Tampilkan postingan dengan label the soul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label the soul. Tampilkan semua postingan
Mei 25, 2012
kancilen
malam melarut. seharusnya aku sudah terlelap. berpetualang tanpa gerak. dalam ragam mimpi-mimpi. tapi aku masih terjaga. berfikir. tentangmu.
bukan pahlawan
jangan merasa bersalah padaku karena kau sudah menemukan tambatan hatimu dan aku belum. itu sama sekali bukan salahmu. jangan merasa bersalah karena aku masih juga menghafal nomor telphonmu, dan kamu berfikir aku tak bisa berpaling hati darimu. bukan, itu sama sekali bukan salahmu.
jangan kasihan. aku tidak cukup cengeng untuk dikasihani. kalau memang saat itu tiba, biarlah tiba. kalau tidak, aku tak akan kehilangan apapun. bukankah katamu, kita akan menjalani nasib kita sendiri dg bahagia?
maka berbahagialah. tidak perlu repot memikirkan aku. aku juga bahagia, kok. dengan jalan hidupku sendiri. dengan pilihan nasibku sendiri. kamu bukan pahlawan.
galau mode: on
:D
April 28, 2010
lelah
kenapa kita lebih banyak mengeluh daripapa bersukur?. karena saat senang kita hanya inget senang-senang. saya lelah. perlu tidur. agar besok saya kuat lagi. kuat menahan rindu. menahan amarah. dan menggebuk hari. dan hanya mimpi-mimpi yang membuat kita melupakan segala kenyataan yang tidak selalu seperti yang kita harapkan.
April 18, 2010
tidak menantang
memilikimu sehari semalam, tanpa ada yang ditakuti, malah membuatku tidak nikmat. ada yang hilang. sensasi takut ketahuan dan lain-lain. aku jadi tahu. mungkin, sebenarnya yang yang ku inginkan adalah sensasi sembunyi-sembunyinya. bukan tanpa hambatan seperti ini. ini terlalu mudah. dan aku malah jadi tidak suka.
September 07, 2009
Finally, I Called Him Bapak
Mungkin karena sejak pertama kali diperkenalkan dengannya, saya memanggilnya Oom, saya jadi kebiasaan memanggilnya begitu. Bahkan setelah Ia menjadi Suami Ibu saya bertahun-tahun yang lalu. Kami, -saya, kakak saya dan adik saya- tetap memanggilnya begitu. Berkali-kali Ia meminta kami memanggilnya Bapak, atau Papah seperti 3 saudara kami yang lain. Ia menyelipkan keinginannya itu setiap kali ada kesempatan, Bahkan Ia menyebut dirinya sendiri Bapak sebagai kata ganti orang pertama tunggal ketika berbicara pada kami. Kami sudah pernah mencobanya, tapi tiap kali memanggilnya Bapak, maka kami tak akan mampu menahan gelak tawa kami. Aneh sekali memanggilnya dengan sebutan itu. Tidak ada maksud apa-apa. Hanya canggung saja. Dan rambutnya yang senantiasa panjang membuatnya makin aneh ketika dipanggil Bapak. Lagipula kami merasa Ia lebih keren bila dipanggil Oom, tampak lebih muda. =)
Meskipun tidak pernah tinggal dengan Ayah saya sebelumnya, sehingga saya tidak pernah punya perbandingan apapun untuknya, saya selalu merasa yakin, bahwa Ia adalah Ayah paling baik di dunia. Ia selalu lembut pada kami. Tidak pernah memarahi atau berkata kasar pada kami sekalipun. Ia juga tidak pernah membedakan antara kami, dan adik-adik saya yang lain. Dia adalah orang yang paling ribut mencarikan makanan kesukaan kami masing-masing saat kami berkunjung kerumahnya. Saya bahkan sempat geli sendiri padanya, pasalnya, karena saking inginnya memanjakan kami, semua pedagang makanan yang lewat depan rumah dipanggilnya satu-satu. Agar saya bisa merasakan semua masakan sunda katanya, -yah, tapi bagaimanapun, lidah saya tetap susah bersahabat dengan makanan serba aci dan daun-daunan mentah-.
Saya masih ingat ketika Ia memalingkan muka, berusaha menyembunyikan airmatanya, saat saya bercerita betapa payahnya saya bersepeda bolak-balik antara kampus dan tempat kerja. Atau saat Ia begitu kecewa ketika saya menolak uang semesteran yang ia tawarkan saat keadaan ekonomi keluarga mulai membaik. Sungguh, saat itu saya tidak berniat menyakiti hatinya. Saya hanya tidak suka berhutang budi saja. karena saya tidak pernah tau akan bisa membalasnya atau tidak. Dan saya ingat sekali, betapa air mukanya berubah menjadi kecut saat saya memanggilnya Oom keras-keras dikerumunan undangan misuda saya.
Ah iya, ia juga selalu berusaha melucu disetiap kesempatan. Sibuk tertawa-tawa saat kami saling bercerita dalam bahasa jawa, padahal saya tau, ia tidak terlalu paham bahasa jawa. Ia juga tidak pernah marah saat kebingungan mencari rokoknya yang kami sembunyikan karena ia terlalu banyak merokok. Ia hanya akan tertawa dan berjalan ke warung sebelah untuk beli permen mint. Dan yang lucu, Ia selalu mengingatkan saya untuk makan teratur setiap kali menelphon. Padahal, saya bahkan makan melebihi porsi makan orang normal. hehe.
Semuanya terasa biasa saja. Sampai saya pergi jauh dan tidak bisa pulang sebulan sekali. atau bahkan 6 bulan sekali. Tiba-tiba saja kau akan menjadi begitu sentimentil ketika kau mengingat keluargamu, saat kau jauh dari mereka. Tiba-tiba saja air matamu jadi gampang sekali meleleh saat mereka menelphonmu dan bertanya kapan akan pulang. Karena, memang benar, bahwa kasih sayang tidak akan mengenal kedalamannya sampai saat berpisah tiba.
Kemudian saat Ia menelphon, menanyakan kabar saya, -dan tentu saja, pertanyaan kapan pulang,ka?-, saya ingin sekali memanggilnya Bapak. Ia terdiam sejenak. dan berkali-kali mengucapkan kalimat syukur pada Tuhan, karena saya memanggilnya demikian. Saya tidak pernah tau, bagaimana mungkin seseorang menjadi begitu berbahagia hanya karena saya merubah panggilan padanya dari 1 suku kata menjadi 2 suku kata. Toh panggilan apapun yang saya berikan padanya tidak pernah merubah apa-apa. Ia tetap orang tua saya. Saya menundanya terlalu lama bukan karena apa-apa. Hanya canggung saja. Bukan karena tidak mau menerimanya atau apa. kalo alasannya itu si, malah jadi terlalu disinetronisasi.
Kedepannya saya memang harus membiasakan diri memanggilnya Bapak, dan berusaha untuk tidak tertawa setelah mengucapkannya. Canggung, sih, tapi tak apa, kalo itu membuatnya bahagia. Jadi, siapa yang peduli siapa ayah biologismu kalo kau punya Bapak sehebat ia. Iya, kan, Oom?, eh, Bapak?. =)
Meskipun tidak pernah tinggal dengan Ayah saya sebelumnya, sehingga saya tidak pernah punya perbandingan apapun untuknya, saya selalu merasa yakin, bahwa Ia adalah Ayah paling baik di dunia. Ia selalu lembut pada kami. Tidak pernah memarahi atau berkata kasar pada kami sekalipun. Ia juga tidak pernah membedakan antara kami, dan adik-adik saya yang lain. Dia adalah orang yang paling ribut mencarikan makanan kesukaan kami masing-masing saat kami berkunjung kerumahnya. Saya bahkan sempat geli sendiri padanya, pasalnya, karena saking inginnya memanjakan kami, semua pedagang makanan yang lewat depan rumah dipanggilnya satu-satu. Agar saya bisa merasakan semua masakan sunda katanya, -yah, tapi bagaimanapun, lidah saya tetap susah bersahabat dengan makanan serba aci dan daun-daunan mentah-.
Saya masih ingat ketika Ia memalingkan muka, berusaha menyembunyikan airmatanya, saat saya bercerita betapa payahnya saya bersepeda bolak-balik antara kampus dan tempat kerja. Atau saat Ia begitu kecewa ketika saya menolak uang semesteran yang ia tawarkan saat keadaan ekonomi keluarga mulai membaik. Sungguh, saat itu saya tidak berniat menyakiti hatinya. Saya hanya tidak suka berhutang budi saja. karena saya tidak pernah tau akan bisa membalasnya atau tidak. Dan saya ingat sekali, betapa air mukanya berubah menjadi kecut saat saya memanggilnya Oom keras-keras dikerumunan undangan misuda saya.
Ah iya, ia juga selalu berusaha melucu disetiap kesempatan. Sibuk tertawa-tawa saat kami saling bercerita dalam bahasa jawa, padahal saya tau, ia tidak terlalu paham bahasa jawa. Ia juga tidak pernah marah saat kebingungan mencari rokoknya yang kami sembunyikan karena ia terlalu banyak merokok. Ia hanya akan tertawa dan berjalan ke warung sebelah untuk beli permen mint. Dan yang lucu, Ia selalu mengingatkan saya untuk makan teratur setiap kali menelphon. Padahal, saya bahkan makan melebihi porsi makan orang normal. hehe.
Semuanya terasa biasa saja. Sampai saya pergi jauh dan tidak bisa pulang sebulan sekali. atau bahkan 6 bulan sekali. Tiba-tiba saja kau akan menjadi begitu sentimentil ketika kau mengingat keluargamu, saat kau jauh dari mereka. Tiba-tiba saja air matamu jadi gampang sekali meleleh saat mereka menelphonmu dan bertanya kapan akan pulang. Karena, memang benar, bahwa kasih sayang tidak akan mengenal kedalamannya sampai saat berpisah tiba.
Kemudian saat Ia menelphon, menanyakan kabar saya, -dan tentu saja, pertanyaan kapan pulang,ka?-, saya ingin sekali memanggilnya Bapak. Ia terdiam sejenak. dan berkali-kali mengucapkan kalimat syukur pada Tuhan, karena saya memanggilnya demikian. Saya tidak pernah tau, bagaimana mungkin seseorang menjadi begitu berbahagia hanya karena saya merubah panggilan padanya dari 1 suku kata menjadi 2 suku kata. Toh panggilan apapun yang saya berikan padanya tidak pernah merubah apa-apa. Ia tetap orang tua saya. Saya menundanya terlalu lama bukan karena apa-apa. Hanya canggung saja. Bukan karena tidak mau menerimanya atau apa. kalo alasannya itu si, malah jadi terlalu disinetronisasi.
Kedepannya saya memang harus membiasakan diri memanggilnya Bapak, dan berusaha untuk tidak tertawa setelah mengucapkannya. Canggung, sih, tapi tak apa, kalo itu membuatnya bahagia. Jadi, siapa yang peduli siapa ayah biologismu kalo kau punya Bapak sehebat ia. Iya, kan, Oom?, eh, Bapak?. =)
November 28, 2008
piye, ka?
Kalo ngomong capek, pasti ada lebih banyak orang yang lebih capek dari saya. Kalo masalah pegel-pegel, jelas lebih banyak orang yang lebih pegel dari saya. Kalo ngomong ngantuk, jelas lebih banyak orang yang lebih ngantuk dari saya. Kalo ngomong sebel, pasti lebih banyak lagi orang yang lebih sebel dari saya. Kalo masalah gondog, yakin, masih banyak lagi orang yang lebih gondog dari saya. Tapi pasti ga ada orang yang lebih penakut mengambil keputusan daripada saya. *dzig!. Jotos diri sendiri* Jadi, piye,ka, mau nyerah?. Bertahan?. Kuat-kuatan?. Atau bikin gara-gara saja biar semuanya berakhir?.
Cuma satu hal yang saya tau, jangan ambil keputusan dalam keadaan emosi. Jadi, ka, sabar, ya.
Sudah lama g posting blog. Alih-alih nulis sesuatu yang positif, saya malah mengeluh, dan pasti tidak ada yang lebih banyak mengeluh daripada saya.haha
Cuma satu hal yang saya tau, jangan ambil keputusan dalam keadaan emosi. Jadi, ka, sabar, ya.
Sudah lama g posting blog. Alih-alih nulis sesuatu yang positif, saya malah mengeluh, dan pasti tidak ada yang lebih banyak mengeluh daripada saya.haha
November 02, 2008
kapas randu
Simbah saya pernah bilang pada saya, bahwa kita enggak boleh berharap apa2 kalo berbuat baik. Karena enggak ada yang gratis didunia ini. Di dunia akhirat, bahkan.. Berbuat saja. Bahkan doa yang baikpun merupakan perbuatan baik. Nanti perbuatan baik itu akan kembali lagi pada kita. Kalo tidak pada kita, pasti berbalik pada anak kita, adik kita, saudara-saudara kita, sahabat-sahabat kita. Tidak usah khawatir tidak terbalas, karena Tuhan melihat. Dan kalo kita dijahati oleh orang lain, jangan pernah dendam. Tuhan tahu, dan Ia sedang mencatat, nanti suatu saat kejahatannya akan kembali pada dirinya sendiri, kalo tidak dibalas didunia, ya di akhirat.
Dalam bayangan saya, perbuatan baik itu seperti kapas putih kecil yang terbang kesana kemari, Ia lembut, seperti kapuk randu yang baru jatuh dari pohonnya, saat buahnya yang kering jatuh dan menimpa batu dibawahnya, ia terbelah, dan segumpal kecil kapas mentahnya menyelusup keluar setiap kali kita berbuat baik, lalu kapas kecil2 itu terbang kesana kemari. Mengikuti kita. Suatu saat ia akan pergi menghinggapi orang lain. Lalu orang lain itu akan berbuat baik juga pada kita. Dan kapuk randu jatuh lagi dari pohonnya, segumpal kapas kecil menyelusup keluar. Mengikuti orang lain itu. Begitu seterusnya, berturut-turut. Seperti tabrakan beruntun. Hingga kalo ada begitu banyak kebaikan, kita seperti ada didunia hujan kapuk. Rentangkan tanganmu, dan kamu pasti bisa merasakannya, jatuh dengan lembut menyentuh kedua lenganmu.
Tapi tentu saja, perbuatan baik tidak segampang membalikkan tangan ketika melakukannya. Entah bagaimana ceritanya, kaki saya pasti terasa begitu berat melangkah saat seorang buta dengan tongkat kesulitan menyeberang di jalan timoho yang ramai itu. Atau membalikkan laju motor, ketika saya melewati seorang tengah menuntun motornya di tengah hujan, dan ban keduanya tidak bocor. Kemungkinan mereka hanya kehabisan bensin. Dan saya benar2 tau, tidak berat, menanyainya kenapa, kemudian melaju sebentar ke tukang bensin, lalu meminjam botol bensinnya. Tidak berat, tapi susah sekali memulainya. Jelas lebih mudah memaki mobil yang berbalik dengan seenaknya, Atau membunyikan klakson keras2 sambil memaki ketika seorang bapak dengan sepeda sarat mainan anak memotong jalan kita
Dan jelas tidak ada kapuk randu kering yang jatuh dan terantuk batu lalu terbelah dan kapuk putihnya menyelusup keluar. Tidak ada dunia hujan kapuk. Tapi pasti dunia tidak seburuk itu, ya?. Selalu ada manusia lain yang sedang berbuat baik. Mungkin meneriakkan konsep cinta lingkungan kemana-mana, membagi-bagikan barang-barang gratis ke orang yang membutuhkan, atau mbak-mbak dan mas-mas yang pergi ke tempat bencana, Ibu-ibu yang selalu menyiapkan sarapan untuk anaknya, Bapak-bapak kaya yang menyumbang kemana-mana, atau apa saja, hal-hal kecil baik yang kita kadang tidak menyadarinya. Pasti ada dunia hujan kapuk di luar sana. Tapi apa artinya hujan kapuk diluar sana, kalo tidak ada kapuk putih yang berasal dari buah randu kita. Tentu saja, saya masih punya banyak PR.
Trimakasih banyak untuk mbak bersms pedas, namun selalu membuat saya berpikir keras. Keras sekali, terutama untuk kapasitas otak saya yang jarang berpikir. Beruntung sekali saya mengenalmu, mbak
Dalam bayangan saya, perbuatan baik itu seperti kapas putih kecil yang terbang kesana kemari, Ia lembut, seperti kapuk randu yang baru jatuh dari pohonnya, saat buahnya yang kering jatuh dan menimpa batu dibawahnya, ia terbelah, dan segumpal kecil kapas mentahnya menyelusup keluar setiap kali kita berbuat baik, lalu kapas kecil2 itu terbang kesana kemari. Mengikuti kita. Suatu saat ia akan pergi menghinggapi orang lain. Lalu orang lain itu akan berbuat baik juga pada kita. Dan kapuk randu jatuh lagi dari pohonnya, segumpal kapas kecil menyelusup keluar. Mengikuti orang lain itu. Begitu seterusnya, berturut-turut. Seperti tabrakan beruntun. Hingga kalo ada begitu banyak kebaikan, kita seperti ada didunia hujan kapuk. Rentangkan tanganmu, dan kamu pasti bisa merasakannya, jatuh dengan lembut menyentuh kedua lenganmu.
Tapi tentu saja, perbuatan baik tidak segampang membalikkan tangan ketika melakukannya. Entah bagaimana ceritanya, kaki saya pasti terasa begitu berat melangkah saat seorang buta dengan tongkat kesulitan menyeberang di jalan timoho yang ramai itu. Atau membalikkan laju motor, ketika saya melewati seorang tengah menuntun motornya di tengah hujan, dan ban keduanya tidak bocor. Kemungkinan mereka hanya kehabisan bensin. Dan saya benar2 tau, tidak berat, menanyainya kenapa, kemudian melaju sebentar ke tukang bensin, lalu meminjam botol bensinnya. Tidak berat, tapi susah sekali memulainya. Jelas lebih mudah memaki mobil yang berbalik dengan seenaknya, Atau membunyikan klakson keras2 sambil memaki ketika seorang bapak dengan sepeda sarat mainan anak memotong jalan kita
Dan jelas tidak ada kapuk randu kering yang jatuh dan terantuk batu lalu terbelah dan kapuk putihnya menyelusup keluar. Tidak ada dunia hujan kapuk. Tapi pasti dunia tidak seburuk itu, ya?. Selalu ada manusia lain yang sedang berbuat baik. Mungkin meneriakkan konsep cinta lingkungan kemana-mana, membagi-bagikan barang-barang gratis ke orang yang membutuhkan, atau mbak-mbak dan mas-mas yang pergi ke tempat bencana, Ibu-ibu yang selalu menyiapkan sarapan untuk anaknya, Bapak-bapak kaya yang menyumbang kemana-mana, atau apa saja, hal-hal kecil baik yang kita kadang tidak menyadarinya. Pasti ada dunia hujan kapuk di luar sana. Tapi apa artinya hujan kapuk diluar sana, kalo tidak ada kapuk putih yang berasal dari buah randu kita. Tentu saja, saya masih punya banyak PR.
Trimakasih banyak untuk mbak bersms pedas, namun selalu membuat saya berpikir keras. Keras sekali, terutama untuk kapasitas otak saya yang jarang berpikir. Beruntung sekali saya mengenalmu, mbak
September 25, 2008
sudah pulang
Saya sukses menanamkan dalam otak saya, bahwa kematian itu semata hanya peristiwa alam biasa. Kematian tidak berbeda jauh dengan matinya pohon. Ada pohon yang mati pada saat baru tumbuh. ada juga pohon yang mati pada saat sudah tua. Pemikiran itu yang membuat saya sukses tidak menitikkan air mata pada setiap kematian. Tidak butuh emosi dalam kematian. Kenapa harus menangis tersedu-sedu untuk peristiwa yang biasa?. Kenapa harus menangis menangis untuk peristiwa yang pasti akan kita alami?. Mati berarti mengakhiri sebuah proses, dan mulai memasuki proses baru lagi.
Dan pertahanan saya benar-benar runtuh senin pagi itu. Saat saya menemui Simbah Simak saya yang sudah tidak bernyawa. Dan segala pemikiran aneh-aneh saya tentang kematian pun tidak saya ingat lagi. Saya hanya ingin menangis.menangis.menangis. Ada banyak emosi yang terlibat. Saya tidak bisa mendefinisikannya satu-satu. Padahal malam itu Simbah Simak saya masih tarawih di masjid. Masih membangunkan orang-orang serumah untuk sahur. Masih sempat puasa.
Saya masih ingat sekali malam simbah menyanyi sampe larut malam. menggulung stagen bersama simbah. Pergi kepasar sebelum Lebaran bersama simbah. Tidur dengan baju hangat yang disiapkan simbah. Obat nyamuk yang dibakarkan simbah untuk saya. Makanan yang selalu disimpan di getong beras untuk saya. Tertawa terkekeh-kekeh saat nonton tivi. Menggosok punggung simbah dengan batu apung. Cerita-serita jaman perjuangan versi beliau. Ciumannya menyambut saya pulang. Wajah kecewanya karena saya selalu terburu-buru pulanh ke Jogja. Sayur gori favorit saya. tempe bacem buatannya. Menyuapi adik saya di rel kereta. Pijatannya saat saya sakit. Wajah bahagianya pas saya godain. Cubitannya kalo saya susah bangun. Tangis sedihnya saat saya pergi. Banyak sekali yang simbah saya lakukan untuk saya. Dan saya belum berbuat apa-apa untuk beliau. Terlambat memang kata yang pantas disesali.
Tapi mungkin itu keputusan paling baik yang Tuhan buat untuk Simbah. Mungkin Tuhan kasihan melihat betapa susahnya Simbah saya timpuh saat shalat. Atau kedinginan saat mengambil air wudlhu dari padasan. Saya tahu Tuhan pasti memberi tempat yang baik untuk Simbah saya. Tempat yang lapang, terang, lembut, beralas beledu. Tuhan pasti juga sudah menyembuhkan rematiknya. Memberinya air wudlhu yang hangat. Makanan bergizi. Acara TV favoritnya. Apa saja yang simbah saya butuhkan. Tuhan pasti ingin simbah saya sholat dengan sempurna di sampingnya. Jadi Dia mengambilnya cepat-cepat.
Ah, seharusnya saya tidak terlalu sedih. Simbah simak saya yang baik itu pasti mendapat tempat yang baik. Saya yakin. Karena Beliau wanita paling baik yang pernah saya kenal. ketulusan. Keiklasan. Nrimo. Perjuangan. Rendah hati. Mau berkorban. Taat. Jujur. Dan semua sifat baik yang saya tau. Mungkin beliau memang sudah meninggal. Tapi saya tahu, dia tidak pernah mati. Dia selalu ada di hati saya. Nasehatnya masih ada. Lagu-lagu yang diajarkannya masih terkenang. Senyum tuanya masih ada. pijatannya masih terasa. Saya bangga sekali kecil dan menjadi besar dalam rawatannya.
Dan pertahanan saya benar-benar runtuh senin pagi itu. Saat saya menemui Simbah Simak saya yang sudah tidak bernyawa. Dan segala pemikiran aneh-aneh saya tentang kematian pun tidak saya ingat lagi. Saya hanya ingin menangis.menangis.menangis. Ada banyak emosi yang terlibat. Saya tidak bisa mendefinisikannya satu-satu. Padahal malam itu Simbah Simak saya masih tarawih di masjid. Masih membangunkan orang-orang serumah untuk sahur. Masih sempat puasa.
Saya masih ingat sekali malam simbah menyanyi sampe larut malam. menggulung stagen bersama simbah. Pergi kepasar sebelum Lebaran bersama simbah. Tidur dengan baju hangat yang disiapkan simbah. Obat nyamuk yang dibakarkan simbah untuk saya. Makanan yang selalu disimpan di getong beras untuk saya. Tertawa terkekeh-kekeh saat nonton tivi. Menggosok punggung simbah dengan batu apung. Cerita-serita jaman perjuangan versi beliau. Ciumannya menyambut saya pulang. Wajah kecewanya karena saya selalu terburu-buru pulanh ke Jogja. Sayur gori favorit saya. tempe bacem buatannya. Menyuapi adik saya di rel kereta. Pijatannya saat saya sakit. Wajah bahagianya pas saya godain. Cubitannya kalo saya susah bangun. Tangis sedihnya saat saya pergi. Banyak sekali yang simbah saya lakukan untuk saya. Dan saya belum berbuat apa-apa untuk beliau. Terlambat memang kata yang pantas disesali.
Tapi mungkin itu keputusan paling baik yang Tuhan buat untuk Simbah. Mungkin Tuhan kasihan melihat betapa susahnya Simbah saya timpuh saat shalat. Atau kedinginan saat mengambil air wudlhu dari padasan. Saya tahu Tuhan pasti memberi tempat yang baik untuk Simbah saya. Tempat yang lapang, terang, lembut, beralas beledu. Tuhan pasti juga sudah menyembuhkan rematiknya. Memberinya air wudlhu yang hangat. Makanan bergizi. Acara TV favoritnya. Apa saja yang simbah saya butuhkan. Tuhan pasti ingin simbah saya sholat dengan sempurna di sampingnya. Jadi Dia mengambilnya cepat-cepat.
Ah, seharusnya saya tidak terlalu sedih. Simbah simak saya yang baik itu pasti mendapat tempat yang baik. Saya yakin. Karena Beliau wanita paling baik yang pernah saya kenal. ketulusan. Keiklasan. Nrimo. Perjuangan. Rendah hati. Mau berkorban. Taat. Jujur. Dan semua sifat baik yang saya tau. Mungkin beliau memang sudah meninggal. Tapi saya tahu, dia tidak pernah mati. Dia selalu ada di hati saya. Nasehatnya masih ada. Lagu-lagu yang diajarkannya masih terkenang. Senyum tuanya masih ada. pijatannya masih terasa. Saya bangga sekali kecil dan menjadi besar dalam rawatannya.
Juli 02, 2008
mengadu pada yang mengatur
ketika mataku tak lagi bisa melihatMu,
jangan bilang kalau aku buta
ketika telingaku tak mampu lagi mendengarMu,
jangan bilang aku tuli
aku hanya tak bisa melihat kebenaran
atau merasai indahnya nikmatMu
aku takut tersesat
aku takut jarakku semakin jauh dariMu
namun aku tak punya keberanian
mendekatiMu
aku hanya ingin mengadu,
menghadapkan mukaku padaMu
boleh Kau tampar
boleh Kau pukul
boleh Kau lempar
karena aku sepenuhnya milikMu
dan aku hanya ingin mengadu
karena hanya Kau yang maha segalanya
jangan bilang kalau aku buta
ketika telingaku tak mampu lagi mendengarMu,
jangan bilang aku tuli
aku hanya tak bisa melihat kebenaran
atau merasai indahnya nikmatMu
aku takut tersesat
aku takut jarakku semakin jauh dariMu
namun aku tak punya keberanian
mendekatiMu
aku hanya ingin mengadu,
menghadapkan mukaku padaMu
boleh Kau tampar
boleh Kau pukul
boleh Kau lempar
karena aku sepenuhnya milikMu
dan aku hanya ingin mengadu
karena hanya Kau yang maha segalanya
Langganan:
Postingan (Atom)