November 28, 2007

semenit saja

kala kulihat banyak orang kelaparan
hatiku trenyuh dan menangis
aku bahkan sudah meneteskan airmata
tapi itu hanya semenit

setelah itu aku lupa
terlena akan mudahnya hidup
terbius oleh nikmatnya dunia
mungkin karena aku belum pernah kelaparan

lalu aku melihat anak kecil berebutan
uang lima ratus yang baru dia temukan
aku terharu lagi
kali ini lebih dahsyat
aku hendak melempar lima ratusku pada merka
tapi itu hanya semenit

setelah itu aku lupa
lampu merah sudah hijau lagi
sebentar lagi aku sampai di mall
aku harus membeli boneka,
lipstik, baju pesta, sepatu baru,
dan lima ratus
untuk membayar parkir

lalu aku menonton televisi
bencana dimana-mana
aku sampai menangis
hidup mereka sungguh menderita
tapi itu hanya semenit

setelah itu aku lupa
temanku menelepon
ayo kediskotik
kita clubbing
bersenang-senang
mumpung masih muda

dan aku tak pernah ingat lagi.....

simbah Kerti

Hari itu saya tidak kerja pagi, tapi ada kewajiban mengambil laundry, jadilah setelah menjalankan kewajiban itu saya pulang. Dijalan, Saya kehabisan bensin, jadi saya membeli bensin di pinggir jalan. Disana, Saya bertemu dengan dua orang nenek, dua-duanya sedang membawa keranjang yang di gendong di punggungnya. Salah satu diantara nenek itu kesakitan kakinya.
Saya jadi inget pada Mbah Simak, simbah saya dikampung. Jadi, Saya berhenti dan menawarkan untuk mengantar si simbah ke puskemas. Tadinya dia menolak, setelah saya desak, akhirnya ia mau juga saya antar ke puskesmas. Si simbah yang satunya pun pulang. Saya antar Simbah itu ke puskesmas, mbah Kerti, nama simbah itu, seorang nenek tua yang kurus dan renta.
Dipuskesmas, Mbah Kerti diobati seperlunya, karena kaki Mbah kerti sebenarnya cuma keseleo, dia memang baru turun dari bus kota. Mungkin dia terburu-buru, jadi jatuh dan kakinya terkilir.
Setelah itu, Saya mengantarnya pulang. Kamu tahu rumahnya? dia ternyata tinggal di sebuah rumah, atau mungkin hanya gubuk kecil dari bambu yang sudah reot sana-reot sini, Ia tinggal sendirian. Di rumah itu hanya ada sebuah dipan bambu, dengan kasur yang menipis, sebuah kursi reot, sebuah meja, dan anglo (alat untuk memasak dengan bahan bakar arang), serta peralatan masak yang sederhana. Saya jadi trenyuh, dia seorang nenek, hidup sendiri, dengan keadaan ekonomi yang memprihatinkan seperti itu.
Oh iya, rumahnya ada di samping selokan mataram, selokan yang terkenal di jogja, tanah diatasnya penuh dengan koskosan mahal, disekelilingnya banyak mahasiswa dengan tingkat intelektual tinggi yang notabene adalah anak2 orang kaya. Dibagian lain banyak pengusaha membuat usaha disitu. Tapi mbah kerti malah menyempil di rumah buruk rupa, tanpa saudara yang menjaganya, dan sekarang kakinya sakit pula...., duh.....
Sayapun duduk di kursi satu-satunya dirumah itu. Mbah Kerti menuangkan air teh dari tekonya yang sudah berwarna coklat. Dan diapun bercerita. Bahwa dia sudah sejak lahir ada di situ, dari jamannya semua tanah adalah sawah, hingga sekarang tak ada sawah sama sekali. Dari dulu ia berjualan buah di pasar kolombo, sampai kemudian banyak orang yang lebih kaya berjualan buah, hingga dia kalah saingan, dan sekarang hanya tinggal menjadi pedagang kembang. Yang hanya laris kalo musim ziarah. Tapi katanya, semua itu cukup untuk menghidupinya hingga saat ini. kayanya gusti Allah itu memang maha adil. manusia itu sudah ada rejekinya sendiri-sendiri. Seberapapun kecilnya rejekinya, akan selalu ada untuk hidup.
Saya jadi makin terharu. Kata-kata itu kok ya keluarnya dari mulut mbah kerti, yang masih memakai anglo, yang hanya tinggal di sebuah rumah kecil. Saya malah jarang mendengarnya dari orang kaya. Yang seharusnya mereka harus lebih banyak bersukur....
Mbah Kerti juga bercerita, bahwa di adulu punya suami, tapi suaminya meninggal di usia muda. Dan Ia tidak dikaruniai seorang anakpun, Jadilah dia menjanda sampai saat ini.
Kasihan, ya, mbah Kerti, seharusnya dia hidup senang, dikelilingi cucu dan anak-anaknya, disebuah rumah besar yang asri, kemana-mana dijemput mobil, bukan naik bus dan jatuh seperti itu.
Setelah sekadar cerita-cerita itu sayapun pulang. Eh, dijalan kok saya malah malu sendiri dengan Mbah kerti. Saya kok rasanya kurang peka dengan sekeliling saya. Saya memang sering lewat jalan itu, tapi kok ya saya nggak tahu, kalo ada seorang nenek yang tinggal di rumah reot itu. Saya juga kok rasanya kurang bersyukur, makan harus pake lauk yang enak, minum harus yang manis, kemana-mana harus pake motor. Padahal mbah kerti makan seadanya, minum air teh tawar, kemana-mana naik bus atau jalan kaki. Kok Saya rasanya rakus sekali....
Apa saya sudah ketularan gaya hidup orang2 kaya, ya? Yang harus tampak elegan dengan segala kecongkaannya, yang selalu kurang dengan apa yagn didapatkannya. Ah, tapi mungkin g semua orang kaya seperti itu, ya. Tapi kok ya mereka kebangetan. Dijalan tadi ada beratus-ratus motor yang lewat sebelum saya, tapi kok ya gak ada yang berhenti. Apa mereka sebegitu sibuknya? sehingga mata mereka hanya memandang ke depan saja?
Ah...., saya tidak tahu. Saya memang tidak pernah bisa merubah siapa-siapa. atau apa-apa. Tapi semoga saya konsisten dengan diri saya sendiri. mungkin ada banyak orang yang peduli, tapi say atidak tahu siapa mereka. Setidaknya, saya berdoa, semoga masih ada yang peduli, tanpa embel2 apapun, tanpa buntut dari LSM mana, dari Organisasi apa, karena embel-embel hati tentu lebih indah.....

untuk mbah kerti: Semoga banyak orang mati, ya, mbah, jadi kembangnya laku.....

jakal, nov 07

November 25, 2007

(cerita) Putri handweni

Wanita itu bernama bu Nah, Ia adalah seorang wanita yang tinggal di kontrakan sempit disamping rumah budheku, di sebuah kampung di kawasan malioboro, jogja. Aku tidak tahu siapa nama lengkapnya, yang jelas semua orang memanggilnya mbak Nah. Ia adalah seorang buruh cuci, buruh asah-asah, buruh kerok, buruh bersih2, dan buruh apa saja yang di suruhkan orang padanya. Ia bukan orang terkenal, ia orang biasa, tetapi ia sangat istimewa, terutama bagiku.
Dulu, waktu Aku masih tinggal di rumah Budhe, aku sering berkunjung kerumah sempitnya, sekadar untuk bercerita tentang apa saja. Dari ceritanyalah aku jadi tahu kisah kehidupannya yang istimewa.
Dahulu, Bu Nah adalah seorang pembantu di sebuah keluarga kaya. Suatu hari, majikan laki-lakinya jatuh cinta padanya. Hingga kemudian Bu Nah hamil, dan ia pun di usir dari rumah keluarga itu, dengan perut besarnya, tanpa ganti rugi apapun atas semua yang dilakukan oleh si majikan laki-lakinnya itu. Dan Bu Nah pun pergi, mengontrak rumah (kamar) sempit di samping rumah budheku.
Waktu itu aku bertanya kepadanya, mengapa Ia tidak menuntut apapun pada si majikannya itu, dan jawabnya
"Kalo Saya itu iklas, mbak ika, lilo dengan semua yang terjadi pada diri saya, wong saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi. mau minta perlindungan pada siapa?, ya sudahlah, saya iklas, biar Tuhan yang membalas semuanya..." katanya sambil mengelus dadanya yang sudah menipis itu.
Sejak Ia mengontrak sendiri, majikan laki-lakinya serign menengoknya, dan Bu Nah pun masih setia menerimanya, tanpa amarah sedikitpun. Hingga si majikannya itu memutuskan lari dari rumah istri tuanya, meninggalkan istri dan anak-anaknya, untuk tinggal bersama Bu Nah, akhirnya mereka menikah, dan Bu Nahpunn kembali dikaruniani seorang anak laki-laki.
Sayangnya, pada saat Suami Bu Nah memutuskan untuk bersamanya, Suaminya itu mulai sakit-sakitan, dan tidak mampu mencari nafkah sendiri. Jadilah Bu Nah berkerja untuk menghidupi 4 orang. Dan Bu Nah masih saja iklas.
Sampai kemudian si Suami meninggal, dan ironisnya lagi, jenasah suaminya diminta oleh pihak keluarga, Bu Nah pun tidak boleh mengurus jenasah suaminya. Lagi-lagi Bu Nah pasrah.
Sekarang, bertahun-tahun setelah kejadian itu, Bu nah sekarang masih tinggal dengan kedua anaknya, masih jadi buruh cuci baju dan cuci piring, masih tinggal di kontrkan sempit di samping rumah budheku, Sekarang putra putrinya sudah dewasa, satu diantara mereka masih kuliah. Dan Bu Nah masih tetap baik hati dan ceria...
Dulu, waktu Aku masih kuliah, aku pernah membicarakan nama kelompok makalahku padanya, waktu itu pikiranku enggak jauh-jauh dari trio apa..., gitu, dan Bu Nah memberikan suatu ide padaku
"mbok namanya kelompok putri handweni aja, mbak ika, " katanya
"Maksudnya?" Tanyaku
"Putri handweni itu maksudnya putri yang mempunyai, menpunyai harapan, cita-cita, tekad yang kuat, keinginan yang besar, dan usaha yang gigih. Dan suatu saat akan menjadi putri handweni juga, handweni kekuasaan, harta, kesuksesan, sahabat, dan apapun hasil dari yang dia perjuangkan dahulu..."
Akupun manggut-manggut.
Kupikir, yang putri handweni itu ya Bu Nah sendiri, Ia memiliki rasa iklas, ia memiliki tekad yang kuat, dan ia memiliki usaha yang gigih. Aku harap suatu ketika bu nah akan menjadi putri handweni berikutnya, memiliki harta yang cukup, hari tua yang indah, anak-anak yang baik. Semoga.......

November 21, 2007

(puisi) menggengggam hati

pada sebuah hati
yang aku tak tau
mengapa semua kuserahkan padanya

cinta, tubuh, jiwa
yang aku tau memang salah
dan hari-hari bertumpuk dosa
tak tau kapan berakhir

sebuah hati
yang meninggalkan begitu saja
tanpa cinta, doa, harapan

tapi memang bukan salahnya
semua salahku
yang buta
dan takberpikiran

meski mungkin tak pernah bisa
menggenggamnya,
semoga orang lain yang memilikinya
lebih berbahagia
daripada aku


untuk:hati seorang kawan

November 10, 2007

wisuda sarjana

3 november 2007

Pagi pulang dari kantor, Saya enggak tidur sama sekali, karena takut, kalo saya tidur, maka saya akan susah sekali bangun. Jadi saya juma tidur2 ayam di tempat tidur, sambil menunggu pagi tiba.
jam 6.00 pagi, saya sudah mandi, dan memakai baju baru. sebuah kemeja biru, dengan bawahan rok panjang hitam, dan kerudung hitam. Sambil menunggu ibu dan suami ibu saya datang, saya duduk sambil terkantuk2 di tempat tidur. Akhirnya saya enggak sabar sendiri. jadilah saya naik motor ke stasiun untuk menjemput mereka.
Dengan becak, ibu dan ayah tiri sya berangkat menuju gedung mandala bhakti wanita tama, guna menghadiri wisuda saya. hehe. itulah untuk pertama kalinya saya menjadi pusat perhaitan.
Jadi, ternyata disana Saya menjadi satu2nya cewek dengan dandanan paling buruk. Sementara semua orang memakai kebaya, saya hanya mengenakan kemeja biasa, dan tanpa make up sedikitpun. Tapi saya tidak malu, kok. Menurut Saya, tidak apa2 tidak berdandan isimewa, toh hanya dipakai beberapa jam saja. untuk apa coba kita mengeluarkan uang beratus-ratus ribu hanya untuk kesalon. toh nanti dandanannya dihapus lagi. Padahal, bagi banyak oranag ratusan ribu itu bisa untuk makan berberapa minggu. ....
Dan ternyata lagi, saya menjadi wisudawati terbaik semester ini di kampus, wah betapa groginya saya. padahal sebelumnya saya adalah cewek yang biasa-biasa aja. ke sekolah naik sepeda, sepatu hanya satu-satunya, ujian sering nyontek, tugas paling ngopi milik teman, skripsi banyak ngarangnnya, walah-walah, saya kok malah malu menyandang predikat itu. wong teori ekonomi aja saya ga tau..... uh uh uh
Tapi lumayanlah, paling enggak saya bisa sedikit sombong sama teman2, biarpun saya miskin dan buruk rupa (hehe) paling enggak saya kan kumlod, dan mereka enggak....., hehehe. paling enggak mereka jadi tahu. oh, ternyata meika yang naik sepeda ke skolah itu lumayan ya, otaknya, hhehe
Yah begitulah.....
Selesai mendengarkan berbagai sambutan, yang sebagian besar sabutannya saya g tau, karena aku sudah tertidur pulas, akhirnya selesai juga wisuda itu. jadilah sekarang aku Meika, se Yang menurut aku sih se-se an, hehehe. Akhirnya saya pulang ke rumah. kepala saya pening sekali waktu itu. maklumlah enggak tidur semaleman.
eh iya, saya juga dapat hadiah sejumlah uang dari kampus. tapi uang itu sudah langsung amblas, karena saya sudah di todong teman2 untuk nraktir. hehehe
Tiba saatnya menceritakan bagian yang paling menyenangkan dari cerita ini. jadi setelah sesiangan kami (saya, ibu dan ayah tiri saya), mengahdiri acara wisuda itu, kamipun makan. karena saya juara, ibu dan ayah tiri saya memberi hadiah yang paling saya sukai, yaitu makan sepuasnya di rumah makan padang.....
hehehe. sayapun makan sepuas-puasnya, ayam goreng, daging cincang, sayur gori, sambel, babat, ikan bakar, saya lalap habis....., saya sudah ennggak peduli lagi sama baju yang jadi kekecilan itu..., pokoknya makan terus....
Begtulah cerita saya....

wah, padahal inti dari wisuda itu bukan makan2nya ya....
jadi inget nasihat pak rektor, bahwa, begitu kita selesai dari sini, perjuanagan baru aja dimulai, saatnya menjadi wirausaha,
Tuhan, semoga hal ini tidak pernah membuat Saya sombong, karena tak akan ada artinya semua ini bila saya menjadi sombong karenanya, semoga.......



Taman pintar, 10 nov 2007, hari ultah echi, hari pahlawan

November 04, 2007

bermotor pagi hari

Jam 3 dini hari
Hari itu suasana di kantor memang sedang tidak enak. Teman-teman semuanya mengeluh karena kerjaan tidak selesai-selesai. Aku jadi enggak enak sendiri. So, aku putuskan nanti malam aku lembur, biar kerjaan untuk besok agak berkurang. Jadilah aku pergi ke kantor malam itu, mengeringkan semua cucian yang tersisa.
Setelah semua selesai, dan memang aku mengantuk sekali waktu itu, jam 3 pagi akupun pulang menuju kos2anku.
Tiba-tiba aja ditengah jalan hujan turun. Sudah kadung naik motor, aku jadi males untuk berhenti dan make mantol. Jadi aku terus saja mengendarai motorku pelan-pelan. Suasana pagi buta itu sangat sepi. Hanya ada beberapa mobil yang melintasi di jalanan. Jalanan serasa milikku seorang.
Aku mengendarai motorku sambil menyenandungkan lagu Yogyakartanya katon. sambil sesekali menyeka air hujan yang jatuh dimataku. Ternyata aku ga sendirian, di tengah hujan itu, aku melihat beberapa gelandangan pindahan. Dari depan perempatan Gramedia, beberapa gelandangan sedang ngukuti barang2nya, kayaknya mereka mau pindahan. Di di pinggir jalan suroto beberapa tukang becak terlihat sedang tertidur di becaknya masing-masing. kebayang enggak sih, di suasana yang begitu dingin itu, kamu meringkuk di becakmu, tidak dikamrmu yang hangat?
Di bawah jembatan lempuyangan, banyak gelandangan ber desak-desakan menghindari hujan
Tau ga, mereka g tidur. bagaimana cara mereka tidur dengan kondisi yang basaha seperti itu, coba?
Sambil tetap bermotor. aku malah jadi meneteskan air mata sendiri.
Tuhan, betapa beruntungnya aku.
Aku punya kamar kos yang walaupun kecil namun hangat.
Paling ga, aku jadi enggak menggelandang seperti mereka.
Jadi nyesel, bahwa aku sering sekali marah-marah dan mengeluh dengan keadaanku yang kurang kaya ini.
Waktu itu, aku jadi berhayal. seandainya ku punya rumah yang besar, pasti aku akan mengajak semua gelandangan itu untuk menginap di rumahku.
Tapi aku juga mikir, kalo aku jadi orang kaya, aku pasti g akan melihat orang-orang ini. Karena, kalo aku kaya, aku pasti tidur dirumah, enggak perlu lembur malam2. kalo aku jadi orang kaya, aku pasti maik mobil, sehingga aku ga akan pernah merasakan tusukan air hujan yang menyerbu wajahku. kalo naik mobil, aku pasti g akan melihat sekelilingku, karena aku pasti konsentrasi supaya mobilku tidak tergores sedikitpun.
uh uh
jadi orang kaya memang enak. Tapi jarang ada orang kaya yang peka dengan sekelilingnya.
Tuhan, semoga ketika aku kaya kelak, aku tidak akan kehilangan kepekaan yang aku miliki ketika aku miskin.
Tuhan, semoga ketika aku kaya, aku masih memikirkan hal ini.
semoga.....
Sayang sekali, aku tidak bisa melakukan apapun untuk orang-orang yang aku liat itu.
Aku hanya sedikit terharu. Sayang sekali aku bukan orang kaya.................

Oktober 28, 2007

artikel

Artikel Bebas
30 Juli 2005 - 12:02 aq
CINTA LAKI-LAKI BIASA (True Story)


Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak! Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar! Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.
Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.
Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..
- Asma Nadia -
..........(email dari eka sodiarti)