman sekelas Aisha, siswa kelas 4 SD N 2 Giwangan. Mereka mengenakan seragam olahraga dan berbaris berjalan kaki melewati pasar. Pasar Giwangan memang sepi kalo pagi hari. Pedagang-pedagang berjualan di malam hari. Jadi, anak-anak sekolah bisa berjalan2 melintasi pasar itu. 'Ais-Ais, katanya sakit, kok kepasar' seseorang berteriak. itu pasti suara Afika. Ais hafal sekali suaranya. 'Ais-ais, ayo sekolah' kalo itu suara Rania, teman sebangku Aisha. Aisha malu sekali. Ramai sekali di sana. Teman2 yang lain memanggil-manggil namanya, Sebagian tertawa. Lebih menyebalkan lagi, pedagang2 di sekitar kios buah tempat ibu Aisha membeli buah ikut menertawakan Aisha. ibu yang jualan sosis, ibu sate yang sdg membereskan daganganya, bapak yang jual buah. Bahkan, mbak-mbak gendut berbaju batik yg sdg membeli pepaya malah meledeknya. 'Ais malu ni yeee' katanya. Sebel. Aisha buru-buru menghampiri ibunya dan memeluknya. Matanya memerah hampir menangis. Sialnya, ibu malah ikut tertawa. Huh. Sebel pangkat dua. Di sebelah kiri rombongan, Aisha melihat Pak guru Rivan melambai kearahnya sambil tertawa. ibu Aisha membalas dg menganggukan kepalanya sambil menahan tawa juga. Hari ini semua orang di pasar tertawa, tapi aisha malah menangis. Untunglah rombongan teman2 sekelas Aisha segera berlalu. duh, kenapa si Aisha bisa lupa kalo ini hari jumat, Jadwal pelajaran olahraga kelas Aisha. Kalo saja Aisha ingat, pasti Aisha menuruti perintah ibu untuk istirahat saja di rumah. masi menangis dalam pelukan ibunya, Aisha berjanji, besok kalo Aisha sakit dan tidak berangkat sekolah, Aisha tidak akan ikut kepasar. Kapok. based on true story. geli liat muka kaget ais tadi pagi. xixix

Februari 08, 2011

suatu sore di rumah sakit

Beberapa hari ini Tatiyana tidak masuk kuliah. Eyangnya dirawat dirumah sakit. Tatiyana harus menungguinya karena cuma ia yang tinggal dengan eyangnya di Jogja. Ayah dan Ibunya yang tinggal di jakarta, belum sampai di Jogja, karena masih ada pekerjaan. selama beberapa hari itu, aku belum sempat menengok eyang tatiana di rumah sakit, karena selesai kuliah aku harus segera menuju warnet tempat kerjaku.

untunglah hari ini aku bisa mengambil jatah liburku di warnet. aku sudah berencana menengok eyang di rumah sakit wirosaban, tempat eyang tatiyana di rawat. pagi tadi, sebelum aku berangkat ke kampus, aku sudah menelphon Tatiayana. Ia masih di rumah sakit. ayah ibunya sudah tiba, dan kalau aku mau menengok Eyang-nya, aku harus ke rumah sakit wirosaban, di bangsal edelweis.

rumah sakit ini besar sekali. Tatiyana bilang, kalo aku masuk lewat igd, aku bisa lebih cepat sampai daripada aku lewat depan. masalahnya aku tidak tau dimana pintu IGD-nya. aku mau menelphon Tatiyana untuk menjemputku di pintu depan, tapi sial, batre ponselku habis. aku pasti lupa tidak men-charge-nya tadi. baiklah, aku akan bertanya pada petugas disana. seorang perawat memberi petunjuk jalan padaku menuju bangsal edelweis.

aku hanya perlu meneluuri lorong utama, gang pertama ke kiri, kemudian lurus ke selatan, bangsal edelweis ada di pojok selatan rumah sakit ini. seperti rumah sakit lain pada umumnya, rumah sakit ini menguarkan aroma obat-obatan yang tidak kusukai. baunya menusuk hidung. dinding-dinding rumah sakit ini di cat warna hijau muda. separohnya hijau tua. dan lantainya terlalu licin. sepatu karetku berdecit-decit tiap kali aku melangkah. disepanjang jalan aku bertemu dengan suster-suster muda berwajah suram. sesuram rumah sakit ini.

bangsal edelweis. aku melihatnya setelah aku sampai di depan pintu bangsal kenanga. bangsal kenanga, flamboyant, krisan, dan sampailah aku di bangsal edelweis. aku membuka pintu kayu warna hijau yang lebih pendek dari tubuhku. tidak ada orang. dimana suster-suster jaga, tanyaku dalam hati. aku ingat tatiyana tadi pagi bilang kamar eyangnya ada di sisi selatan. nomor satu dari tempat para perawat berjaga.

aku membuka pintu kamar nomor satu dengan pelahan. sepi sekali. tidak ada tatiyana disana. juga keluarganya. hanya eyang tatiayana sendirian, duduk di tepi tempat tidur. kakinya terjuntai ke bawah. ia sedang menyisir rambutnya yang beruban saat aku datang. ia mengangkat mukanya, dan tersenyum kepadaku. mukanya tuanya pucat,ada selang yang tertancap ditanganya yang memegang sisir. aku menghampirinya, dan mencium tangannya.

"apa kabar, yang? maaf reta baru sekarang bisa menengok eyang." kataku.
eyang tatiyana tersenyum dan meletakkan sisirnya.
"sibuk kerja diwarnet, ya?" tanyanya.
aku tersenyum.
"gimana, yang, sudah enakan, ya? kapan eyang boleh pulang? reta kangen, nih, kolak pisang bikinan eyang."
"eyang sudah sehat, kok, ini sebentar lagi eyang pulang. bosen eyang dirumah sakit ini. makanannya gak enak." ia berbisik sambil tertawa kecil.
aku ikut tertawa.
"dirumah sakit memang makanannya gak enak, yang." kataku menimpali.
"eyang kangen sama eyang kakung. pengen mengulang-mengulang kenang-kenangan jaman dulu. hidup terlalu lama didunia dengan banyak kenangan sungguh menyiksa sekali, ta." eyang tatiyana berkata sambil menerawang.
muka tuanya terlihat pucat. iya, pasti menyesakkan sekali hidup hanya berteman dengan kenangan akan orang yang dicintainya. eyang pasti kesepian hidup dengan tatiyana saja yang sibuk kuliah. aku tak tega melihat wajahnya yang sedih.
aku melihat sekeliling kamar ini dan melihat tas tatiyana di atas lemari di pojok ruangan.
"yang, tatiyana mana?"
"baru keluar. tuh, tasnya ketinggalan. anak itu memang slebor. tapi sabar sekali ia. menunggui eyang tiap hari. dia juga tidur disini tiap malam,lho, ta." kata nenek sambil menerawang.
"memang kadang-kadang eyang dan tatiayana sering berselisih pendapat. yah, namanya juga beda generasi. pikiran anak jaman sekarang berbeda dengan eyang yang sudah puluhan tahun hidup di dunia. banyak hal-hal yang tidak sama. kenangan eyang waktu muda berbeda dengan jaman sekarang."
aku tersenyum. iya, tatiyana memang sering mengeluh tentang eyangnya yang terlalu kolot. tapi aku tau pasti, tatiyana sayang sekali dengan eyangnya.
"dia juga cerewet sekali dengan jam makan eyang. dia itu selalu memaksa nenek menghabiskan makanan-makanan tidak enak yang di berikan oleh perawat. padahal bukannya eyang tidak mau menghabiskan. makanannya tidak enak, ta. dan lidah eyang pait."
"namanya juga lagi sakit, yang. semua yang enakpun tidak akan terasa enak." kataku sambil memegang tangannya.
"coba kamu tengok ke luar, ta, kayaknya tatiyana datang. pasti ia mau mengambil tasnya yang ketinggalan." kata eyang lagi.

aku berdiri, dan menuju pintu untuk keluar. aku melihat tatiayana baru saja membuka pintu kayu setengah badan di bangsal ini. mukanya pucat. matanya merah. tatiyana pasti habis menangis. ia kaget melihatku disini.
"ta, kok kamu disini?." tanyanya.
"iya, kan nengok eyang."
"ta, eyang sudah meninggal...." kata tatiyana.
kemudian ia menghampiriku, dan menangis sejadi-jadinya.
eyang? meninggal?
aku bingung sekali.
"ta ta tapi, na, aku baru saja menengoknya." kataku linglung.
tatiyana malah menangis semakin keras.
"eyang sudah meninggal, ta. kami mau membawanya pulang ke rumah. aku kesini mau mengambil tasku yang ketinggalan."
hah? mana mungkin.
aku menyeret tatiyana ke kamr pertaman di bangsal ini. kamar eyang tatiyana dirawat. pintunya berderit saat ku buka.
tak ada siapa-siapa disana. kamarnya rapi. tak ada eyang tatiyana yang sedang duduk menyisir rambutnya. tidak ada selang infus. hanya ada tempat tidur kosong, lemari di pojokan, dan tas tatiyana diatasnya.




suatu siang di rumah sakit wirosaban. :D

Oktober 19, 2010

kematian pawang hujan

Sudah seminggu ini, sasmito setyo pawiro, bapakku, meniggal dunia. Kuburannya masih merah dan basah. Pertama karena hujan tidak berhenti turun berhari-hari ini, dan kedua, karena setiap hari, sebelum maghrib, aku dan ibu selalu datang ke kuburan bapak untuk menyiramkan air bercampur kembang telon dan daun dadap srep yang sudah di bacakan surat yaasin oleh pak kaum setiap selesai tahlilan sego gebing seminggu ini. Pipi kami juga basah. Tak kuasa menahan tangis setelah ditinggal bapak.
Bapak meninggal karena tersambar petir minggu lalu. Kalo biasanya orang meninggal karena tidak sengaja tersambar petir, maka bapak sengaja memberikan tubuhnya untuk disambar petir. Bapakku seorang pawang hujan. Namanya cukup terkenal di imogiri, Jogjakarta dan sekitarnya. Kadang-kadang, beberapa orang dari Surakarta dan klaten juga jauh-jauh datang kerumah kami untuk meminjam jasa bapak sebagai pawang hujan. Bapak juga pernah di panggil pihak keraton jogja saat pawang hujan keraton sakit, padahal mereka sedang menyelenggarakan hajatan besar. Tapi sejak setahun ini bapak menghentikan profesinya sebagai pawang hujan. Beliau prihatin dengan cuaca yang tak menentu, dan menyalahkan dirinya atas kekacauan cuaca ini. Setahun terakhir bapak lebih sering mencangklung di depan jendela rumah joglo kami sambil memandangi hujan yang datang tidak sesuai musimnya.
Bapak meninggal di usia 64 tahun. Di usianya yang ke 32, beliau menikahi ibuku yang masih muda belia. Baru di ulang tahun pernikahannya yang ke 12 ibu melahirkan aku. Pada hari kelahiranku itulah untuk pertama kalinya bapak memperoleh ilmu menyingkirkan hujan. Menurut cerita bapak, dihari kelahiranku waktu itu, cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras seperti ditumpahkan dari langit, petir menyambar-nyambar, sementara air ketuban ibu sudah pecah. Bapak kebingungan karena rumah kami yang di perbukitan imogiri jauh dari rumah bidan. Akhirnya, sebisanya bapak menyiapkan uba rampe seadanya dan memohon kepada yang maha kuasa untuk menghentikan hujan agar ia bisa membawa ibu ke rumah bidan. Dan ajaib. Hujan tiba-tiba berhenti. Bapak segera membawa ibu ke bidan untuk melahirkan aku.
Sejak saat itulah bapak menjadi terkenal sebagai pawang hujan. Kemampuan yang kemudian menjadi anugrah bagi kami sekeluarga. Bagaimana tidak, bapak yang tadinya hanya buruh tani miskin yang mengerjakan sawah milik orang lain, tiba-tiba menjadi buah bibir dimana-mana dan sering kedatangan tamu priyayi-priyayi bermobil yang membutuhkan jasa pawang hujan. Bahkan bapak terikat kontrak dengan salah satu penyelenggara event organizer yang cukup terkenal di Yogyakarta.
Bapak menganggap kelahiranku sebagai berkah kehidupannya. Aku sering diajak saat bapak harus bertugas menyingkirkan hujan di lokasi hajatan. Biasanya kami dijemput dengan mobil oleh orang yang menyelenggarakan hajatan itu . kami membawa ubarampe yang sudah di persiapkan ibu sebelumnya. Ubo rampe itu adalah setakir pasir khusus dari Laut Kidul, setakir tanah, setakir telur ayam kampung digoreng ceplok, setakir telur ayam kampung mentah, setakir kacang hijau, dupa kemenyan madu, kembang liman serta uang seribu rupiah yang disandingkan dengan untaian sapu lidi yang pada ujungnya diikatkan cabai merah, bawang merah dan bawang putih sebanyak 25 biji. Khusus untuk bawang putih dengan cabai merah hanya disediakan empat buah guna dipasang disetiap sudut area hajatan setelah usai dibacakan mantera .
Untuk melaksanakan ritual itu bapak harus bersuci terlebih dahulu dengan cara mandi junub, membasahi seluruh tubuhnya dengan mandi keramas. Setelah itu baru menyiapkan uba rampe yang sudah disiapkan ibu untuk caos dahar terhadap danyang penguasa gaib daerah yang akan diusahakan agar hujan tak jadi turun. Untuk cabai merah dan bawang merah yang ditancapkan pada ujung sapu lidi yang baru dan belum pernah dipakai untuk menyapu sengaja dipasang terbalik sebagai penolak. Setelah semua sesaji sudah disipakan di halaman lokasi, japa mantera segera dirapalkan. Usai merapalkan japa mantera dan doa-doa,bapak akan memindahkan uba rampe ke tempat lain yang tidak mengganggu tamu, dengan posisi sapu tetap tegak. Saking seringnya ikut bapak mawang hujan, aku menjadi hafal ritual bapak. Yang aku tidak tau hanyalah mantra-mantra yang dikomat-kamitkan bapak.
Sampai-sampai, orang sering meledekku karena sering ikut bapak,
“tyas besok kalo udah gede juga mau jadi pawang hujan, ya? Kok ikut bapak terus?”
Saat digoda seperti itu, aku biasanya melendot di jarik batik motif parang rusak yang harus dipakai bapak bersama beskapnya. Bapak tersenyum dan menyahut,
“ya ndak, Pakdhe, tyas besok kalo sudah besar mau jadi dokter. Biar bapaknya saja yang jadi pawang hujan. Katanya sambil terkekeh, dan menepuk-nepuk kepalaku.
Setelah agak besar, aku mulai jarang ikut bapak. Kadang-kadang saja. Saat aku sedang libur sekolah atau saat aku sedang mau saja. Aku lebih sering ikut ibu berjualan kelontong di pasar imogiri. Lebih nyaman. Aku bisa duduk sambil belajar di kios ibu daripada harus nginthil bapak memasang lidi di empat penjuru mata angin. Bapak membelikan kios di pasar imogiri untuk ibu sejak ia sering pergi untuk memawang hujan kemana-mana. Selain untuk menambah pendapatan, juga sebagai kegiatan tambahan untuk ibu, agar ibu tidak nglangut sendirian dirumah saat beliau pergi. Dan setahun terakhir ini, pendapatan dari kios kelontong benar-benar membantu setelah bapak tidak praktek lagi.
Setahun belakangan ini benar-benar aneh rasanya. Bapak yang kupikir sangat menikmati pekerjaannya, tiba-tiba membatalkan semua janji mawang hujan di beberapa tempat. Bapak juga memutuskan kontrak dengan event organizer di Yogyakarta. bapak menjadi lebih sering termenung di depan jendela. Memandangi jalanan yang becek di depan rumah. Kadang bapak juga pergi kesawah, melihat dengan sedih tanaman tomat dan bawang merah yang rusak karena terendam air. Setahun ini memang hujan turun nyaris setiap hari, selalu dengan petir yang menyambar-nyambar. Jalanan-jalanan terendam air. Beberapa daerah malah banjir.
Bapaklah orang yang selalu ada di depan tivi setiap jam 4 sore. Membawa cangkir seng hijau dan rokok lintingan sendiri, menonton berita daerah, yang di dominasi berita banjir dimana-mana. Wajahnya selalu menjadi pias dan memerah tiap disebutkan daerah yang terkena bencana banjir. Kalau aku sedang ada di sebelahnya, ia lantas bertanya,
“nduk tyas, sepertinya kita pernah mawang hujan ke daerah ini, ya?”
Dan selalu. Wajahnya selalu khawatir.
Sudah kejelaskan padanya, bahwa hujan yang turun tidak di musimnya ini kemungkinan karena pengaruh la nina, yang muncul karena efek adanya pemanasan global. Tapi bapak berkeras. Ia merasa hujan yang tak menentu ini sebagian besar karena pratek tolak hujannya.
“sesuatu yang ditahan-tahan itu, ya, nduk, suatu saat akan meledak . mungkin hujan yang tidak berhenti-berhenti setahun ini karena selama 19 tahun ditahan-tahan untuk tidak keluar. Nah, sekarang, waktunya keluar. Gusti mesti marah besar iki.” Kata bapak dengan wajah penuh penyesalan.
Kasihan bapak. Setahun ini, ia jarang tidur. Gelisah terus setiap hari. Ibu bahkan terpaksa menutup kiosnya beberapa hari untuk menemani bapak. Ibu takut terjadi sesuatu dengan bapak. Firasatnya tidak enak.
“Duh gusti, seandainya hamba boleh memilih, lebih baik hamba menjadi miskin seperti dulu daripada kelinuhian hamba malah menyebabkan kekacauan semacam ini.” Suatu malam aku mendengar tangis bapak dari kamarnya.
Ibu berkali-kali menenangkan bapak, dan berkata bahwa semua ini bukan salahnya.
“bumi makin tua, pakne. Hujan salah musim itu bukan salahnya pawang hujan. Memang Gusti yang menakdirkan demikian.”
Dan bapak ku yang tinggi besar meski telah berumur itu, tetap sesenggukan di pelukan ibuku.
***
Sore itu masih sangat jelas di kepalaku. Hujan seperti hari-hari sebelumnya turun dengan deras sekali. Aku dan ibu tidak pergi membuka kios kami di pasar imogiri. Kami dirumah saja. Menanti hujan reda. Bapak berjalan hilir mudik tak sabar. Sudah jam 4 sore dan listrik tidak menyala juga. Bapak perlu sekali menonton siaran berita daerah dari tvri jogja. Bapak merasa perlu sekali tau daerah mana lagi yang terkena musibah banjir. Ia sudah gelisah sepanjang hari.
Aku duduk dilantai menemani ibu memarut kelapa. Ibu sesekali berkata pada bapak agar tenang saja, semua bukan salahnya.
Tapi bapak mana bisa tenang. Berkali-kali ia meyingkap gorden untuk melihat hujan. Bahkan beliau sekarang mulai membuka pintu depan.
“mau kemana, pak? Ada petir. Nanti tersambar petir.” Kata ibu mengingatkan bapak.
Bapak masuk kembali ke dalam.
“bune, tyas, mungkin ini saatnya bapak menebus dosa-dosa bapak pada masyarakat. Hujan setahun ini butuh tumbal. Kalo tidak, hujan tidak akan berhenti selamanya. Kita semua akan terendam banjir. Jaga diri baik-baik, bune. tyas, jaga dirimu dan ibu baik-baik, nduk”
Kemudian bapak mencium keningku dan ibuku. Kami benar-benar tidak mengerti apa yang akan dilakukan bapak.
“ngomong opo, to, pakne. Nyebut, pak. Nyebut.” Ibu mulai berdiri dan memegangi tangan bapak.
Bapak menepis tangan ibu dan berlari keluar. Ibu jatuh tersungkur sambil berlinang air mata.
Aku sungguh kaget sekali sampai tidak tau harus berbuat apa. Aku kemudian membantu ibu berdiri.
Lalu DUAAARRRR. Langit berpijar. Tatit besar tampak di langit. Jandela kaca bergetar semuanya. Ibu berlari kedepan, dan berteriak keras sekali.
“Bapaaaaaaakkkkkkk”
ibu meratap di samping jasad bapak yang gosong. Asap mengepul dari tubuh bapak. Seperti arang menyala yang tiba-tiba tersiram air.
Aku berdiri di depan pintu rumah kami. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Hujan masih turun dengan deras. Seperti tak peduli dengan musibah yang menimpa kami. Seperti tak peduli bahwa baru saja bapak merelakan tubuhnya untuk dijadikan tumbal agar ia berhenti turun dari langit.
Seperti tak berjiwa, aku berjalan lunglai menembus hujan mendekati ibu yang terus meratapi bapak. Air mataku meleleh. Bapakku, sasmito setyo pawiro, mati menyerahkan diri di tangan kekuatan alam yang sering di taklukannya.

Februari 21, 2010

cerpen: perempuan ke dua

setiap anak yang tidak tinggal dengan orang tuanya selalu berharapa bahwa ayah atau ibu meninggalkan mereka adalah orang hebat. mungkin seorang bintang film, seorang astronot, seorang pilot, seorang anggota dewan, atau siapapun mereka, mereka adalah orang hebat. Begitu juga denganku. dengan daya khayal kanak-kanakku yang tinggi, serta omongan orang-orang tentang ayah biologisku, aku berharap bahwa ayahku adalah seorang berperawakan tinggi besar, ganteng luar biasa, disegani oleh orang-orang disekelilingnya, dan berpangkat tinggi di angkatannya.

Tapi saat aku membulatkan tekad untuk menemuinya, menuntaskan rasa penasaran yang mengendap bertahun-tahun, alih-alih seperti yang kubayangkan, atau paling enggak orang biasa saja, aku justru kecewa berat dengan ayah biologis yang saat kutemui hanya tinggal nama saja itu.

"bener ya, embak ini gak ada hubungan apa-apa dengan pak irwan?", perempuan setengah baya itu bertanya padaku dengan pandangan menyelidik. aku mengalihkan pandanganku. sedikit melirik pada mesin obras yang terletak di sisi kiri ruang tamu sederhana ini.

"enggak, kok, bu, saya cuma mau silaturahmi aja. ibu saya dulu teman pak irwan." jawabku padanya. bukan jawaban yang jujur, sih. tapi itu yang ibu pesankan padaku, sebelum ia memberikan alamat terakhir pak irwan, ayah biologisku.

3 hari yang lalu, aku meminta pada ibuku alamat terakhir pak irwan, orang yang hanya kukenal lewat nama dan foto-fotonya saja. sebenarnya sudah sejak lama aku ingin bertemu dengan ayah biologisku. bukan untuk apa-apa. bukan untuk meminta warisan, mencaci maki, balas dendam, pamer bahwa aku bisa eksis tanpanya atau apa. aku cuma ingin bertemu dengan saja. ingin membuktikan omongan orang-orang di sekitarku yang katanya, perawakan, pembawaan dan watakku mirip sekali dengan ayahku.

dan siapa sangka, setelah bertahun-tahun tak pernah ketemu, malah ternyata ayah biologisku sudah meninggal sejak 2 tahun yang lalu. benar-benar mengecewakan. padahal selama ini aku selalu berdoa agar aku dapat bertemu dengan ayahku dalam keadaan baik, bertemu dengan keluarganya juga dalam keadaan baik. tapi rupanya Tuhan tidak mengabulkan doa yang terlalu banyak.

aku melirik foto berpigura besar di dinding sebelah kiri, tepat diatas mesin obras. tampak sebuah foto keluarga disana. dan percaya atau tidak, aku seperti melihat diriku sendiri disana. seorang laki-laki berpangkat letkol, perempuan separuh baya itu, seorang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki, semuanya berbadan gempal, berkulit gelap dan berambut keriting sepertiku. untung saja rambut keritingku sudah ku rebonding beberapa hari yang lalu, dan diet golongan darah yang kujalani sudah membuatku tubuhku susut beberapa bulan ini.

"ya beginilah, mbak, keadaan kami. Pak irwan meninggalkan banyak hutang setelah kematiannya. rumah kami sudah disita orang. untunglah kami tidak diusir dari rumah dinas ini. tapi entahlah beberapa waktu lagi." katanya melanjutkan obrolan.

aku mengangguk. dalam hati bersukur karena kehidupanku jauh lebih baik dari keluarga ayahku ini.

"sebenarnya kami gak akan kekurangan seperti ini kalo saja bapak lurus-lurus saja saat bekerja. ia sering menggunakan pangktnya untuk macam-macam. bapak orangnya keras. kasar. kalo diberitahu malah marah-marah gak karuan. saya saja pernah di tonjok sampe pelipis berdarah."

aku menunduk, walau perempuan ini gak tau, kalo aku anak pak Irwan, malu juga rasanya punya ayah yang suka main tangan.

"anak saya yang perempuan itu, juga pernah di tendang. sekarang entah dimana anak saya itu. sudah lama dia pergi dari rumah sejak bapaknya mencaci maki pacarnya."

aku tambah menunduk. aku bisa mendengar ibu itu menyusut hidungnya.

"meninggalnya bapak juga dalam keadaan gak baik. minum-minum di kafe, terus kena serangan jantung. saya sampe malu sama tetangga, mbak."

"Rofik, yang nomor dua sekarang cuma bisa bantu-bantu saya di rumah. dia depresi. malu sering di ejek tetangga sebelah, karena bapaknya gak beres." ia melanjutkan.

dan seorang anak laki-laki seumurku, berperawakan besar, berkulit gelap, berambut keriting dan bermata besar, menghampiri bu irwan, duduk sambil menggelayut manja padanya.

"harapan saya cuma Haris, anak saya nomor 3. alhamdulillah, dia sudah bekerja sebhabis lulus tahun lalu. cuma jadi cleaning servis. tapi lumayanlah, sudah tidak jadi beban lagi."

tiba-tiba aku ingin cepat-cepat pergi dari rumah dinas sederhana itu. bukan cerita macam ini yang ingin ku dengar tentang ayahku. bukan cerita tentang betapa kasarnya ia, alkoholik, ato pejabat yang melindungi judi dan peredaran minuman keras seperti itu. aku ingin mendengar cerita yang baik-baik tentang ayah bioligisku. tentang keluarganya yang bahagia. tentang alasan ia meninggalkan ibuku karena ia begitu mencintai keluarganya. tentang betapa keren ayahku dimata orang-orang terdekatknya. karena kalo seperti harapanku itu, aku bisa mengerti dan lego lilo nrimo dengan perlakuannya pada ibu dan aku. bukan cerita buruk seperti ini. apalagi mengingat ia telah meninggal.

memang seharusnya aku gak berharap terlalu banyak. karena lagi-lagi, orang yang punya banyak harapan, harus bersiap-siap untuk kecewa. untuk kekecewaan sebesar ini, sepertinya aku gak terlalu siap.

dan entahlah, aku ada di garis tepi antara bersukur dan sedih. bersukur karena ternyata keuarga ayahku juga gak kalah sengsaranya denganku, atau sedih karena mereka gak sebahagia yang kuharapkan. duh gusti, semoga aku tidak sejahat yang kupikirkan.

"gak ada hubungan apa-apa kan, mbak?". Tanya bu Irwan lagi penuh selidik.

aku menggeleng sambil mengigit bibirku. aku tidak berani memandang wajah tuanya yang nelangsa. usianya pasti gak jauh beda dengan ibuku. tapi mungkin ia tak serajin facial dan body language seperti ibuku.

"kemarin2, banyak orang kesini mau nagih hutang. bagaimanapun, pak irwan kan suami saya. jadi saya terpaksa bertanggung jawab." katanya lagi.

aku tersenyum, mengangguk, dan berjalan menuju mobilku diparkir.

"sebenarnya hutangnya pada saya dan ibu saya banyak, bu, tapi sudahlah, saya iklas, kok."

iya, hutang meninggalkan aku sejak kecil. hutang menjadikan ibuku perempuan kedua dan mencampakkannya. hutang membuatku miskin. hutang karena membiarkankn berjuang sendiri. dan hutang mengecewakanku setelah kematiannya.

Bu irwan bertubi-tubi mengucapkan terima kasih. ia tampak salah tingkah. perempuan polos yang menikah dengan penipu. sungguh malang nasibnya. jauh lebih malang dari ibuku, ternyata.

tiba-tiba ponselku berdering. my secret baby.

"sayang, hari ini aku gak jadi ketempatmu. istriku merajuk. minta di temenin terus. aku gak bisa curi-curi waktu untuk menemuimu." suara laki-laki di ujung sana menelusup ke telinga. suarannya selalu membuatku luluh. pria beristri. satu-satunya pria yang membuatku bisa jatuh cinta. satu-satunya pria yang mampu membuatku rela menyerahkan segalanya. padahal aku tau, jelas ia gak akan pernah bisa menjadi miliku.

"iya, gak papa. lagian hari ini aku jadi pergi klinik. kayaknya bapak gak bisa kesini dalam beberapa hari." jawabku sambil mengelus perut.

"sayang, kamu jadi aborsi?. jangan sayang, dosa, aku janji akau menikahimu, kok."

aku tersenyum sinis. hah?. dosa?. setelah semuanya, bisa-bisanya kita berfikir tentang dosa?.

"gak. aku akan tetap ke klinik. sekalian men-sterilkan kandunganku. agar hubungan kita aman. dan gak ada korban berikutnya."

klik.

aku mematikan ponselku. iya, supaya tidak ada korban berikutnya. satu perempuan saja. entahlah, aku tak pernah habis pikir. bagaimana bisa buah apel selalu jatuh tidak jauh dari pohonnya. aku takut buah apelku kelak juga jatuh tidak jauh dari pohonnya. karena itu aku memutuskan untuk tidak berbuah saja. agar tak ada lagi buah apel yang jatuh di dekat pohonnya.....

Oktober 02, 2009

Hujan dan Jenny

Jenny menyeruput teh hangat dari cangkirnya. Jam 04.30. Dan Ia masih ada di Lobby kantor. Beberapa menit yang lalu, Pak Slamet, OB sekaligus panjaga kantor membawakan teh hangat untuknya. Kantor tempatnya bekerja sudah sepi sejak jam 3 tadi. Hanya ada dirinya, Pak Slamet, dan Pak Satpam di Posnya.

Ia menyesal nekat menyelesaikan pekerjaannya hingga lewat jam kerja, dan akhirnya terjebak hujan dikantor. Sudah 2 kali Anto, suaminya, menelphon hendak menjemputnya pulang. Tapi Jenny berkeras tidak mau dijemput.

"jangan keluar rumah saat hujan!!" Katanya tegas pada suaminya.

Jenny benci hujan. Sangat benci. Segala hal akan ia lakukan untuk menghindari hujan. Menjelang musim penghujan, Jenny akan memanggil tukang untuk mengecek semua atap rumahnya. Ia tidak mau ada setetes air hujanpun masuk kerumahnya. Pada saat musim hujan, ia akan mendengarkan prakiraan cuaca baik-baik setiap pagi. Ia berangkat pagi-pagi sekali kalau diramalkan akan hujan menjelang siang. Bila pulang terjebak hujan, ia akan menunggunya sampai reda betul. Kalau terpaksa sekali ia harus pergi pada saat hujan, ia akan meminta suaminya untuk berkendaraan sepelan mungkin. Hingga suaminya merasa merayap. Bukan bermobil.

Jenny benci langit yang menghitam karena hujan. Ia juga benci gemuruh suara air hujan. Bila suara hujan terdengar, Jenny cepat-cepat menyumpalkan earphone ketelinganya. Ketika ada berita tentang banjir dan hujan deras, ia akan menggumam, "hujan jahat. benar-benar jahat". Meski sering diolok-olok karena menjadi orang yang paling sibuk saat musim penghujan, Jenny tidak peduli.

Hujan selalu mengingatkannya pada Kiran, sahabatnya, bertahun-tahun yang lalu, saat dunia putih abu-abu masih lekat dilaluinya.

Waktu itu hujan lebih deras dari hari ini. Petir beberapa kali terdengar. Jenny menyeret-nyeret Kiran, sahabatnya, menyusuri koridor-koridor kelas menuju parkiran. Ia harus pergi saat itu juga. Padahal anak-anak lain lebih suka menunggu dikoridor sambil duduk-duduk menunggu hujan reda. Terlalu deras untuk pulang saat itu.

"Jenny, tunggulah sampai hujan reda. Ini terlalu deras. Acarnya pasti molor." Kiran mengingatkan Jenny.

Tapi jenny berkeras.

"Ga mungkin, Kiran, penulis sekaligus artis sepopuler dia jadwalnya padat. Ga mungkin molor. Ayolah Kiran, kapan lagi kita bisa bertemu dia?" Pintanya memelas pada Kiran.

Akhirnya, Kiran, sahabatnya yang baik hati itu menurut diseret-seret ke tempat parkir motor.

Mereka berdua segera menuju ke toko buku tempat launching buku penulis favorit Jenny. Kiran membawa motor dengan pelan. Tetesan air hujan yang menghantam kaca helmya, ditambah jalanan yang licin, membuatnya agak susah melihat.

"Lebih cepat, Kiran, acaranya hanya bersisa setengah jam lagi." Desak Jenny.

"Jalanan licin, Jen, kita tak akan terlambat, kok." Teriak kiran, berusaha mengalahkan suara hujan yang menderu-deru disekeliling mereka.

Jalanan sepi. Hanya satu dua kendaraan yang nekat lewat dalam cuaca seburuk itu. Itupun kendaraan beroda empat.

Lalu semuanya terjadi begitu cepat. Tiba-tiba jenny merasakan tubuhnya terpental. Samar-samar ia mendengar suara ban berdecit beradu dengan aspal licin. Lalu suara benturan. Dan gemuruh hujan. Rasa sakit menyerangnya. Seperti ribuan jarum yang menusuk-nusuk kulit. Kepalanya terasa begitu berat. Seperti baru saja dihantam sebuah batu besar. Susah payan Jenny berusaha bangkit dan memfokuskan pandangannya yang berkunang-kunang. Tetapi guyuran hujan membuat lukanya bertambah pedih. Ia melihat tubuh sahabatnya terbaring di aspal dengan posisi yang mengerikan. Tubuhnya menggelepar di tengah kubangan warna semerah darah. Jenny merangkak tersaruk-saruk ingin menjangkau tubuh Kiran. Air hujan yang mengalir di aspal segera menjadi merah bercampur dengan darah Kiran. Jenny ingin berteriak minta tolong. Tapi tapi suranya hanya berupa dengusan. Itupun segera hilang ditelan gemuruh air hujan. Tak satupun kendaraan lewat. Semua suara tertelan gemuruh hujan. Ia benci hujan. Hujan membawa darah Kiran kemana-mana.

Tak ada yang menyalahkannya atas kematian Kiran. Tapi Jenny tak pernah bisa lari dari rasa bersalahnya. Seandainya tidak memaksa Kiran. Seandainya tidak jadi pergi. Seandainya tidak hujan. Sejak itu ia membenci hujan. Air hujan yang mengalir di aspal dalam pandangannya selalu berwarna merah. Semerah darah Kiran waktu itu.

Jenny mengusap setitik airmata disudut mata. Jam 5.10. Hujan seudah mereda. Tapi Jenny tidak segera bersiap-siap untuk pulang. Ia akan menunggu sampai hujan benar-benar reda. Perlahan Ia meraih cangkir dan menyeruput kembali tehnya yang sudah dingin. Ia melihat pak Slamet melewatinya dan membuka pintu depan.

"Jangan dibuka, pak, Nanti airnya masuk." pintanya pada Pak slamet.
"sudah reda, kok, mbak jenny, tadi bapak lihat pelangi, tapi dari belakang tidak terlalu jelas. nah, disini lebih jelas. mari kesini, mbak Jenny, ayo melihat pelangi. cantik,lho. jaman dulu, katanya, pelangi itu jembatan para bidadari. mereka mau mandi di sungai." Ujar pak Slamet tanpa menghiraukan larangan jenny.

Tak urung Jenny penasaran juga. Ia lupa kapan terakhir kali melihat pelangi. Ia mengikuti pak Slamet menuju pintu. Dan benar saja. Jenny melihat pelangi diujung sana. Melengkung setengah lingkaran. Dengan warna-warna selaras yang menawan. Jenny takjub sekali. Cantik. Tampak sangat indah dengan latar belakang biru cerah.

Tiba-tiba jenny menyipitkan matanya. Sepertinya ia benar-benar melihat bidadari turun dari langit. oh, bukan, bukan bidadari, Itu Kiran. Jenny yakin sekali. Ia tak pernah lupa pada rambut keriting dan senyum jenakanya. Ia melambaikan tangan kearah jenny. jennny ingin sekali datang kesana dan memeluk Kiran.

"Nah, cantik, kan, mbak. ini lho, yang bapak suka dari hujan. ia meninggalkan pelangi saat pergi. Seperti kehidupan ini, mbak, ga mungkin cobaan datang terus-terusan. Pasti ada berhentinya. Kalo kita sabar, nanti ada hadiah seindah pelangi menunggu kita. ckckckc, seandainya biadadarinya benar-benar ada, ya, mbak jenny..." Ujar Pak slamet diikuti tawanya yang terkekeh-kekeh.

jenny tersenyum. Pikirannya tak lepas dari Kiran. Mungkin ia tidak akan terlalu membenci hujan lagi. Ia akan menanti hujan, dan menungguinya sampai reda dengan sabar. Lalu akan memangang ke luar ruangan dan mencari pelangi dari sudut yang paling pas. Sehingga ia bisa melihat Kiran. Turun dari langit, meniti pelangi. Jenny rindu sekali pada Kiran. Pada senyum jenakanya, pada tawanya, pada olok-olokannya, pada kebaikan hatinya.

Jenny memandang kembali kearah pelangi. Ia masih melihat Kiran disana. Mengerling kearahnya. Tiba-tiba Jenny merasa dadanya begitu hangat.

***

ihhhh, penyakit susah tidur dan guyuran hujan membuat saya jadi mellow seperti ini:D

September 07, 2009

48 menit 22 detik bersamamu

"seta, sibukkah?, kalo enggak, bolehkan aku menelphonmu?" tulis saya di telphon selular. Kemudian saya mengetikkan nomor yang tidak ada di phonebook saya, karena saya sudah hafal luar kepala.

5 menit berselang.
30 menit berlalu. Ah, tak apa, toh beratus-ratus SMS yang saya kirimkan juga tidak berbalas.
1 jam terbang sudah. Ya. ya. saya kan bukan siapa-siapa.

Bip.bip.bip. "ga sibuk kok, telephon aja sekarang." Balasan darinya. Singkat. Jelas. Tanpa basa-basi. Saya girang sekali. Cepat-cepat saya mengambil selembar kertas, dan mulai menulis daftar pertanyaan.

1. Bagaimana kabarmu?
2. Apa kegiatanmu sekarang?
3. Bagaimana kuliah akta IV-mu?
4. Bagaimana usahamnu?
dan bla-bla-bla-bla. Hingga terkumpul 20 pertanyaan dikertas saya. Hanya untuk jaga-jaga, siapa tau saya jadi gagu dan tak bisa berpikir cepat. Lalu saya menekan kembali kombinasi nomor yang saya hafal luar kepala itu.
085228097XXX
1 kali tuuut
2 kali tuuut
3 kali tuuut
4 kali tuuut
Saya mulai putus asa. Mungkin sebenarnya ia tidak benar-benar berniat ingin bertelephon. oke, 1 kali lagi dan saya menyerah.

"Halo" Saya mendengar suaranya. Jernih. Bening. tenang. dalam. Masih sama seperti 2 tahun yang lalu.

"Halo?. Seta?". Saya akhirnya mampu memanggilnya. Dan saya mulai tertawa girang. oh, bukan girang. Gugup tepatnya. Hingga saya tidak sadar ketika air mata saya mulai leleh disudut mata. Saya cepat-cepat mengerjapkan mata.

"kok ketawa?". Aduh, suaranya merdu sekali. memantul-mantul digendang telinga saya. Seperti suaranya 2 tahun yang lalu. Begitu dekat. Rasanya bibirnya menempel di telinga saya.

Saya menyusut hidung dan menghapus air mata diantara tawa senang saya.

"Aduh, aku senang sekali bisa menelphonmu lagi. sampai grogi, ni"

Ia menghela nafas. Saya bisa mendengarnya dengan jelas disini. Ah, saya suka sekali memandanginnya saat menghela nafas. Jakunnya naik turun saat itu. Saya bahkan masih bisa merasakan nafasnya di leher saya.

Lalu Ia ikut tertawa. Saya suka sekali melihatnya tertawa. Kedua sudut mulutnya akan tertarik melengkung keatas. Disudut mulutnya membentuk garis tepat dibawah tulang pipi. membingkai bibirnya yang merah basah. pipinya menggembung, dan kepalanya menyipit. Wajahnya jadi tampak jenaka sekali saat itu.

"Aku malu, Seta, sudah lama sekali tidak mendengar suaramu."

Saya mendengar tawanya kembali. Biasanya saya cemberut kalo ia tidak berhenti menertawakan saya. Dan Ia akan mengacak-acak rambut ikal saya dengan tangannya yang kekar dan berotot. Atau Ia akan memeluk dan membawa kepala saya kedadanya, hingga saya bisa mendengar jantungnya berdetak cepat saat ia terpingkal-pingkal.

"seta, jangan ketawa, aku malu."

"maaf,maaf, kamu lucu, si, kenapa juga harus malu padaku?"

Saya tersenyum, walau saya yakin, Ia tidak bisa melihat senyum saya.

Lalu obrolan bergulir. Tentang pekerjaan. Kegiatan saat ini. Cuaca. Jejaring pertemanan. standar. pertanyaan-pertanyaan umum seperti saat kau bertemu sahabat lamamu.

Dan airmata saya meleleh makin banyak.

Setiap jeda dari pertanyaan diisi dengan diam. Saya tidak tau apa yang ia pikirkan. Saya hanya merasa Ia sengaja membangun jarak dengan saya. mungkin maksudnya supaya kami tidak sedekat dulu lagi.

Padahal dulu Ia adalah seorang pencerita yang baik. Kami bahkan tahan bercerita 5 jam nonstop setiap malam. Dan esok paginya kami akan terkantk-kantuk di kantor. Tapi kami tidak peduli. Setiap malam, kami akan menghabiskannya berdua, bersama bergelas-gelas minuman berbusa. dan seribu cerita tanpa henti. Lalu saat kami kelelahan, saya akan menyandarkan kepala saya didadanya, terus begitu sampai saya ketiduran.

"Seta, pertanyaan itu tadi aku susun dikertas, lho, supaya aku g kehabisan kata-kata karena gagu"

"oh iya?. Jadi, ada yang kurang, kah, wawancara kita hari ini?"

Kami tertawa bersama.

"oh, sudah habis, kok"

"kali-kali ada yang kurang".

Lalu ia menguap.

lalu diam lagi.

Saya pun memutuskan pembicaraan. Dulu, saya ingat, setiap kali hendak pulang dari apartemen saya, ia akan memeluk saya erat-erat, dan memcium kening saya lama-lama. ah, bahkan saya masih seperti mencium bau parfumnya sekarang. menguar dari lengan jaket hitamnya yang melingkari bahu saya.

48 menit 22 detik. Saya melirik timer di telpon selular saya. Itu saja sudah cukup. setelah 2 tahun tak pernah bertemu muka. Saya menyimpan kertas-kertas saya. Ya. Ya. Saya berbohong padanya. Ada satu pertanyaan yang belum saya beri tanda centang di kertas ini. Pertanyaan nomor 17. Apakah kamu sudah jatuh cinta lagi?.

Saya takut menanyakannya. Saya takut kalo jawabannya ya.


p.s : hey, you, ini memang agak dibesar-besarkan. dan, ayolah, jangan cuma jadi secret-reader saja. beri saya kritik. hehe.

April 25, 2008

cerpen-cerpen kacau part 1

ceritanya, saya lagi beres2 kamar. E, lha kok saya nemu cerpen2 lama jaman penjajahan dulu. yawis, karena saya pengen buang semua kertas yang enggak terpakai, ya saya ketik cerpennya, trus saya simpen disini. Namanya juga cerpen amatir, jadi ya, cerpennya jelek kayak yang bikin, begitu.....\


Aku dan Ricky

“Dha, maafin aku, swear waktu itu aku memang lagi nganterin mama ke salon, trus ketemu selvi. Aku enggak bohong, kok, Dha, bener”. Ricky memohon-mohon padaku, sambil nyembah-nyembah segala. Mukanya udah kayak adek kecil minta permen aja.
Aku mendengus kesal
“ Kamu selalu aja punya alasan yang kamu pikir menyakinkan. Kamu tuh jarang ada pas aku butuhin. Kamu sibuk main bola pas aku sibuk nyiapin pesta ulang tahunku, kamu malah pergi ke gunung pas mama papa keluar kota. Kamu datang terlambat pas Boby godain aku, kamu juga lebih hafal jadwal pertandingan bola daripada hari jadian kita. Dan kamu lebih suka ketawa-ketiwi sama selvi, daripada nemenin aku nyari buku untuk tugas bu Salma. Padahal tadinya kamu bilang enggak bisa pergi karena nonton bola……”
Ricky menunduk diam
“Dha, tadinya memang mau nonton bola, tapi mama minta dianter ke salon, trus ketemu selvi. Maaf, dha….” Katanya lemah.
Aku bangkit dari bangku kantin sekolah yang sudah sepi itu, menghabiskan es jerukku dan melangkah. Ricky meraih tanganku. Ia ikut-ikutan berdiri.
“Dha, tunggu….”
Aku menyentakkan tangannya.
“Mending kita putus aja, deh, Rick,” kataku tanpa berani memandang wajahnya. Aku terus melangkah.
“Dha. Please, aku enggak bohong, enggak , sungguh, jangan pergi, dha, “Kalimat Ricky belepotan. Ia mengejarkau. Tapi aku terus berlari, sambil menggigit bibir bawahku, dan menahan air mataku yang nyaris tumpah ini. Dibelakangku Ricky menyentakkan kakinya degan kesal.
***
Itu kejadian satu mingggu yang lalu, seminggu ini aku selalu menghindari Ricky, biarpun Ia mengejar2 aku, aku tetap tidak mau bertemu. Ricky sering begitu, sebenarnya bukan karena Ia tertawa-tawa dengan Selvi yang membuat aku sebal, Aku tahu Ricky tidak akan naksir selvi, tapi Ricky sering sekali lebih mementingkan pertandingan sepak bola daripada ku ajak kemana-mana.
Aku benar-benar sebal pada Ricky.
Tapi memutuskannya? Sungguh, kalo bisa aku ingin menarik kata-katku itu.
Buktinya, hari minggu ini, aku sendirian. Baiasanya Ricky datang untuk sekadar nanya PR atau main halma di teras. Atau, paling sering, Ricky datang kerumahku untuk nebeng nonton bola, karena tivinya dirumah dipake nonton Sinetron sama Adiknya.
Aku menarik laci meja teras, mengambil sekotak halma didalamnya. Huh, apa enaknya main halma sendirian, pikirku. Kalo ada Ricky aku pasti menang. Ricky selalu saja berusaha maju tanpa memperhatikan lawannya. Jadi semakin Ia maju, maka semakin banyak jalan yang terbuka untukkku. Aku ketawa sendiri.
Aku menyingkirkan bunga plastik dari atas meja. Bunga dari Ricky, huh, kenapa sihm banyak sekali hal-hal yang berhubungan dengan ricky disini. Karton halma aku bentangkan diatas meja, buah-buah halma aku susun satu persatu. Seandainya ada Ricky…,
Tiba-tiba mataku silau oleh sinar lampu mobil yang memasuki halaman rumahku. Aku menoleh. Mobil Ibu Ricky. Aku segera bangkit. Tapi, ups, aku kan sudah putus dengan Ricky. Jadi, aku duduk lagi dan memandang sebal pada Ricky. Ricky keluar dari mobil sambil merapikan kemejanya. Huh, mau apa dia?
“ Hai, Firdha, ….” Sapanya sok ramah
Aku mendengus.
“Nungguin aku, ya?.” Tanyanya kegeeran.
Aku kembali mendengus, Ricky seperti tertohok hatinya. Kemudian Ia menunduk sambil memandangi ujung sepatunya.
“Dha, maafin aku, ya, please, marahnya jangan lama-lama dong, dan jangan putus, ya….” Ujarnya lirih, sabil melirikku hati-hati.
Aku melotot. Iya, Ricky, aku juga enggak mau marah lama-lama, kok, apalagi putus. Tapi, egoku bicara lain, gengsiku naik setinggi ubun-ubunku.
“Enak aja, pulang sana, nanti ketinggalan sepak bola. Lho….” Kataku ketus.
Ricky menunduk semakin dalam. Bahunya bergetar. Swear, aku sungguh merasa bersalah, Aku merasa begitu egois, defensif, reaktif, aku merasa begitu jahat.
“Firdha, aku enggak papa kok enggak nonton sepak bola, asal kamu maafin aku. Aku mau kamu jadi cewekku lagi.”
Ingin rasanya berlari kepelukannya, dan bercanda lagi dengannya. Tapi aku berpaling, aku enggak mau berlama-lama dihadapan cowok itu, takut luluh.
“Iya, terus nanti kamu enggak pernah ada lagi disaat aku butuhin, nanti kamu enggak mau nganterin aku nyari buku lagi, dan lebih senang pergi sama selvi? Kalo kesini malah nonton bola sama papa? Iya?”
Selesai mengatakannya, aku berbalik dan membuka pintu, ingin segera masuk.
Ricky mengejarku, Ia mencengkeram pegangan pintu degan kedua tangannya.
“ Enggak, kok, Dha, aku janji, enggak lagi, kok,….” Pintanya
Aku melotot lagi.
“pulang sana, aku mau tidur aja.” Aku melepaskan pegangan pintu dan meninggalkan Ricky yang masih mencengkeram kenop pintu.
“Aku enggak mau pulang sebelum kamu maafin aku!!” teriaknya
“terserah…..” Aku gantian teriak, dan berlari naik keatas, masuk kamar. Aku mendengar Ricky menutup pintu dan menghentakknan kakinya. Aku mendengar derit kursi ditarik. Ricky menunggu beneran? Ah, paling 5 menit lagi Ia bakal diserang nyamuk dan pulang.
Tapi, nyatanya sampai game komputerku gameover berkali-kali, aku belum mendengar suara mobil Ricky keluar dari pekarangan. Aku bergegas turun ke ruang tamu. Aku menyingkap gorden depan. Ya ampun, ternyata Ricky tertidur pulas dikursi teras. Huh, aku pikir, Dia sedang terbengong-bengon nungguin aku sambil sesekali menepuk pipinya yang digigti nyamuk. Aku bergegas keluar. Ricky harus segera dibangunkan, kalo mama papa pulang, dan Ricky masih disini pada jam 11, aku bakal dihabisi.
Ricky seperti suci sekali saat tidur, Wajah halusnya tampak polos dan lugu. Ia seperti bukan Ricky yang suka nyengir saat aku marahi. Ia seperti sangat jujur. Aku ingin sekali menepuk pipinya dan bilang, ‘kita jadian lagi, yuk…’. Tapi,
Aku menggelengkan kepalaku.
Aku melangkah dan menyenggol kaki Ricky dengan kakiku.
“Rick, bangun, udah malem, pulang sana, “ kataku. Ricky kaget, Ia mengusap matanya dan memandang berkeliling kebingungan. Aku berbalik berusah amenahan tawa.
Rickypun bangkit dengan sempoyongan. Matanya masih tampak mengantuk. Ia menyipitkan matanya dan mencoba melihatku.
“ Dha, aku tidur sini, ya, aku ngantuk banget. Aku enggak bisa nyetir sendiri. Diluar juga enggak papa deh, aku ngantuk banget.” Pintanya dengan mata setengah tertutup.
Aku menggelengkan kepala dan berkacak pinggang.
“Enggak bisa. Pokoknya pulang!!!!!!” teriaku.
Ricky menarik nafas panjang dengan jengkel.
“ Oke, oke, aku pulang, jangan teriak-teriak,” ujarnya tanpa semangat. Kemudian melangkah pergi menuju mobilnya. Ia nyaris terjatuh tersandung kerikil. Ia masuk ke mobil dan menyalakan mesin. Aku melihatnya melipat kedua tangan diatas roda kemudi, dan meletakkan kepalanya disana. Aku mengamatinya, Ia masih dalam posisi yang sama beberapa menit kemudian. Hei, Rick, kamu kenapa?
Tapi kemudian aku tahu. Aku menarik nafas
“Ricky….!!!!!!” Teriakku.
Darikaca depan, aku melihat Ricky kaget, terbengong-bengong, dan sadr ia baru saja tidur lagi. Ricky mengucek matanya sebentar, dan menjalankan mobilnya.
Mobil Ricky meninggalkan rumahku degnan cepoat, Aku segera masuk dan mengunci pintu,
Aku berbaring begitu sampai kamar. Tapi sekonyong-konyong pikiran-pikiran buruk berkelebat dalam benakku. Ricky menyetir dalam keadaan setengah tidur. Bagaimana kalo Ricky menabrak pohon, kepalanya terbentur dashboard, dan retak. Mobilnya ringsek, kaca depan pecah,dan Ricky terjepit didalamnya, tak bisa keluar, sampai pagi, sampai seseorang menemukannya dalam keadaan sudah tak bernyawa.
Setiap malam sesudah itu, hantu Ricky akan mengejar-ngejar aku, menyalahkan aku atas semua yang trjadi.
Atau, bagaimana kalo Ricky menabrak mobil didepannya, Tabrakannya begitu hebat sampai kedua mobil itu hancur dan meledak, dan Ricky hanya akan menjadi debu.
Aku bergidik membayangkan apa yang terjadi. Seharusnya aku mengantarnya pulang, dan nanti ada tante Mirna yang mengantarkan aku pulang kembali kerumah. Tapi aku malah nenyuruhnya pergi dalam keadaan mengantuk.
Aku tidak tau sejak kapan air mata ini turun, yang jelas aku khawatir sekali pada Ricky. Aku menelphon nomor rumah Ricky, tak ada yang mengangkat. Kemudian nomor hape Ricky, tidak aktif, Aku putus asa dan memutuskan untuk menunggu samapi besok pagi.
Semoga Ricky baik-baik saja. Baik-baik saja.
***
Sudah 15 menit berlalu sejak bel masuk berbunyi. Tapi aku tidak melihat Ricky dimanapun. Setiap gerakan diluar kelas tak bisa aku leawtnkan sedikitpun.
Jam 10.15, Rasanya sudah terlalu siang bial Ricky harus terlambat. Aku berjalan menyusuri koridor kelas. Semoga Ricky ada dikantin, sedang duduk dipojokan dan ketakutan masuk kelas karena terlambat.
Semoga ada Ricky disana, sedang nyengir kuda , dan tidak terjadi apa-apa padanya.
Aku berdiri didepan pintu kantin. Aku memandang berkeliling. Yang ada hanya gerombolan anak-anak yang berebutan makanan. Tak ada Ricky.
Oh Tuhan, dimana Ricky berada.
Jangan-jangan tadi malam, karena mengantuk, mobilnya nyasar sampe ke pinggir kota, mobilnya jatuh kejurang, Ricky meninggal, dan tidak ada yagn menemukannya. Dan sekarang Ia masih disana, tidak bernyawa.
Aku menggigil. Tidak-tidak, Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalo Ricky sampai meninggal.
Tiba-tiba sebuah tangan menepukku dari belakang. Itu pasti tangan polisi, rupanya Ricky sudah ditemukan, dan sekarang, mereka meminta keteranganku, karena akulah yang terakhir melihat Ricky. Aku membalikkan tubuhku
Dan aku melihat Ricky dihadapanku, tertunduk lesu, tasnya tersampir dibahu, Dan Ia utuh, tidak luka-luka,
“Ricky, kemana saja, sih, kamu enggak kenapa-napa, kan? Maaf, ya, tadi malam maksa kamu pulang sendiri. Aduh, senengnya bisa liat kamu lagi. “ Aku langsung berbicara tanpa henti. Aku meraih tangannya, memastikan tidak terjadi apa-apa pada tangannya, tubuhnya, kepalanya, apakah ada memar, ada bagian yang berdarah, Tidak, Utuh. Ricky utuh, tidak lecet sedikitpun.
Aku menarik nafas lega. Aku lupa aku sudah putus dengan Ricky.
“Hai, Dha, aku baik-baik aja, Cuma tadi terlambat, belum ngerjain tugas bu salma, kamu sih, enggak mau nyontekin aku….” Kata Ricky
Aku tersenyum dan mengacak rambutnya yang lebat dan hitam, Jengkel, lega, berdosa, menjadi satu dalam otakku.
“ Kamu, sih, makanya jangan bikin aku sebel. Aku pikir kamu sudah meninggal atau apa, gitu, habis kamu kelihatan ngantuk banget tadi malem.” Ucapku degan wajah cemberut. Ricky nyengir lebar, mukanya yang putih dengan 1-2 jerawt itu tambah cakep kalo tersenyum.
“ Aku kan bisa nyetir sambil tidur, “ Ia tertawa, “Dha, maafin aku, ya, aku bakal mau deh, kamu suruh apa aja.” Katanya serius, Aku terhenyak. Well, Rick, aku juga bakal bisa lama-lama marah padamu. Aku maju selangkah meraih tanggannya.
“Ya, deh, tapi kamu janji enggak akan duain aku dengan pertandingan bola manapun juga.” Aku menuntut.
Ricky nyengir, di lepakannya tanganku, dan ganti dia yang menggenggam tanganku dengan kuat. Sambil tangan kanannya menjepit hidungku dengan jempol dan telunjuknya,
“ya, deh, janji” Katanya.
Betapa bahagianya aku.
***
Hari minggu, sabtu kemarin kami menghabiskan malam minggu di kafe baru, puas berduaan sambil makan keripik. Hari ini, setelah, kami menyelesaikn peer kami, kami ngobrol diteras. Tapi kemudian pindah ke ruang tamu, karena tersa terlalu dingin. Aku baru saja meletakkan buah halmaku di puncak segitiga, ketika Ricky tiba-tiba terlonjak, telinganya tegak. Suara presenter pemnbawa acara sepak bola terdengar centil dari ruang tengah.
Ricky memandangku penuh harap.
“Please, Dha….” Katanya memelas
Aku mengangkat bahuku. Ricky tetap akan menjadi Ricky, pikirku. Ia bergegas ke ruang tengah.
“Sudah mulai. Oom?” Tanyanya pada Papa.
“Belum kok, duduk, gih” jawab Papa.
Aku mendengus kesal, dan menghentakkan kakiku.
***