menunda memang penyakit akut saya. padahal saya selalu kena batunya karena kebiasaan buruk saya ini. masih ditahun yang sama, saat saya masih di kalimantan, saya menunda pekerjaan saya, sampe akhirnya kepulangan saya ke tanah jawa tertunda beberapa hari karena saya harus menyelesaikannya sebelum saya pulang. saat itu saya sudah berjanji tidak akan menunda pekerjaan saya lagi.
saya menunda diet saya, sampai saya menjadi sebesar ini. besok saja, kata saya. mulai minggu depan aja, deh. kan tanggung minggu ini. nanti saja, selesai makan malam saya akan diet. dan akhirnya, tak sekalipun saya berdiet karena saya selalu menundanya.
saya menunda membeli bensin saat melewati spbu, sampe akhirnya saya benar-benar kehabisan bensin di jalanan. saya menunda membersihkan buku-buku saya, sampe akhirnya beberapa dari buku saya, lembab dan berayap. saya menunda mencuci baju, sampe akhirnya saya benar-benar kehabisan baju dan terpaksa memakai baju yang sama dalam 3 hari. saya menunda membersihkan tempat ikan, sampe semua ikan saya mati. saya menunda skripsi saya, sampe menghabiskan spp satu semester untuk kesia-siaan saja. saya menunda mandi sampe tubuh saya gatal-gatal.
cuma 3 hal yang tidak saya tunda, makan, tudur, dan buka puasa. hehe.
hebatnya, saya selalu punya dalih untuk itu semua. kalo saya tidak berhenti di spbu untuk membeli bensin, saya akan bilang, duhhh, susah sekali nyebrangnya, rame banget. kalo saya menunda mencuci baju, saya bilang, kan masih ada baju yang ini. pas saya menunda skripsi saya, saya bilang, tempat kerjaku buka cabang baru, je. jadi saya sibuk sekali. ya cuma itu kehebatan saya, berdalih untuk kebiasaan saya. mencari pemakluman, agar saya tidak terlalu merasa bersalah dengan kebiasaan buruk saya yang akut ini. padahal alasan yang sebenarnya adalah: M A L A S.
oh iya, menunda itu, selain membuat kita benar-benar kena batunya, juga benar-benar membebani kepala kita. seharusnya kepala kita sudah terbebas dari suatu beban, tapi ternyata beban itu belum juga benar-benar tuntas. menambah beban pikiran, membuat kita jadi marah-marah tanpa sebab. kadang-kadang, bahkan membuat tidur kita tidak nyenyak.
saya pikir, penyakit menunda ini seperti bibit kanker. kalo didiamkan saja, tanpa diobati, ia bisa menggerogoti seluruh jaringan tubuh kita. ia akan merusak jaringan syaraf, sistem pencernaan, sistem pernafasan, dan lama-lama akan membunuh kita. :D
nanti. besok. lusa. minggu depan. sepertinya kata-kata itu harus dihilangkan dari perbendaharaan kosa kata saya. karena cuma ada satu kata: sekarang!!
tunggu saja sampai berapa lama saya keranjingan motivasi, sebelum saya mulai malas dan menunda-nunda lagi. mungkin nanti kalo malaikat maut datang, saya akan bilang padanya, 'pak, tunggu sebentar, saya belum selesai...'
You may delay, but time will not..
Benjamin Franklin
Oktober 04, 2010
September 07, 2010
pembenci mudik
Bagaimana mungkin kita merasa kehilangan, padahal kita tidak pernah memiliki.
Rasanya setiap tahun, hal yang paling penting bagi orang2 saat menjelang lebaran adalah mudik. Orang-orang lebih mementingkan acara mudiknya daripada memenuhi tempat-tempat ibadah dengan ibadah yang makin getol. Keluarga dan sanak saudara benar-benar menjadi prioritas utama berlebaran orang-orang di negeri ini. Tak pernah ada yang jera dangan aneka Jenis kecelakaan yang terjadi setiap tahun. Dan aneka kejahatan tentu saja. Demi kampung halaman dan keluarga dirumah, kata mereka. Padahal kalo hanya ingin menengok kampung halaman dan keluarga dirumah, memangnya harus pas lebaran? Kalo hanya untuk pulang dan menengok saudara di rumah, untuk apa harus repot2 membawa aneka macam perhiasan, aneka kendaraan dan barang2 mewah saat mudik? Kadang2, saya curiga ada sedikit niat pamer saat orang-orang mudik.
“lihat, nduk, si Tina anaknya lek warno itu, lho. Baru 1 tahun dijakarta, sekarang kemana-mana kalungan hengphon. Katanya mbak siti, bentar lagi dia mau dilamar. Kenalannya dijakarta sana, nduk. Pegawai negeri.” Begitu kata mbah simak saya 8 tahun yang lalu. Saat saya untuk pertama kalinya pulang mudik ke purworejo, kota kelahiran saya.
Bukan mudik tepatnya, karena saya hanya pergi satu jam kearah timur. Ke yogyakarta, kota pelajar yang dipenuhi pendatang, hingga sebagian warga aslinya justru bekerja pada pendatang itu. Tapi mengikuti apa yang biasa di gembar-gemborkan orang, pulang saat hari raya seperti itupun juga disebut sebagai mudik.
“ndak usah sekolah tinggi-tinggi, nduk. Buat apa. Wanita itu dimana-mana nantinya juga hanya akan menjadi kanca wingking. Tugasnya ya ming melayani suami. Masak. Manak. Macak.”
Seperti biasanya saya diam saja. saya tidak pernah mendebat mbah simak. Memang begitulah orang tua. Menjadi orang yang lahir dimasa penjajahan, tanpa bangku sekolah sama sekali, yang diketahui mbah simak ya memang begitu. Subuh bangun, nenuwun sama Gusti, memasak, mencuci baju, membersihkan rumah, melayani suami dan anak-anak. Begitu saja kegiatannya. Paling cuma setiap jumat sore saja beliau pergi ke pengajian dengan simbah-simbah lainnya. Jadi tidak akan pernah berguna kalau aku mendebatnya, menjelaskan tentang emansipasi, kartini, cut nyak dien dan lain-lain padanya. Satu-satunya hal yang ia ketahui tentang kartini adalah kain sutera ungu yang disimpannya bersama jarik-jarik batik dilemari jati. Salah satu benda yang tidak boleh saya pakai untuk bermain –main saat kecil.
“ora oleh, nduk. Ini kerudungnya ibu kartini. Simak belinya mahal. Dulu, pas simak menyang jogja sama mbah kakekmu. Ibu kartini itu pahlawan. Kerudungnya ora ilok yen di nggo dolanan.” Lalu beliau merebutnya dari tangan saya, dan menyimpannya di lemari jati, di rak yang paling tinggi. Hingga tubuh kec il saya tidak mampu meraihnya lagi. Setelah dewasa, kadang-kadang saya berfikir bahwa mungkin saja simbah simak saya hanya di tipu orang perihal kerudung sutra ungu itu. Kok bisa kerudung ibu kartini yang dijepara tiba2 ada di Yogyakarta.
“nduk, kapan sekolahmu selesai? Kapan nggonmu dilamar priyayi? Simak udah pengeeeen nggendong buyut. temanmu si menik kae, lho. Anake 2. Jaaaan, gantheng temenan. kemaren simak, ketemu yu amat katul, ngemban anaknya menik yang baru pulang dari Jakarta itu. Owalah, nduk, simak jadi pengen ndang2 ngemban buyut juga. Mumpung isih kuat, nduk.”
Katanya di hari lebaran 5 tahun yang lalu. Di balai-balai belakang rumah kami.
Itulah yang tidak kusukai dari budaya mudik ini. Pulang. Dan pamer pada tetangga. Hingga semua anak muda di kampung saya semua pergi ke kota. Bagaimana nggak pengen, melihat tetangga-tetangga yang pulang mudik selalu gemerlap dan tampak lebih modern dari anak-anak kampung? Bagaimana nggak ngiler, melihat para tetangga menjadi lebih cantik dan lebih melek mode sepulang dari Jakarta? Kalo tidak menjadi kaya,mampu membangun rumah gedong magrong-magrong, maka ia akan dilamar para priyayi sugih. Kalo nggak pegawai negri, ya juragan dari Jakarta, ato setidaknya, anak juragan.
Maka jadilah rumah simbah simak saya menjadi rumah terburuk dikampung saya sekarang. Saat smua anak dari setiap keluarga lulus sekolah, menjadi pekerja di Jakarta, dan mampu mengirim uang ke kampung halaman untuk membangun ruma h-rumah mereka menjadi gedong magrong-magrong, maka rumah simbah saya semakin keriput mengikuti kulitnya. Dan saya, si cucu durhaka yang tidak mau pergi ke Jakarta ini akan menjadi contoh yang buruk di kampung saya.
“jangan contoh sumirah cucune mbah atmo kae, yo, nduk, le. Sekolah ning tetep kere. Mesake simbahe. Wis tuwo ning ora tau dikirimi duit. Mulakno sekolah sing pinter, yo, le, nduk. Gek ndang lulus. Gek ndang kerjo maring Jakarta. Dadi wong mulyo. Mulyake wong tuwo.” Begitu para orang tua menasehati anak-anaknya.
Lihat, Kadang-kadang, budaya mudik yang tersisipi niat pamer membuat para orang tua menjadi matre. Yang mereka tau adalah, orang2 yang mudik selalu tampak lebih keren. Jakarta itu keren. Uang lebih banyak disana daripada di kampung. Mana mereka tau kehidupan Jakarta sebenarnya.
Dan lebaran 4 tahun lalu adalah mudik saya yang terakhir. Tanpa simbah simak tentu saja. Simbah simak meninggal 5 hari sebelumnya. Itu mudik saya yang terlama, saya ingat, membatalkan smua pekerjaan partime yang saya dapatkan demi membayat uang semesteran, dan tinggal di rumah reot simbah saya untuk menangisinya setiap hari. Dan sepertinya, saya belum pernah merasakan kehilangan yang lebih besar dari ini.
Seminggu setelah lebaran, pakdhe saya yang tinggal di Surabaya datang untuk membereskan segalanya. Segalanya. Termasuk menjual tanah dan rumah reot peninggalan simbah kakek saya. Pakdhe membagi sepertiga hasil penjualan itu untuk saya. Karena ibu saya pergi saat usia saya satu minggu, kata pakdhe, maka saya berhak mendapatkan warisan itu sebagai pengganti ibu. Saya meminta pakdhe untuk menyimpannya saja.
Tidak enak rasanya menggunakan uang hasil penjualan rumah yang saya tinggal disana lebih dari 18 tahun.
Sejak hari itu, praktis saya tidak mempunyai kampung halaman lagi. Saya mengajukan surat pindah ke Yogyakarta. ktp saya menjadi ktp jogja, dan saya diakui sebagai family ibu kos agar bisa masuk ke kartu keluarga mereka.
Maka lebaran-lebaran setelahnya, saya selalu bingung kalo ditanya mau mudik kemana.
Sejak hari ke seminggu sebelum lebaran, teman-teman kerja dan teman-teman kos akan sibuk membicarakan keluarganya dirumah. Tentang ibunya yang selalu membuat kue nastar, tentang budhenya yang ketika pulang kampung membawakan bertoples-toples kue kering, tentang sepupunya yang artis, tetang wisata bersama keluarganya ke pantai. Bla bla bla bla bla. Kecut muka saya mendengarnya.
Tiga hari menjelang lebaran kos-kosan sudah sepi. Hanya tinggal saya. Dan pak satpam yang asli orang kampung sini. Semuanya mudik, termasuk keluarga ibu kos saya. Sebenarnya setiap lebaran paldhe saya yang tinggal di Surabaya selalu menawari saya untuk lebaran dirumahnya. Mungkin ia kasihan, karena hanya tinggal dialah keluarga saya satu-satunya. Tapi, toh, sama saja, pakdhe saya juga akan mudik ke jember, kampung halaman istrinya. Jadi saya lebih memilih di kos-kosan saja. Sendirian. Menontoni berita- berita tentang mudik –yang lebih banyak berisi kemacetan dan kecelakaan-, dan mengutuk pemerintah karena tidak pernah belajar dari tahun-ketahun.
Setelah semua orang sudah kembali, baru kemudian saya akan ke purworejo. Ke kuburan mbah simak dan mbah kakek saya. Disana saya biasanya ketemu pak gimin. Juru kunci. Yang juga ayah teman saya waktu sd, wagito. Biasanya saya akan menanyakan kabarnya, dan kemudian kabar wagito. Saya lupa di lebaran yang keberapa pak gimin bercerita kalo wagito sudah menikah, karena lebaran satu tahun yang lalu, pak gimin bercerita kalo istri wagito sudah meninggal di jakarta. Kena maag akut, katanya. sebelum pulang, saya akan memberikan beberapa ribu rupiah dalam genggamannya, sebagai ucapan terimakasih karena sudah merawat kuburan simbah simak dan simbah kakek saya. Dan jawabannya dari tahun ketahun tak pernah berubah,
“rasah nduk. Wis, ben wae, sing mbales sing kuoso. “
Tapi tetap saja ia menerima uangnya.
3 tahun ini saya makin membeci ritual mudik. Mungkin lebih ke iri karena saya sendiri tidak penah mudik lagi, sebetulnya. Semua orang akan sibuk bersayang-sayangan dengan keluarganya sementara saya sendiri tidak. Bapak dan ibu saya pergi ketika saya masih berusia satu minggu. Kecelakaan, katanya. Nenek dan kakek saya sudah meninggal. Pakdhe saya bersama keluarganya, dan saya tidak pernah kenal dengan keluarga bapak saya. Sementara lebaran adalah hari keluarga, saudara dan kerabat. Dan untuk orang tanpa keluarga seperti saya, lebaran jelas tidak jauh beda dengan hari-hari biasa. Hanya saja, hari ini menjadi lebih sepi.
Saya pikir, saya tidak akan pernah menemukan teman yang sama sepinya dengan saya saat lebaran.
Sampai saya bertemu dengannya. Kami sama-sama tidak punya orang tua. Ia tidak yatim piatu seperti saya. Ayah ibunya masih ada. Mereka bercerai dan sudah punya keluarga sendiri. ia merasa canggung bila berada diantara keluarga ayah atau ibunya. Makanya ia memilih tidak mudik ke salah satu orang tuanya.
Kemarin saya bertanya padanya apakah ia kehilangan figure ayah dan ibu.
“nggak, lah, bagaimana mungkin kita kehilangan Sesuatu padahal kita tak pernah memilikinya.”
Jawabnya.
“ kok bisa gak memiliki?. Orang tuamu kan masih ada.”
“mereka bercerai sejak aku masih bayi. Sejak itu, aku diasuh nenek dan kakek dari pihak ayah. Memiliki orang tua, tapi tak pernah ada rasanya sama saja dengan tidak memiliki orang tua.”
Tiba-tiba saya senang. Tidak pantas memang. Tapi saya senang karena punya teman yang senasib. Mungkin memang orang-orang yang memiliki kesamaan cenderung lebih cocok untuk berteman.
“tapi tak apa. Kalo jalan hidup kita terlalu lurus, kita tidak akan sekuat sekarang,” katanya lagi.
“jadi, kalo kamu gak mudik, apa kegiatanmu saat malam takbiran?” Tanya saya.
“gak ada. Tapi biasanya aku selalu pesta seorang diri.”
“mau kutemani?”
“wah, mau sekali, oke. Jadi kita ketemu pas malam takbiran, ya. Aku yang bawa camilan, ato kamu yang bawa?” tanyanya.
“kita bawa sendiri-sendiri, oke?”
Duhhh, senang sekali. Akhirnya lebaran ke 4 tanpa mudik ini saya punya kegiatan yang menggembirakan. Dengan orang yang mempunyai kisah hidup mirip dengan saya. Punya hobi yang sama dengan saya, dan punya selera yang sama dengan saya. Saya pernah membaca bahwa orang yang memiliki kesamaan cenderung berjodoh. Oh, tapi saya ragu saya membacanya, atau mengarangnya saja.:D
Akhirnya malam takbiran ini datang juga. Saya sudah duduk berjam-jam denganya. Membicarakan segala hal. Cuaca, negeri ini, hobi, kucing, makanan dan lain hal. Suara takbir kemenangan dari masjid sudah diganti dengan suara takbiran dari kaset, karena orang mulai sibuk membagi-bagi zakat ke dalam plastik-plastik.
Saya menuang air kuning berbusa ke dalam gelas dan menenggaknya.
“sudah mabuk, ya, mir?” tanyanya.
“ah, enggak, kamu yang mabuk, kali.”
“haha. Aku gak bakal mabuk, lah. Aku ahlinya. Ini sudah hampir habis sebotol”
Aku meminum minumanku lagi. Pandangan mataku pada monitor mulai kabur dan jari-jariku mulai tidak terkontrol menari nari ke atas keyboard dengan liar.
“addfkahgkuuuuu nngggggaakkkkk maaaaaaaabuuuuuuuuuuukkk,” ketikku di jendela chatting.
“senang mengisi malam takbiran denganmu, mir”
“iiiiiiiyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaaaa. Sammmmmmmmmmmmmmmmmaaaaaa-sasssmmmmaaa”
“selamat lebaran, mir, besok chatting lagi, ya. “
Dan saya, sudah terlampau mabuk untuk menjawabnya…..
*nah, gak nyambung, kan???? Sape suruh baca ampe sini. Bwek!
Agustus 21, 2010
belajar dari bang bang tut, eh, bang pug
inget obrolan kita yg lalu gak?
intinya tadi aku dpt teori menarik dari dosen
jadi tadi aku kan tanya, ke beliau
ketika di satu sisi orang yg santai2 tapi gaji tinggi
namun di sisi lain, orang susah payah banting tulang penghasilnanya segiu2 aja, bahkan cenderung rendah
beliau mengibaratkan pekerjaan borongan
ada tukang batu, yang susah payah keringatnya banyak tapi upahnya cuma 30
ada mandornya yang kerjaannya jalan2 ma tunjuk2 sana-sini upahnya bisa 50
lha arsiteknya cuma mikir, malah 100
trus hebatnya, kontraktornya, yang ikut ngomel2 nuntut 300
nah dosenku tanya balik ke aku, kira2 kesimpulannya gimana?
nah bingung kan aku?
jawabannya adalah....
eng..ing...eng....
terkadang, adil di mata kita, ternyata belum tentu adil di mata orang laen,
apalagi di mata Allah...
kalo tukang batu itu dapet 30, bwt kita itu gak adil, krn diantara mereka,tukang batulah yg paling capek, harusnya dapet yg paling gede kan?
tapi ternyata mandor dapet lebih besar, itu pun ada alasannya...
ingatkah kita bahwa hal yang paling besar di dunia ini adalah amanah...
dalam contoh kasus ini, mandor dapet amanah, utk mengawasi anakbuahnya,
okelah mandor sering marah2 sama anak buahnya ketika anak buahnya salah..
tapi taukah kita bahwa mandor itulah yg bertanggungjawab atas pekerjaan anak buahnya
mungkin itu alasan "mbodho'nya
trus kenapa arsitek lebih tinggi lagi, itu sih jelas...
bahkan dalam alQuran ada ayatnya
bahwa Allah akan meninggikan derajat hamba-Nya yang berilmu
jadi di sini kasus asitek dapet penghargaan karena ilmunya
nah kalo kontraktor itu kembali ke teori awal, tadi udah bener, bahwa modal emang berpengaruh
tapi bukan semata-mata karena itu..
bila pekerjaan ggal, siapa yang paling bangkrut? tentunya yang modalnya paling besar..
itulah sebabnya, dlam teori ekonomi, ada manajemen resiko, ya fungsinya utk antisipasi kegagalan itu
tapi itu kan dilihat dari sisi duniawi saja...
padahal sering kita lupa utk melihat sisi lain
yaitu keadilan itu sendiri..
adil itu bukan berarti harus sama rata, sama rasa
buan berarti yg ini harus lebih besar atau sama
yapp...
juga apakah yang diterima itu sesuai dengan haknya?
nah ada sisi lain lagi yang blum dibahas...
yaitu keikhlasan
dari beberapa yg disebutin tadi siapa yang paling ikhlas?
siapa yang tau?
jangan2 tukang batu itu ternyata sangatikhlas menerima segitu, karena kebutuhna sehari2nya ternyata hanya 20,sehingga dia masih bisa menabung
siapa tau kerja di tempat lain dia hanya dapet 15
siapa tau, mandor itu justru gak ikhlas karena iri sama arsitek yg dapet 100
jangan2 yg pnya modal gak ikhlas ngasih 30 ke tukang batu merasa kebanyakan
nah kalo kek gini kasusnya, tentunya yg paling ikhlas adalah tukang batu kan?
tentunya derajatnya menjadi lebih tingi di mata Allah..
padahal dari semua yang udah kita bahas, inilah yang paling utama
tul gak?
any coment??
ini sebagian obrolan saya yang layak terbit dengan mas2 kakak kelas saya jaman smp, yang sedang belajar di malang sana. di share dicatatan setelah diijinkan oleh beliau. siapa tau bermanfaat bagi kita smua.
makasih, bang pug. sukses, yak!
Juli 31, 2010
barongsai
gara-gara liburan mekso (baca:mbolos) dari kerjaan, saya jadi kurang kerjaan. hihi. sore itu selepas muter-muter di pasar mbanteng, brebah, sleman, cuman buat nyari rujak es krim, saya dan adik saya lanjut ke mandala krida. nonton balapan sebentar, makan mpek-mpek seribuan, lanjut ke jalan mataram buat nyari mp3 bajakan. setelah itu, iseng-iseng jalan ke seputaran tugu, dan mampir ke klentheng di belakang pasar kranggan, utara tugu. kebetulan pas disana ada acara hut entah-hut-apa. saya lupa. pokoknya disana ada acara pertunjukan barongsai gitu. rame. banyak yang nonton.
di kampung saya, kutoarjo, juga ada klentheng. saya inget, dulu, waktu saya kecil, saya dan teman2 suka jalan-jalan kesana. iseng2 kami sering ngintip lewat pagar merah di depan klentheng. saya sering ngiler liat bakpao hijau besar yang sering ada di meja dekat dupa-dupa. katanya, orang-orang di klentheng itu, memelihara naga didalamnya. naga itu dilepas di hari-hari tertentu. nah, bakpau hijau yang besar-besar itu adalah makanan naga. hahaha. kok ya dulu saya percaya dengan cerita kek gitu, ya?
lain waktu, saya baru tau kalo naga jadi-jadian itu ternyata topeng barongsai dan liong yang sering diarak keliling kampung pas imlek.
ngomong2 tentang barongsai, ternyata ada sejarahnya, lho. Barongsai adalah tarian tradisional Cina dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa[1]. Barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke tiga sebelum masehi[2]
Kesenian Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda.
Kesenian Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda. info ini didapat dari sini
tadinya saya ndak suka nonton barongsai dan liong2 kek gitu. berisik. bikin telinga sakit. tapi, kalo diliat lagi dengan lebih cermat, ternyata kesenian ini bagus juga, lho. kagum sama mas-mas dan mbak-mbak yang lincah banget. bisa bikin naga bohong2an itu serasa hidup beneran. :)
menunda
Menurut Psikolog terkenal asal Amerika, Kathy Peel, menunda pekerjaan sama saja dengan melarikan diri dari situasi yang tidak menyenangkan. Dan ini sama saja dengan tindakan seorang ‘pengecut’. Padahal saat Anda menunda pekerjaan, sesungguhnya Anda telah kehilangan banyak kesempatan untuk melakukan yang terbaik.
sepertinya menunda memang cocok menjadi nama tengah saya. apa-apa yang bisa saya tunda pasti akan saya tunda. mencuci baju, berolah raga, mengirimkan lamaran pekerjaan, mengerjakan pekerjaan saya, pergi ke suatu tempat. bahkan buang airpun, kalo bisa, juga akan saya tunda. cuma makan, tidur dan melamun yang susah saya tunda. :D
padahal saya sering kena batunya karena kebiasaan jelek saya ini. saya pernah ketinggalan kereta karena menunda-nunda keberangkatan. saya pernah terpaksa mengerjakan pembukuan nonstop 3 hari, karena saya menunda mengerjakannya tiap hari. menunda. menunda. menunda.
seorang teman pernah memberikan pendapatnya tentang kebiasaan jelek saya ini, katanya, kalo kecenderungan saya memang menunda, maka saya cuma perlu membuat skala prioritas saja. pilah kegiatan menjadi: harus, penting, setengah penting. tidak terlalu penting,dan tidak berguna. nah, kalo ingin menunda, tunda kegiatan yang tidak penting dan tidak berguna. katanya, dengan begitu, saya tetap bisa menjadi penunda, tapi tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
bener juga, sih. masalahnya kegiatan yang tidak penting dan tidak berguna itu adalah kegiatan-kegiatan menyenangkan. sedang kegiatan yang penting dan harus dilakukan adalah kegiatan yang tidak terlalu menyenangkan. :D
kadang-kadang saya harus memaksa-maksa tubuh saya untuk melakukan sesuatu yang penting. rasanya seperti seseorang seperti saya keluar dari tubuh saya, dan menyeret-nyeret tangan saya yang sedang memeluk guling, sambil berteriak, ayo, to, ka. ayo. saya kadang bangun dengan terpaksa untuk menghentikan gerakan paksaan dari seseorang seperti saya yang nampak keluar dari tubuh saya. namun tak jarang saya menulikan telinga dan tetap berkutat dengan hal-hal tidak penting saya. nanti saat jam sudah mepet, dan saya sadar saya terlambat, lalu bergegas-gegas terburu-buru, seseorang seperti saya keluar lagi dari tubuh saya, dan berkata, rasakno...
hihi. lucu juga membayangkan ada manusia seperti saya yang membawa sifat baik dan sifat buruk tinggal dalam tubuh saya.
mungkin karena kebiasaan saya yang menunda ini, yang membuat saya sering menyalahkan jarum jam yang terlalu cepat berputar. padahal aslinya memang saya yang males.
ah, udahlah, hari saya mau pergi nyari mp3 bajakan sama adik saya. gak terlalu penting, tapi gak akan tertunda lagi. hihihi.
sepertinya menunda memang cocok menjadi nama tengah saya. apa-apa yang bisa saya tunda pasti akan saya tunda. mencuci baju, berolah raga, mengirimkan lamaran pekerjaan, mengerjakan pekerjaan saya, pergi ke suatu tempat. bahkan buang airpun, kalo bisa, juga akan saya tunda. cuma makan, tidur dan melamun yang susah saya tunda. :D
padahal saya sering kena batunya karena kebiasaan jelek saya ini. saya pernah ketinggalan kereta karena menunda-nunda keberangkatan. saya pernah terpaksa mengerjakan pembukuan nonstop 3 hari, karena saya menunda mengerjakannya tiap hari. menunda. menunda. menunda.
seorang teman pernah memberikan pendapatnya tentang kebiasaan jelek saya ini, katanya, kalo kecenderungan saya memang menunda, maka saya cuma perlu membuat skala prioritas saja. pilah kegiatan menjadi: harus, penting, setengah penting. tidak terlalu penting,dan tidak berguna. nah, kalo ingin menunda, tunda kegiatan yang tidak penting dan tidak berguna. katanya, dengan begitu, saya tetap bisa menjadi penunda, tapi tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
bener juga, sih. masalahnya kegiatan yang tidak penting dan tidak berguna itu adalah kegiatan-kegiatan menyenangkan. sedang kegiatan yang penting dan harus dilakukan adalah kegiatan yang tidak terlalu menyenangkan. :D
kadang-kadang saya harus memaksa-maksa tubuh saya untuk melakukan sesuatu yang penting. rasanya seperti seseorang seperti saya keluar dari tubuh saya, dan menyeret-nyeret tangan saya yang sedang memeluk guling, sambil berteriak, ayo, to, ka. ayo. saya kadang bangun dengan terpaksa untuk menghentikan gerakan paksaan dari seseorang seperti saya yang nampak keluar dari tubuh saya. namun tak jarang saya menulikan telinga dan tetap berkutat dengan hal-hal tidak penting saya. nanti saat jam sudah mepet, dan saya sadar saya terlambat, lalu bergegas-gegas terburu-buru, seseorang seperti saya keluar lagi dari tubuh saya, dan berkata, rasakno...
hihi. lucu juga membayangkan ada manusia seperti saya yang membawa sifat baik dan sifat buruk tinggal dalam tubuh saya.
mungkin karena kebiasaan saya yang menunda ini, yang membuat saya sering menyalahkan jarum jam yang terlalu cepat berputar. padahal aslinya memang saya yang males.
ah, udahlah, hari saya mau pergi nyari mp3 bajakan sama adik saya. gak terlalu penting, tapi gak akan tertunda lagi. hihihi.
wake up
tentu saja lebih menyenangkan bersembunyi dibawah selimut daripada bangun dipagi yang dingin luar biasa dan menemui-Nya. tentu saja lebih menyenangkan bergelut dengan mimpi-mimpi daripada bangun dan membuat mimpi-mimpi itu menjadi berkaki. tentu saja lebih mudah terus memejamkan mata, memeluk guling lebih erat dan membiarkan waktu menyelinap daripada bangkit dari tempat tidur dan menyelesaikan apa-apa yang belum selesai.
tapi hidup selalu membutuhkan pergerakan. kartini. soekarno. diponegoro. ahmad dahlan. dan orang-orang yang membuat perubahan. dan orang-orang yang melawan kantuk tiap pagi untuk bangkit dan melakukan pergerakan.
bagaimanapun, inilah kehidupan. kau tak akan bisa mengalahkan siapa-siapa, sebelum kau kalahkan dirimu sendiri.
CHANGE!. get up and do what has to be done!.*
*tulisan di sampul proposal dari sbuah universitas di seputaran babarsari.
bangun, yuk!. :D
tapi hidup selalu membutuhkan pergerakan. kartini. soekarno. diponegoro. ahmad dahlan. dan orang-orang yang membuat perubahan. dan orang-orang yang melawan kantuk tiap pagi untuk bangkit dan melakukan pergerakan.
bagaimanapun, inilah kehidupan. kau tak akan bisa mengalahkan siapa-siapa, sebelum kau kalahkan dirimu sendiri.
CHANGE!. get up and do what has to be done!.*
*tulisan di sampul proposal dari sbuah universitas di seputaran babarsari.
bangun, yuk!. :D
Juli 10, 2010
pergi atau bertahan
saya heran. bgmana mungkin orang2 bisa memikirkan byk hal dalam satu waktu. pekerjaan, keluarga, hubungan asmara, kemasyarakatan, sosial, politik dll. sedang saya tidak bisa. jangankan hal2 itu, memikirkan satu hal yg bernama pekerjaan saja sukses membuat saya terbayang-bayang sepanjang malam. selalu bgtu. setiap sy bekerja dan mengerahkan sgala daya upaya sy utk pekerjaan, maka sya tdk akan bsa melepaskan diri darinya. dimanapun sy berada, saya selalu memikirkannya. jauh lbh dalam dari apapun.
mungkin karena latar belakang ekonomi yg kurang baik pd awalnya, hingga mempunyai pekerjaan adl sgalanya bg saya. gak masalah saya gak punya apa2 lagi, kalo saya yakin, nanti akhr bulan, saya punya gaji yg bsa sya andalkan. sdikit skalipun. dan untuk orang dg latar belakang ekonomi seperti saya, tidak ada orang lain yg bsa diandalkan kecuali diri sendiri. jadi dalam keadaan apapun, situasi sesulit apapun, hal yg paling mutlal saya miliki adalah: pekerjaan.
mungkin smuanya akan baik2 saja kalau sgalanya berjalan sebagaimana mestinya. tapi saat satu tatanan diubah, dan perubahan itu tidak sesuai dg hati saya, maka saat melaksanakannya, hati saya seperti tercabik-cabik. baru 4 hari dan rasanya saya hampir tak tahan.
aneh rasanya melakukan hal2 yang tidak sehati. seorang teman bahkan mengatai saya bebal karena saya selalu ngeyel pada hal2 yg tidak cocok dg hati saya.
saya memang ngeyel, dan saat pengeyelan saya tidak berpengaruh pada apa2, saat saya tidak bisa merubah apa-apa, saat saya melakukan hal-hal yg berbenturan dengan hati saya, maka pilihanya cuma dua: pergi atau bertahan.
seandainya pilihan itu bukan pada hal paling krusial dalam hidup saya, mungkin mudah mengambil keputusan. tapi, ah, sudahlah. mungkin saya hanya terlalu banyak mengeluh saja...
mungkin karena latar belakang ekonomi yg kurang baik pd awalnya, hingga mempunyai pekerjaan adl sgalanya bg saya. gak masalah saya gak punya apa2 lagi, kalo saya yakin, nanti akhr bulan, saya punya gaji yg bsa sya andalkan. sdikit skalipun. dan untuk orang dg latar belakang ekonomi seperti saya, tidak ada orang lain yg bsa diandalkan kecuali diri sendiri. jadi dalam keadaan apapun, situasi sesulit apapun, hal yg paling mutlal saya miliki adalah: pekerjaan.
mungkin smuanya akan baik2 saja kalau sgalanya berjalan sebagaimana mestinya. tapi saat satu tatanan diubah, dan perubahan itu tidak sesuai dg hati saya, maka saat melaksanakannya, hati saya seperti tercabik-cabik. baru 4 hari dan rasanya saya hampir tak tahan.
aneh rasanya melakukan hal2 yang tidak sehati. seorang teman bahkan mengatai saya bebal karena saya selalu ngeyel pada hal2 yg tidak cocok dg hati saya.
saya memang ngeyel, dan saat pengeyelan saya tidak berpengaruh pada apa2, saat saya tidak bisa merubah apa-apa, saat saya melakukan hal-hal yg berbenturan dengan hati saya, maka pilihanya cuma dua: pergi atau bertahan.
seandainya pilihan itu bukan pada hal paling krusial dalam hidup saya, mungkin mudah mengambil keputusan. tapi, ah, sudahlah. mungkin saya hanya terlalu banyak mengeluh saja...
Langganan:
Postingan (Atom)