maka saat aku terbangun di pagi hari, dan tidak menemukanmu di sampingku lagi. aku tau kamu sudah pergi. berlari, kadang terbang, kadang meroket.
aku tau kamu menyelinap pergi saat aku terlelap, atau terlena, melamun, melakukan sesuatu. saat aku sadar, aku tau, aku sudah kehilangan kamu.
banyak hal yang dimulai tanpa selesai. banyak hal yang direncanakan tanpa dimulai. karena kamu selalu membatasi segalanya. lebih cepat katamu. ini terlalu lambat.tambah kecepatan. lalu kamu akan cepat-cepat pergi. sambil tersenyum sombong, menertawakan aku yang berjalan tertatih-tatih. berlari. terbang. meroket. tak perrnah menungguku. tak pernah mau dijajari langkahnya.
rasanya seperempat abad terlalui sia-sia. hanya bersisa kenangan dan jejak-jejak.
bumi terlalu cepat berputar, sementara aku masih mencari jawaban-jawaban. banyak hal-hal yang tak kumengerti. tapi selalu, kamu tak berpihak kepadaku. selalu cepat-cepat pergi. berlari. terbang. meroket. dan aku tak pernah diberi kesempatan untuk mengulang segalanya.
Juni 20, 2010
Juni 17, 2010
hidup saya normal kembali

hidup saya normal kembali. saya kembali bangun pagi dan menjalankan aktivitasa lainnya seperti biasanya.
bangun pagi. mandi. sarapan. menyusuri gedong kuning. menaiki jembatan layang janti. mengagumi merapi, gunung cantik yang tampak seperti lukisan di cakrawala. babarsari. dan sampailah saya di tempat kerja jam setengah delapan pagi.
bebarapa hari yang lalu ritual pagi itu sempat terenggut karena seorang teman saya harus menunggui istrinya yang melahirkan. sekarang istri dan anak laki-laki barunya sudah bisa ditinggal kembali. ia kembali bekerja, dan saya harus segera meninggalkan kehidupan malam untuk kembali pada pekerjaan saya sebelumnya.
tadinya saya pikir bekerja malam hari itu menyenangkan. saya bisa memanfaatkan malam2 saya yang insom dengan hal2 positif, dan siangnya saya bisa bermain-main. ya. menyenangkan. untuk dua tiga hari pertama. hari-hari selanjutnya, setiap bangun sore, rasanya seperti terbangun di neraka. payah sekali rasanya membuka mata dan beranjak dari kasur. rasanya tidur sesiangan masih kurang lama.
mungkin karena tubuh sedang melawan jam-jam biologisnya, kali, ya?.
dan kualitas tidur siang dan malam itu sungguh berbeda. kalo pagi2 bangun setelah tidur malam, tubuh terasa fresh, maka terbangun pada sore hari setelah tidur siang, tubuh malah terasa sakit semua. di tempat kerja pun saya akan menguap beratus-ratus kali. kepala terasa berat, dan selalu merindukan kasur saya untuk tidur. bekerja di malam hari, sesantai apapun pekerjaannya, ternyata bukan perkara mudah. salut saya pada teman2 yang selalu bekerja di malam hari.
yang paling saya sesalkan saat bekerja malam hari adalaha kehilangan momnent ini: bangun pagi. mandi. sarapan. menyusuri gedong kuning. menaiki jembatan layang janti. mengagumi merapi, gunung cantik yang tampak seperti lukisan di cakrawala. babarsari. dan sampailah saya di tempat kerja jam setengah delapan pagi. kangen memandangi deretan gunung, kampung, pohon-pohon, stasiun, mall-mall, dan kendaraan lalu lalang di bawah saya dari jembatan janti. rasanya sungguh menakjubkan. seperti suntika semangat tiap kali berangkat kerja.
tapi ada juga yang saya sesalkan meninggalkan dunia malam yang beberapa hari ini saya lakoni. tidak ada lagi kopi bergelas-gelas. guyonan gayeng bersama geng air es. ngerumpi tentang segala hal. merencanakan perjalanan-perjalanan aneh yang akan kami lakukan siang hari. gojek2 jorok. tertidur di jam kerja. jus ekstra joss-susu-dan air soda. nasi goreng jadi-jadian. roti bakar. dan minuman soda berbotol-botol. menyenangkan mengingatnya. kapan2, saya ingin mengulangnya sekali lagi. teman2 baik itu adalah anugrah paling manis yang pernah dikirim Tuhan.
saya akan bekerja pagi hari kembali hari ini. menjalankan rutinitas saya kembali. mungkin untuk beberapa hari ke depan saya akan menyukainya. tapi entah setelah rutinitas ini kembali kehilangan ruhnya, saya mungkin akan bosan, penat dan mengeluh lagi.*nyengir*
tapi gunung cantik seperti latar belakang cerita dongeng2 itu. yang tampak seperti dilukis Tuhan di langin utara itu, lengkap dengan kabut bergulung-gulung, yang bisa saya nikmati keindahannya dari jembatan layan gjanti, jelas akan memberikan energi positif tiap pagi.
selamat pagi. ini saya, hendak berangkat kerja, dan menikmati ritual hari-hari sebelumnya: bangun pagi. mandi. sarapan. menyusuri gedong kuning. menaiki jembatan layang janti. mengagumi merapi, gunung cantik yang tampak seperti lukisan di cakrawala. babarsari. dan sampailah saya di tempat kerja jam setengah delapan pagi.....
Juni 16, 2010
cerpen: melepaskan
Perempuan itu melingkarkan tangannya ke pingganggku. Kepalanya di atas lengan kananku. Nafasnya naik turun teratur terhembus mengenai dadaku. Dalam tidurnya ia tersenyum. Kami baru saja melepas rindu setelah sebulan lebih aku meninggalkannya untuk bekerja di Jakarta.
Perempuan itu istriku. 4 tahun yang lalu aku menikahinya dengan mas kawin seperangkat alat sholat yang masih ia pakai hingga kini. Sehari 5 kali belum termasuk aneka sholat sunnah yang lain. Katanya setiap kali ia memakai mukena itu, ia selalu merasa nyaman dan bersukur sekali bersuamikan aku. Katanya kalo ia memakai mukena itu,artinya ia setia kepadaku. aku selalu tersanjung dengan semua ucapannya. Ia tunduk pada aturan agamanya untuk selalu membahagiakan suaminya. Menuruti semua perintahnya.
4 tahun naik turunnya kehidupan ekonomi keluarga kami, tak pernah sekalipun ia menuntut apapun. Pakaiannya sederhana. Bedaknya tetap ia beli dari pasar. Bedak murahan. Tapi tetap tampak serasi di wajahnya yang ayu. Tak pernah ia tertarik untuk membelinya dari salon. Bahkan kesalon untuk potong rambutpun tak pernah dilakukan. Ia memanjangkan rambut tebalnya yang halus. Menutupinya dengan jilbab lebar. Tak pernah sekalipun ia memperlihatkan rambutnya pada lelaki lain selain aku dan keluarganya. Katanya rambutnya adalah aurat sekaligus mahkota. Katanya hanya orang istimewa seperti ku yang boleh menikmatinya. Sungguh aku benar2 tersanjung…
Aku menyentuh pipinya, menyibakan sebagian anak rambut yang menutupi wajahnya. Ia tampak semakin ayu saat tidur. Hidungnya mancung dan wajahnya selalu tampak tersenyum.
Tiba2 aku jadi ingat perempuan lain di Jakarta sana. Tidak terlalu cantik, namun memiliki tawa renyah yang mampu melumerkan hati. Ia tidak menyembunyikan rambutnya di balik jilbab, bahkan memotong rambutnya cepak. Ia bukan perempuan lugu yang shalih. Ia perempuan kota yang aktif dan efektif. bertolak belakang dengan istriku. perempuan2 kota sama sekali bukan tipeku. Tapi perempuan satu itu benar2 membiusku. Cara berfikir dan pandangannya mengenai kehidupan benar2 menawanku.
Dua bulan yang lalu ia juga melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku ingat ia memakai kemeja kuning muda dan celana panjang krem ketat. Rambut cepaknya baru saja di cat warna merah kecoklatan. Aku juga ingat ia berjinjit saat mencium pipi kananku. Katanya semuanya harus berkahir, kami harus saling melepaskan. Katanya beberapa hal tidak bisa kumiliki sekaligus.
Itu terakhir kalinya aku berjumpa dengannya. Di stasiun kereta. Hari saat aku mengantarkan istriku yang berkunjung kejakarta kembali ke kampung. Dan ia, perempuan baik berambut cepak itu memaksaku mengenalkannya pada istriku. Pura-pura bahwa ia adalah kolegaku. Entah apa yang ada dalam pikirannya setelah itu. Tiba2 saja ia menghilang dan tidak bisa dihubungi lewat apapun. Ia bahkan tak pernah ada di kantornya tiap aku kesana. Di apartemennya pun tak ada.
Tiba-tiba aku rindu sekali padanya. Jauh lebih rindu dari rinduku pada istriku sendiri. Gusti, kenapa aku harus bertemu dengannya justru pada saat aku sudah terikat dengan perempuan shalih dan penyabar ini….
Aku memijit bel pintu apartemennya. Percuma menggunakan kunci duplikat. Ia sudah mengganti kuncinya sejak sebulan yang lalu. Aku harap ia ada. Aku baru saja tiba di Jakarta dengan kereta dan langsung kesini. Bahkan nasi dan ayam goreng buatan istriku belum sempat kumakan. Masih tersimpan di wadahnya dalam tasku.
ia nampak terkejut saat menemukan ku dibalik pintu apartemennya. Aku tau ia belum tidur. Ia masih mengenakan baju kantor. Bau alkohol menguar dari mulutnya. Bercampur dengan bau asap rokok.
“elsa, aku rindu sekali padamu” kataku.
Ia menatapku dengan tatapan kosong. Entah kenapa firasatku mengatakan bahwa ia juga rindu padaku.
“ aku lebih rindu lagi.” Katanya datar. “tapi bukankah sudah kubilang bahwa tidak semua hal bisa kita miliki?.“ katanya lagi.
“elsa, aku sudah bilang pada istriku. Dia mau kok dipoligami. Aku cinta kamu, elsa.”
Ia tersenyum. Menatapku, tapi pandangannya kosong.
“aku lebih cinta lagi, tapi kamu tau?, cinta itu bukan membelenggu. Cinta seharusny a membebaskan. Jadi tolong, bebaskan aku. Seperti aku membebaskanmu. Tidak semua hubungan cinta harus berakhir dengan pernikahan.pulanglah. kembali pada istrimu. Aku tidak tega mencuri cintanya. Sedikit sekalipun.”
Kemudian ia menutup pintu apartemennya perlahan. Membiarkan aku menunduk menahan air mata. Cinta itu membebaskan. Bukan membelenggu. Mungkin benar apa katanya….
Perempuan itu istriku. 4 tahun yang lalu aku menikahinya dengan mas kawin seperangkat alat sholat yang masih ia pakai hingga kini. Sehari 5 kali belum termasuk aneka sholat sunnah yang lain. Katanya setiap kali ia memakai mukena itu, ia selalu merasa nyaman dan bersukur sekali bersuamikan aku. Katanya kalo ia memakai mukena itu,artinya ia setia kepadaku. aku selalu tersanjung dengan semua ucapannya. Ia tunduk pada aturan agamanya untuk selalu membahagiakan suaminya. Menuruti semua perintahnya.
4 tahun naik turunnya kehidupan ekonomi keluarga kami, tak pernah sekalipun ia menuntut apapun. Pakaiannya sederhana. Bedaknya tetap ia beli dari pasar. Bedak murahan. Tapi tetap tampak serasi di wajahnya yang ayu. Tak pernah ia tertarik untuk membelinya dari salon. Bahkan kesalon untuk potong rambutpun tak pernah dilakukan. Ia memanjangkan rambut tebalnya yang halus. Menutupinya dengan jilbab lebar. Tak pernah sekalipun ia memperlihatkan rambutnya pada lelaki lain selain aku dan keluarganya. Katanya rambutnya adalah aurat sekaligus mahkota. Katanya hanya orang istimewa seperti ku yang boleh menikmatinya. Sungguh aku benar2 tersanjung…
Aku menyentuh pipinya, menyibakan sebagian anak rambut yang menutupi wajahnya. Ia tampak semakin ayu saat tidur. Hidungnya mancung dan wajahnya selalu tampak tersenyum.
Tiba2 aku jadi ingat perempuan lain di Jakarta sana. Tidak terlalu cantik, namun memiliki tawa renyah yang mampu melumerkan hati. Ia tidak menyembunyikan rambutnya di balik jilbab, bahkan memotong rambutnya cepak. Ia bukan perempuan lugu yang shalih. Ia perempuan kota yang aktif dan efektif. bertolak belakang dengan istriku. perempuan2 kota sama sekali bukan tipeku. Tapi perempuan satu itu benar2 membiusku. Cara berfikir dan pandangannya mengenai kehidupan benar2 menawanku.
Dua bulan yang lalu ia juga melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku ingat ia memakai kemeja kuning muda dan celana panjang krem ketat. Rambut cepaknya baru saja di cat warna merah kecoklatan. Aku juga ingat ia berjinjit saat mencium pipi kananku. Katanya semuanya harus berkahir, kami harus saling melepaskan. Katanya beberapa hal tidak bisa kumiliki sekaligus.
Itu terakhir kalinya aku berjumpa dengannya. Di stasiun kereta. Hari saat aku mengantarkan istriku yang berkunjung kejakarta kembali ke kampung. Dan ia, perempuan baik berambut cepak itu memaksaku mengenalkannya pada istriku. Pura-pura bahwa ia adalah kolegaku. Entah apa yang ada dalam pikirannya setelah itu. Tiba2 saja ia menghilang dan tidak bisa dihubungi lewat apapun. Ia bahkan tak pernah ada di kantornya tiap aku kesana. Di apartemennya pun tak ada.
Tiba-tiba aku rindu sekali padanya. Jauh lebih rindu dari rinduku pada istriku sendiri. Gusti, kenapa aku harus bertemu dengannya justru pada saat aku sudah terikat dengan perempuan shalih dan penyabar ini….
Aku memijit bel pintu apartemennya. Percuma menggunakan kunci duplikat. Ia sudah mengganti kuncinya sejak sebulan yang lalu. Aku harap ia ada. Aku baru saja tiba di Jakarta dengan kereta dan langsung kesini. Bahkan nasi dan ayam goreng buatan istriku belum sempat kumakan. Masih tersimpan di wadahnya dalam tasku.
ia nampak terkejut saat menemukan ku dibalik pintu apartemennya. Aku tau ia belum tidur. Ia masih mengenakan baju kantor. Bau alkohol menguar dari mulutnya. Bercampur dengan bau asap rokok.
“elsa, aku rindu sekali padamu” kataku.
Ia menatapku dengan tatapan kosong. Entah kenapa firasatku mengatakan bahwa ia juga rindu padaku.
“ aku lebih rindu lagi.” Katanya datar. “tapi bukankah sudah kubilang bahwa tidak semua hal bisa kita miliki?.“ katanya lagi.
“elsa, aku sudah bilang pada istriku. Dia mau kok dipoligami. Aku cinta kamu, elsa.”
Ia tersenyum. Menatapku, tapi pandangannya kosong.
“aku lebih cinta lagi, tapi kamu tau?, cinta itu bukan membelenggu. Cinta seharusny a membebaskan. Jadi tolong, bebaskan aku. Seperti aku membebaskanmu. Tidak semua hubungan cinta harus berakhir dengan pernikahan.pulanglah. kembali pada istrimu. Aku tidak tega mencuri cintanya. Sedikit sekalipun.”
Kemudian ia menutup pintu apartemennya perlahan. Membiarkan aku menunduk menahan air mata. Cinta itu membebaskan. Bukan membelenggu. Mungkin benar apa katanya….
Mei 21, 2010
malu

kalo saya sih, masih bisa menahan lapar, mbak. tapi anak-anak saya tidak.
bapak itu datang pada saya. selepas maghrib. saat saya dan adik saya sedang makan dengan sambel terasi dan lauk yang saya bawa pulang dari tempat kerja. menaiki sepeda tua yang buruk rupa, jauh lebih buruk rupa dari pada phanther. mukanya pucat dan suaranya terbata-bata. bercerita ini itu ini itu ini itu. dan saya melihat matanya merah, meski ia mencoba menyembunyikannya dengan bicara tanpa mau menatap saya. seorang bapak, dengan 4 orang anak yang masih kecil dan istri yang meriang. bersepeda dari sagan ke gedong kuning, dan nanti harus pulang dengan bersepeda lagi ke kalasan. ia hanya ingin pinjam uang, 50 ribuuuu saja.
tiba-tiba saja saya merasa seperti ditampar. dengan sandal jepit. berpaku pula. tiba-tiba saya merasa menjadi orang paling sombong sedunia. tiba-tiba saya ingin menggali tanah dibawah saya dan masuk kedalamnya. saya malu sekali. saya tau semua benda di kamar kos saya sedang menahan tawa. menertawakan kebodohan saya. saya malu. benar-benar malu.
betapa uang sejumlah itu bisa saja habis dalam satu kibasan saja ditangan saya. betapa pulsa sejmlah itu bisa saya habiskan hanya dalam waktu singkat. betapa saya bisa pergi ke toko kue dan membeli jajanan sejumlah itu yang akan saya habiskan dalam sekejap saja. betapa uang sebesar itu bisa saya bawa jalan-jalan dengan adik saya, dan blasss, tiba-tiba sudah tidak ada. betapa uang itu seharga 2 karcis nonton film di twentyone dengan durasi 1,5 jam-an. betapa uang sebesar itu sering saya habiskan untuk membeli novel dan hanya akan habis saya baca dalam waktu 2 jam.
dan bodohnya, saya menyebutnya sebagai pengeluaran profesional, sebagai ganti atas kepenatan saya pada pekerjaan. saya menyebutnya harga yang pantas dibayar untuk sebuah kenikmatan.
seandainya saya lebih bijaksana, mungkin saya tidak akan semalu ini.
saya malu. benar-benar malu.
jangankan lapar, belum lapar saja saya sudah makan, berlebih malah. kadang sampe glege'en karena kekenyangan. kadang sampe terbuang makanan karena tidak termakan selama berhari-hari. sedang anak kecil dikalasan sana, dikhawatirkan lapar, kalo orang tuanya tidak membawa apa-apa malam itu.
saya tau betapa minimnya upah minimum propinsi di jogja. jangankan mendekati, untuk orang-orang yang berkerja di sektor informal, gaji separoh ump itu sudah sangat beruntung sekali. masih untunggggg, ada kerjaan, kata mereka.
saya tidak berniat sombong ato menyebarluaskan kemiskinan. semua orang juga tau saya sama miskinnya dengan mereka. hanya mungkin di beberapa hal, saya lebih beruntung.
saya bersukur saya punya pekerjaan tetap. saya bersukur tidak kesulitan mencari pekerjaan. tapi saya sering malu karena ada beberapa orang tidak seberuntung saya, dan sayapun tidak bisa berbuat banyak untuk mereka. jelas saya cuma omong besar saja. mungkin malaikat-malaikat cuma akan ketawa sambil mencatat di pundak kiri, halah, bersukur opo, ka, ka.
ah, sudahlah, sore ini akan sangat menyebalkan kalo dihabiskan dengan membaca ocehan omong kosong saya. yuk mari peduli, agar kita tidak semalu saya nanti. :D
Mei 16, 2010
ini pagi
Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin mambakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi
(pada suatu pagi hari, oleh sapardi joko damono)
disinilah saya, tengkurap ditemani setoples kerupuk udang. dan secangkir kopi. sudah mandi, mencuci dan berseragam batik. berencana sarapan dengan sebungkus bubur gudeg pinggir jalan. sambil berharap. semoga hari ini tidak hujan. sebab kalo hujan, besok saya harus memakai baju ini lagi. padahal kemarin sudah saya pakai. aihhhhh.........
*jadi, apa hubungannya coba dengan puisinya pak sapardi?. :D
Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin mambakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi
(pada suatu pagi hari, oleh sapardi joko damono)
disinilah saya, tengkurap ditemani setoples kerupuk udang. dan secangkir kopi. sudah mandi, mencuci dan berseragam batik. berencana sarapan dengan sebungkus bubur gudeg pinggir jalan. sambil berharap. semoga hari ini tidak hujan. sebab kalo hujan, besok saya harus memakai baju ini lagi. padahal kemarin sudah saya pakai. aihhhhh.........
*jadi, apa hubungannya coba dengan puisinya pak sapardi?. :D
Mei 14, 2010
saya cemburu
saya cemburu. pada suara kokok ayam di pagi hari. saya cemburu. pada cericit burung-burung di pagi hari. saya cemburu pada sinar matahari yang masuk lewat jendela yang tak sempurna tertutup tirai. saya cemburu pada celoteh anak kecil sebelah rumah. saya cemburu. pada bau ayam rebus yang tercium dari rumah sebelah. saya cemburu. pada mas-mas koran yang pagi-pagi sudah menyelipkan koran dirumah-rumah. saya cemburu. pada mbok-mbok yang membawa tenggok dipasar pagi-pagi. saya cemburu. pada tukang roti yang lewat depan rumah.
bagaimana bisa mereka bangun pagi dan begitu bersemangat?.
saya cemburu. karena setiap bangun pagi, saya hanya menginginkan satu hal, yaitu tidur lagi. hehe.
saya ingin seperti mereka.
keterangan gambar: pantai sanur pagi hari, saat saya main kerumah teman baik, dan teman baik satu lagi. *kedip*
Mei 12, 2010
twenty sumthing and nothing
bagi saya, hari ulang tahun gak beda dengan hari-hari yang lain. kalo jatuh hari senin, maka rasanya seperti hari senin. kalo jatuh hari jumat, ya rasanya seperti jumat-jumat yang lain. dan rasanya setiap bertambah usia, -atau sebenarnya berkurang jatah hidup?-, saya selalu merasa biasa saja. tidak ada perasaan seperti tiba-tiba layaknya memasuki dimensi lain atau apa. biasa saja. saya bangun, dan saya tetap manusia yang sama dengan kemarin.
ulang tahun seperti ceremony biasa saja. seperti upacara bendera dihari senin, peringatan tujuh belasan, atau peringatan-peringatan yang lain. tapi aneh rasanya kalo ulang tahun dirayakan. bukanya makin tambah umur, kita makin dekat dengan kematian?. jadi merayakan hari ulang tahun sepertinya sama halnya dengan merayakan kematian yang makin dekat. ya, kan?. :D
ahh, mungkin yang orang-orang maksud bukan merayakan kematian. mungkin hal-hal lain yang lebih menggembirakan. seperti makin tua makin dewasa, makin tua makin sukses, makin tua makin banyak uang, makin tua makin peduli. hal-hal semacam itulah.
atau justru bersukur karena masih diberi umur sampai sekian, ya?.
iya. saya bersukur. meski sudah duapuluh berapa dan saya tetap bukan apa-apa, saya selalu punya teman-teman baik. teman-teman yang bertahan, teman-teman baru, teman-teman lama yang dipertemukan kembali. teman-teman yang tetap ada meski saya bukan siapa-siapa. terimakasih banyak....
dan disinilah saya, subuh hari, masih menjadi manusia yang sama dengan kemarin. sepertinya sudah lama saya tidak peduli dengan panggilan untuk bersukur.
keterangan gambar: kue ultah dari adik saya. difoto sebelum habis diganyang. trims, ya, nenk.:D
Langganan:
Postingan (Atom)