Maret 08, 2008

kebangetan

Saya pikir, saya benar2 kebangetan. Saya berpikir, saya selalu ngebut, sehingga saya bepikir, saya melakukan pekerjaan dengan cepat. namun tidak teliti, namun banyak salahnya, saking ngebutnya, sampai saya merasa saya kekurangan waktu untuk diri saya sendiri. Saya merasa jarang melakukan hobi saya, waktu tidur saya begitu berkurang, jarang jalan2 dan seneng2 sendiri, dan jarang pulang menengok keluarga saya. Padahal semua salah saya, saya memang selalu ngebut, dan berusaha cepat. Tapi saya selalu ngebut di saat2 terakhir, jadi ya semua malah jadi berantakan dan enggak jadi

Jadi gimana menghilangkan kebiasaan buruk saya? Padahal saya nempel tulisan 'jangan tunda apa yang bisa kamu kerjakan hari ini', lho.... Rasanya cuma jadi sekadar penghias kamar aja, ya?

Tapi, saya janji, kok, Saya akan berubah. Saya akan mengerjakan pekerjaan saya tepat waktu, mengumpulkannya tepat waktu, tidak mengarang2 alasan2 aneh, datang tepat waktu, tidak menunda2 waktu, mengerjakan semua saat ini juga. yak, saya berjanji, tapi mulai bulan depan

lho, kok masih di tunda lagi?. mulai sekarang, ding. hehe

Maret 04, 2008

kangen ibu


Malam itu aku melihat ibu
Bersimpuh, sambil
Memegangi tasbihnya
Pipinya basah oleh airmata

Malam itu aku hanya mengintip
Dari tirai lusuh yang menjadi sekat
Antara kamar tidur
Dan kamar tamu
Ia berdoa disana
Aku benci melihat ibu menangis
Aku benci melihat air matanya
Karena itu berarti
Aku tak dapat
Membunuh luka dihatinya
dengan cinta, ika,

Maret 02, 2008

mangkel saja

Sejak pertama kali saya melihat belahan jiwamu, itu, mbak, entah kenapa saya enggak menyukainya. Padahal itu sudah hampir 2 tahun yan lalu. Dan sampe sekarang saya masih juga tidak suka. Kadang dia menjemputmu, tidak pernah tersenyum, tidak pernah turun dari motornya untuk sekedar berbasa-basi. Atau bahkan sekedar menerik kaca helmnya keatas, sehingga jami bisa melihat wajahnya pun tidak pernah. Kamu sering menceritakakn kebaikan-kebaikan hatinya, dan saya mengangguk dan bilang, 'wah', 'oh', 'asik ya', 'waduh', sambil tersenyum pura-pura. Saya tahu kamu senang dan mencintainya. Tapi tiap saya ingat wajahnya yang selalu mengeryit kesal karena menunggumu, atau cengiran lebarnya waktu dia muncul, setelah kamu menunggunya berjam-jam, saya tau, saya masih tidak menyukai pacarmu itu.

Puncaknya adalah sore ini, Saya sudah ngebut lho, dari pogung ke concat, hanya karena kamu sms minta tolong dibelikan mie ayam. Padahal saya dari kemarin belum mandi, dan ingin mandi, padahal saya sudah membeli detergen untuk menyikat baju saya yang kesiram minyak tanah. Tapi karena saya dan malaikat-malaikat cantik disini ingat bahwa kamu punya penyakit maag akut, saya langsung melupakan itu semua dan pergi ke tempatmu. Kami semua tidak mau kamu sakit lagi.

Tapi lihat, saya baru saja meletakkan makananmu itu dan pergi membeli sabun mandi, kamu sudah mengirim sms bahwa masmu yang guanteng itu sudah menjemput, dan sudah marah2 ingin cepat2 mengajakmu pergi.

Ketika saya sampe di tempatmu lagi, kamu langsung pergi. Dan saya kaget sekali melihat mie ayammu sudah kau tuang ke mangkuk, belum tersentuh sedikitpun, dan kamu meninggalkannya begitu saja. Dan mangkelnya, ketika saya memanggilmu lagi, kamu malah menyuruh saya diam dengan menempelkan jari telunjukmua ke bibir. Dan cowok yang katamu paling baik hati dan paling berbakti pada orang tua sedunia itupun tidak berhenti kembali, atau bahkan tidak menarik kaca helmnya keatas. Apa dia tidak tau kalo kamu punya penyakit maag? Apa dia tidak tau kalo seharian kamu belum makan? Apa dia tidak mikir kalo nanti mie itu akan terbuang percuma?

Memangnya kamu tidak ingat, kamu pernah menunggunya berjam-jam di kantor, sampe saya tidak tahan untuk tidak meledekmu, dan dia datang sambil cengar-cengir? Memangnya kamu tidak ingat, saat akhirnya kamu saya antar pulang, karena ternyata sampe jauh malam dia tidak datang?

Kenapa sih keegoisannya enggak kamu balas? Dia kan hanya laki-laki yang kamu kenal 2 tahun terakhir ini. Tuhan, sebenarnya terbuat dari apa sih hati temanku ini?

Oke, saya memang membenci pujaan hatimu itu, saya juga benci suami kakak saya saya benci suami tante saya, suami budhe saya suami ibu saya, kakek saya, suami teman saya, dan saya juga membenci orang yang ada dipojok hati saya saat ini. Tapi di lain pihak, saya membenci tindakan kamu, kakak saya, tante saya, ibu saya, nenek saya, teman saya, dan diri saya sendiri. Saya tidak tau bagaimana cinta bisa membuat orang normal menjadi orang berkelakuan aneh. Jadi penurut, rela disuruh2, di bentak2, rela mengorbankan apa saja untuk mereka, bahkan sebagian dari mereka rela diam, mengaku bersalah, pura-pura sabar, pura-pura tidak terjadi sesuatu, hanya supaya pasangannya tau bahwa mereka mencintainya. Tapi, mencintai tidak selalu mengalah, kan?

Saya benci pacarmu itu, mbak, karena menurut saya, dia egois. Kenapa sih dia tidak mau menunggumu makan dulu?. Toh, sekatennya belum pergi kemana-mana. Saya benci kamu juga, karena kok mau-maunya mengalah pada keegoisannya. mau-maunya berpura-pura tidak mengorbankan sesuatu yang penting untukmu. Oh iya, saya juga membenci manusia yang sering hadir pada lamunan saya, karena entah bagaimana dia bisa membuat saya berjanji untuk membersihkan kamar setiap kedatangannya. Dia juga bisa memaksa saya untuk mandi dan berpakaian rapi dan bersih setiap kedatangannya. Saya benci karena kalo ada Dia, saya harus rela memakan sayuran yang ada dipiring. tapi, saya kadang juga iba pada laki-laki baik itu, ketika tahun baru yang pasangan lain sedang menikmati kembang api, dia malah saya ajak untuk mengambil cucian. ketika dia saya suruh jalan-jalan dulu sendiri, karena pekerjaan saya belum selesai, ketika dia harus menunggu saya berjam-jam, karena saya sedang ada entah di jogja bagian mana ketika dia datang ke kos saya. Atau ketika dia harus membayar 3 porsi makanan ketika pergi makan dengan saya.

Satu sama, kan? Sedang kamu, kenapa sih harus selalu mengalah? Atau pengetahuan saya terbatas sekali hingga saya tidak pernah melihat dia berkorban untukmu? Atau mungkin dia benar2 baik seperti yang kamu ceritakan? Saya tidak tahu. Tapi, mbak, please, jangan sampe saya tau kalo kamu dipecundangi, jangan sampai saya tau kamu kamu harus mengalah lagi. Kerena saya benci tidak bisa berbuat apa-apa untukmu.

Maafkan saya yang sok ikut campur ini, ya. Tapi sungguh, melihatmu terlalu menyayanginya kadang membuat saya ingin membunuhnya. Ya, saya tau saya tidak berhak.

Kalo suatu saat kamu membaca ini, kamu boleh marah, datangi saja saya, kapan saja kamu mau. Mungkin pengetahuan saya tentang cinta dangkal sekali. Tapi menurut saya, kalo saya tidak salah, cinta tidak akan membuat kita sakit maag.

Ah, ini hanya sekadar mangkel aja, sambil nungguin dryer yang tak kunjung menyala. Hey, penghasil rupiah, kapan akan membuat ruangan ini menjadi seperti dineraka lagi?



sambil keselak mi, iya, saya kan tidak akan membuat mi itu menjadi mubazir, kan =)

Februari 29, 2008

pengen muntah.........

Ada 2 opsi, jadi karyawan dengan jabatan tinggi di perusahaan kecil, atau jadi karyawan rendah di perusahaan besar?. Saat ini saya milih yang kedua. Karena itu berarti, kamu enggak perlu mikirin kantormu terlalu banyak, enggak perlu enggak enak ati kalo mau cabut, enggak perlu terlalu mengambil hati pada apa yang terjadi di sekitar tempat kerjamu, enggak sungkan2 kalo mau demo, atau menuntut apa ajah. Ya, kan?
Enggak seperti saya saat ini.

hhhhhh, Saya ingin tidur, 3 minggu, dan begitu bangun, saya sudah jadi vampire, jadi enggak usah bekerja, tidur di siang hari, malamnya pergi mencari mangsa untuk dihisap darahnya. *beginilah kalo terlalu banyak baca Buffy*

Februari 26, 2008

gak ada judul

libur. Tidur dari siang sampe maghrib. Buffy the Vampire salayernya akhirnya habis sudah. Saya sering membeli novel rijeck di minggu pagi, dan biasanya di hari selasa saya sudah menghabiskan semua novel itu. Tapi, minggu ini, karena saya selalu pulang malam, sudah terlalu capek untuk membaca novel, ditambah lagi tiap tengah malam, kaki saya selalu kram, rasanya sakit dan tidak karuan, sama seperti saat saya masih ngenger sebelum melarikan diri dari rumah budhe saya. Saya ingat, rasa sakit itu muncul saat saya terlalu capek dan tertekan. mungkin juga karena terlalu banyak kolesterol. Jadinya sampe hari minggu lagi, sampe saya beli 2 novel rijeck lagi (karangan sophie kasela, atau kisela, entahlahm saya lupa namanya, dan meg cabot, pesenan temen saya), saya belum juga menyelesaikan novel itu. Padahal harapan saya setiap siang hari adalah, pulang kerja normal, beli es teh seplastik penuh, bikin indomie dengan 2 telur, satu di goreng, satu lagi dicampur di mienya, setel geronimo, tengkurap, dan menghabiskan semua novel misteri saya. haha, kadang2 memang orang yang terlalu banyak keinginan harus bersiap-siap untuk kecewa.....
Saya bangun, duduk, lalu tidur lagi. Benar2 tidak produktif, bahkan keluar untuk membeli air yang sudah kosong berminggu-minggu pun, rasanya malas sekali. membeli makanan juga malas. cuci piring juga. waduh, rasanya kok seperti di gigit lalat tse-tse. Padahal, kemarin rencananya mau pulang, membuat pizza indomie untuk adik-adik, membeli sterofoam untuk agung, donat untuk riski, parfum untuk eneng, dan membeli roti sobek untuk mbah simak. Tapi semuanya enggak jadi. dari yang rencananya mau naik prameks jam 9 enggak jadi, karena mbak in enggak bisa buka pintu, terus mau naik pasundan jam 12, enggak jadi lagi karena malas. Lalu mau naik prameks sore, enggak jadi karena tidur, mau naik kereta selanjutnya, sudah kehilangan mood karena pasti hanya bakal mung saknyuan dirumah. Yang ada pasti cuma gondok, karena belum tuntas kangennya. Ya akhirnya hanya di kota berhati nyam2 ini, melanjutkan baca novel , dan keluar juga beli air, karena sudah kehausan.
Kebiasaan buruk: suka menunda-nunda pekerjaan, akhirnya malah enggak jadi semua.

Februari 23, 2008

siang. dan beberapa hari ini tidak tidur puas. Dan sebel. dan pengen namgis. Hanya karena pekerjaan. Saya heran, kok ya ada orang yang begitu egois. masak saya harus balik lagi, hanya karena mobil mau dipake. Kadang, saya muak berurusan dengan orang egois.

Februari 21, 2008

mengenang phanter

saya sudah melihatnya
di basement saphir square. pas saya bayar telphon kemarin.
biru, cantik, kuat, nyaman
persis seperti impian saya.
setangnya biru, sadel hitam. dengan besipenyangga biru, ada gir gigi di setang kanannya, keranjang warna hitam di depan. Masih berbungkus plastik. Saya sampe kebayang-bayang terus.
Tunggu, ya, hanih, tunggu sampe saya enggak terancam tunawisma dulu, tunggu sampe bisa bayar ongkos kursus dulu. tunggu, ya. nanti kalo semua sudah selesai, kamu boleh tinggal di depan kamar kos saya yang sempit. Kita akan berpetualang kemana saja rodamu bergulir. kita bisa kemana-mana tanpa ada bensin yang keluar. ya kan? paling cuma makanku yang makin banyak. hehe
Tapi, hanih, secantik apapun kamu,kamu enggak akan bisa menggantikan phanterku tercinta, yang sudah menemani hari2 penuh perjuangan bersama keringat yang selalu mengucur deras. Nanti, kalo kamu sudah ada di rumah, kamu harus berkenalan pada Phanter. Kamu harus menghirmatinya,meski harganya hanya 60 ribu, bekas, beli dipasar terban. Tapi kamu harus tahu,hanih, Dia sudah menghasilkan berjuta-juta rupiah hingga bisa membiayai kebutuhan sekolahku. Dia sudah menempuh jarak beratus2 kilo. gramedia-gowongan-dagen. terban-jec-dagen. jalan mataram-gedong kuning-dagen. jalanmataran-condong catur-dagen. belum lagi, jalan mataram-demak ijo-dagen. kalo sekarang phanter, calon kakakmu itu, terongggok lesu di rumah Oomku, itu sungguh bukan salahnya, semua salahku, hingga aku takpernah punya waktu dan tenaga untuk merawatnya kembali. semua salahku hingga kini dia berganti setang menjadi setang sepeda jengki, padahal tadinya setangnya lurus.
Jadi ingat, dulu, setiap pagi, jam 6, saya menuntun phanter keluar dari kos2an, mengajaknya pergi bekerja, menyusuri jalan solo, masih pagi dan dingin. Kadang juga mengajaknya ke KR, melihat lowongan kerja. Kemudian siangnya saya pacu lagi untuk mendatangi alamat2 yang tertera. Malamnya saya ajak dia kekampus, belajar bersama saya, meski buruk rupa, saya tidak pernah menaruhnya di deretan2 sepeda bermotor, saya selalu menaruhnya di parkiran mobil. E, siapa tau bisa nggores cat mobil teman2 dan dosen2 saya, hehe...
waktu itu, si Phanter seperti sahabat setia, tidak mengeluh, tidak protes, tidak marah2.
Jadi, hanih, nanti kalo kamu tinggal bersama kami. kamu jangan sombong, ya, kamu memang mahal, bahkan untuk membelimupun, aku harus menabung dulu. Kamu harus menghormati Phanter, dimanapun dia berada. karena Dia dibeli dengan gaji pertamaku. Dia sangat berarti bagi saya.
Hanih, semoga tidak ada yang menyukai kamu, ya. Jadi nanti, kalo uang saya sudah cukup. saya bisa membeli kamu. ya kan?



untuk phanter, maafkan mama, ya,jarang menengok kamu. nanti, kalo ada waktu luang, mama bawa kamu pulang kembali. tunggu, ya,