Tampilkan postingan dengan label somebody else. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label somebody else. Tampilkan semua postingan
Mei 25, 2012
sebelum semua terlambat
saya masih ingat ketika kemarin, tangan keriput mbah arjo memegang tangan saya, matanya yang berair dengan ratusan kerutan di sekelilingnya memandang saya dan berkata, maturnuwun, nok. tiba-tiba saya ingat simbah saya, dan jadi ingin menangis karenanya.
saat itu saya merasa begitu bahagia. jauh lebih bahagia dari kebahagiaan saya ketika saya masuk ke toko baju, dan menemukan sebuah baju murah yang ukurannya pas dg tubuh saya. rasanya jauhjauhjauh lebih membahagiakan dari itu. padahal saya tidak melakukan hal besar. saya hanya membantu mbah arjo, tetangga saya yang sudah uzur, sedikiiiit saja dari yang saya bisa perbuat.
hari itu saya sampai pada kesimpulan, bahwa jangan berfikir terlalu lama. jangan berprasangka, jangan berkecil hati, jangan takut, jangan ragu, jangan berfikir terlalu panjang, untuk melakukan hal baik, sebelum semuanya terlambat....
Mei 21, 2010
malu

kalo saya sih, masih bisa menahan lapar, mbak. tapi anak-anak saya tidak.
bapak itu datang pada saya. selepas maghrib. saat saya dan adik saya sedang makan dengan sambel terasi dan lauk yang saya bawa pulang dari tempat kerja. menaiki sepeda tua yang buruk rupa, jauh lebih buruk rupa dari pada phanther. mukanya pucat dan suaranya terbata-bata. bercerita ini itu ini itu ini itu. dan saya melihat matanya merah, meski ia mencoba menyembunyikannya dengan bicara tanpa mau menatap saya. seorang bapak, dengan 4 orang anak yang masih kecil dan istri yang meriang. bersepeda dari sagan ke gedong kuning, dan nanti harus pulang dengan bersepeda lagi ke kalasan. ia hanya ingin pinjam uang, 50 ribuuuu saja.
tiba-tiba saja saya merasa seperti ditampar. dengan sandal jepit. berpaku pula. tiba-tiba saya merasa menjadi orang paling sombong sedunia. tiba-tiba saya ingin menggali tanah dibawah saya dan masuk kedalamnya. saya malu sekali. saya tau semua benda di kamar kos saya sedang menahan tawa. menertawakan kebodohan saya. saya malu. benar-benar malu.
betapa uang sejumlah itu bisa saja habis dalam satu kibasan saja ditangan saya. betapa pulsa sejmlah itu bisa saya habiskan hanya dalam waktu singkat. betapa saya bisa pergi ke toko kue dan membeli jajanan sejumlah itu yang akan saya habiskan dalam sekejap saja. betapa uang sebesar itu bisa saya bawa jalan-jalan dengan adik saya, dan blasss, tiba-tiba sudah tidak ada. betapa uang itu seharga 2 karcis nonton film di twentyone dengan durasi 1,5 jam-an. betapa uang sebesar itu sering saya habiskan untuk membeli novel dan hanya akan habis saya baca dalam waktu 2 jam.
dan bodohnya, saya menyebutnya sebagai pengeluaran profesional, sebagai ganti atas kepenatan saya pada pekerjaan. saya menyebutnya harga yang pantas dibayar untuk sebuah kenikmatan.
seandainya saya lebih bijaksana, mungkin saya tidak akan semalu ini.
saya malu. benar-benar malu.
jangankan lapar, belum lapar saja saya sudah makan, berlebih malah. kadang sampe glege'en karena kekenyangan. kadang sampe terbuang makanan karena tidak termakan selama berhari-hari. sedang anak kecil dikalasan sana, dikhawatirkan lapar, kalo orang tuanya tidak membawa apa-apa malam itu.
saya tau betapa minimnya upah minimum propinsi di jogja. jangankan mendekati, untuk orang-orang yang berkerja di sektor informal, gaji separoh ump itu sudah sangat beruntung sekali. masih untunggggg, ada kerjaan, kata mereka.
saya tidak berniat sombong ato menyebarluaskan kemiskinan. semua orang juga tau saya sama miskinnya dengan mereka. hanya mungkin di beberapa hal, saya lebih beruntung.
saya bersukur saya punya pekerjaan tetap. saya bersukur tidak kesulitan mencari pekerjaan. tapi saya sering malu karena ada beberapa orang tidak seberuntung saya, dan sayapun tidak bisa berbuat banyak untuk mereka. jelas saya cuma omong besar saja. mungkin malaikat-malaikat cuma akan ketawa sambil mencatat di pundak kiri, halah, bersukur opo, ka, ka.
ah, sudahlah, sore ini akan sangat menyebalkan kalo dihabiskan dengan membaca ocehan omong kosong saya. yuk mari peduli, agar kita tidak semalu saya nanti. :D
Desember 16, 2009
kopi, hujan, dan sahabat
hey, mari sini. duduk sini.
kita bisa membicarakannya sambil minum kopi, bukan?. sambil melihat tirai hujan dibalik jendela. sini, berikan tanganmu.
jangan takut. ada aku. mungkin tak pernah benar-benar ada disampingmu. tak pernah benar-benar mengerti masalahmu.
tapi membangunkanku tengah malam benar-benar mengusikku. suaramu tersendat, ditingkahi isak yang susah payah kau sembunyikan.
ini telingaku. kupinjamkan untukmu. maaf tak bisa menepuk bahumu atau memelukmu. maaf karena kalimatku tak pernah menjadi lebih baik dari tahun ke tahun.
semua, pasti baik-baik saja. pasti baik-baik saja. kau tau, baik-baik saja. pasti. percayalah.
...karena sahabat adalah seseorang yang memberimu kepercayaan. apa adanya...
kita bisa membicarakannya sambil minum kopi, bukan?. sambil melihat tirai hujan dibalik jendela. sini, berikan tanganmu.
jangan takut. ada aku. mungkin tak pernah benar-benar ada disampingmu. tak pernah benar-benar mengerti masalahmu.
tapi membangunkanku tengah malam benar-benar mengusikku. suaramu tersendat, ditingkahi isak yang susah payah kau sembunyikan.
ini telingaku. kupinjamkan untukmu. maaf tak bisa menepuk bahumu atau memelukmu. maaf karena kalimatku tak pernah menjadi lebih baik dari tahun ke tahun.
semua, pasti baik-baik saja. pasti baik-baik saja. kau tau, baik-baik saja. pasti. percayalah.
...karena sahabat adalah seseorang yang memberimu kepercayaan. apa adanya...
September 26, 2009
Septi, gadis kecil yang tak pernah ada
Bagaimana mungkin kamu merasa kehilangan, padahal kamu tak pernah memilikinya.
Saat melihatnya dari video Handphone berdurasi 3 menit milik teman saya, dan saya langsung jatuh hati pada gadis kecil itu. Pipinya begitu merah, tembem cantik dengan bulu-bulu halus disekelilingnya. Matanya terpejam. Tanganya menggapai-gapai dalam sarung tangan kecil warna biru muda. Bibirnya bergerak-gerak lucu,seakan-akan tak sabar menanti susu cair yang akan disuapkan padanya dengan sendok kecil. Saya ingin sekali menggendongnya. Saya membayangkan bau minyak telon, baby oil dan bedak bayi yang beraroma khas. Saya juga ingin menyentuh kulitnya yang pasti lembut sekali. Juga pipinya yang mengundang untuk dicium habis-habisan. Aduhhh, gemas sekali saya melihatnya.
Kemudian teman saya memperlihatkan video yang lain. Masih gadis kecil yang sama. Telanjang. perutnya menggelembung seperti balon. Matanya terpejam. Kaku. Tubuhnya membiru. Teman saya bercerita bahwa gadis kecil itu akhirnya meninggal diusia yang ke 12 hari. Saya tercekat dan terdiam. Bagaimana mungkin gadis kecil selucu itu pergi begitu cepat?. Benak sayapun dipenuhi bayangan si gadis kecil, terkubur sendirian. dikerubungi belatung. membusuk.
Dia adalah Septi, gadis kecil yang tak pernah ada. Tidak pernah saya kenal. Anak teman saya yang beberapa bulan lalu menikah, dan meminta saya menjadi juru foto jadi-jadianya. Tempat tinggal yang berpindah-pindah membuat saya lost contact denganya. Sekarangpun dia entah dimana. Kawan saya yang lain yang mengabarkan berita ini pada saya. Beberapa hari yang lalu ia lewat karena hendak pulang ke tanah jawa.
Kasihan Septi, gadis kecil itu pasti tak akan pernah tau sandiwara apa yang dimainkan ayah dan ibunya. Ia juga tak tahu, bagaimana mungkin orang-orang yang seharusnya melindunginya tega melakukan hal-hal jahat padanya. Bahkan sebelum ia dilahirkan. Ia tak tahu. Orang yang merawatnya hanya tau tiba-tiba perutnya menggelembung, dan tau-tau ia sudah tak bernyawa dengan tubuh biru. Bahkan tak ada yang mau repot membawanya kerumah sakit untuk mengetahui sebab kematiannya. Toh tak ada yang berkepentingan juga kata mereka. Mendengar cerita teman saya, saya seperti mendengar suara derit kerikil yang tidak sengaja tercampur dengan kapur saat dipakai untuk menulis di papan. miris.
Saya tidak mengenalnya. Saya menyesal sekali ia hanya berusia 12 hari. Seharusnya ia tumbuh besar dan menjadi gadis kecil berbaju renda-renda yang lucu. Meski saya tahu Tuhan selalu mempunyai jawaban atas semua pertanyaan, hati kecil saya masih menyalahkan ayah ibunya. Saya tidak pernah tau apa penyebab kematiannya, teman saya pun tak tau. saya hanya teringat cairan-cairan pekat yang diminum ibunya. Tapi entahlah
Sampai sekarang saya tidak bisa melepaskan pikiran saya dari gadis kecil itu. Gadis kecil yang tak pernah ada. kecil. terpejam. kaku. perut sebesar balon. tubuh membiru. Hanya wajahnya terlihat begitu damai. Mulutnya seakan membentuk senyuman. Mungkin malaikat membisikan sebuah rahasia padanya. Bahwa disana, di surga, ada bidadari cantik baik hati yang akan merawatnya dengan penuh cinta.
Tulisan ini saya tulis tanpa ijin sebelumnya. Tidak ada yang bisa dimintai ijin.
Saat melihatnya dari video Handphone berdurasi 3 menit milik teman saya, dan saya langsung jatuh hati pada gadis kecil itu. Pipinya begitu merah, tembem cantik dengan bulu-bulu halus disekelilingnya. Matanya terpejam. Tanganya menggapai-gapai dalam sarung tangan kecil warna biru muda. Bibirnya bergerak-gerak lucu,seakan-akan tak sabar menanti susu cair yang akan disuapkan padanya dengan sendok kecil. Saya ingin sekali menggendongnya. Saya membayangkan bau minyak telon, baby oil dan bedak bayi yang beraroma khas. Saya juga ingin menyentuh kulitnya yang pasti lembut sekali. Juga pipinya yang mengundang untuk dicium habis-habisan. Aduhhh, gemas sekali saya melihatnya.
Kemudian teman saya memperlihatkan video yang lain. Masih gadis kecil yang sama. Telanjang. perutnya menggelembung seperti balon. Matanya terpejam. Kaku. Tubuhnya membiru. Teman saya bercerita bahwa gadis kecil itu akhirnya meninggal diusia yang ke 12 hari. Saya tercekat dan terdiam. Bagaimana mungkin gadis kecil selucu itu pergi begitu cepat?. Benak sayapun dipenuhi bayangan si gadis kecil, terkubur sendirian. dikerubungi belatung. membusuk.
Dia adalah Septi, gadis kecil yang tak pernah ada. Tidak pernah saya kenal. Anak teman saya yang beberapa bulan lalu menikah, dan meminta saya menjadi juru foto jadi-jadianya. Tempat tinggal yang berpindah-pindah membuat saya lost contact denganya. Sekarangpun dia entah dimana. Kawan saya yang lain yang mengabarkan berita ini pada saya. Beberapa hari yang lalu ia lewat karena hendak pulang ke tanah jawa.
Kasihan Septi, gadis kecil itu pasti tak akan pernah tau sandiwara apa yang dimainkan ayah dan ibunya. Ia juga tak tahu, bagaimana mungkin orang-orang yang seharusnya melindunginya tega melakukan hal-hal jahat padanya. Bahkan sebelum ia dilahirkan. Ia tak tahu. Orang yang merawatnya hanya tau tiba-tiba perutnya menggelembung, dan tau-tau ia sudah tak bernyawa dengan tubuh biru. Bahkan tak ada yang mau repot membawanya kerumah sakit untuk mengetahui sebab kematiannya. Toh tak ada yang berkepentingan juga kata mereka. Mendengar cerita teman saya, saya seperti mendengar suara derit kerikil yang tidak sengaja tercampur dengan kapur saat dipakai untuk menulis di papan. miris.
Saya tidak mengenalnya. Saya menyesal sekali ia hanya berusia 12 hari. Seharusnya ia tumbuh besar dan menjadi gadis kecil berbaju renda-renda yang lucu. Meski saya tahu Tuhan selalu mempunyai jawaban atas semua pertanyaan, hati kecil saya masih menyalahkan ayah ibunya. Saya tidak pernah tau apa penyebab kematiannya, teman saya pun tak tau. saya hanya teringat cairan-cairan pekat yang diminum ibunya. Tapi entahlah
Sampai sekarang saya tidak bisa melepaskan pikiran saya dari gadis kecil itu. Gadis kecil yang tak pernah ada. kecil. terpejam. kaku. perut sebesar balon. tubuh membiru. Hanya wajahnya terlihat begitu damai. Mulutnya seakan membentuk senyuman. Mungkin malaikat membisikan sebuah rahasia padanya. Bahwa disana, di surga, ada bidadari cantik baik hati yang akan merawatnya dengan penuh cinta.
Tulisan ini saya tulis tanpa ijin sebelumnya. Tidak ada yang bisa dimintai ijin.
Juli 31, 2009
Terharu dan Kemudian Lupa
Namanya Hasan. Usianya belum genap 14 tahun. Tubuhnya kecil, kulit kehitaman, dan rambut tipis keriting. Di hari Senin siang yang cerah, dan matahari bersinar ramah, kau tidak akan mendapatkannya duduk rapi dibangku sekolah manapun. Kau tidak akan mendapatkannya berdesak-desakan antre sambil tertawa-tawa bersama teman-teman di kantin sekolah manapun juga. Kau bahkan tak akan dapat melihatnya berdiri sambil bercanda dengan riangnya sambil menunggu sopir papa menjemputnya pulang di pintu gerbang sekolah manapun juga.
Karena Ia ada disini. Dibawah pohon kelapa, diatas kayu-kayu ulin yang disusun membentuk bangku panjang. Diantara puluhan kelapa muda. Duduk menunduk, sambil menusukkan tusuk sate pada udang-udang putih. Air mukanya tenang. Tangannya lincah. Kakinya telanjang. Dihadapannya disusun berderet saus, kecap, bumbu bawang buatan mamaknya dan panggangan dari kaleng bekas biskuit, -yang biasa kau borong sambil berdesak-desakan saat menjelang lebaran, seakan-akan kau akan menghabiskan semuanya-. Beberapa tusukan sate sudah Ia buat, lalu Ia terdiam, memandang jauh ke lautan. Memandangi buih-buih ombak, dan pengunjung-pangunjung berseragam PNS laki-laki perempuan yang berjalan-jalan.
Jangan tanyakan rumus phitagoras, Piramida makanan, atau penyair-penyair angkatan pujangga baru padanya. Dia sudah lupa. Tanyakan padanya harga udang tiap kilo, berapa tusuk udang yang bisa Ia jual tiap hari, dan berapa uang yang ia setorkan ke mamaknya setiap sore. Tanyakan padanya kenapa dua adiknya yang tak berbaju mengikutinya, tanyakan rasanya udara subuh yang menggigit, dan ia harus turun ke pantai, tanyakan bagaimana rasanya ditinggal ayah, tanyakan bagaimana rasanya tidak bisa membayar uang seragam olahraga waktu SD,Tanyakan padanya kenapa tidak sekolah, tanyakan padanya kemana Mamaknya pergi sesiangan ini.
Tapi, jangan harap ia akan menjawabnya dengan kalimat lengkap. Jangan beri pertanyaan essay, beri pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak, ah, yang lebih sederhana lagi, anggukan atau gelengan. Dan jangan bertanya tanpa membeli. Hanya 2000 rupiah pertusuk, dan kau akan mendapatkan udang bakar dengan rasa seadanya. Iya, hanya 2000 rupiah saja. bahkan kadang kalau tercecer, kau tidak akan merasa kehilangan, bukan?. Tapi baginya, sangat berarti.
Tanyakan padanya apakah Ia ingin sekolah kembali. Dan kau hanya akan mendapatkan gelengan kepala. Tapi saya tau, dia bukannya tidak ingin sekolah kembali. hanya, mungkin Ia hanya malas berandai-andai dan berujung kecewa. Atau, mungkin Ia tidak tega meninggalkan kedua adiknya sementara ibunya bekerja.
Pernah Ingat, apa kau pernah berfikir demikian saat usiamu 14 tahun kurang sedikit?. Atau yang kau ingat adalah rengekanmu pada mama untuk membelikanmu tas baru. Atau pintu kamarmu yang kau banting keras saat Mama tidak mengizinkanmu keluar malam minggu?. Dan lihat, anak kecil dibawah pohon kelapa itu sudah memikirkannya. Padahal hal itu terlalu kompleks untuk dipikirkan seorang anak kecil. Jadi, meski ia sudah lupa rumus phitagoras, piramida makanan, atau penyair-penyair angkatan pujangga baru, tapi saya tau, anak itu tidak pernah berhenti berfikir.
Saya tidak tau siapa yang salah, tapi kalau saja di sebagian hartamu yang menjadi haknya benar-benar kau berikan, mungkin kau tidak akan menemukan Hasan-Hasan lain. Atau jika UUD yang berbunyi fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara masih ada, boleh jadi ia adalah tanggung jawab negara. Tapi tak taulah, saya hanya bercerita saja, kok.
Dan saya memang hanya pecundang saja. Yang berada di tempat dan waktu yang tidak tepat. sok sentimentil dan berlagak baik hati, namun tidak berbuat banyak. Beberapa waktulagipun saya mungkin akan lupa. Karena itu saya menuliskannya disini. Supaya ketika saya lupa, saya bisa menengoknya kembali. Saya pesimis akan menemukannya 12 tahun lagi sebagai dokter. Atau pilot. Atau anggota DPR. Meski hal itu tetap mungkin terjadi.
Jadi apapun Ia nanti, tetap saja dia istimewa, setidaknya dimata saya. Kesabarannya hatinya menginspirasi saya.....
Karena Ia ada disini. Dibawah pohon kelapa, diatas kayu-kayu ulin yang disusun membentuk bangku panjang. Diantara puluhan kelapa muda. Duduk menunduk, sambil menusukkan tusuk sate pada udang-udang putih. Air mukanya tenang. Tangannya lincah. Kakinya telanjang. Dihadapannya disusun berderet saus, kecap, bumbu bawang buatan mamaknya dan panggangan dari kaleng bekas biskuit, -yang biasa kau borong sambil berdesak-desakan saat menjelang lebaran, seakan-akan kau akan menghabiskan semuanya-. Beberapa tusukan sate sudah Ia buat, lalu Ia terdiam, memandang jauh ke lautan. Memandangi buih-buih ombak, dan pengunjung-pangunjung berseragam PNS laki-laki perempuan yang berjalan-jalan.
Jangan tanyakan rumus phitagoras, Piramida makanan, atau penyair-penyair angkatan pujangga baru padanya. Dia sudah lupa. Tanyakan padanya harga udang tiap kilo, berapa tusuk udang yang bisa Ia jual tiap hari, dan berapa uang yang ia setorkan ke mamaknya setiap sore. Tanyakan padanya kenapa dua adiknya yang tak berbaju mengikutinya, tanyakan rasanya udara subuh yang menggigit, dan ia harus turun ke pantai, tanyakan bagaimana rasanya ditinggal ayah, tanyakan bagaimana rasanya tidak bisa membayar uang seragam olahraga waktu SD,Tanyakan padanya kenapa tidak sekolah, tanyakan padanya kemana Mamaknya pergi sesiangan ini.
Tapi, jangan harap ia akan menjawabnya dengan kalimat lengkap. Jangan beri pertanyaan essay, beri pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak, ah, yang lebih sederhana lagi, anggukan atau gelengan. Dan jangan bertanya tanpa membeli. Hanya 2000 rupiah pertusuk, dan kau akan mendapatkan udang bakar dengan rasa seadanya. Iya, hanya 2000 rupiah saja. bahkan kadang kalau tercecer, kau tidak akan merasa kehilangan, bukan?. Tapi baginya, sangat berarti.
Tanyakan padanya apakah Ia ingin sekolah kembali. Dan kau hanya akan mendapatkan gelengan kepala. Tapi saya tau, dia bukannya tidak ingin sekolah kembali. hanya, mungkin Ia hanya malas berandai-andai dan berujung kecewa. Atau, mungkin Ia tidak tega meninggalkan kedua adiknya sementara ibunya bekerja.
Pernah Ingat, apa kau pernah berfikir demikian saat usiamu 14 tahun kurang sedikit?. Atau yang kau ingat adalah rengekanmu pada mama untuk membelikanmu tas baru. Atau pintu kamarmu yang kau banting keras saat Mama tidak mengizinkanmu keluar malam minggu?. Dan lihat, anak kecil dibawah pohon kelapa itu sudah memikirkannya. Padahal hal itu terlalu kompleks untuk dipikirkan seorang anak kecil. Jadi, meski ia sudah lupa rumus phitagoras, piramida makanan, atau penyair-penyair angkatan pujangga baru, tapi saya tau, anak itu tidak pernah berhenti berfikir.
Saya tidak tau siapa yang salah, tapi kalau saja di sebagian hartamu yang menjadi haknya benar-benar kau berikan, mungkin kau tidak akan menemukan Hasan-Hasan lain. Atau jika UUD yang berbunyi fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara masih ada, boleh jadi ia adalah tanggung jawab negara. Tapi tak taulah, saya hanya bercerita saja, kok.
Dan saya memang hanya pecundang saja. Yang berada di tempat dan waktu yang tidak tepat. sok sentimentil dan berlagak baik hati, namun tidak berbuat banyak. Beberapa waktulagipun saya mungkin akan lupa. Karena itu saya menuliskannya disini. Supaya ketika saya lupa, saya bisa menengoknya kembali. Saya pesimis akan menemukannya 12 tahun lagi sebagai dokter. Atau pilot. Atau anggota DPR. Meski hal itu tetap mungkin terjadi.
Jadi apapun Ia nanti, tetap saja dia istimewa, setidaknya dimata saya. Kesabarannya hatinya menginspirasi saya.....
Mei 15, 2009
thanks for believe me
(bener ndak, ya nulisnya, kalo ndak, malu ni, sama gurunya pedapa,hihi)
Saya menyesal sekali waktu saya memutuskan untuk meninggalkan kota tempat saya tinggal dulu, meninggalkan pekerjaan saya yang -ehm- kadang saya rindukan. Meninggalkan orang-orang baik yang sudah saya kenal bertahun-tahun. Orang-orang yang memberi inspirasi, orang-orang yang tidak akan membiarkan saya kelaparan, yang risih melihat saya bersepatu jebol. Tapi, saya pasti akan lebih menyesal kalo tidak pergi dan tidak mencoba hal-hal baru. Dan saya sangat menyesal sekali ketika mengetahui orang-orang di tempat lama jadi berpikiran lain tentang saya. Tapi, saya pasti akan lebih sangat menyesal bila tetap disana dan mengeluh sepanjang hari. Seakan-akan saya mahluk paling malang didunia.
Lalu ketika seorang teman baik mempercayai saya, saya kok malah jadi seperti diketok pake palu. Tidak, mbak. Tidak perlu mempercayai saya, tidak perlu menuruti hatimu. Dengarkan orang lain, dan percaya saja pada mereka. Saya toh tak punya penjelasan apapun, dan tidak pandai mendebat. Sayapun tak pandai membela diri. Jadi, saya diam, dan saya pergi.
kalau kau ragu, dengarkan saja orang lain. kau tidak perlu menangis setiap semua orang berbicara tentang saya. Saya bukan apa-apa. Dan tidak pantas mengeluarkan airmata untuk saya. Jangan cemaskan saya, tak perlu kau repot-repot hendak ke nenek rumah saya. Saya tidak disana. Tidak dimana-mana. Dan tidak perlu airmata untuk saya. hey, saya tidak seberharga itu. saya bukan siapa-siapa, ingat?
Toh ketika saya pergi, saya sudah memikirkan hal itu, saat orang pergi yang mudah diingat biasanya keburukannya saja, bukan?. ingat orang-orang yang pergi sebelum saya? apa yang akan kita bicarakan tentang mereka? sedikit kebaikan dan lebih banyak keburukan mereka, kan?. Karena manusiawi sekali jika orang lebih menyukai mencari keburukan orang lain daripada kebaikannya. karena hal itu jauh lebih mudah.
Jadi, jangan percayai saya. percayai saja orang lain.
Saya baik-baik disini. 24 jam dikurangi 8 jam milik saya sepenuhnya. Tidur saya nyenyak, makan saya teratur, dan jalan-jalan sekarang jadi lebih bisa dilakukan. Ah iya, telpon saya masih 2, hanya yang satu tidak bisa dipake. Tapi, jelas tidak sesetres dulu lagi ketika ada panggilan masuk. tidak lagi berbunyi sesering dulu. Dan tidak ada lagi acara menutupi telpon dengan bantal, guling, kasur supaya tidak terdengar. Supaya saya tidak merasa bersalah ketika tidak menjawabya. =). kalo saya tidak menelphonmu, saya hanya takut menangis saja. kau tau, kan, betapa cengengnya saya, lha wong, mengingatmu saja saya sudah membuat mata saya pedih, je. apalagi bila berbicara denganmu. saya bisa menangis darah nanti.
bagaimanapun, kau membuat saya tersanjung. oh, iya, saya punya utang membuatkan tabel perkalian untukmu, ya?. maaf tidak bisa memenuhi. Saya menyesal sekali. Padahal disini saya membuatkan banyak tabel perkalian sampai seratus untuk banyak anak. maaf, ya. Dan terimakasih, telah percaya pada saya. Meski seharusnya tidak perlu.
Saya menyesal sekali waktu saya memutuskan untuk meninggalkan kota tempat saya tinggal dulu, meninggalkan pekerjaan saya yang -ehm- kadang saya rindukan. Meninggalkan orang-orang baik yang sudah saya kenal bertahun-tahun. Orang-orang yang memberi inspirasi, orang-orang yang tidak akan membiarkan saya kelaparan, yang risih melihat saya bersepatu jebol. Tapi, saya pasti akan lebih menyesal kalo tidak pergi dan tidak mencoba hal-hal baru. Dan saya sangat menyesal sekali ketika mengetahui orang-orang di tempat lama jadi berpikiran lain tentang saya. Tapi, saya pasti akan lebih sangat menyesal bila tetap disana dan mengeluh sepanjang hari. Seakan-akan saya mahluk paling malang didunia.
Lalu ketika seorang teman baik mempercayai saya, saya kok malah jadi seperti diketok pake palu. Tidak, mbak. Tidak perlu mempercayai saya, tidak perlu menuruti hatimu. Dengarkan orang lain, dan percaya saja pada mereka. Saya toh tak punya penjelasan apapun, dan tidak pandai mendebat. Sayapun tak pandai membela diri. Jadi, saya diam, dan saya pergi.
kalau kau ragu, dengarkan saja orang lain. kau tidak perlu menangis setiap semua orang berbicara tentang saya. Saya bukan apa-apa. Dan tidak pantas mengeluarkan airmata untuk saya. Jangan cemaskan saya, tak perlu kau repot-repot hendak ke nenek rumah saya. Saya tidak disana. Tidak dimana-mana. Dan tidak perlu airmata untuk saya. hey, saya tidak seberharga itu. saya bukan siapa-siapa, ingat?
Toh ketika saya pergi, saya sudah memikirkan hal itu, saat orang pergi yang mudah diingat biasanya keburukannya saja, bukan?. ingat orang-orang yang pergi sebelum saya? apa yang akan kita bicarakan tentang mereka? sedikit kebaikan dan lebih banyak keburukan mereka, kan?. Karena manusiawi sekali jika orang lebih menyukai mencari keburukan orang lain daripada kebaikannya. karena hal itu jauh lebih mudah.
Jadi, jangan percayai saya. percayai saja orang lain.
Saya baik-baik disini. 24 jam dikurangi 8 jam milik saya sepenuhnya. Tidur saya nyenyak, makan saya teratur, dan jalan-jalan sekarang jadi lebih bisa dilakukan. Ah iya, telpon saya masih 2, hanya yang satu tidak bisa dipake. Tapi, jelas tidak sesetres dulu lagi ketika ada panggilan masuk. tidak lagi berbunyi sesering dulu. Dan tidak ada lagi acara menutupi telpon dengan bantal, guling, kasur supaya tidak terdengar. Supaya saya tidak merasa bersalah ketika tidak menjawabya. =). kalo saya tidak menelphonmu, saya hanya takut menangis saja. kau tau, kan, betapa cengengnya saya, lha wong, mengingatmu saja saya sudah membuat mata saya pedih, je. apalagi bila berbicara denganmu. saya bisa menangis darah nanti.
bagaimanapun, kau membuat saya tersanjung. oh, iya, saya punya utang membuatkan tabel perkalian untukmu, ya?. maaf tidak bisa memenuhi. Saya menyesal sekali. Padahal disini saya membuatkan banyak tabel perkalian sampai seratus untuk banyak anak. maaf, ya. Dan terimakasih, telah percaya pada saya. Meski seharusnya tidak perlu.
Agustus 23, 2008
Kembali ke awal
Blar!!!
Dan kemudian semuanya kembali menjadi berantakan. Padahal, tadinya semuanya sudah berjalan dan terencana dengan ok. Seandainya seseorang mau merendahkan hatinya sedikit saja, mau menghargai pembicaraan orang sedikit saja, atau mengelola emosinya dengan sedikit lebih baik, atau mau berusaha mengalah sedikit saja. Dan seandainya seseorang lainnya mau meredam amarahnya sedikit saja, mau mengerti seseorang sedikit saja, atau mau berbicara dengan nada yang lebih rendah. Sedikit saja. Tentu semua akan berjalan dengan baik-baik saja.
Dan saya juga akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi.
oh, atau tepatnya, pura-pura baik-baik saja.
Yah, saya tahu, sebagian besar orang ingin pergi ke tempat lain, sebagian melihat rumput tetangga selalu lebih baik. Wong, kebahagiaan itu seperti pelangi, kok, Ia tidak pernah ada di atas kepala kita, Ia selalu saja ada diatas kepala orang lain. Tapi terus so what?. Toh kita masih juga ada disini. Jadi kenapa kita enggak melakukan hal paling baik yang bisa kita lakukan disini?. Ditempat kita berpijak saat ini. Dan menghormati orang lain saya rasa juga merupakan hal terbaik, kan, mbak?.
Tapi, saya juga tahu, setiap orang punya hak memilih apa yang terbaik dalam hidupnya. Tidak ada orang yang bisa memaksamu untuk kembali. Apalagi saya. Tapi saya menyesal sekali seseorang harus pergi hanya karena masalah sepele seperti itu. Padahal, kalo kita mau duduk tenang dan berbicara kembali setelah hati dingin, tentu semua akan kembali baik. Saya rasa itu hanya masalah emosi.
Senang sekali saya bisa mengenalmu sepanjang tahun ini. dan tahu tidak, kamu orang paling trus terang yang terbaik yang pernah saya kenal. Menyesal sekali kita tidak bisa bertemu kembali seintens dulu. Dan saya masih temanmu, kan?
P.S : oh, dan saya melihat pelangi diatas kepalamu, mbak. :)
Dan kemudian semuanya kembali menjadi berantakan. Padahal, tadinya semuanya sudah berjalan dan terencana dengan ok. Seandainya seseorang mau merendahkan hatinya sedikit saja, mau menghargai pembicaraan orang sedikit saja, atau mengelola emosinya dengan sedikit lebih baik, atau mau berusaha mengalah sedikit saja. Dan seandainya seseorang lainnya mau meredam amarahnya sedikit saja, mau mengerti seseorang sedikit saja, atau mau berbicara dengan nada yang lebih rendah. Sedikit saja. Tentu semua akan berjalan dengan baik-baik saja.
Dan saya juga akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi.
oh, atau tepatnya, pura-pura baik-baik saja.
Yah, saya tahu, sebagian besar orang ingin pergi ke tempat lain, sebagian melihat rumput tetangga selalu lebih baik. Wong, kebahagiaan itu seperti pelangi, kok, Ia tidak pernah ada di atas kepala kita, Ia selalu saja ada diatas kepala orang lain. Tapi terus so what?. Toh kita masih juga ada disini. Jadi kenapa kita enggak melakukan hal paling baik yang bisa kita lakukan disini?. Ditempat kita berpijak saat ini. Dan menghormati orang lain saya rasa juga merupakan hal terbaik, kan, mbak?.
Tapi, saya juga tahu, setiap orang punya hak memilih apa yang terbaik dalam hidupnya. Tidak ada orang yang bisa memaksamu untuk kembali. Apalagi saya. Tapi saya menyesal sekali seseorang harus pergi hanya karena masalah sepele seperti itu. Padahal, kalo kita mau duduk tenang dan berbicara kembali setelah hati dingin, tentu semua akan kembali baik. Saya rasa itu hanya masalah emosi.
Senang sekali saya bisa mengenalmu sepanjang tahun ini. dan tahu tidak, kamu orang paling trus terang yang terbaik yang pernah saya kenal. Menyesal sekali kita tidak bisa bertemu kembali seintens dulu. Dan saya masih temanmu, kan?
P.S : oh, dan saya melihat pelangi diatas kepalamu, mbak. :)
Mei 18, 2008
gudeg mbah min
minggu pagi,
saya selalu berangkat kerja lebih pagi dari biasanya. karena, yang pertama, biar ada cukup waktu untuk ke bunderan UGM, nyari buku rijek. kedua, biar enggak berpapasan sama tetangga-tetangga.
capek juga tiap hari berangkat kerja selalu ditanya, "kerja, ya, mbak? kok enggak pernah libur?".Dan biasanya saya cuma tersenyum, sambil njelasin kalo saya liburnya tuh hari sabtu, hari minggu cuma bantuin embak yang di kantor. biar enggak sendirian. Padahal dalam hati saya bilang, " mau libur, kek, enggak, kek, emang harus laporan sama kalian". Ah, mungkin sebenarnya mereka begitu perhatian pada saya....(ayo.... keep on positip!!!!)
tujuan pertama saya, ke pasar ndemangan, nyari bubur gudeg sama telur item. Hingga sampailah saya pada lesehannya mbah min, orang tua bungkuk yang jualan gudeg di emperan pasar demangan.
"mBah, nyuwun bubur gudeg kalih tigan, pedes."
"Iyo, nok. ealah, Nok, saiki opo2 larang, gori yo larang tenan. iki ora nganggo gori, yo, nganggo gudeg bung, yo...(bung= bambu muda )"
"waduh, mbah, nopo nggih enak gudeg bung niku, lha gek pripun menawi gudeg mboten onten gorine?"
"lha yo, mbuh, nok. lha wong opo2 larang kabeh.gori saiki seliko 9 ewu. kuwi wae durung di onceki. endok sekilo 11 ewu. lengo mambu sak liter 35, lha wong mlarat koyo simbah iki njur piye....."
Begitulah kalo apa2 mahal. gudeg gori aja diganti gudeng bung. lama2 kalo bung juga mahal, gudeg bung juga bisa diganti gudeg sisa potongan kayu, atau gudeg sandal jepit bekas..... Oalah, mbah min,
saya selalu berangkat kerja lebih pagi dari biasanya. karena, yang pertama, biar ada cukup waktu untuk ke bunderan UGM, nyari buku rijek. kedua, biar enggak berpapasan sama tetangga-tetangga.
capek juga tiap hari berangkat kerja selalu ditanya, "kerja, ya, mbak? kok enggak pernah libur?".Dan biasanya saya cuma tersenyum, sambil njelasin kalo saya liburnya tuh hari sabtu, hari minggu cuma bantuin embak yang di kantor. biar enggak sendirian. Padahal dalam hati saya bilang, " mau libur, kek, enggak, kek, emang harus laporan sama kalian". Ah, mungkin sebenarnya mereka begitu perhatian pada saya....(ayo.... keep on positip!!!!)
tujuan pertama saya, ke pasar ndemangan, nyari bubur gudeg sama telur item. Hingga sampailah saya pada lesehannya mbah min, orang tua bungkuk yang jualan gudeg di emperan pasar demangan.
"mBah, nyuwun bubur gudeg kalih tigan, pedes."
"Iyo, nok. ealah, Nok, saiki opo2 larang, gori yo larang tenan. iki ora nganggo gori, yo, nganggo gudeg bung, yo...(bung= bambu muda )"
"waduh, mbah, nopo nggih enak gudeg bung niku, lha gek pripun menawi gudeg mboten onten gorine?"
"lha yo, mbuh, nok. lha wong opo2 larang kabeh.gori saiki seliko 9 ewu. kuwi wae durung di onceki. endok sekilo 11 ewu. lengo mambu sak liter 35, lha wong mlarat koyo simbah iki njur piye....."
Begitulah kalo apa2 mahal. gudeg gori aja diganti gudeng bung. lama2 kalo bung juga mahal, gudeg bung juga bisa diganti gudeg sisa potongan kayu, atau gudeg sandal jepit bekas..... Oalah, mbah min,
April 25, 2008
sudahlah
sudahlah, tutup buku, mulai buka buku baru. enggak semua peristiwa yang enggak menyenangkan harus diakhiri dengan tangisan. Kadang, sesuatu yang berakhir buruk juga perlu untuk diketawain. sudahlah, kadang memang harapan harus berakhir. Dan seharusnya korban tidak boleh kecewa. Memang begitukan seharusnya korban. kalah, diam, pasrah. Sudahlah.....
April 20, 2008
............
karena malam kita berbeda
kita tak pernah bisa bertemu
untuk sekadar berbincang
membicarakan anak-anak kita
yang beranjak dewasa
kalau kita hanya bertemu lewat mimpi
mari kita bicarakan
tentang kebun kacang kita
yang lama tak tersentuh
atau rumpun-rumpun mawar kita
yang kering tak tersiram
atau bila tangkupan jari-jari kita tak lagi bertemu
dan mata kita tak bisa saling bertatap lagi
dalam hati saja kita bicara
tentang jalan-jalan yang tak terlewati lagi
tentang rindu yang tak terjawab lagi
dan bila kita selamanya tak bertemu
cukup kita katakan pada bintang-bintang
bahwa kita pernah ada
dalam peluh dan sedu sedan
dalam debu dan tetesan keringat
terimakasih, bintang
karena engkau pernah memberi kerlip terang
jangan tersenyum lagi padaku
kita tak pernah bisa bertemu
untuk sekadar berbincang
membicarakan anak-anak kita
yang beranjak dewasa
kalau kita hanya bertemu lewat mimpi
mari kita bicarakan
tentang kebun kacang kita
yang lama tak tersentuh
atau rumpun-rumpun mawar kita
yang kering tak tersiram
atau bila tangkupan jari-jari kita tak lagi bertemu
dan mata kita tak bisa saling bertatap lagi
dalam hati saja kita bicara
tentang jalan-jalan yang tak terlewati lagi
tentang rindu yang tak terjawab lagi
dan bila kita selamanya tak bertemu
cukup kita katakan pada bintang-bintang
bahwa kita pernah ada
dalam peluh dan sedu sedan
dalam debu dan tetesan keringat
terimakasih, bintang
karena engkau pernah memberi kerlip terang
jangan tersenyum lagi padaku
April 18, 2008
Lagi ditampar Tuhan
Saya sungguh heran, saya itu orang yang banyak dosa, sering menghujat dan menyalah-nyalahkan Tuhan, sering merasa tidak diperlakukan dengan adil oleh Tuhan. Tapi, kok ya Tuhan masih mau-maunya peduli pada saya, masih mau-maunya menampar pipi saya keras-keras, hingga saya terpelanting, jatuh tersungkur, dan seakan-akan Dia bilang, ka, kembalilah ke jalan yang benar. Mungkin memang begitu cara Tuhan membuat saya berhenti sejenak, dan berfikir masak-masak. Setelah sekian lama saya berjalan sambil menegakkan dagu keatas, berjalan pongah, dan sering menunjuk-nunjuk mukanya. Dan saat itu waktu berjalan dengan amat cepat, tiba-tiba dazhhh, saya jatuh dan remuk. saya tersungkur, dan ketika memandang ke atas, saya melihat kaki Tuhan pas dimuka saya.
Tapi, saya kok jadi geer sendiri, Saya merasa, saya ditampar Tuhan itu, karena Tuhan sayang sekali dengan saya. Dia mungkin ingin menyadarkan saya, bahwa saya harus menghadapi semua yang saya perbuat, bukan lari, masuk kamar, dan berharap beberapa hari kemudian semua hanya akan menjadi kenangan. Sepertinya, setelah Dia menampar saya, kemudian di menyeret saya ke inti permasalahan, dan bilang, face it.
Hmmmm, sampai di rumah, saya jadi membuka-buka catatan-catatan saya jaman kuliah dulu. Betapa saya sering sekali menulis bahwa saya nelongso sekali, dan selalu meminta bantuan Tuhan. Betapa saya iri dengan orang lain, saya sambat, tapi dengan bahasa yang halus, sambil memuji-muji nama Tuhan. Saya dulu bangun pagi dan menuntun sepeda saya keluar rumah, tapi saya tidak marah-marah, saya hanya sedikit nggresulo, kok saya susah gini, ya. Tapi saya tidak marah-marah, saya hanya meminta keadaan yang lebih baik. Saya ingat terbangun tengah malam dan menunduk menghadap kiblat, untuk kemudian mengerjakan catatan2 kuliah, karena dulu, untuk fotocopipun, saya masih sangat sayang. Dan saya sedih sekali, ketika ingat, bahwa saat itu, saya lebih sabar dari sekarang. Tidak ada kopi tengah malam. Tidak ada makan siang. Tidak ada kletian. Bayangkan, dulu saya sempat mencoba menghafal Asmaul Husna.
Tapi sekarang, makin mapan kok saya malah makin menjauhiNya. Saya malah menambah pengetahuan saya dengan mencicipi dosa-dosa lain. Saya kok bukannya bersukur malah terus-terusan ingkar. Bahkan, saking berdosanya saya, saya sampe kadang tidak punya muka untuk menemuinya.
Lha sekarang kok Tuhan masih mau-maunya menampar muka saya. Kok masih peduli pada saya yang tidak punya apa-apa ini. Padahal saya begitu kotor....
Tuhan, maaf ya, pernah mengira Engkau tidur. Pernah menyalah-nyalahkanMU atas semua yang terjadi. Terima kasih sudah menampar saya, lewat semua pelajaran yang Engkau berikan pada saya. Semoga mata saya tidak terlampau buta lagi untuk melihat semua nikmat yang sudah Engkau beri.
Tapi, saya kok jadi geer sendiri, Saya merasa, saya ditampar Tuhan itu, karena Tuhan sayang sekali dengan saya. Dia mungkin ingin menyadarkan saya, bahwa saya harus menghadapi semua yang saya perbuat, bukan lari, masuk kamar, dan berharap beberapa hari kemudian semua hanya akan menjadi kenangan. Sepertinya, setelah Dia menampar saya, kemudian di menyeret saya ke inti permasalahan, dan bilang, face it.
Hmmmm, sampai di rumah, saya jadi membuka-buka catatan-catatan saya jaman kuliah dulu. Betapa saya sering sekali menulis bahwa saya nelongso sekali, dan selalu meminta bantuan Tuhan. Betapa saya iri dengan orang lain, saya sambat, tapi dengan bahasa yang halus, sambil memuji-muji nama Tuhan. Saya dulu bangun pagi dan menuntun sepeda saya keluar rumah, tapi saya tidak marah-marah, saya hanya sedikit nggresulo, kok saya susah gini, ya. Tapi saya tidak marah-marah, saya hanya meminta keadaan yang lebih baik. Saya ingat terbangun tengah malam dan menunduk menghadap kiblat, untuk kemudian mengerjakan catatan2 kuliah, karena dulu, untuk fotocopipun, saya masih sangat sayang. Dan saya sedih sekali, ketika ingat, bahwa saat itu, saya lebih sabar dari sekarang. Tidak ada kopi tengah malam. Tidak ada makan siang. Tidak ada kletian. Bayangkan, dulu saya sempat mencoba menghafal Asmaul Husna.
Tapi sekarang, makin mapan kok saya malah makin menjauhiNya. Saya malah menambah pengetahuan saya dengan mencicipi dosa-dosa lain. Saya kok bukannya bersukur malah terus-terusan ingkar. Bahkan, saking berdosanya saya, saya sampe kadang tidak punya muka untuk menemuinya.
Lha sekarang kok Tuhan masih mau-maunya menampar muka saya. Kok masih peduli pada saya yang tidak punya apa-apa ini. Padahal saya begitu kotor....
Tuhan, maaf ya, pernah mengira Engkau tidur. Pernah menyalah-nyalahkanMU atas semua yang terjadi. Terima kasih sudah menampar saya, lewat semua pelajaran yang Engkau berikan pada saya. Semoga mata saya tidak terlampau buta lagi untuk melihat semua nikmat yang sudah Engkau beri.
April 13, 2008
bosaaaaaaaaaaaaaan
hey kamu yang baru saja datang ke rumah saya,
maafkan saya yang meminta terlalu banyak. Saya tau kamu enggak bisa memenuhi permintaan saya. Jadi sebenarnya, untuk apa kamu datang?. Agar saya semakin tau bahwa kita memang sungguh berbeda, tidak cocok, dan tidak ada harapan lagi untuk saya?. Sudahlah, pikiran saya sudah terlalu penuh untuk memikirkan hal yang enggak penting ini. Saya sudah cukup penat dengan segala hal yang terjadi beberapa hari ini. Seharusnya kedatanganmu bisa membuat saya feel better. Tapi lihat, kita hanya menambah dosa saja. Dan lihat, saya juga tidak lebih baik dari sebelum kamu datang.
Jadi kalo kamu menantang saya, apakah saya bisa hidup tanpa kamu, tentu saja saya bisa. Dunia ini kan tidak bergantung padamu saja. Jadi, kamu sekarang paham kan, kalo keren itu bukan cirikhas saya?. Kalo saya bisa memakai baju apa saja keluar rumah, sedang kamu tidak. Saya tidak bisa terus2an sok rapi dihadapanmu. Saya tidak bisa pura2 tidak haus dihadapanmu, hanya supaya kamu tidak menanggung malu berjalan dengan cewek yang menyeruput es teh setiap waktu. Saya ya begini, saya hanya cewek yang tidak tau malu, yang terlalu cuek dengan keadaan saya. Saya tidak bisa sepaham dengan kamu. Bukankah sudah habis waktu kita untuk berdebat mengenai hal ini?
Jadi kalo saya masih tetap bersamamu. Itu pasti hanya karena tidak ada orang lain lagi yang mau menemani saya. Dan kalo kamu masih mau menemani saya, pasti karena kamu hanya ingin menuntaskan keinginanmu, ya kan?. eniwei, trimakasih banyak sudah mau datang. Waktumu kan sempit sekali sekarang, kan?. Paling enggak, ada seseorang yang seperti orang lain punya, yang bisa diceritakan pada orang lain. Supaya saya enggak dicap orang aneh, karena menjadi tidak sama dengan orang-orang normal. Dan kamu harus tau, bahwa saya tidak akan pernah mencoba menjadi seperti kamu lagi. Tidak akan pernah mencoba menjadi seperti yang kamu inginkan. Saya sudah cukup capek dan bosan. Bosan menunggu, bosan berharap, bosan berpura-pura.
Kalo saya sering memintamu tinggal, saya itu sedang meraba-raba, sedang mencari tau, kenapa semakin lama, bukannya kita menjadi baik, tapi kok saya malah jadi bosan. Saya malah sering bertanya-tanya kenapa kita masih bertemu padahal, jelas kita tidak tidak klik lagi. Kita hanya merajut dosa-dosa, honey. Dan rasanya dosa kita sudah setinggi gunung. Hingga kadang saya tidak punya nyali untuk berhadapan denganNya. Padahal, dulu saya begitu percaya. Bukan, bukan karena kamu, semua memang saya yang salah. Bukankah saya yang selalu memulai?.
Jadi, beib, saya sedang mencoba membiarkan rasa ini terbang dan menguap. Saya bisa kok melupakan nomor telpon yang dulu saya hafal luar kepala. Jadi, saya pasti juga bisa menghilangkan semua hal sudah pernah terjadi.
Kalo kamu tidak ingin datang, jangan datang. Lebih baik kamu mulai menemui wajah-wajah lain. Kamu tau, wajah lain itu mungkin lebih suci dan lebih bisa memakai baju pantas bila pergi bersamamu. Mungkin wajah baru itu bisa berjalan selambat kamu. bukan seperti saya yang selalu berjalan didepanmu, karena kamu terlalu lamban. Mungkin wajah lain itu, tidak akan membuatmu malu dengan memintakan diskon pada pembelian bajumu seperti saya. Mungkin wajah baru itu tidak akan cepat haus seperti saya, hingga dia tidak pernah membawa bungkusan es teh kemana-mana. Atau botol minum, atau cemilan didalam tas. Mungkin wajah lain itu hanya suka tehmanis hangat yang diseduh di cangkir porselen putih, bukan seperti saya yang minum kopi 3 kali sehari di dalam mug plastik biru jelek yang besar. mungkin wajah baru itu akan memakai blus, rok dan sepatu bagus kemana-mana, bukan seperti saya yang hanya berkaus dan bersandal jepit kemana2. Mungkin wajah lain itu tidak akan muntah naik kereta mahal seperti saya. mungkin wajah itu akan lebih sabar menunggumu meyeberang, menikmati naik motor cowok sambil berpegangan erat ke pinggangmu, bukan seperti saya yang turun di jalan karena kamu terlalu lama menyebarang, atau terus2an mengeluh karena tempat duduk penumpang di motormu terlalu sempit. Dan jelas, wajah itu tidak akan membuatmu bosan. Kamu pasti akan tampak seperti pahlawan dihadapannya. Karena kan tidak semua cewek memegang palu, dan membetulkan rak bukunya sendiri.
Sudahlah, saya sudah capek mengeluh. Kamu masih boleh datang, kok. Saya tidak akan pernah mengusirmu, kapan saja kamu mau, saya ada. Tapi saya tidak akan pernah sambil melihat wajahmu. Saya akan memalingkan muka. Supaya kamu bisa membayangkan wajah lain kalo sedang bersama saya.
Terimakasih sudah mau datang. Oh, iya, kamu lupa tidak bilang terimakasih pada saya. Jangan lakukan itu pada orang lain, ya. Dan kalo kamu masih punya nyali untuk menemui Tuhan, sampaikan salam saya, ya. Tolong bilang, saya masih tidak punya muka untuk bertemu denganNya.
maafkan saya yang meminta terlalu banyak. Saya tau kamu enggak bisa memenuhi permintaan saya. Jadi sebenarnya, untuk apa kamu datang?. Agar saya semakin tau bahwa kita memang sungguh berbeda, tidak cocok, dan tidak ada harapan lagi untuk saya?. Sudahlah, pikiran saya sudah terlalu penuh untuk memikirkan hal yang enggak penting ini. Saya sudah cukup penat dengan segala hal yang terjadi beberapa hari ini. Seharusnya kedatanganmu bisa membuat saya feel better. Tapi lihat, kita hanya menambah dosa saja. Dan lihat, saya juga tidak lebih baik dari sebelum kamu datang.
Jadi kalo kamu menantang saya, apakah saya bisa hidup tanpa kamu, tentu saja saya bisa. Dunia ini kan tidak bergantung padamu saja. Jadi, kamu sekarang paham kan, kalo keren itu bukan cirikhas saya?. Kalo saya bisa memakai baju apa saja keluar rumah, sedang kamu tidak. Saya tidak bisa terus2an sok rapi dihadapanmu. Saya tidak bisa pura2 tidak haus dihadapanmu, hanya supaya kamu tidak menanggung malu berjalan dengan cewek yang menyeruput es teh setiap waktu. Saya ya begini, saya hanya cewek yang tidak tau malu, yang terlalu cuek dengan keadaan saya. Saya tidak bisa sepaham dengan kamu. Bukankah sudah habis waktu kita untuk berdebat mengenai hal ini?
Jadi kalo saya masih tetap bersamamu. Itu pasti hanya karena tidak ada orang lain lagi yang mau menemani saya. Dan kalo kamu masih mau menemani saya, pasti karena kamu hanya ingin menuntaskan keinginanmu, ya kan?. eniwei, trimakasih banyak sudah mau datang. Waktumu kan sempit sekali sekarang, kan?. Paling enggak, ada seseorang yang seperti orang lain punya, yang bisa diceritakan pada orang lain. Supaya saya enggak dicap orang aneh, karena menjadi tidak sama dengan orang-orang normal. Dan kamu harus tau, bahwa saya tidak akan pernah mencoba menjadi seperti kamu lagi. Tidak akan pernah mencoba menjadi seperti yang kamu inginkan. Saya sudah cukup capek dan bosan. Bosan menunggu, bosan berharap, bosan berpura-pura.
Kalo saya sering memintamu tinggal, saya itu sedang meraba-raba, sedang mencari tau, kenapa semakin lama, bukannya kita menjadi baik, tapi kok saya malah jadi bosan. Saya malah sering bertanya-tanya kenapa kita masih bertemu padahal, jelas kita tidak tidak klik lagi. Kita hanya merajut dosa-dosa, honey. Dan rasanya dosa kita sudah setinggi gunung. Hingga kadang saya tidak punya nyali untuk berhadapan denganNya. Padahal, dulu saya begitu percaya. Bukan, bukan karena kamu, semua memang saya yang salah. Bukankah saya yang selalu memulai?.
Jadi, beib, saya sedang mencoba membiarkan rasa ini terbang dan menguap. Saya bisa kok melupakan nomor telpon yang dulu saya hafal luar kepala. Jadi, saya pasti juga bisa menghilangkan semua hal sudah pernah terjadi.
Kalo kamu tidak ingin datang, jangan datang. Lebih baik kamu mulai menemui wajah-wajah lain. Kamu tau, wajah lain itu mungkin lebih suci dan lebih bisa memakai baju pantas bila pergi bersamamu. Mungkin wajah baru itu bisa berjalan selambat kamu. bukan seperti saya yang selalu berjalan didepanmu, karena kamu terlalu lamban. Mungkin wajah lain itu, tidak akan membuatmu malu dengan memintakan diskon pada pembelian bajumu seperti saya. Mungkin wajah baru itu tidak akan cepat haus seperti saya, hingga dia tidak pernah membawa bungkusan es teh kemana-mana. Atau botol minum, atau cemilan didalam tas. Mungkin wajah lain itu hanya suka tehmanis hangat yang diseduh di cangkir porselen putih, bukan seperti saya yang minum kopi 3 kali sehari di dalam mug plastik biru jelek yang besar. mungkin wajah baru itu akan memakai blus, rok dan sepatu bagus kemana-mana, bukan seperti saya yang hanya berkaus dan bersandal jepit kemana2. Mungkin wajah lain itu tidak akan muntah naik kereta mahal seperti saya. mungkin wajah itu akan lebih sabar menunggumu meyeberang, menikmati naik motor cowok sambil berpegangan erat ke pinggangmu, bukan seperti saya yang turun di jalan karena kamu terlalu lama menyebarang, atau terus2an mengeluh karena tempat duduk penumpang di motormu terlalu sempit. Dan jelas, wajah itu tidak akan membuatmu bosan. Kamu pasti akan tampak seperti pahlawan dihadapannya. Karena kan tidak semua cewek memegang palu, dan membetulkan rak bukunya sendiri.
Sudahlah, saya sudah capek mengeluh. Kamu masih boleh datang, kok. Saya tidak akan pernah mengusirmu, kapan saja kamu mau, saya ada. Tapi saya tidak akan pernah sambil melihat wajahmu. Saya akan memalingkan muka. Supaya kamu bisa membayangkan wajah lain kalo sedang bersama saya.
Terimakasih sudah mau datang. Oh, iya, kamu lupa tidak bilang terimakasih pada saya. Jangan lakukan itu pada orang lain, ya. Dan kalo kamu masih punya nyali untuk menemui Tuhan, sampaikan salam saya, ya. Tolong bilang, saya masih tidak punya muka untuk bertemu denganNya.
April 11, 2008
hmmmph
saat ini, saya lagi dalam keadaan tidak baik dan mood saya benar2 jelek.
Saya memang miskin, saya bergantung hidup padamu. tapi menjadi miskin bukan berarti bebas kamu hina, caci, dan kamu salah2in, kan? memangnya hanya orang kaya saja, yang ketika sedang enggak mood, semua orang enggak boleh mengganggunya, iya?. Saya benar2 ingin pergi dan tidak kembali lagi. Saya benar2 sudah muak. saya sudah bosan disini. saya sudah benar2 ingin pergi. Dan sialnya, saya bukan orang yang pandai membela diri, saya hanya bisa diam dan bilang, oke, saya salah, kamu benar. jadi apa yang harus saya lakukan lagi?
Saya benci diri saya yang sering mengaku salah, padahal, kadang saya tidak tau dimana letak kesalahan saya. Saya benci tidak bisa menonjok mukamu, atau menggores2 tubuhmu dengan silet, atau menyantetmu sekali-kali. Saya benci menjadi orang yang selalu salah, hanya karena kamu yang berkuasa disini. Saya benci saya tidak bisa marah-marah seperti kamu. Untunglah saya punya tempat ini.
Banyak referensi yang mendukung saya untuk sign out. Tapi saya takut. Saya takut tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. saya takut saya tidak dikelilingi orang-orang yang saya kenal baik. Saya takut hilang. Saya takut saya sendirian. Saya takut saya menjadi kerdil. Saya takut semua teman baru saya akan memandang saya dengan tatapan aneh. Saya takut saya tidak berteman. Saya takut saya salah. Saya takut.
Tapi terlalu lama disini membuat saya semakin stress. saya bahkan merasa bahwa saya sudah setengah gila disini. Maafkan saya yang pemarah ini. tapi bahkan orang paling sabar seduniapun akan marah juga bila mendapat perlakuan seperti ini. Dan maaf juga, urat senyum saya sudah putus sejak beberapa hari ini. susah sekali membuat bibir ini melengkung keatas 2 cm. lihat, terlalu lama disini, saya sampai kehilangan urat senyum saya.
Jadi, saya memutuskan, sebulan ini saya akan berfikir dan menimbang-nimbang, apakah saya akan pergi, atau terus, saya akan hitung setiap konsekuensinya, saya akan hitung untung ruginya, dan bukan depan saya akan memutuskan. Semoga kelak, pilihan apapun yang saya ambil, saya sudah punya mindset yang berbeda tentang bekerja. Semoga kelak saya tidak perlu melibatkan perasaan iba, kasihan, sayang, dan rasa memiliki pada perusahaan. Toh, apa yang saya lakukan untuk itu hanya akan memperkaya kamu. dan saya seterusnya akan tetap miskin. semoga saya bisa.
Hey, kamu, kamu pernah bilang kan, bahwa pemimpin yang baik dulunya adalah bawahan yang baik. Jadi, jelaskan kalo kau bukan pemimpin yagn baik. Kamu kan tidak pernah menjadi bawahan.
Sebel, benci, muak......
Saya memang miskin, saya bergantung hidup padamu. tapi menjadi miskin bukan berarti bebas kamu hina, caci, dan kamu salah2in, kan? memangnya hanya orang kaya saja, yang ketika sedang enggak mood, semua orang enggak boleh mengganggunya, iya?. Saya benar2 ingin pergi dan tidak kembali lagi. Saya benar2 sudah muak. saya sudah bosan disini. saya sudah benar2 ingin pergi. Dan sialnya, saya bukan orang yang pandai membela diri, saya hanya bisa diam dan bilang, oke, saya salah, kamu benar. jadi apa yang harus saya lakukan lagi?
Saya benci diri saya yang sering mengaku salah, padahal, kadang saya tidak tau dimana letak kesalahan saya. Saya benci tidak bisa menonjok mukamu, atau menggores2 tubuhmu dengan silet, atau menyantetmu sekali-kali. Saya benci menjadi orang yang selalu salah, hanya karena kamu yang berkuasa disini. Saya benci saya tidak bisa marah-marah seperti kamu. Untunglah saya punya tempat ini.
Banyak referensi yang mendukung saya untuk sign out. Tapi saya takut. Saya takut tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. saya takut saya tidak dikelilingi orang-orang yang saya kenal baik. Saya takut hilang. Saya takut saya sendirian. Saya takut saya menjadi kerdil. Saya takut semua teman baru saya akan memandang saya dengan tatapan aneh. Saya takut saya tidak berteman. Saya takut saya salah. Saya takut.
Tapi terlalu lama disini membuat saya semakin stress. saya bahkan merasa bahwa saya sudah setengah gila disini. Maafkan saya yang pemarah ini. tapi bahkan orang paling sabar seduniapun akan marah juga bila mendapat perlakuan seperti ini. Dan maaf juga, urat senyum saya sudah putus sejak beberapa hari ini. susah sekali membuat bibir ini melengkung keatas 2 cm. lihat, terlalu lama disini, saya sampai kehilangan urat senyum saya.
Jadi, saya memutuskan, sebulan ini saya akan berfikir dan menimbang-nimbang, apakah saya akan pergi, atau terus, saya akan hitung setiap konsekuensinya, saya akan hitung untung ruginya, dan bukan depan saya akan memutuskan. Semoga kelak, pilihan apapun yang saya ambil, saya sudah punya mindset yang berbeda tentang bekerja. Semoga kelak saya tidak perlu melibatkan perasaan iba, kasihan, sayang, dan rasa memiliki pada perusahaan. Toh, apa yang saya lakukan untuk itu hanya akan memperkaya kamu. dan saya seterusnya akan tetap miskin. semoga saya bisa.
Hey, kamu, kamu pernah bilang kan, bahwa pemimpin yang baik dulunya adalah bawahan yang baik. Jadi, jelaskan kalo kau bukan pemimpin yagn baik. Kamu kan tidak pernah menjadi bawahan.
Sebel, benci, muak......
April 09, 2008
ibu
Namanya Surtini, tapi Beliau sering menambahkan kata sri atau kesumah pada namanya sendiri. Gaya, kan?. Beliau Ibuku, tapi kami ke lima anaknya memanggilnya dengan nama yang berbeda. Mbak saya, memanggilnya Bunda, dengan panggilan keren, bun. Adik saya nomor nomor tiga, memanggilnya nyokap. Adik saya nomor 4, yang lagi seneng2nya belajar bahasa inggris, memanggilnya dengan sebutan mom,dan adik saya yang paling bontot, memenggilnya mama, sama dengan kebanyakan oprang sunda memanggil ibunya. sedang saya memanggilnya ibu.
ibu saya, hafal dengan cara anak2nya memanggilnya, Jadi kalo sedang bicara degan mbak saya, ibu menyebut dirinya sendiri bun, -ibu jarang menggunakan kataganti orang pertama kalo bicara dengan kami- begitu juga dengan anak2nya yang lain. Bayangkan jika ibu saya bicara langsung dengan kelima anaknya. Pasti pusing sendiri.
Ceritanya pas nunggu kereta dengan saya, ibu cerita tentang petualangan nya menghajar tukang sapu yang kereta yang hendak mencuri sandalnya. Waktu itu, ibu sedang dalam perjalanan ke Kutoarjo naik kereta malam dari Tasik, -ibu tinggal di tasik-. Beliau tidur2an pas kerasa ada suara kresek2 di kakinya, Jadi Ibu bangun dan sangat terkejut mendapati sepasang sandal yang tadi dipakenya sudah raib. Ibupun berlari-lari mengejar si pencusi sandal, yang tak lain adalah tukang sapu kereta. Begitu dapet, Ibu langsung nggajul si pencuri dan merebut paksa sandalnya. Akhirnya si pencuri menyerah, dan Ibu mendapakan kembali sandalnya. Nah, ibu kan tidak jadi nyeker ke rumah.
Begitulah ibu saya, yang selalu geram dan marah bila mendengar berita pemerkosaan dan penganiayaan dalam keluarga. Ibu saya yang jualan kelapa dengan suaminya. Ibu saya yang tetep gaya meski sudah ada beberapa uban di kepalanya. ibu saya yang setiap sms selalu bertanya, apakah saya sudah potong rambut belum. Ibu saya yang tidak melarang saya memakan apapun yang saya suka, kecuali, jangan banyak-banyak makan saos, sambel banyak-banyak, mie instan banyak-banyak, gorengan banyak-banyak. dan jangan minum es banyak-banyak. Satu-satunya ibu saya yang paling oks sedunia. Jadi berhayal, kapan bisa mbeliin ibu saya sandal serep, jadi nanti kalo ada yang nyolong sandal ibu saya, ibu masih punya sandal lain. dan ibu tidak perlu berlagak jadi pendekar kaipang lagi untuk memperebutkan sandalnya. Atau membelikan ibu karcis kereta bagus, supaya ibu saya tidak perlu lagi kecurian sandal.....
Jadi kalo Agnes monica, bertanya-tanya dimana letak surga itu, jawab saya, surga ya di telapak kaki ibu....
(Bu, kapan budal jogja, kok aku g tau ditiliki.....)
ibu saya, hafal dengan cara anak2nya memanggilnya, Jadi kalo sedang bicara degan mbak saya, ibu menyebut dirinya sendiri bun, -ibu jarang menggunakan kataganti orang pertama kalo bicara dengan kami- begitu juga dengan anak2nya yang lain. Bayangkan jika ibu saya bicara langsung dengan kelima anaknya. Pasti pusing sendiri.
Ceritanya pas nunggu kereta dengan saya, ibu cerita tentang petualangan nya menghajar tukang sapu yang kereta yang hendak mencuri sandalnya. Waktu itu, ibu sedang dalam perjalanan ke Kutoarjo naik kereta malam dari Tasik, -ibu tinggal di tasik-. Beliau tidur2an pas kerasa ada suara kresek2 di kakinya, Jadi Ibu bangun dan sangat terkejut mendapati sepasang sandal yang tadi dipakenya sudah raib. Ibupun berlari-lari mengejar si pencusi sandal, yang tak lain adalah tukang sapu kereta. Begitu dapet, Ibu langsung nggajul si pencuri dan merebut paksa sandalnya. Akhirnya si pencuri menyerah, dan Ibu mendapakan kembali sandalnya. Nah, ibu kan tidak jadi nyeker ke rumah.
Begitulah ibu saya, yang selalu geram dan marah bila mendengar berita pemerkosaan dan penganiayaan dalam keluarga. Ibu saya yang jualan kelapa dengan suaminya. Ibu saya yang tetep gaya meski sudah ada beberapa uban di kepalanya. ibu saya yang setiap sms selalu bertanya, apakah saya sudah potong rambut belum. Ibu saya yang tidak melarang saya memakan apapun yang saya suka, kecuali, jangan banyak-banyak makan saos, sambel banyak-banyak, mie instan banyak-banyak, gorengan banyak-banyak. dan jangan minum es banyak-banyak. Satu-satunya ibu saya yang paling oks sedunia. Jadi berhayal, kapan bisa mbeliin ibu saya sandal serep, jadi nanti kalo ada yang nyolong sandal ibu saya, ibu masih punya sandal lain. dan ibu tidak perlu berlagak jadi pendekar kaipang lagi untuk memperebutkan sandalnya. Atau membelikan ibu karcis kereta bagus, supaya ibu saya tidak perlu lagi kecurian sandal.....
Jadi kalo Agnes monica, bertanya-tanya dimana letak surga itu, jawab saya, surga ya di telapak kaki ibu....
(Bu, kapan budal jogja, kok aku g tau ditiliki.....)
Maret 23, 2008
puisine agus
ketika rindu adalah
tatapmu yg tak lebih tumpul dari panah karna
menembus tembus mengoyak koyak sempurna
dan seketika aq tersungkur jatuh
tp kenapa kurusetra seakan penuh bunga?
Puisi teman saya, Agus, Hey, kapan kita bertengkar lagi?
Maret 11, 2008
menjadi 25
Bagaimana rasanya menjadi 25? bagaimana rasanya menjadi dewasa? Tidak terlalu menyenangkan ya? Iya, saya tahu, katanya semakin tinggi usia, semakin banyak anginya yang menerpa dan badai yang menghadang. Mungkin kau akan sering terjatuh, tapi, saya pikir, menjadi dewasa berarti selalu berdiri kembali ketika terjatuh, kan? Bukankah kesuksesan adalah kegagalan yang terbuka kedoknya?
Jadi, selamat ulang tahun, ya, selamat berkurang jatah umurnya di dunia. Jadilah pohon yang rindang, yang kuat, akarnya menghujam kokoh ke bumi, hingga ia bisa menjaga bumi dari banjir, Daunmu rindang dan lebat, tempat favorit orang-orang yang berjalan untuk berteduh di bawahmu, dan buahmu juga banyak, sehingga semua orang bisa memetik dan menikamti buahmu.
Nanti, karenausiamu sudah 25, ajari saya menjadi dewasa, ya. Dan semoga kamu dan saya masih memiliki sisa umur yang cukup. Karena kita memerlukannya untuk mengurai rajutan dosa yang kita pernah perbuat.
salam manis,
ika
Jadi, selamat ulang tahun, ya, selamat berkurang jatah umurnya di dunia. Jadilah pohon yang rindang, yang kuat, akarnya menghujam kokoh ke bumi, hingga ia bisa menjaga bumi dari banjir, Daunmu rindang dan lebat, tempat favorit orang-orang yang berjalan untuk berteduh di bawahmu, dan buahmu juga banyak, sehingga semua orang bisa memetik dan menikamti buahmu.
Nanti, karenausiamu sudah 25, ajari saya menjadi dewasa, ya. Dan semoga kamu dan saya masih memiliki sisa umur yang cukup. Karena kita memerlukannya untuk mengurai rajutan dosa yang kita pernah perbuat.
salam manis,
ika
Langganan:
Postingan (Atom)