Dan kamu tahu, apa?
Saya sendirian saja. Menikmati kemana kaki saya melangkah. Berhenti pada suatu tempat, sebentar, memandang di kejauhan. melewati hamparan air hijau-keruh-jelek-berlumut yang diam. Terhampar dari timur ke barat, menyisakan kejayaan masa lampau yang kini tumbang diterpa modernisasi.
Dan berhenti disini sungguh membuat dada saya sesak. slide-slide peristiwa lalu seakan berputar kembali. Menawarkan saat-saat tak kenal lelah. Kala refresing tidak pernah menjadi prioritas, bahkan terpikirpun tidak. Dan roda yang tak kenal lelah berputar. Hanya aku dan si dua roda, dari timur ke barat, selatan ke utara, dari subuh hingga tengah malam.
Hanya waktu itu yang rasanya bisa saya banggakan. Tapi, hanya orang bodoh saja, kan yang terus terusan melihat kebelakang ? bukankah kita hanya perlu melihat spion sekali-kali?, bukannya memelototinya terus menerus?
Dan dimanapun saya berada, alih-alih bersyukur, saya malah terus mengutuki.
Ya, bersama kamu saya juga cukup senang.
Tapi sendirian, berpikir dengan otak saya sendiri, tanpa seorangpun di kota ini yang mengenal saya, atau akan marah bila melihat saya bersandal jepit dan berjeans robek sungguh membuat saya senang tak terkira. Setelah berhari-hari hidup dengan kepura-puraan, kebohongan-kebohongan, senyum-senyum artifisial, atau tatapan 'oh, aku kagum', padahal dalah hati saya mencibir atau bahkan perut saya mual ingin muntah. Begitulah, kadang munafik bisa menjadi nama tengah saya.
Tapi sudahlah, menghirup udara disini banyak-banyak, merasakan ia masuk sedikit-sedikit kedalam paru-paru saya, merasakan angin sejuk menampar lembut pipi saya, dan mendengar kicau ratusan burung yang terbang diatas danau jorok jelek itu sudah cukup mengobati hati saya yang kadang mati rasa. Andai saya tau dari dulu, tentu saya akan lebih sering kesini, bukanya mengunci pintu rapat2, dan larut dalam mimpi buruk.
Yah, dusun cantik, mungkin beberapa jam disini saya tidak boleh mengatakan bahwa engkau cantik. Saya memerlukan waktu bertahun-tahun untuk memutuskan suatu tempat cantik atau brengsek. haha. Tapi lihat, saya menggambar bunga banyak-banyak pada buku tulis saya. Trimakasih banyak. Disini saya senang menjadi diri saya sendiri, dan saat ini, saya tidak ingin bertukar tempat dengan siapapun.
Tapi, saya tidak tau kalo saya sudah kembali. ha-ha
Tampilkan postingan dengan label journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label journey. Tampilkan semua postingan
Juni 21, 2008
Juni 12, 2008
cita-cita
Waktu kecil, saya bercita-cita jadi astronot. Keren kan? saya bisa pergi ke bulan, ke planet lain selain bumi, dan pergi melayang-layang dalam dunia yang tidak bergravitasi. Tapi makin lama, semakin saya besar, cita-cita saya semakin sederhana, setelah jadi astronot, cita-cita saya berubah menjadi pemadam kebakaran, habis itu mau jadi penulis, setelah itu jadi pengusaha, jadi wanita karier, dan setelah saya tau semuanya tidak mungkin, sekarang saya malah bingung kalo ditanya apa cita-cita saya.
Dan saya semakin bingung saja kalo ditanya apa tujuan hidup saya. Menjawab apa tujuan hidup saya, tidak segampang seperti menjawab pertanyaan 'mau kemana, ka, hari ini?'. Saya pikir, tujuan hidup adalah sesuatu yang sakral, krusial, dan super penting. Sampai-sampai, saya takut mau menentukan apa itu. Hingga suatu hari, ketika saya bertanya, bagaimana caranya memotivasi diri sendiri, dan kemudian saya ganti ditanya, kamu punya tujuan?. kalo kamu jelas mau pergi kemana, kamu pasti selalu termotivasi untuk menuju kesana. kalau ada hambatan disatu jalan, kamu akan segera pergi mencari jalan lain. Kalo jalan lain juga tertutup untukmu, kamu akan meminta bantuan orang lain untuk mengantarmu kesana. Itu sangat berbeda bila kamu hanya pergi tanpa tujuan, ketika jalan menuju tujuanmu tertutup, pasti kamu akan cenderung untuk balik ke rumah.
Saya hanya duduk melongo, menerawang, mencoba mencari tau, dengan kapasitas otak saya yang begitu kecil ini. Tapi, tujuan hidup enggak sesederhana itu. Mungkin tidak, tapi bisa aja sederhana seperti itu. Tujuan hidup itu, kalo kamu memikirkannya, kamu akan merasa sangat terharu sekali, sampai kamu bisa meneteskan air matamu. Itu bisa terjadi pada semua orang. bahkan penjahat sekalipun. karena sekeras2nya hati manusia, dia punya suatu titik dimana dia merasa sangat emosional.
Jadi, insinyur, pengusaha, dosen, itu bukan cita-cita?. bukan, itu keinginan, cita-cita itu tujuan akhir, kalo seseorang sudah jadi insinyur, pengusaha, dosen, apa habis itu sudah?. semuanya sudah berhenti?. Tidak kan?, setelah itu seseorang akan terus mencari, mempunyai keinginan-keinginan lagi. Kalo seseorang tidak tahu tujuan hidupnya, ia tidak akan tau ia akan per kemana,
akan melewati jalan yang mana, dan ia bebas menyerah kapan saja ia mau.
Dan sekarang saya sedang melongo, didepan gerbang hidup saya, yang tidak ada tulisan apa-apa diatasnya. Oke, saya belum tahu saya akan pergi kemana. Dan saya sedang mencari-cari, sedang menyusun peta saya. Saya tidak tahu bagaimana caranya. Tapi saya akan mencoba. Mungkin beberapa gerbang yang akan saya masuki salah, tapi saya yakin gerbang-gerbang itu saling berhubungan. Jadi kalo saya salah gerbang, saya bisa mengambil jalan memutar, dan menemukan gerbang awal lagi yang belum bernama itu.
Ah, ini hanya obrolan saya dengan pak Juragan, mungkin saya sedang diracuni :D
Dan saya semakin bingung saja kalo ditanya apa tujuan hidup saya. Menjawab apa tujuan hidup saya, tidak segampang seperti menjawab pertanyaan 'mau kemana, ka, hari ini?'. Saya pikir, tujuan hidup adalah sesuatu yang sakral, krusial, dan super penting. Sampai-sampai, saya takut mau menentukan apa itu. Hingga suatu hari, ketika saya bertanya, bagaimana caranya memotivasi diri sendiri, dan kemudian saya ganti ditanya, kamu punya tujuan?. kalo kamu jelas mau pergi kemana, kamu pasti selalu termotivasi untuk menuju kesana. kalau ada hambatan disatu jalan, kamu akan segera pergi mencari jalan lain. Kalo jalan lain juga tertutup untukmu, kamu akan meminta bantuan orang lain untuk mengantarmu kesana. Itu sangat berbeda bila kamu hanya pergi tanpa tujuan, ketika jalan menuju tujuanmu tertutup, pasti kamu akan cenderung untuk balik ke rumah.
Saya hanya duduk melongo, menerawang, mencoba mencari tau, dengan kapasitas otak saya yang begitu kecil ini. Tapi, tujuan hidup enggak sesederhana itu. Mungkin tidak, tapi bisa aja sederhana seperti itu. Tujuan hidup itu, kalo kamu memikirkannya, kamu akan merasa sangat terharu sekali, sampai kamu bisa meneteskan air matamu. Itu bisa terjadi pada semua orang. bahkan penjahat sekalipun. karena sekeras2nya hati manusia, dia punya suatu titik dimana dia merasa sangat emosional.
Jadi, insinyur, pengusaha, dosen, itu bukan cita-cita?. bukan, itu keinginan, cita-cita itu tujuan akhir, kalo seseorang sudah jadi insinyur, pengusaha, dosen, apa habis itu sudah?. semuanya sudah berhenti?. Tidak kan?, setelah itu seseorang akan terus mencari, mempunyai keinginan-keinginan lagi. Kalo seseorang tidak tahu tujuan hidupnya, ia tidak akan tau ia akan per kemana,
akan melewati jalan yang mana, dan ia bebas menyerah kapan saja ia mau.
Dan sekarang saya sedang melongo, didepan gerbang hidup saya, yang tidak ada tulisan apa-apa diatasnya. Oke, saya belum tahu saya akan pergi kemana. Dan saya sedang mencari-cari, sedang menyusun peta saya. Saya tidak tahu bagaimana caranya. Tapi saya akan mencoba. Mungkin beberapa gerbang yang akan saya masuki salah, tapi saya yakin gerbang-gerbang itu saling berhubungan. Jadi kalo saya salah gerbang, saya bisa mengambil jalan memutar, dan menemukan gerbang awal lagi yang belum bernama itu.
Ah, ini hanya obrolan saya dengan pak Juragan, mungkin saya sedang diracuni :D
Mei 14, 2008
Ini Jakarta?
Berawal dari sore yang begitu kemrungsung, karena harus berpacu dengan waktu supaya tidak ketinggalan kereta, akhirnya sampe juga di Jakarta. Saya yang enggak tau apa-apa ini ditolong seorang bapak yang baik hati hingga sampe dengan selamat sampe di Hotel jelek murah yang agak bau pesing. Ah, g papa, yang penting saya dapet tempat murah untuk tidur, mandi dan istiraharat. Er, tadinya saya pikir, pergi ke Jakarta adalah memasuki suatu kota yang penuh para kriminal, sehingga saya harus hati2 menjaga dompet dan barang-barang yang lain. lha gimana enggak, semua orang bilang, disana rawan, hati-hati sama orang yang enggak dikenal, kalo ditepuk orang dari belakang, bales tepuk, biar g digendam, uangnya disebar, biar kalo ada yang nyopet, masih ada uang, dll,dll. Eh, ternyata sama aja sama kota-kota lainnya, hanya disini lebih panas, dan jarak yang saya pikir dekat, disini mereka bilang jauh. Dan rupanya enggak semua orang di sana jahat. Ada yang baik, kok. Yah, beginilah kalo katrok... hehehe.....
April 09, 2008
ibu
Namanya Surtini, tapi Beliau sering menambahkan kata sri atau kesumah pada namanya sendiri. Gaya, kan?. Beliau Ibuku, tapi kami ke lima anaknya memanggilnya dengan nama yang berbeda. Mbak saya, memanggilnya Bunda, dengan panggilan keren, bun. Adik saya nomor nomor tiga, memanggilnya nyokap. Adik saya nomor 4, yang lagi seneng2nya belajar bahasa inggris, memanggilnya dengan sebutan mom,dan adik saya yang paling bontot, memenggilnya mama, sama dengan kebanyakan oprang sunda memanggil ibunya. sedang saya memanggilnya ibu.
ibu saya, hafal dengan cara anak2nya memanggilnya, Jadi kalo sedang bicara degan mbak saya, ibu menyebut dirinya sendiri bun, -ibu jarang menggunakan kataganti orang pertama kalo bicara dengan kami- begitu juga dengan anak2nya yang lain. Bayangkan jika ibu saya bicara langsung dengan kelima anaknya. Pasti pusing sendiri.
Ceritanya pas nunggu kereta dengan saya, ibu cerita tentang petualangan nya menghajar tukang sapu yang kereta yang hendak mencuri sandalnya. Waktu itu, ibu sedang dalam perjalanan ke Kutoarjo naik kereta malam dari Tasik, -ibu tinggal di tasik-. Beliau tidur2an pas kerasa ada suara kresek2 di kakinya, Jadi Ibu bangun dan sangat terkejut mendapati sepasang sandal yang tadi dipakenya sudah raib. Ibupun berlari-lari mengejar si pencusi sandal, yang tak lain adalah tukang sapu kereta. Begitu dapet, Ibu langsung nggajul si pencuri dan merebut paksa sandalnya. Akhirnya si pencuri menyerah, dan Ibu mendapakan kembali sandalnya. Nah, ibu kan tidak jadi nyeker ke rumah.
Begitulah ibu saya, yang selalu geram dan marah bila mendengar berita pemerkosaan dan penganiayaan dalam keluarga. Ibu saya yang jualan kelapa dengan suaminya. Ibu saya yang tetep gaya meski sudah ada beberapa uban di kepalanya. ibu saya yang setiap sms selalu bertanya, apakah saya sudah potong rambut belum. Ibu saya yang tidak melarang saya memakan apapun yang saya suka, kecuali, jangan banyak-banyak makan saos, sambel banyak-banyak, mie instan banyak-banyak, gorengan banyak-banyak. dan jangan minum es banyak-banyak. Satu-satunya ibu saya yang paling oks sedunia. Jadi berhayal, kapan bisa mbeliin ibu saya sandal serep, jadi nanti kalo ada yang nyolong sandal ibu saya, ibu masih punya sandal lain. dan ibu tidak perlu berlagak jadi pendekar kaipang lagi untuk memperebutkan sandalnya. Atau membelikan ibu karcis kereta bagus, supaya ibu saya tidak perlu lagi kecurian sandal.....
Jadi kalo Agnes monica, bertanya-tanya dimana letak surga itu, jawab saya, surga ya di telapak kaki ibu....
(Bu, kapan budal jogja, kok aku g tau ditiliki.....)
ibu saya, hafal dengan cara anak2nya memanggilnya, Jadi kalo sedang bicara degan mbak saya, ibu menyebut dirinya sendiri bun, -ibu jarang menggunakan kataganti orang pertama kalo bicara dengan kami- begitu juga dengan anak2nya yang lain. Bayangkan jika ibu saya bicara langsung dengan kelima anaknya. Pasti pusing sendiri.
Ceritanya pas nunggu kereta dengan saya, ibu cerita tentang petualangan nya menghajar tukang sapu yang kereta yang hendak mencuri sandalnya. Waktu itu, ibu sedang dalam perjalanan ke Kutoarjo naik kereta malam dari Tasik, -ibu tinggal di tasik-. Beliau tidur2an pas kerasa ada suara kresek2 di kakinya, Jadi Ibu bangun dan sangat terkejut mendapati sepasang sandal yang tadi dipakenya sudah raib. Ibupun berlari-lari mengejar si pencusi sandal, yang tak lain adalah tukang sapu kereta. Begitu dapet, Ibu langsung nggajul si pencuri dan merebut paksa sandalnya. Akhirnya si pencuri menyerah, dan Ibu mendapakan kembali sandalnya. Nah, ibu kan tidak jadi nyeker ke rumah.
Begitulah ibu saya, yang selalu geram dan marah bila mendengar berita pemerkosaan dan penganiayaan dalam keluarga. Ibu saya yang jualan kelapa dengan suaminya. Ibu saya yang tetep gaya meski sudah ada beberapa uban di kepalanya. ibu saya yang setiap sms selalu bertanya, apakah saya sudah potong rambut belum. Ibu saya yang tidak melarang saya memakan apapun yang saya suka, kecuali, jangan banyak-banyak makan saos, sambel banyak-banyak, mie instan banyak-banyak, gorengan banyak-banyak. dan jangan minum es banyak-banyak. Satu-satunya ibu saya yang paling oks sedunia. Jadi berhayal, kapan bisa mbeliin ibu saya sandal serep, jadi nanti kalo ada yang nyolong sandal ibu saya, ibu masih punya sandal lain. dan ibu tidak perlu berlagak jadi pendekar kaipang lagi untuk memperebutkan sandalnya. Atau membelikan ibu karcis kereta bagus, supaya ibu saya tidak perlu lagi kecurian sandal.....
Jadi kalo Agnes monica, bertanya-tanya dimana letak surga itu, jawab saya, surga ya di telapak kaki ibu....
(Bu, kapan budal jogja, kok aku g tau ditiliki.....)
pulang......
ini cerita pas pulang dari bandung
yiha....akhirnya pulang juga. Tapi saya kapok naik kereta bagus. jadi, saya naik KRD ekonomi dari stasiun bandung ke stasiun kiara condong. Habis itu, nebeng kereta lain ke jogja. Dasar kereta ekonomi, kertanya penuh banget, empet2an sama berbagai macam orang, dengan aroma yang aneh2. Saya berdiri dari bandung sampe Banjar. Tapi, saya enggak pusing, enggak mual,dan enggak muntah. Dan seluruh perjalanan itu saya melek.
Dan begitulah..., saya sampe jogja pagi jam lima seperempat. karena masih kepagian,dan kunci kos saya ketinggalan di kantor, jadi, ya saya nebeng tidur dulu di bangku stasiun lempuyangan sampe terang. Wis, jan persis kere... hehe. sampe ada bis lewat, habis itu ke kantor.
Perjalanan yang hemat dan menyenangkan. gimana enggak, saya cuma habis 10.000 sampe jogja, ngobrol2 sama orang2 di perjalanan, disuguhi pemandangan peragawan dan peragawati yang berjalan hilir mudik membawa dagangan, musikal tangis bayi yang kepanasan di kereta, juga pak kondektur yang sok tegas, padahal akhir2nya minta uang tambahan aja. Saya kapok naik kereta mahal, yang pak kondekturnya sopan banget mbangunin orang untuk minta karcis, yang orang2nya begitu naik, pesen bantal terus tidur. yang asongan2 kereta enggak boleh naik. yang kamar mandinya selalu penuh air, sehingga kita enggak harus nglarisi bakul aqua untuk sekadar pipis. haha. kok saya jadi sok gini, ya... mungkin suatu saat, saya enggak akan muntah lagi naik kereta bagus. mungkin....
yiha....akhirnya pulang juga. Tapi saya kapok naik kereta bagus. jadi, saya naik KRD ekonomi dari stasiun bandung ke stasiun kiara condong. Habis itu, nebeng kereta lain ke jogja. Dasar kereta ekonomi, kertanya penuh banget, empet2an sama berbagai macam orang, dengan aroma yang aneh2. Saya berdiri dari bandung sampe Banjar. Tapi, saya enggak pusing, enggak mual,dan enggak muntah. Dan seluruh perjalanan itu saya melek.
Dan begitulah..., saya sampe jogja pagi jam lima seperempat. karena masih kepagian,dan kunci kos saya ketinggalan di kantor, jadi, ya saya nebeng tidur dulu di bangku stasiun lempuyangan sampe terang. Wis, jan persis kere... hehe. sampe ada bis lewat, habis itu ke kantor.
Perjalanan yang hemat dan menyenangkan. gimana enggak, saya cuma habis 10.000 sampe jogja, ngobrol2 sama orang2 di perjalanan, disuguhi pemandangan peragawan dan peragawati yang berjalan hilir mudik membawa dagangan, musikal tangis bayi yang kepanasan di kereta, juga pak kondektur yang sok tegas, padahal akhir2nya minta uang tambahan aja. Saya kapok naik kereta mahal, yang pak kondekturnya sopan banget mbangunin orang untuk minta karcis, yang orang2nya begitu naik, pesen bantal terus tidur. yang asongan2 kereta enggak boleh naik. yang kamar mandinya selalu penuh air, sehingga kita enggak harus nglarisi bakul aqua untuk sekadar pipis. haha. kok saya jadi sok gini, ya... mungkin suatu saat, saya enggak akan muntah lagi naik kereta bagus. mungkin....
April 02, 2008
jogja_bandung
hitam. pekat
orang-orang tertidur pulas
aku berjalan sempoyongan
sakit perut
02.30
semua mata terpejam
kereta berjalan gila-gilaan
semua diam
hanya aku yang tak bisa terpejam
tak ada yang saling menyapa
bahkan sekadar bertanya
mau kemana,
tak ada peragawan dan peragawati
yang berjalan sempoyongan
membawa beban di kepalanya
tak ada yang misuh-misuh
tak ada apa-apa
hanya aku yang
sempoyongan
hampir jatuh
muntah-muntah
katanya bisnis....
(pada perjalanan naik kereta bisnis pertamaku, haha, beginilah kalo seumur hidup naik kereta ekonomi, dan enggak beli tiket, begitu naik bisnis malah muntah. haha)
orang-orang tertidur pulas
aku berjalan sempoyongan
sakit perut
02.30
semua mata terpejam
kereta berjalan gila-gilaan
semua diam
hanya aku yang tak bisa terpejam
tak ada yang saling menyapa
bahkan sekadar bertanya
mau kemana,
tak ada peragawan dan peragawati
yang berjalan sempoyongan
membawa beban di kepalanya
tak ada yang misuh-misuh
tak ada apa-apa
hanya aku yang
sempoyongan
hampir jatuh
muntah-muntah
katanya bisnis....
(pada perjalanan naik kereta bisnis pertamaku, haha, beginilah kalo seumur hidup naik kereta ekonomi, dan enggak beli tiket, begitu naik bisnis malah muntah. haha)
Maret 23, 2008
hore.....
horray.....,
saya tidak muntah.
Pada perjalanan malang-jogja, tidak minum antimo, dan tidak tidur sepenuhnya pada seluruh perjalanan naik bus malam. Padahal, terakhir naik bus dari surabaya ke Jogja, saya harus menghabiskan 8 antimo dan 6 ctm supaya saya terus tidur dan tidak muntah, sampai pak kernet harus membangunkan saya pas sudah sampe jogja.
saya bukan tukang muntah lagi....
saya tidak muntah.
Pada perjalanan malang-jogja, tidak minum antimo, dan tidak tidur sepenuhnya pada seluruh perjalanan naik bus malam. Padahal, terakhir naik bus dari surabaya ke Jogja, saya harus menghabiskan 8 antimo dan 6 ctm supaya saya terus tidur dan tidak muntah, sampai pak kernet harus membangunkan saya pas sudah sampe jogja.
saya bukan tukang muntah lagi....
Langganan:
Postingan (Atom)