ayah, siapapun engkau, bolehkan aku memanggilmu ayah? aku tak pernah mengenalmu, tak pernah tau wajahmu, tak pernah tau bagaimana engkau sampai kau tiada. tapi, bolehkah aku tetap memanggilmu ayah? jika boleh, aku akan melanjutkan surat ini.
ayah, siapapun engkau, aku ingin bertanya, kenapa kau meninggalkan aku? kenapa hanya aku diantara anak-anak ibu yang tidak punya ayah? kenapa kau tidak ingat pernah punya putri aku?
ayah, berat sekali hidup tanpamu di dunia ini. tak pernah ada yang membelaku saat anak-anak nakal itu melempariku dg batu. tak ada yang yang menjemputku saat pulang berkemah, padahal smua anak dijemput ayahnya. tak ada yang mendukungku dipundak, padahal smua anak pernah merasakannya. tak ada yang bisa kusambut pulang disore hari, padahal smua kawanku melakukanya untk ayahnya.
ayah, kau tau, ibu hanya sibuk dg adik2 yg punya ayah. dan sesayang-sayangnya ayah adik2 padaku, aku tau aku diperlakukan beda.
ayah, tadinya kupikir tak masalah hidup tanpamu. aku bisa melakukan segalanya sendiri. tapi saat aku sendirian, kau tau ayah, aku sungguh merindukanmu. aku mengutukmu, aku membencimu, aku menyalahkanmu atas semuanya. tapi lebih dari itu semua, ayah, aku sungguh-sungguh merindukanmu. aku memaafkan semua hal buruk yang pernah kau lakukan padahal aku tau kau begitu jahat padaku.
ayah, aku tak tau kau seperti apa. tak tau kau bagaimana, tapi aku berharap kau datang malam ini.
peluk aku, ayah. dalam mimpipun tak apa.
salam sayang,
putrimu
anita melipat suratnya dan memasukkan ke dalam amplop putih. ibu guru membagi-bagikan perangko untuk masing-masing anak. petugas pos yang baik hati membantu anak-anak menulìs alamatnya sendiri di amplopnya masing-masing.
ibu guru ingin anak-anak menulis surat untuk ayahnya kemudian dikirim kerumah masing-masing. ibu guru ingin anak-anak tau surat menyurat konvensional itu benar-benar ada. bukan hanya sejarah.
ibu guru sampai di meja anita, dan menemukan anak ìtu belum menuliskan alamat di amplopnya.
'anita, tulis alamat rumahmu di amplop'
'tapi, bu, ini surat untuk ayah. ayah tidak tinggal dirumah'
'lalu, dimana ayahmu tinggal?'
anita menunduk, air mata menetes di pipinya
'aku tak tau dimana ayah tinggal, buguru'
Juli 16, 2011
Juli 09, 2011
kusuma negara lepas tengah malam
lepas tengah malam, saya melintasi jalan kusumanegara seorang diri, merasakan hembusan dingin angin malam menyentuh kulit. menyaksikan warung-warung tenda mulai membenahi dagangannya, bersiap hendak pulang. mereka membentangkan tendanya di aspal, lalu melipatnya. salah seorang dari mereka mencuci perkakas di atas lubang got. kira-kira, apa yang ia pikirkan?
bapak-bapak becak mulai memasang kayu di depan becaknya, memasang sebongkah batu di depan masing-masing roda becaknya. membungkus dirinya dengan sarung, kemudian meringkuk dibecaknya. diganjal kayu agar ia tak jatuh. kira-kira apa yang dipikirkannya? apakah pikirannya sama dengan apa yang saya pikirkan?
lalu ada bunyi itu. krincing-krincing-krincing. setiap malam. setiap melewati jalan ini lepas tengah malam saya selalu berpapasan dengannya. pengemis tua, buta, berpeci miring, bertelanjang kaki. menyeret-nyeret harta bendanya yang terbungkus tas kresek hitam. setiap berjalan selalu menghentakkan tongkat berloncengnya ketanah. krincing-krincing-krincing. entah apa yang dipikirkannya...
saya melaju perlahan. merasakan angin malam yg masuk kedalam baju, dan menyentuh kulit saya. saya kembali memikirkan pertanyaan itu. pertanyaan yang selalu muncul saat saya sendirian: apa yang kau cari, ka?
: hehe. aslinya saya gak memikirkan apa-apa setiap melewati jalan kusuma negara tengah malam. saya sudah terlalu ngantuk.
:D
bapak-bapak becak mulai memasang kayu di depan becaknya, memasang sebongkah batu di depan masing-masing roda becaknya. membungkus dirinya dengan sarung, kemudian meringkuk dibecaknya. diganjal kayu agar ia tak jatuh. kira-kira apa yang dipikirkannya? apakah pikirannya sama dengan apa yang saya pikirkan?
lalu ada bunyi itu. krincing-krincing-krincing. setiap malam. setiap melewati jalan ini lepas tengah malam saya selalu berpapasan dengannya. pengemis tua, buta, berpeci miring, bertelanjang kaki. menyeret-nyeret harta bendanya yang terbungkus tas kresek hitam. setiap berjalan selalu menghentakkan tongkat berloncengnya ketanah. krincing-krincing-krincing. entah apa yang dipikirkannya...
saya melaju perlahan. merasakan angin malam yg masuk kedalam baju, dan menyentuh kulit saya. saya kembali memikirkan pertanyaan itu. pertanyaan yang selalu muncul saat saya sendirian: apa yang kau cari, ka?
: hehe. aslinya saya gak memikirkan apa-apa setiap melewati jalan kusuma negara tengah malam. saya sudah terlalu ngantuk.
:D
Juni 09, 2011
aku ingin selingkuh saja
aku berbaring di ranjang dg mata nyalang. disampingku berbaring ben, kekasihku. sudah 3 minggu ini ben tinggal diapartemenku. ia baru saja resmi bercerai dg istrinya, eliza, sementara hak asuh ranti -putri semata wayangnya yg berusia 15 thn- jatuh pada eliza, sampai ranti berumur 20 tahun & bisa memutuskan akan ikut siapa.
awalnya ak bahagia dg kabar ini.
aku dan ben berkenalan 3 tahun yg lalu, saat aku dipindahkan kekota ini oleh kantorku, dan menjadi staff ben. ben berusia 43 dan aku 24 waktu itu. kami sering berinteraksi dan makin dekat. sampai2 kami susah menerjemahkan hubungan kami. hubungan ben dan eliza sudah mulai buruk sejak itu. -tentu ben berkeras hubungan mereka sudah buruk sblm aku datang. tapi aku kan tau diri juga- setelah 2 tahun menjalani hubungan dg sembunyi2, perceraian ben dg istrinya benar2 membuatku bahagia. sekarang ak tak perlu lagi pura2 cuek dg ben di kantor, sembunyi-sembunyi makan malam, atau pergi ke luar kota hanya untuk bermesraan. tidak ada lagi perasaan bersalah pada eliza karena skr toh ben sudah bukan miliknya lagi.
menyenangkan!
seminggu ini kami benar2 seperti sepasang remaja yg sdg jatuh cinta. kepantai di sore hari. jalan kaki ke foodcourt untk makan siang sambil bergandengan tangan, makan malam romantis, dan bercinta setiap malam sampai kelelahan.
tidak perlu sembunyì2, waswas takud ketahuan dan pikiran penuh beban. smua terasa mudah.
yeah, menyenangkan. pada awalnya.
tapi setelah 2 minggu berlalu, ak merasa ada yang hilang. smua terlalu mudah hingga terasa hambar. rasanya ak lebih menikmati hubungan yg sembunyi2 seperti kemarin. aliran adrenalin, perasaan takud ketahuan, sensasi was-was, ciuman2 singkat sambil sembunyi2. tiba2 aku menyadari, ternyata hal2 menegangkan seperti itulah yg membuatku bergairah. membuatku merasa mencintai ben.
aku harus meninjau kembali perasaanku pada ben. apa aku benar2 mencintainya, atau hanya menikmati sensasi2 menegangkan saat berselingkuh dengannya. rasanya tak adil bila ben harus melepaskan eliza, perempuan yg benar2 mencintainya hanya untuk aku, perempuan yg hanya menginginkan sensasi2 menegangkan dan tak tau benar-benar mencintainya atau tidak.
aku memiringkan badanku, menatap wajah ben, dan menghapus keringat di dahinya. ak ingin berselingkuh saja, bukan mendapatkan ben seutuhnya. terlalu mudah. kurang menantang.
awalnya ak bahagia dg kabar ini.
aku dan ben berkenalan 3 tahun yg lalu, saat aku dipindahkan kekota ini oleh kantorku, dan menjadi staff ben. ben berusia 43 dan aku 24 waktu itu. kami sering berinteraksi dan makin dekat. sampai2 kami susah menerjemahkan hubungan kami. hubungan ben dan eliza sudah mulai buruk sejak itu. -tentu ben berkeras hubungan mereka sudah buruk sblm aku datang. tapi aku kan tau diri juga- setelah 2 tahun menjalani hubungan dg sembunyi2, perceraian ben dg istrinya benar2 membuatku bahagia. sekarang ak tak perlu lagi pura2 cuek dg ben di kantor, sembunyi-sembunyi makan malam, atau pergi ke luar kota hanya untuk bermesraan. tidak ada lagi perasaan bersalah pada eliza karena skr toh ben sudah bukan miliknya lagi.
menyenangkan!
seminggu ini kami benar2 seperti sepasang remaja yg sdg jatuh cinta. kepantai di sore hari. jalan kaki ke foodcourt untk makan siang sambil bergandengan tangan, makan malam romantis, dan bercinta setiap malam sampai kelelahan.
tidak perlu sembunyì2, waswas takud ketahuan dan pikiran penuh beban. smua terasa mudah.
yeah, menyenangkan. pada awalnya.
tapi setelah 2 minggu berlalu, ak merasa ada yang hilang. smua terlalu mudah hingga terasa hambar. rasanya ak lebih menikmati hubungan yg sembunyi2 seperti kemarin. aliran adrenalin, perasaan takud ketahuan, sensasi was-was, ciuman2 singkat sambil sembunyi2. tiba2 aku menyadari, ternyata hal2 menegangkan seperti itulah yg membuatku bergairah. membuatku merasa mencintai ben.
aku harus meninjau kembali perasaanku pada ben. apa aku benar2 mencintainya, atau hanya menikmati sensasi2 menegangkan saat berselingkuh dengannya. rasanya tak adil bila ben harus melepaskan eliza, perempuan yg benar2 mencintainya hanya untuk aku, perempuan yg hanya menginginkan sensasi2 menegangkan dan tak tau benar-benar mencintainya atau tidak.
aku memiringkan badanku, menatap wajah ben, dan menghapus keringat di dahinya. ak ingin berselingkuh saja, bukan mendapatkan ben seutuhnya. terlalu mudah. kurang menantang.
Mei 29, 2011
hampir babak belur
jangan berurusan dengan orang mabuk. itu pelajaran yang saya dapatkan malam ini. hari ini seharusnya menjadi hari yang menyenangkan. tapi, siapa sangka dipenghujung hari saya malah mengalami kejadian yang kurang menyenangkan.
-jadi malam itu saya sedang bekerja bersama teman-teman, saat dua orang teler mulai sliwar-sliwer di depan tempat kerja saya. seperempat jam lagi kami akan tutup.
-dua orang pemabuk itu adalah warga kampung setempat. saya tidak tau kalo ternyata salah seorang dari mereka membawa senjata tajam. mereka mulai masuk dan petantang-petenteng.
-pikiran saya mulai buruk. mereka mulai meminta makanan gratis, dan saya menolak memberi.
-mereka mulai mengoceh macam-macam.
-saya mulai emosi dan menyuruh mereka pergi.
-mereka tersinggung, saya makin tinggi, salah seorang dari mereka mulai mengeluarkan senjata, saya bergegas mengambil pisau di konter minuman.
-mendengar saya ribut dibawah, koki kami -yang asli penduduk kampung tersebut- turun dan melerai kami.
-koki kami membawa manusia-manusia teler itu menjauh. beberapa penduduk kampung datang untuk menanyakan apa yg terjadi.
-setengah jam setelah kejadian, disinilah saya berada. masih deg-deg an, berbaring diruangan karyawan, dan menulis ini dg hape saya. bahkan tangan saya masih gemetaran.
meladeni pemabuk memang hal paling tolol yang pernah saya lakukan. tidak bisa menahan diri saat emosi juga hal bodoh. tapi saya kan gak akan pernah tahu kalo tidak mengalaminya sendiri. yah, setidaknya ini adalah pengalaman yang memperkaya jiwa. :D
-jadi malam itu saya sedang bekerja bersama teman-teman, saat dua orang teler mulai sliwar-sliwer di depan tempat kerja saya. seperempat jam lagi kami akan tutup.
-dua orang pemabuk itu adalah warga kampung setempat. saya tidak tau kalo ternyata salah seorang dari mereka membawa senjata tajam. mereka mulai masuk dan petantang-petenteng.
-pikiran saya mulai buruk. mereka mulai meminta makanan gratis, dan saya menolak memberi.
-mereka mulai mengoceh macam-macam.
-saya mulai emosi dan menyuruh mereka pergi.
-mereka tersinggung, saya makin tinggi, salah seorang dari mereka mulai mengeluarkan senjata, saya bergegas mengambil pisau di konter minuman.
-mendengar saya ribut dibawah, koki kami -yang asli penduduk kampung tersebut- turun dan melerai kami.
-koki kami membawa manusia-manusia teler itu menjauh. beberapa penduduk kampung datang untuk menanyakan apa yg terjadi.
-setengah jam setelah kejadian, disinilah saya berada. masih deg-deg an, berbaring diruangan karyawan, dan menulis ini dg hape saya. bahkan tangan saya masih gemetaran.
meladeni pemabuk memang hal paling tolol yang pernah saya lakukan. tidak bisa menahan diri saat emosi juga hal bodoh. tapi saya kan gak akan pernah tahu kalo tidak mengalaminya sendiri. yah, setidaknya ini adalah pengalaman yang memperkaya jiwa. :D
Mei 25, 2011
aku yang datang terlambat
-tak ada yang salah dg cinta. bahkan ketika ia jatuh pd orang yg salah-
AKU melihatmu disana. terbaring ditempat tidur rumah sakit. kepalamu terbalut perban, kakimu tergantung menyedihkan, selang2 menempel ditubuhmu, dan matamu terpejam. seorang kawan mengabari kecelakaanmu subuh tadi. dan pagi ini, sebelum jam besuk dimulai, aku berdiri diluar ruanganmu, mengintip dari jendela, dan menimbang-nimbang antara masuk atau tidak.
seorang perempuan berjilbab duduk disamping pembaringanmu, quran kecil ditangannya, dan sepertinya ia sudah tak tidur semalaman. mungkin ia berdoa sepanjang malam. ia pasti istrimu. aku pernah melihat gambarnya diponselmu.
Kamu tahu, saat ini, aku ingin sekali berada diposisinya. duduk disampingmu, menggenggam tanganmu, memberikan segenap cinta kepada lelaki yg dicintai tanpa harus sembunyi2, tanpa takut ketahuan. sedang saat aku bisa memilikimu hanyalah saat kita berada di kamar hotel atau dirumahku saja. selebihnya kita tak boleh terlihat terlalu dekat. untuk kebaikan kita, katamu, dan aku menurut saja. begitulah caraku mencintaimu.
aku melihatmu mengeliat dan membuka mata perlahan. perempuan disampingmu berdiri dg sigap kemudian cepat2 membenahi sandaran kepalamu. ia tersenyum kepadamu, kau malah mengernyit kesakitan. lalu ia membelaimu dan menciumimu. mungkin ia pikir sakitmu akan berkurang dg ciumannya.
aku memejamkan mataku. pedih sekali rasanya melihat orang yg kucintai ada di hadapanku bersama istrinya, orang yang secara hukum boleh memilikimu seutuhnya. ingin sekali aku masuk, menghancurkan kemesraan kalian, dan mengatakan segalanya pada istrimu. biarlah ak menjadi perempuan kedua yang jahat, yang merebut suami orang, dan tidak berkelas. seperti yg orang2 pikirkan tentang perempuan kedua.
tapi melihat sinar mata bahagia istrimu saat kau nampak lebih baik membuatku urung melakukannya. hatinya pasti hancur bila tau apa kau lakukan di belakangnya. perempuan baik tidak pantas disakiti.
aku ingat saat kau bilang seandainya aku dtng lebih awal, mungkin segalanya tidak seperti ini. tapi siapa yg tahu kapan cinta datang, dan jatuh pada siapa? siapa yg bisa menolak bila ternyata cinta jatuh pd orang yg salah?
aku memalingkan muka dan mengusap air mata. jika ada yg harus sakit hati, maka biarlah aku saja yg sakit hati. istrimu terlalu baik untuk disakiti. jadi biarlah ak saja yang undur diri dan meniupi lukaku sendiri. maka maafkan aku tak jadi menengokmu.
(not) based on true story.
AKU melihatmu disana. terbaring ditempat tidur rumah sakit. kepalamu terbalut perban, kakimu tergantung menyedihkan, selang2 menempel ditubuhmu, dan matamu terpejam. seorang kawan mengabari kecelakaanmu subuh tadi. dan pagi ini, sebelum jam besuk dimulai, aku berdiri diluar ruanganmu, mengintip dari jendela, dan menimbang-nimbang antara masuk atau tidak.
seorang perempuan berjilbab duduk disamping pembaringanmu, quran kecil ditangannya, dan sepertinya ia sudah tak tidur semalaman. mungkin ia berdoa sepanjang malam. ia pasti istrimu. aku pernah melihat gambarnya diponselmu.
Kamu tahu, saat ini, aku ingin sekali berada diposisinya. duduk disampingmu, menggenggam tanganmu, memberikan segenap cinta kepada lelaki yg dicintai tanpa harus sembunyi2, tanpa takut ketahuan. sedang saat aku bisa memilikimu hanyalah saat kita berada di kamar hotel atau dirumahku saja. selebihnya kita tak boleh terlihat terlalu dekat. untuk kebaikan kita, katamu, dan aku menurut saja. begitulah caraku mencintaimu.
aku melihatmu mengeliat dan membuka mata perlahan. perempuan disampingmu berdiri dg sigap kemudian cepat2 membenahi sandaran kepalamu. ia tersenyum kepadamu, kau malah mengernyit kesakitan. lalu ia membelaimu dan menciumimu. mungkin ia pikir sakitmu akan berkurang dg ciumannya.
aku memejamkan mataku. pedih sekali rasanya melihat orang yg kucintai ada di hadapanku bersama istrinya, orang yang secara hukum boleh memilikimu seutuhnya. ingin sekali aku masuk, menghancurkan kemesraan kalian, dan mengatakan segalanya pada istrimu. biarlah ak menjadi perempuan kedua yang jahat, yang merebut suami orang, dan tidak berkelas. seperti yg orang2 pikirkan tentang perempuan kedua.
tapi melihat sinar mata bahagia istrimu saat kau nampak lebih baik membuatku urung melakukannya. hatinya pasti hancur bila tau apa kau lakukan di belakangnya. perempuan baik tidak pantas disakiti.
aku ingat saat kau bilang seandainya aku dtng lebih awal, mungkin segalanya tidak seperti ini. tapi siapa yg tahu kapan cinta datang, dan jatuh pada siapa? siapa yg bisa menolak bila ternyata cinta jatuh pd orang yg salah?
aku memalingkan muka dan mengusap air mata. jika ada yg harus sakit hati, maka biarlah aku saja yg sakit hati. istrimu terlalu baik untuk disakiti. jadi biarlah ak saja yang undur diri dan meniupi lukaku sendiri. maka maafkan aku tak jadi menengokmu.
(not) based on true story.
Mei 11, 2011
never give up!
menyerah hanya ada dalam kamus orang idiot
-tulisan di kaos-
Saat saya masih kelas empat atau lima sd dulu, saat saya masih belajar naik sepeda motor, saya pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. saya ingat saat itu sekitar sore hari saat saya dan kakak perempuan saya hendak mengambil motor dari parkiran. saya tidak tau kalau saya sudah memasukan gigi satu pada motor yang hendak saya kendarai saat saya mulai menstaternya. lalu, wuzzzz, motor melaju kencang tanpa terkendali. saya menjerit-menjerit ketakutan, dan orang-orang dipasar menyingkir ketakutan karena ada motor melaju tanpa kendali. untunglah ada mas-mas baik yang mengejar saya dan langsung memutar kunci kontak menjadi mati. saya dan motor jatuh bertindihan. sakit sekali. tapi sakitnya tidak seberapa dibanding malunya.
Untung motor dan saya tidak apa-apa. pulangnya saya dibonceng kakak saya sambil menangis. saya ingat waktu itu rasanya begitu frustasi. dalam hati saya berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan sepeda motor. biarlah saya selamanya tidak bisa naik sepeda motor. pikir saya, toh saya tidak punya sepeda motor. sepeda onthel saja cukup.
Tapi kemudian saya mengingkari janji saya, setiap pakdhe atau bulik saya datang membawa sepeda motornya, saya selalu menyempatkan diri untuk belajar. saya bersukur saya tidak kapok waktu itu. bayangkan kalo saya menyerah dan berjanji tidak akan menyentuh sepeda motor lagi. mungkin selamanya saya tidak akan pernah bisa naik motor.
DAN kemarin, saat saya pulang dari lokasi proyek pribadi saya, sebuah stand minuman kecil di acara musiknya mahasiswa2 sebuah universitas swasta, saya merasakan perasaan yang sama seperti bertahun-tahun yang lalu, saat sepeda motor saya melaju gila-gilaan di parkiran motor. frustasi, merasa tolol, ingin menyerah, dan tak berguna. rasanya seperti de javu.
SAYA termangu-mangu diperjalanan pulang. saya sudah mengulangnya 3 kali, dan selalu sukses. atau mugkin karena sebelumnya sukses terus, saya jadi agak shock ketika gagal. bahkan BEP pun tidak. saya masih membawa pulang gulungan-gulungan pisang coklat, berpuluh-puluh donat, es batu yang masih setermos besar, bubuk milk shake yang masih setoples dengan perasaan campur aduk.frustasi, merasa tolol, ingin menyerah dan tak berguna.
akan diapakan semua ini, pikir saya bingung. saya merasa begitu bersalah kepada teman-teman yang telah membantu saya. semalaman itu saya habiskan dengan merenung sambil memikirkan kata-kata makian kepada panitia. saya menyerah, dan tidak akan lagi iseng-iseng berspekulasi. saya akan mengambil yang aman-aman saja dengan resiko sekecil-kecilnya.
SAMPAI kemudian saya ingat saya pernah mengalami kejadian yang saya ceritakan diatas. saat perasaan frustasi dan kapok bercampur-campur.
tentu saja menyerah hanya ada dalam kamus orang-orang tolol. dan saya, menolak menjadi tolol.
menjelang subuh, saya sudah menemukan semangat saya kembali. berfikir sepositif mungkin meski keadaan sedang negatif. bukankah hujan kemarin berperan cukup besar dalam hal ini? dan bukankah bukan saya saja yang menderita kerugian, orang lain mungkin bahkan lebih besar lagi. dan yeah, ini spekulasi, kan?
sambil tengkurap di kasur menunggu pagi saya mulai membuat analisa SWOT, menghitung kerugian, mendata apa-apa saja yang bisa saya manfaatkan kembali, dan mulai hunting mencari lokasi lagi.
saya menolak kapok! tentu saja dengan amunisi siap kecewa lebih besar. siap berhasil dan siap gagal.
dua minggu kedepan, saya akan mencoba membuka stand kecil lagi. dengan semangat lebih besar, dan strategi lebih jitu. semoga besok, saya bisa menuliskannya dengan energi yang meluap-luap karena gembira. hehe.
lalu, apa kabar para pisang coklat dan donat nan lezat-lezat itu? sudah habis sekarang. siang tadi sepulang kerja, saya menggorengnya, memasukkan kewadahnya, dan membaginya kepada teman-teman dekat, pakdhe, budhe, ibu kos, tetangga-tetangga dan pak becak-pak becak di jalanan, sisanya dibawa adik saya ke kutoarjo, adik-adik, sepupu2, dan keponakan saya pesta pisang coklat tadi sore. lewat sambungan telphon, saya tau kalo mereka senang sekali.
yeaaahhhh, kekecewaan kemarin malam terbayar sudah. bahkan berlebih. mungkin akhir-akhir ini saya begitu pelit sampai harus diberi jalan seperti ini dulu supaya berbagi. hihi.
rasanya kekecewaan yang membuat saya termangu-mangu kemarin malam tidak ada artinya dibanding dengan semua senyum yang saya terima sore ini.
seperti kata de masiv, jangan menyerah! jangan menyeraaaaaaahhhh!!,
ayo, terus semangat!!
-tulisan di kaos-
Saat saya masih kelas empat atau lima sd dulu, saat saya masih belajar naik sepeda motor, saya pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. saya ingat saat itu sekitar sore hari saat saya dan kakak perempuan saya hendak mengambil motor dari parkiran. saya tidak tau kalau saya sudah memasukan gigi satu pada motor yang hendak saya kendarai saat saya mulai menstaternya. lalu, wuzzzz, motor melaju kencang tanpa terkendali. saya menjerit-menjerit ketakutan, dan orang-orang dipasar menyingkir ketakutan karena ada motor melaju tanpa kendali. untunglah ada mas-mas baik yang mengejar saya dan langsung memutar kunci kontak menjadi mati. saya dan motor jatuh bertindihan. sakit sekali. tapi sakitnya tidak seberapa dibanding malunya.
Untung motor dan saya tidak apa-apa. pulangnya saya dibonceng kakak saya sambil menangis. saya ingat waktu itu rasanya begitu frustasi. dalam hati saya berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan sepeda motor. biarlah saya selamanya tidak bisa naik sepeda motor. pikir saya, toh saya tidak punya sepeda motor. sepeda onthel saja cukup.
Tapi kemudian saya mengingkari janji saya, setiap pakdhe atau bulik saya datang membawa sepeda motornya, saya selalu menyempatkan diri untuk belajar. saya bersukur saya tidak kapok waktu itu. bayangkan kalo saya menyerah dan berjanji tidak akan menyentuh sepeda motor lagi. mungkin selamanya saya tidak akan pernah bisa naik motor.
DAN kemarin, saat saya pulang dari lokasi proyek pribadi saya, sebuah stand minuman kecil di acara musiknya mahasiswa2 sebuah universitas swasta, saya merasakan perasaan yang sama seperti bertahun-tahun yang lalu, saat sepeda motor saya melaju gila-gilaan di parkiran motor. frustasi, merasa tolol, ingin menyerah, dan tak berguna. rasanya seperti de javu.
SAYA termangu-mangu diperjalanan pulang. saya sudah mengulangnya 3 kali, dan selalu sukses. atau mugkin karena sebelumnya sukses terus, saya jadi agak shock ketika gagal. bahkan BEP pun tidak. saya masih membawa pulang gulungan-gulungan pisang coklat, berpuluh-puluh donat, es batu yang masih setermos besar, bubuk milk shake yang masih setoples dengan perasaan campur aduk.frustasi, merasa tolol, ingin menyerah dan tak berguna.
akan diapakan semua ini, pikir saya bingung. saya merasa begitu bersalah kepada teman-teman yang telah membantu saya. semalaman itu saya habiskan dengan merenung sambil memikirkan kata-kata makian kepada panitia. saya menyerah, dan tidak akan lagi iseng-iseng berspekulasi. saya akan mengambil yang aman-aman saja dengan resiko sekecil-kecilnya.
SAMPAI kemudian saya ingat saya pernah mengalami kejadian yang saya ceritakan diatas. saat perasaan frustasi dan kapok bercampur-campur.
tentu saja menyerah hanya ada dalam kamus orang-orang tolol. dan saya, menolak menjadi tolol.
menjelang subuh, saya sudah menemukan semangat saya kembali. berfikir sepositif mungkin meski keadaan sedang negatif. bukankah hujan kemarin berperan cukup besar dalam hal ini? dan bukankah bukan saya saja yang menderita kerugian, orang lain mungkin bahkan lebih besar lagi. dan yeah, ini spekulasi, kan?
sambil tengkurap di kasur menunggu pagi saya mulai membuat analisa SWOT, menghitung kerugian, mendata apa-apa saja yang bisa saya manfaatkan kembali, dan mulai hunting mencari lokasi lagi.
saya menolak kapok! tentu saja dengan amunisi siap kecewa lebih besar. siap berhasil dan siap gagal.
dua minggu kedepan, saya akan mencoba membuka stand kecil lagi. dengan semangat lebih besar, dan strategi lebih jitu. semoga besok, saya bisa menuliskannya dengan energi yang meluap-luap karena gembira. hehe.
lalu, apa kabar para pisang coklat dan donat nan lezat-lezat itu? sudah habis sekarang. siang tadi sepulang kerja, saya menggorengnya, memasukkan kewadahnya, dan membaginya kepada teman-teman dekat, pakdhe, budhe, ibu kos, tetangga-tetangga dan pak becak-pak becak di jalanan, sisanya dibawa adik saya ke kutoarjo, adik-adik, sepupu2, dan keponakan saya pesta pisang coklat tadi sore. lewat sambungan telphon, saya tau kalo mereka senang sekali.
yeaaahhhh, kekecewaan kemarin malam terbayar sudah. bahkan berlebih. mungkin akhir-akhir ini saya begitu pelit sampai harus diberi jalan seperti ini dulu supaya berbagi. hihi.
rasanya kekecewaan yang membuat saya termangu-mangu kemarin malam tidak ada artinya dibanding dengan semua senyum yang saya terima sore ini.
seperti kata de masiv, jangan menyerah! jangan menyeraaaaaaahhhh!!,
ayo, terus semangat!!
April 24, 2011
sepeda: sebuah kesederhanaan

saya menyukai sepeda. sangat suka malah. meski naik sepeda akan membuat saya keringetan dan ngos-ngosan sehingga saya tampak tidak cantik, saya tetep suka. (padahal ndak naik sepeda juga tetep aja ndak cantik. hehe) mungkin karena ada ikatan bathin yang kuat antara saya dan sepeda sehingga saya begitu mencintai sepeda. bahkan, boleh dibilang saya lebih sayang pada phanter 2 (sepeda tua warna merah saya) daripada pinky (matic pink mungil saya).
saya juga suka melihat orang-orang naik sepeda. mereka tampak jauh lebih keren bagi saya daripada orang-orang yang naik sepeda motor ato mobil. kalau teman-teman saya kemlecer dengan melihat mobil atau motor jenis tertentu, saya lebih tertarik pada sepeda ontel yang dipakai orang-orang. saya suka melihat dengan enteng orang-orang mengayuh sepedanya. rasanya menyenangkan. sederhana. menyejukkan.
saya jadi sedih kalo berpapasan dengan gerombolan pengendara-pengendara sepeda nan penuh gaya tapi congkak bukan main. jentrek-jentrek menuhin jalan dan gak mempedulikan pemakai jalan yang lain. ketawa-ketawa gak mau disalip. jalan pelan-pelan tapi di tengah-tengah jalan. duhhhhh. apa mereka merasa menyelamatkan lingkungan, jadi sok-sok an gitu, ya?
melihat mereka saya seperti merasa kesakralan sepeda menjadi hilang tanpa bekas. tidak ada kebersahajaan. tidak ada kesederhanaan. yang terlintas malah kepongahan mereka dijalanan. minta diistimewakan karena mereka merasa mereka pahlawan-pahlawan penyelamat bumi dari kehancuran. padahal ya gak gitu-gitu amatlah...
coba tengoklah orang-orang yang menggunakan sepeda karena memang mereka perlu menggunakannya. seperti mbak sutinem penjual sayur di kampung saya, pak yul yang menggoes sepedanya dari pakel baru ke gondomanan, seperti bapak-bapak yang membawa rumput dari sawah ke rumah. ato mendiang mbah kakek saya yang bertopi ala belanda tiap mau membeli tembakau rajang di pecinan. mereka tampak jauh lebih bersahaja dari mas-mas dan mbak-mbak yang naik sepeda jlentrek2 itu. saat itulah saya merasa sepeda sebagai cermin kesederhanaan. saat mereka menggunakan sepeda, karena mhttp://www.blogger.com/img/blank.gifereka membutuhkannya. bukan untuk gaya-gayaan.
iya, alasannya emang beda. saya saja yang terlalu sentimentil.sesentimentil saya kalo phanter dihina dina, ato kalo ia dijadikan cantolan mantel di parkiran. iyalah, sentimentil. lha sepeda itu, kenangannya jauh lebih mahal dari pada harganya. :D
udah, ah. udah malam. nggondug emang menyebalkan. :D
gambarnya ngambil dari sini
Langganan:
Postingan (Atom)