Februari 11, 2011

review-reviewan: Amélie Poulain


Judul: AMELIE

Sutradara: Jean-Pierre Jeunet

Skenario: Jean-Pierre Jeunet

Pemain: Audrey Tautou, Dominique Pinon, Madeleine Wallace

Produksi/Distributor: Miramax Film



pernah berfikir bahwa kau bisa melakukan hal-hal kecil yang akan membuat orang lain bahagia? semacam guardian angel gitu?

Amélie Poulain pernah.



hehe. iyaaa. itu film yang minggu lalu saya tonton. saya sampe mengulangnya 3 kali supaya mudeng. maklum, saya agak ddk (daya dong kurang). film lama. keluaran tahun 2001. sialnya saya baru nonton sekarang. saat menontonnya, saya sampe berfikir begini, ya ampuuunnn, kemana saja saya selama ini.

oke, jadi, suka atau tidak, mencibir saya begitu ndeso atau tidak karena baru nonton film ini setelah 10 tahun dirilis, saya tetap akan menceritakan film ini. hehe.

Amélie Poulain sejak kecil tidak pernah bersekolah. ayahnya, seorang mantan dokter militer, seorang yang keras hati dan tertutup, menganggapnya memiliki kelainan jantung, sehingga ia tidak boleh bepergian. jadi ibunya yang mengajarkan membaca dan menulis untuk Amelie di rumah.sayang sekali ibu amelia meninggal dunia karena tertimpa orang bunuh diri yang melompat dari sebuah katedral. sejak itu ayah amelie menjadi semakin tertutup, dan sering nyuekin amelie. ayah amelie malah membuat semacam kuil untuk menyimpan abu istrinya, dan menaruh boneka disana. amelie kecil menjadi semakin kesepian.

Februari 08, 2011

suatu sore di rumah sakit

Beberapa hari ini Tatiyana tidak masuk kuliah. Eyangnya dirawat dirumah sakit. Tatiyana harus menungguinya karena cuma ia yang tinggal dengan eyangnya di Jogja. Ayah dan Ibunya yang tinggal di jakarta, belum sampai di Jogja, karena masih ada pekerjaan. selama beberapa hari itu, aku belum sempat menengok eyang tatiana di rumah sakit, karena selesai kuliah aku harus segera menuju warnet tempat kerjaku.

untunglah hari ini aku bisa mengambil jatah liburku di warnet. aku sudah berencana menengok eyang di rumah sakit wirosaban, tempat eyang tatiyana di rawat. pagi tadi, sebelum aku berangkat ke kampus, aku sudah menelphon Tatiayana. Ia masih di rumah sakit. ayah ibunya sudah tiba, dan kalau aku mau menengok Eyang-nya, aku harus ke rumah sakit wirosaban, di bangsal edelweis.

rumah sakit ini besar sekali. Tatiyana bilang, kalo aku masuk lewat igd, aku bisa lebih cepat sampai daripada aku lewat depan. masalahnya aku tidak tau dimana pintu IGD-nya. aku mau menelphon Tatiyana untuk menjemputku di pintu depan, tapi sial, batre ponselku habis. aku pasti lupa tidak men-charge-nya tadi. baiklah, aku akan bertanya pada petugas disana. seorang perawat memberi petunjuk jalan padaku menuju bangsal edelweis.

aku hanya perlu meneluuri lorong utama, gang pertama ke kiri, kemudian lurus ke selatan, bangsal edelweis ada di pojok selatan rumah sakit ini. seperti rumah sakit lain pada umumnya, rumah sakit ini menguarkan aroma obat-obatan yang tidak kusukai. baunya menusuk hidung. dinding-dinding rumah sakit ini di cat warna hijau muda. separohnya hijau tua. dan lantainya terlalu licin. sepatu karetku berdecit-decit tiap kali aku melangkah. disepanjang jalan aku bertemu dengan suster-suster muda berwajah suram. sesuram rumah sakit ini.

bangsal edelweis. aku melihatnya setelah aku sampai di depan pintu bangsal kenanga. bangsal kenanga, flamboyant, krisan, dan sampailah aku di bangsal edelweis. aku membuka pintu kayu warna hijau yang lebih pendek dari tubuhku. tidak ada orang. dimana suster-suster jaga, tanyaku dalam hati. aku ingat tatiyana tadi pagi bilang kamar eyangnya ada di sisi selatan. nomor satu dari tempat para perawat berjaga.

aku membuka pintu kamar nomor satu dengan pelahan. sepi sekali. tidak ada tatiyana disana. juga keluarganya. hanya eyang tatiayana sendirian, duduk di tepi tempat tidur. kakinya terjuntai ke bawah. ia sedang menyisir rambutnya yang beruban saat aku datang. ia mengangkat mukanya, dan tersenyum kepadaku. mukanya tuanya pucat,ada selang yang tertancap ditanganya yang memegang sisir. aku menghampirinya, dan mencium tangannya.

"apa kabar, yang? maaf reta baru sekarang bisa menengok eyang." kataku.
eyang tatiyana tersenyum dan meletakkan sisirnya.
"sibuk kerja diwarnet, ya?" tanyanya.
aku tersenyum.
"gimana, yang, sudah enakan, ya? kapan eyang boleh pulang? reta kangen, nih, kolak pisang bikinan eyang."
"eyang sudah sehat, kok, ini sebentar lagi eyang pulang. bosen eyang dirumah sakit ini. makanannya gak enak." ia berbisik sambil tertawa kecil.
aku ikut tertawa.
"dirumah sakit memang makanannya gak enak, yang." kataku menimpali.
"eyang kangen sama eyang kakung. pengen mengulang-mengulang kenang-kenangan jaman dulu. hidup terlalu lama didunia dengan banyak kenangan sungguh menyiksa sekali, ta." eyang tatiyana berkata sambil menerawang.
muka tuanya terlihat pucat. iya, pasti menyesakkan sekali hidup hanya berteman dengan kenangan akan orang yang dicintainya. eyang pasti kesepian hidup dengan tatiyana saja yang sibuk kuliah. aku tak tega melihat wajahnya yang sedih.
aku melihat sekeliling kamar ini dan melihat tas tatiyana di atas lemari di pojok ruangan.
"yang, tatiyana mana?"
"baru keluar. tuh, tasnya ketinggalan. anak itu memang slebor. tapi sabar sekali ia. menunggui eyang tiap hari. dia juga tidur disini tiap malam,lho, ta." kata nenek sambil menerawang.
"memang kadang-kadang eyang dan tatiayana sering berselisih pendapat. yah, namanya juga beda generasi. pikiran anak jaman sekarang berbeda dengan eyang yang sudah puluhan tahun hidup di dunia. banyak hal-hal yang tidak sama. kenangan eyang waktu muda berbeda dengan jaman sekarang."
aku tersenyum. iya, tatiyana memang sering mengeluh tentang eyangnya yang terlalu kolot. tapi aku tau pasti, tatiyana sayang sekali dengan eyangnya.
"dia juga cerewet sekali dengan jam makan eyang. dia itu selalu memaksa nenek menghabiskan makanan-makanan tidak enak yang di berikan oleh perawat. padahal bukannya eyang tidak mau menghabiskan. makanannya tidak enak, ta. dan lidah eyang pait."
"namanya juga lagi sakit, yang. semua yang enakpun tidak akan terasa enak." kataku sambil memegang tangannya.
"coba kamu tengok ke luar, ta, kayaknya tatiyana datang. pasti ia mau mengambil tasnya yang ketinggalan." kata eyang lagi.

aku berdiri, dan menuju pintu untuk keluar. aku melihat tatiayana baru saja membuka pintu kayu setengah badan di bangsal ini. mukanya pucat. matanya merah. tatiyana pasti habis menangis. ia kaget melihatku disini.
"ta, kok kamu disini?." tanyanya.
"iya, kan nengok eyang."
"ta, eyang sudah meninggal...." kata tatiyana.
kemudian ia menghampiriku, dan menangis sejadi-jadinya.
eyang? meninggal?
aku bingung sekali.
"ta ta tapi, na, aku baru saja menengoknya." kataku linglung.
tatiyana malah menangis semakin keras.
"eyang sudah meninggal, ta. kami mau membawanya pulang ke rumah. aku kesini mau mengambil tasku yang ketinggalan."
hah? mana mungkin.
aku menyeret tatiyana ke kamr pertaman di bangsal ini. kamar eyang tatiyana dirawat. pintunya berderit saat ku buka.
tak ada siapa-siapa disana. kamarnya rapi. tak ada eyang tatiyana yang sedang duduk menyisir rambutnya. tidak ada selang infus. hanya ada tempat tidur kosong, lemari di pojokan, dan tas tatiyana diatasnya.




suatu siang di rumah sakit wirosaban. :D

babi

setiap sabtu, koran lokal di jogja menghadirkan ulasan tentang tempat makan tempat makan enak di seputaran yogyakarta. sabtu kemarin, mereka mengulas warung makan bermenu utama babi dì seputaran concat. sore ìtu saya membacanya, melihat gambarnya, dan berkata kepada teman saya, bahwa masakan dari daging babì itu terlihat begitu lezat. babi lombok ijo, semur babì, rica-rica babi. hmmm.
tau tidak bagaimana tanggapan teman saya?
teman saya mengkuliahi saya tentang makanan yang diharamkan oleh agama, ancaman neraka bagi yang melanggar. dan bla bla bla. beberapa teman lain yang mendengar pembicaraan kami -nampaknya- memandang saya dg pandangan-melìhat-hantu.
hey, saya tidak bìlang ingin makan babì. saya hanya mengatakan bahwa olahan babi itu terlihat lezat. kok bìsa-bisanya teman saya bersikap seolah-olah saya akan melakukan dosa besar.
saya merasa gelì. kemudian, saya bertanya kpd kawan saya tadi,
'da, kamu masì pacaran sama mbk2 cd merah?'
'kamu tau, gak, kalo pacaran, berdua-dua an ditempat gelap itu juga haram?'
teman saya tersenyum malu, dan tetap menyanggah, bahwa makan daging babì jauh lebìh haram.
saya tidak melanjutkan perdebatan lagi. berdebat tentang agama antara orang yg tidak tau apa-apa rasanya seperti orang buta memperdebatkan bgmana bentuk gajah, padahal mereka tìdak pernah melihat gajah. :D
menurut saya makan makanan yang diharamkan oleh agama, sama berdosanya dg mencuri, berbohong, menggunjìng, tìdak sholat, berzìna (termasuk zìna mata, zìna pìkiran), korupsi besar atau kecìl, menipu, memakan hak anak yatim, aborsi, tìdak puasa di bulan ramadhan, minum khamr dan lain-laìn yang diharamkan oleh agama. kalo tingkat-tingkatan dosanya saya memang tidak terlalu tau.
apa bedanya dg mengatakan bhwa masakan dari babì ìtu terlihat lezat, coba? apa mungkin karena hal-hal yang haram lainnya sudah sangat umum dan serìng kìta temui, ya? sehingga hal2 haram yang tidak umum, yang jarang ditemukan jadi terdengar seperti dosa maha besar?

ndak tau, lah. saya kok malah sepertì orang buta yang berbicara tentang gajah, ya?

oh iya, saat menulis tentang ini, tiba2 saya ingat senukìl pelajaran agama darì bpk guru agama di sekolah (yang dulu saya benci, tentu saja) tentang dosa. bahwa kata beliau, dosa adalah, ketika ada orang lain berbicara tentang itu, hatimu berdesir ktka mendengarnya. Jadi pada dasarnya, setiap orang punya fìlter sendirì2 terhadap hal2 yg dìpìkirkannya. masalah aksi, ìtu tergantung pd penguasaan dirì mereka, kan?

:D

Desember 08, 2010

hanya jika membuat kita lebih baik


Namira teman ku adalah sosok perempuan muda masa kini yang dinamis. Cantik. Langsing. Periang. Punya posisi bagus di tempat kerja. Populer. Dan punya banyak deretan pria-pria pengagum. Berbeda denganku yang cenderung introvert, dan malas berinteraksi dengan orang baru. Dua sifat yang sangat berbeda, ya? Rasanya tak percaya kami bisa bersahabat sekian lama.
Ummm. Maksudku, aku menanggap namira sahabat, karena kebetulan Cuma dia satu-satunya teman dekatku. Tapi rasanya, namira hanya menganggapku tempat sampah curhat saja. *miris*
Seperti hari ini misalnya. Setelah beberapa hari Namira tidak menujukkan batang hidungnya, tiba-tiba saja ia muncul pada jam makan siang di ruangan tempatku bekerja. Matanya sembab, rambut lurusnya yang biasanya sempurna dibiarkan kusut masai. Ia memakai sweater merahnya yang kedodoran. Celana senam hitam yang membalut tungkainya. Dan sepasang sandal rumah yang sudah buluk. Ia berkali-kali menyusut hidungnya.
Aku tidak heran dengan adatnya ini.
Pasti masalah viktor, cowoknya yang terakhir.
“elsa, aku putus dengan viktor. Hiks. Hiks. Hiks.”
Kannnn, apa kubilang.
3 bulan yang lalu ia juga tampak sangat menderita saat putus dengan ferdy.
5 bulan yang lalu ia hampir bunuh diri saat putus dengan aris.
Setahun yang lalu, ia bahkan sempat di rawat dirumah sakit karena kekurangan nutrisi saat putus dengan david.
Ipk-nya Cuma satu koma, waktu ia putus dengan andre menjelang ujian akhir semester saat kuliah dulu.
Makanya aku tidak terlalu histeris dengan keadaan namira.
“elsa, padahal kami sudah merancang surat undangan kami. Hiks.hiks.” katanya lagi.
What?
Bayangkan, baru pacaran 3 bulan dan sudah merancang surat undangan?
“huhuhu. Kami juga sudah akan menamai anak-anak kami kelak.”
Sumpah. Aku gak bisa menahan tawa.
“kok malah ketawa, si, els?” ia bertanya dengan sewot.
“lha kamu, baru pacaran 3 bulan kok udah rencana macem-macem. “
“karena aku bosan menjadi lajang, els. Aku ingin cepat-cepat menikah. Aku sudah 27. Pacaran membuatku menderita di akhir periode. Aku ingin bahagia, mempunyai keluarga kecil yang harmonis. Happily ever afterlah pokoknya.”
Ia mengambil tissue di meja kerjaku dan mengusap wajahnya setelah mengatakan itu.
“tapi viktor itu pemboros. metroseksual”
Yeah, namira mengeluhkan ini di awal jadian. Padahal tadinya ia mengharapkan pria yang menjaga penampilan.
“ia kurang suka anak-anak. “
Namira juga mengeluhkan ini paska ia pergi ke pesta ulang tahun ponakannya mengajak viktor.
“matanya suka jelalatan kemana-mana”
Ini juga pernah dikeluhkan. Sebentar lagi ia akan menyebutkan sederet sifat buruk viktor.
“pecemburu, suka omong besar, tidak suka makan yang pedes-pedes, dan blablablabla”
Nahhhh, kan……
Ajaib, ya? Bagaimana bisa cinta tiba-tiba berubah menjadi seperti ini.
Aku menyingkirkan nota-nota penjualan ke pinggir meja, dan menatap namira.
“Nam, inget gak, saat kita sama-sama masih jomblo?” tanyaku.
Namira berhenti terisak, dan menatap langit-langit kantorku.
“inget pergi ke parang tritis? Jalan-jalan wisata kuliner di demangan? Gila-gilaan di foto box?” kataku lagi.
Namira tersenyum.
“ya ingatlah. Nonton dvd gokil di rumahku sampe mamah marah karena kita cekikikan terus? Jalan-jalan ke Surabaya, trus menggembel di Bandung. Aduhhh, inget, deh. Happy-happy pokoknya,”
“menurutmu, lebih bahagia mana menjadi lajang atau menjalin hubungan?”
Namira diam.
“Menurutku, Nam, kalo menjadi single saja kita sudah bahagia, seharusnya kita hanya menjalin hubungan kalo hubungan itu bisa menambah kebahagiaan kita, membuat kita semakin kuat, membuat kita lebih hebat, lebih baik. lain dari itu, ya tinggalkan saja. Bukankah menjadi lajang saja kita sudah cukup bahagia?”
Aku mengendikan bahuku. Menatap Namira yang masih terdiam. Bukankah happily ever after hanya akan kita dapatkan dengan orang yang tepat? Bukan terpaksa ditepat-tepatkan?

November 25, 2010

mencontek dan korupsi

subuh hari beberapa bulan yang lalu, teman saya sejak smp, siti salamah p.a, bercerita tentang beratnya menjadi guru jaman sekarang. suatu hari ia terpaksa merobek pekerjaan 2 siswanya karena ketahuan men-contek di depan matanya. waktu saya tanya apa ia tidak takut nanti akan dicap menjadi guru killer, ia menjawab tidak takut. ia bilang, 2 siswanya itu sudah keterlaluan. ia ingin siswanya menghargai keberadaannya sebagai guru. waktu saya bilang, biarlah sekali dua kali siswa nyontek. orang kan perlu melakukan sedikit kebohongan untuk menghargai arti kejujuran. *tsaaahhhh* tapi teman baik saya itu berkeras bahwa kebohongan kecil, lama-lama membuat orang terbiasa dan tidak peka lagi. lalu meluncurlah kalimat sakti dari mulutnya:


"nyontek itu membentuk karakter koruptor, mek."



saya diam-diam seperti di pukul kayu. karena jaman sekolah dulu, saya tukang nyontek. hehe. contekan di kertas kecil itu layaknya jimat bagi saya. sampai-sampai saya dan teman-teman membuat guyonan bahwa kami gak akan pede masuk ke ruang ujian tanpa bekal contekan. :D

dan benarlah seperti itu kejadiannya. saya memang belajar keras di rumah, sampai saya selalu minta dibangunkan subuh-subuh oleh mbah simak agar bisa belajar dulu sebelum ujian. tapi teteeep saja saya selalu 'sangu' contekan si kantung baju saya. sedia payung sebelum hujan, pikir saya.

sampai suatu ketika saya benar-benar ketahuan mencontek. sampai di jewer bu guru segala. sejak itu saya tidak pernah mencontek lagi. sampai saya lulus sekolah di Jogjapun, saya tidak mencontek. (meski kalo benar-benar blank, saya terpaksa meminta jawaban pada teman yang mencontek. hehe)

untunglah sekarang saya tidak (belum, semoga tidak) menjadi koruptor. saya curiga mungkin koruptor-koruptor itu tadinya adalah pencontek-pencontek di sekolahnya. :D



mungkin benar berat menjadi guru, seperti teman saya itu. kadang sedih juga kalo melihat karakter guru yang tidak pada tempatnya. sering mangkir dari pekerjaannya, memaki-maki di kelas, marah sampai memukul siswa, mencabuli siswanya sendiri, pilih kasih, menjual soal ujian, memanfaatkan siswanya untuk ikut les ini itu yang ujung2nya untuk menambah tebal kantongnya sendiri, dan sebagainya. tapi saya percaya akan selalu ada orang-orang baik yang ditakdirkan menjadi guru yang bertanggung jawab, peduli dan memikirkan karakter yang mungkin terbentuk pada murid-muridnya atas pengajarannya.



selamat hari guru, siti. dan seluruh guru di Indonesia.

November 21, 2010

ceritakan padaku sebuah kisah

"ceritakan padaku sebuah kisah" pinta anak kecil kepada wanita muda cantik jelita pada hari minggu jam delapan pagi. wanita muda yang tak lain ibunya itu menghentikan sapuan bedak di wajahnya, tersenyum, dan menggandeng si bocah kecil ke ruang tengah dimana televisi besar berada. ia menyalakan televisi, dan mencarikan film-film kartun minggu pagi untuk anaknya,

"kisah ini yang kau maksud, kan, sayang?" katanya pada si kecil.

dan ia melanjutkan kegiatan berdandannya. suaminya sudah menunggu untuk pergi kondangan ke seorang kolega.



***

"ceritakan padaku sebuah kisah" pinta anak kecil kepada wanita muda cantik jelita pada jam empat sore di hari minggu. wanita muda yang tak lain ibunya itu menghentikan obrolan di telphon dengan seorang sahabatnya, ia tersenyum, dan mengambilkan sebuah buku cerita anak untuk anaknya.

"kau sudah pintar membaca, kan, sayang? baca sendiri, ya." katanya pada si kecil.

dan ia melanjutkan obrolan di telpon genggamnya lagi.

"sampai mana tadi, ya, jeng?" tanyanya pada benda bernama telphon itu.



***

"ceritakan padaku sebuah kisah" pinta anak kecil pada seorang eksekutif muda yang baru saja pulang main tenis pada jam delapan malam di hari minggu.

eksekutif muda yang tak lain ayahnya itu tersenyum, meletakkan peralatan tennisnya, membuka tasnya, dan mengeluarkan keping vcd bergambar robot.

"minta mama menyetelnya untukmu, ya, sayang." katanya pada si kecil.

ia menyerahkan vcd pada anaknya, mencium pipi anaknya, dan cepat-cepat ke kamar mandi. harus segera mandi, pikirnya, bahan untuk presentasi di kantor esok pagi harus selesai malam ini.



***



ibu guru muda membaca tulisan murid-murid kecilnya. hari sabtu kemarin, di pelajaran bahasa Indonesia, ibu guru memberi tugas murid-muridnya untuk meminta orang tua mereka bercerita atau mendongeng, kemudian menuliskannya di kertas. ibu guru muda ingin anak didiknya mendengar cerita atau dongeng dari orang tuanya. ibu guru muda tertegun membaca tulisan anak kecil.



"ceritakan padaku sebuah kisah" kataku pada mama. lalu mama menyetelkan tivi untukku. lalu mama memberiku buku cerita untuk kubaca sendiri.

"ceritakan padaku sebuah kisah" kataku pada papa. lalu papa memberiku vcd cerita robot.

sepertinya mama dan papa tidak punya cerita apa-apa untuku, buguru.







sudah kau ceritakan sebuah kisah untuk anakmu, malam ini?

November 14, 2010

ikuti suara hati

Saya termasuk orang yang punya khayalan sangat tinggi. Dipicu oleh sedikit hal saja, imajinasi liar saya bisa ndladrah kemana-mana. misalnya, beri saya gambar kue dengan coklat yang berleleran, maka saya akan membayangkan bahwa kue itu adalah kue bikinan saya sendiri, di buat di dapur elegannya si beib di global tivi, badan saya seksi seperti farah quinn yang memasak dengan lihai dan penuh gaya, di tunggui suami dan anak-anak saya yang imut-imut, di sebuah rumah mungil nan asri. bla-bla-bla. nah, kan, jadi ngelantur.

pokoknya jadi seperti itulah. kadang-kadang saya juga membayangkan hal-hal yang mengerikan. misalnya ketika saya naik motor sendirian di malam hari, saya membayangkan ada seorang psikopat naik mio putih menebas leher saya, lalu saya terjatuh dari motor dan tiba-tiba ada truk besar yang melidas tubuh saya, lalu tubuh saya remuk-remuk, tidak ada seorangpun yang akan mengenali jasad saya...

hiyyyy. ngeriiii.....

seperti pagi tadi. Pulang dari tempat kerja, seperti biasa, saya menaiki jembatan layang janti, terus keselatan, memilih jalur roda dua, terus menuju perempatan blok o. kira-kira kurang 200 meteran dari perempatan blok o, saya berpapasan dengan seorang bapak yang menuntun sepeda tua, sarat dengan barang-barang rongsokan. di belakangnya, berjalan terponta-pontal seorang ibu kurus -mungkin istrinya- mengikuti dari belakang sambil sesekali mengambil barang dari jalan. pemandangan yang biasa, sebenarnya. tetapi menjadi tidak biasa, karena sambil lalu, saya merasa seperti melihat lengan kurus menyembul dari keranjangnya yang penuh barang tetek bengek.

Saya berusaha tidak mempedulikannya. jalan terus, ka. kata saya.

tapi tidak. saya tidak bisa mengalihkan pikiran saya dari lengan kurus yang menyembul dari keranjang rongsok si bapak. pikiran saya mengembara kemana-mana.

mungkinkah bapak itu seorang pembunuh yang sedang berusaha membuang korbannya?

bagaimana kalo bapak itu adalah korban meletusnya gunung merapi yang sedang mencari pertolongan. ia membawa saudaranya yang telah mati menuju gedung Jogja Expo Center yang dijadikan barak pengungsian untuk memminta bantuan.

atau, bisa saja bapak itu membawa anaknya berobat ke rumah sakit di pojokan perempatan blok o. anaknya terkena demam berdarah akut, si bapak sudah meminta bantuan kemana-mana tapi tak ada yang mau menolongnya, sehingga anaknya ia angkut sendiri dengan sepedanya. bagaimana jika terlambat? bagaimana jika anaknya mati di dalam keranjangnya?

pikiran saya melayang-layang tidak karuan. saya merasa harus berbalik dan melihat apa yang ada di balik keranjang si bapak. rasanya seperti, ummmm, kebelet pipis sangat. rasanya kau harus cepat-cepat kembali kekamar mandi kalo tidak mau ngompol di celana. seperti itu.

sampai akhirnya, setelah perempatan blok o, di depan pom bensin, saya memutuskan untuk berbalik.

saya tidak tau apa yang akan saya lakukan.

tapi saya benar-benar perlu berbalik untuk melihat apa sebenarnya itu.

seandainya si bapak benar-benar pembunuh, mungkin saya bisa menyelamatkan barang buktinya,

seandainya si bapak benar korban erupsi merapi, saya bisa membatu mempercepat jalannya menuju JEC.

seandainya si bapak benar membawa anaknya yang terserang demam berdarah, saya bisa membantunya cepat-cepat ke rumah sakit.

apa saya yang saya bisa.



saya cepat-cepat memacu motor saya agar tidak tertinggal.

dari jauh saya bisa melihat bapak itu masih menuntun sepedanya.

saya menjajari sepedanya.

dan, duh Gusti Allah, ternyata lengan kurus yang saya lihat dari keranjangnya adalah lengan kurus kecoklatan seorang bocah perempuan kecil. tadinya ia ada di dalam keranjang sehingga yang terlihat hanya lengannya. sekarang ia nangkring di atas tumbukan barang-barang bekas, sehingga terlihat seluruh tubuhnya, dan kuncir dari rambut kemerahannya. dan mukanya yang cemat-cemot, dan bajunya yang lusuh.

tidak ada pembunuhan.

tidak ada korban erupsi merapi.

tidak ada anak yang terkena demam berdarah.

semua itu hanya khayalan saya semata.

ini hanya keluarga pemulung yang pergi mencari barang rongsok.

khayalan ngawur saya memang keterlaluan.

tapi saya lega.

dengan kikuk, akhirnya saya menyapa si bapak dan menyerahkan nasi ayam goreng jatah sarapan saya yang saya bawa dari tempat kerja. ayam goreng dengan potongan paling besar. saya memesan pada teman saya yang bertugas di dapur untuk menyisihkannya. saya perlu yang paling besar, karena sampe rumah, saya akan membaginya dengan adik saya.

Tapi saya dan eneng kan sudah sering makan ayam goreng. saya tau bagaimana rasanya memakan ayam goreng setahun sekali pas lebaran saja. saya tau, saya pasti akan gembira sekali bila saya dalam posisi si anak kecil berlengan kurus itu.

seperti kata teman saya, memberi itu membuat lebih banyak orang berbahagia. orang yang diberi berbahagia, dan kita akan jauh lebih bahagia lagi. sesuatu yang kecil, bisa saja menjadi sesuatu yang berarti bagi orang lain.



saya juga berpesan kepada si bapak, kapan waktu lewat gedong kuning, supaya mampir ke gang di kos saya. saya mengumpulkan banyak botol bekas minuman dan kresek-kresek yang tidak terpakai. siapa tau bermanfaat.

jadi, ka, ngapain nulis seperti ini? mau pamer?

enggak juga. cuman kek gini aja kok dipamerkan. malu, ah.

hanya saja, sering kali kita tidak mengikuti suara hati. ada apa-apa di jalan, lewat aja dengan cueknya. hati sudah berteriak-teriak untuk berbalik, tapi kita berfikir, ah, biarin aja, toh nanti ada orang lain.

bagaimana jika semua orang berfikir seperti ini?

ikuti suara hati. ikuti rasa penasaran. siapa tau kita bermanfaat. bukankah sebaik-baiknya manusia, adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain?



*apaaaaaannnn, si, ka*