perempuan hampir 1/4 abad sdh tdk sabar menunggu hari ini. ia berjalan dg ringan menuju gerbang kenangan. penjaga kenangan berdiri di dpn gerbang, tersenyum, dan membukakan pintu untuknya. perempuan hampir 1/4 abad memasuki gerbang kenangan, dan melihat dirinya, setahun lebih muda, tengkurap diatas dipan bambu sambil menulis, berbaring disampingnya, wanita tua favoritnya, berusaha keras mengingat syair lagu yg ia tembangkan. sesekali keduanya tertawa-tawa saat menceritakan hal2 lucu. ia dan mbah simak, pahlawannya. waktu itu malam sudah larut, smua penghuni rumah sdh terlelap. tapi ia & mbh simak masi sibuk mencatat syair2 lagu jawa yg dulu sering ia dengar. mereka kancilen. seakan tau, bhwa malam itu adalah kali terakhir mereka tidur se-dipan.
perempuan menyusut hidungnya & mengusap sdt matanya diam2. kehilangan mbah simak slalu membuat hatinya teriris.
perempuan hampir 1/4 abad melihat dirinya lagi, dalam usia jauh lbh muda, masuk rumah lewat belakang. ia tampak kelaparan saat membuka gentong beras. sayur gori 2 hari yg lalu. tinggal semangkuk kecil. disembunyikan mbh simak dlm gentong, hanya untuknya. sayur gori paling enak didunia, dimasak sampe lunak. ia melemparkan tas & langsung makan tanpa membuka seragam. mbah simak yg hendak memasang kembali stagennya menghampiri, lalu menjewer telinganya,
'ka, sepatune dicopot ndisik, lagi maem. cah wedok ora elok ngunu kui'', katanya.
perempuan tertawa kecil mengenangnya.
ia kangen mbah simak. ia kangen dongeng2nya. kangen tangan tua yg menyuapkan nasi ke mulutnya, saat ia merecoki mbah simak makan. ia kangen jeweran-nya saat tak mau bangun pagi. kangen senyum tua didepan pintu menyambutnya pulang. kangen kedatanganya tengah malam ke kamar utk membenahi selimut & melepas kacamata yg sering terbawa tidur. kangen wajah khawatirnya saat ia plg telat, padhal ia sdh smk. kangen mencium tangannya stp pulang dr masjid. kangen lemper yg ia bwa pulang dari kondangan. kangen omelanya saat ia lupa mengisi padasan. kangen mencium pipi keriputnya tiap kali pergi ke jogja. kangen pelukannya.
kangenkangenkangen.
perempuan hampir 1/4 abad meninggalkan gerbang kenangan dg rongga dada kosong. hatinya tertinggal dirumah mbah simak.
tikus piti ingkang noto baris, kodok ijo sersane, kadal walang do jagongan. jangkrik upo tetegaran. kumonggo kang nuntun. panci tekek wis cumawis kulak sembagi. celeret kalung gumbolo.
tembang favorit saya. lucu membayangkan hewan2 itu jagongan sambil ngopi2.
Desember 16, 2009
kopi, hujan, dan sahabat
hey, mari sini. duduk sini.
kita bisa membicarakannya sambil minum kopi, bukan?. sambil melihat tirai hujan dibalik jendela. sini, berikan tanganmu.
jangan takut. ada aku. mungkin tak pernah benar-benar ada disampingmu. tak pernah benar-benar mengerti masalahmu.
tapi membangunkanku tengah malam benar-benar mengusikku. suaramu tersendat, ditingkahi isak yang susah payah kau sembunyikan.
ini telingaku. kupinjamkan untukmu. maaf tak bisa menepuk bahumu atau memelukmu. maaf karena kalimatku tak pernah menjadi lebih baik dari tahun ke tahun.
semua, pasti baik-baik saja. pasti baik-baik saja. kau tau, baik-baik saja. pasti. percayalah.
...karena sahabat adalah seseorang yang memberimu kepercayaan. apa adanya...
kita bisa membicarakannya sambil minum kopi, bukan?. sambil melihat tirai hujan dibalik jendela. sini, berikan tanganmu.
jangan takut. ada aku. mungkin tak pernah benar-benar ada disampingmu. tak pernah benar-benar mengerti masalahmu.
tapi membangunkanku tengah malam benar-benar mengusikku. suaramu tersendat, ditingkahi isak yang susah payah kau sembunyikan.
ini telingaku. kupinjamkan untukmu. maaf tak bisa menepuk bahumu atau memelukmu. maaf karena kalimatku tak pernah menjadi lebih baik dari tahun ke tahun.
semua, pasti baik-baik saja. pasti baik-baik saja. kau tau, baik-baik saja. pasti. percayalah.
...karena sahabat adalah seseorang yang memberimu kepercayaan. apa adanya...
Oktober 22, 2009
marah
Karena marah seperti menancapkan paku di tembok, yang akan selalu membekas bagaimanapun kau mencoba mencabutnya, maka sebisa mungkin saya berusaha menahan amarah saya. Dan sialnya, menahan amarah rasanya seperti naik bis bagi saya. Kepala saya pusing,dada sesak, perut seperti diaduk-aduk, lidah pahit, bahu bergetar dan saya pasti muntah.
Dan sekarang, disinilah saya, duduk menghadapi es-entah-apa-namanya-itu, mencoba mendinginkan otak, lapar (karena sarapan pagi tadi saya muntahkan semua), mata panas dan mencoba mengendalikan hasrat untuk membunuh seseorang *ya,ya, ini terlalu hiperbolis=)*.
Saya tidak tau kenapa saya bisa menjadi begitu pemarah. Bahkan beberapa teman ketika saya tanya apa kesan pertama mereka ketika melihat saya, sebagian besar mengatakan hal yang sama: pemarah. Dan saya akan menyangkalnya habis-habisan. Saya bukan pemarah, hanya bersumbu pendek, lebih pendek dari sumbu mereka.
Padahal segala hal yang terjadi diluar kendali kita hanya 10% saja, 90% lainnya adalah sikap yang bisa kita kendalikan untuk membuat hari kita tetap baik-baik saja. Dan saya sedang mencoba fokus pada 90% itu. Meski rasanya seperti naik bis, bahkan kadang rasanya seperti menahan nafas beberapa puluh detik di dalam air,hingga paru-parumu seolah hendak meledak, saya akan memilih untuk menahan amarah, paling tidak, dg bgtu,saya tidak akan melukai tembok siapapun.oh,saya lupa saya sudah janji untuk tidak membentak siapapun.
Dan aduhh, konyol skali saya berkeluh-kesah seperti abg 16 tahun yang sedang jerawatan. Seharusnya saya lebih dewasa dari ini. Tapi saya akan mencobanya. Pasti.
Dan sekarang, disinilah saya, duduk menghadapi es-entah-apa-namanya-itu, mencoba mendinginkan otak, lapar (karena sarapan pagi tadi saya muntahkan semua), mata panas dan mencoba mengendalikan hasrat untuk membunuh seseorang *ya,ya, ini terlalu hiperbolis=)*.
Saya tidak tau kenapa saya bisa menjadi begitu pemarah. Bahkan beberapa teman ketika saya tanya apa kesan pertama mereka ketika melihat saya, sebagian besar mengatakan hal yang sama: pemarah. Dan saya akan menyangkalnya habis-habisan. Saya bukan pemarah, hanya bersumbu pendek, lebih pendek dari sumbu mereka.
Padahal segala hal yang terjadi diluar kendali kita hanya 10% saja, 90% lainnya adalah sikap yang bisa kita kendalikan untuk membuat hari kita tetap baik-baik saja. Dan saya sedang mencoba fokus pada 90% itu. Meski rasanya seperti naik bis, bahkan kadang rasanya seperti menahan nafas beberapa puluh detik di dalam air,hingga paru-parumu seolah hendak meledak, saya akan memilih untuk menahan amarah, paling tidak, dg bgtu,saya tidak akan melukai tembok siapapun.oh,saya lupa saya sudah janji untuk tidak membentak siapapun.
Dan aduhh, konyol skali saya berkeluh-kesah seperti abg 16 tahun yang sedang jerawatan. Seharusnya saya lebih dewasa dari ini. Tapi saya akan mencobanya. Pasti.
Oktober 16, 2009
Sesaat lagi
Sesaat lagi kau akan mengetahui perbedaan yang halus antara bergandengan tangan dan merantai jiwa,
Dan kau akan mengetahui bahwa cinta bukan berarti sandaran, dan teman bukan berarti rasa aman,
Dan kau akan mulai mengetahui bahwa ciuman bukanlah kontrak dan hadiah bukanlah janji,
Dan kau akan mulai menerima kekalahan dengan kepala tegak, dan mata terbuka, dengan kebesaran Hati seorang dewasa, bukan dengan kemurungan anak-anak,
Dan kau akan belajar membangun semua jalanmu hari ini karena esok terlalu tak pasti untuk rencana.
Sesaat lagi kau akan mengetahui bahwa sinar matahari bisa membakar kalau kau menerimanya terlalu banyak.
Karena itu tanamilah kebunmu sendiri dan hiasilah jiwamu sendiri, daripada menunggu seseorang untuk memberimu bunga.
Dan kau akan tahu bahwa kau sungguh-sungguh dapat memikul beban……
Bahwa kau benar-benar kuat,
Dan kau benar-benar berharga,
Author unknown,
Taken from chicken soup for the soul
Dan kau akan mengetahui bahwa cinta bukan berarti sandaran, dan teman bukan berarti rasa aman,
Dan kau akan mulai mengetahui bahwa ciuman bukanlah kontrak dan hadiah bukanlah janji,
Dan kau akan mulai menerima kekalahan dengan kepala tegak, dan mata terbuka, dengan kebesaran Hati seorang dewasa, bukan dengan kemurungan anak-anak,
Dan kau akan belajar membangun semua jalanmu hari ini karena esok terlalu tak pasti untuk rencana.
Sesaat lagi kau akan mengetahui bahwa sinar matahari bisa membakar kalau kau menerimanya terlalu banyak.
Karena itu tanamilah kebunmu sendiri dan hiasilah jiwamu sendiri, daripada menunggu seseorang untuk memberimu bunga.
Dan kau akan tahu bahwa kau sungguh-sungguh dapat memikul beban……
Bahwa kau benar-benar kuat,
Dan kau benar-benar berharga,
Author unknown,
Taken from chicken soup for the soul
Oktober 02, 2009
Hujan dan Jenny
Jenny menyeruput teh hangat dari cangkirnya. Jam 04.30. Dan Ia masih ada di Lobby kantor. Beberapa menit yang lalu, Pak Slamet, OB sekaligus panjaga kantor membawakan teh hangat untuknya. Kantor tempatnya bekerja sudah sepi sejak jam 3 tadi. Hanya ada dirinya, Pak Slamet, dan Pak Satpam di Posnya.
Ia menyesal nekat menyelesaikan pekerjaannya hingga lewat jam kerja, dan akhirnya terjebak hujan dikantor. Sudah 2 kali Anto, suaminya, menelphon hendak menjemputnya pulang. Tapi Jenny berkeras tidak mau dijemput.
"jangan keluar rumah saat hujan!!" Katanya tegas pada suaminya.
Jenny benci hujan. Sangat benci. Segala hal akan ia lakukan untuk menghindari hujan. Menjelang musim penghujan, Jenny akan memanggil tukang untuk mengecek semua atap rumahnya. Ia tidak mau ada setetes air hujanpun masuk kerumahnya. Pada saat musim hujan, ia akan mendengarkan prakiraan cuaca baik-baik setiap pagi. Ia berangkat pagi-pagi sekali kalau diramalkan akan hujan menjelang siang. Bila pulang terjebak hujan, ia akan menunggunya sampai reda betul. Kalau terpaksa sekali ia harus pergi pada saat hujan, ia akan meminta suaminya untuk berkendaraan sepelan mungkin. Hingga suaminya merasa merayap. Bukan bermobil.
Jenny benci langit yang menghitam karena hujan. Ia juga benci gemuruh suara air hujan. Bila suara hujan terdengar, Jenny cepat-cepat menyumpalkan earphone ketelinganya. Ketika ada berita tentang banjir dan hujan deras, ia akan menggumam, "hujan jahat. benar-benar jahat". Meski sering diolok-olok karena menjadi orang yang paling sibuk saat musim penghujan, Jenny tidak peduli.
Hujan selalu mengingatkannya pada Kiran, sahabatnya, bertahun-tahun yang lalu, saat dunia putih abu-abu masih lekat dilaluinya.
Waktu itu hujan lebih deras dari hari ini. Petir beberapa kali terdengar. Jenny menyeret-nyeret Kiran, sahabatnya, menyusuri koridor-koridor kelas menuju parkiran. Ia harus pergi saat itu juga. Padahal anak-anak lain lebih suka menunggu dikoridor sambil duduk-duduk menunggu hujan reda. Terlalu deras untuk pulang saat itu.
"Jenny, tunggulah sampai hujan reda. Ini terlalu deras. Acarnya pasti molor." Kiran mengingatkan Jenny.
Tapi jenny berkeras.
"Ga mungkin, Kiran, penulis sekaligus artis sepopuler dia jadwalnya padat. Ga mungkin molor. Ayolah Kiran, kapan lagi kita bisa bertemu dia?" Pintanya memelas pada Kiran.
Akhirnya, Kiran, sahabatnya yang baik hati itu menurut diseret-seret ke tempat parkir motor.
Mereka berdua segera menuju ke toko buku tempat launching buku penulis favorit Jenny. Kiran membawa motor dengan pelan. Tetesan air hujan yang menghantam kaca helmya, ditambah jalanan yang licin, membuatnya agak susah melihat.
"Lebih cepat, Kiran, acaranya hanya bersisa setengah jam lagi." Desak Jenny.
"Jalanan licin, Jen, kita tak akan terlambat, kok." Teriak kiran, berusaha mengalahkan suara hujan yang menderu-deru disekeliling mereka.
Jalanan sepi. Hanya satu dua kendaraan yang nekat lewat dalam cuaca seburuk itu. Itupun kendaraan beroda empat.
Lalu semuanya terjadi begitu cepat. Tiba-tiba jenny merasakan tubuhnya terpental. Samar-samar ia mendengar suara ban berdecit beradu dengan aspal licin. Lalu suara benturan. Dan gemuruh hujan. Rasa sakit menyerangnya. Seperti ribuan jarum yang menusuk-nusuk kulit. Kepalanya terasa begitu berat. Seperti baru saja dihantam sebuah batu besar. Susah payan Jenny berusaha bangkit dan memfokuskan pandangannya yang berkunang-kunang. Tetapi guyuran hujan membuat lukanya bertambah pedih. Ia melihat tubuh sahabatnya terbaring di aspal dengan posisi yang mengerikan. Tubuhnya menggelepar di tengah kubangan warna semerah darah. Jenny merangkak tersaruk-saruk ingin menjangkau tubuh Kiran. Air hujan yang mengalir di aspal segera menjadi merah bercampur dengan darah Kiran. Jenny ingin berteriak minta tolong. Tapi tapi suranya hanya berupa dengusan. Itupun segera hilang ditelan gemuruh air hujan. Tak satupun kendaraan lewat. Semua suara tertelan gemuruh hujan. Ia benci hujan. Hujan membawa darah Kiran kemana-mana.
Tak ada yang menyalahkannya atas kematian Kiran. Tapi Jenny tak pernah bisa lari dari rasa bersalahnya. Seandainya tidak memaksa Kiran. Seandainya tidak jadi pergi. Seandainya tidak hujan. Sejak itu ia membenci hujan. Air hujan yang mengalir di aspal dalam pandangannya selalu berwarna merah. Semerah darah Kiran waktu itu.
Jenny mengusap setitik airmata disudut mata. Jam 5.10. Hujan seudah mereda. Tapi Jenny tidak segera bersiap-siap untuk pulang. Ia akan menunggu sampai hujan benar-benar reda. Perlahan Ia meraih cangkir dan menyeruput kembali tehnya yang sudah dingin. Ia melihat pak Slamet melewatinya dan membuka pintu depan.
"Jangan dibuka, pak, Nanti airnya masuk." pintanya pada Pak slamet.
"sudah reda, kok, mbak jenny, tadi bapak lihat pelangi, tapi dari belakang tidak terlalu jelas. nah, disini lebih jelas. mari kesini, mbak Jenny, ayo melihat pelangi. cantik,lho. jaman dulu, katanya, pelangi itu jembatan para bidadari. mereka mau mandi di sungai." Ujar pak Slamet tanpa menghiraukan larangan jenny.
Tak urung Jenny penasaran juga. Ia lupa kapan terakhir kali melihat pelangi. Ia mengikuti pak Slamet menuju pintu. Dan benar saja. Jenny melihat pelangi diujung sana. Melengkung setengah lingkaran. Dengan warna-warna selaras yang menawan. Jenny takjub sekali. Cantik. Tampak sangat indah dengan latar belakang biru cerah.
Tiba-tiba jenny menyipitkan matanya. Sepertinya ia benar-benar melihat bidadari turun dari langit. oh, bukan, bukan bidadari, Itu Kiran. Jenny yakin sekali. Ia tak pernah lupa pada rambut keriting dan senyum jenakanya. Ia melambaikan tangan kearah jenny. jennny ingin sekali datang kesana dan memeluk Kiran.
"Nah, cantik, kan, mbak. ini lho, yang bapak suka dari hujan. ia meninggalkan pelangi saat pergi. Seperti kehidupan ini, mbak, ga mungkin cobaan datang terus-terusan. Pasti ada berhentinya. Kalo kita sabar, nanti ada hadiah seindah pelangi menunggu kita. ckckckc, seandainya biadadarinya benar-benar ada, ya, mbak jenny..." Ujar Pak slamet diikuti tawanya yang terkekeh-kekeh.
jenny tersenyum. Pikirannya tak lepas dari Kiran. Mungkin ia tidak akan terlalu membenci hujan lagi. Ia akan menanti hujan, dan menungguinya sampai reda dengan sabar. Lalu akan memangang ke luar ruangan dan mencari pelangi dari sudut yang paling pas. Sehingga ia bisa melihat Kiran. Turun dari langit, meniti pelangi. Jenny rindu sekali pada Kiran. Pada senyum jenakanya, pada tawanya, pada olok-olokannya, pada kebaikan hatinya.
Jenny memandang kembali kearah pelangi. Ia masih melihat Kiran disana. Mengerling kearahnya. Tiba-tiba Jenny merasa dadanya begitu hangat.
***
ihhhh, penyakit susah tidur dan guyuran hujan membuat saya jadi mellow seperti ini:D
Ia menyesal nekat menyelesaikan pekerjaannya hingga lewat jam kerja, dan akhirnya terjebak hujan dikantor. Sudah 2 kali Anto, suaminya, menelphon hendak menjemputnya pulang. Tapi Jenny berkeras tidak mau dijemput.
"jangan keluar rumah saat hujan!!" Katanya tegas pada suaminya.
Jenny benci hujan. Sangat benci. Segala hal akan ia lakukan untuk menghindari hujan. Menjelang musim penghujan, Jenny akan memanggil tukang untuk mengecek semua atap rumahnya. Ia tidak mau ada setetes air hujanpun masuk kerumahnya. Pada saat musim hujan, ia akan mendengarkan prakiraan cuaca baik-baik setiap pagi. Ia berangkat pagi-pagi sekali kalau diramalkan akan hujan menjelang siang. Bila pulang terjebak hujan, ia akan menunggunya sampai reda betul. Kalau terpaksa sekali ia harus pergi pada saat hujan, ia akan meminta suaminya untuk berkendaraan sepelan mungkin. Hingga suaminya merasa merayap. Bukan bermobil.
Jenny benci langit yang menghitam karena hujan. Ia juga benci gemuruh suara air hujan. Bila suara hujan terdengar, Jenny cepat-cepat menyumpalkan earphone ketelinganya. Ketika ada berita tentang banjir dan hujan deras, ia akan menggumam, "hujan jahat. benar-benar jahat". Meski sering diolok-olok karena menjadi orang yang paling sibuk saat musim penghujan, Jenny tidak peduli.
Hujan selalu mengingatkannya pada Kiran, sahabatnya, bertahun-tahun yang lalu, saat dunia putih abu-abu masih lekat dilaluinya.
Waktu itu hujan lebih deras dari hari ini. Petir beberapa kali terdengar. Jenny menyeret-nyeret Kiran, sahabatnya, menyusuri koridor-koridor kelas menuju parkiran. Ia harus pergi saat itu juga. Padahal anak-anak lain lebih suka menunggu dikoridor sambil duduk-duduk menunggu hujan reda. Terlalu deras untuk pulang saat itu.
"Jenny, tunggulah sampai hujan reda. Ini terlalu deras. Acarnya pasti molor." Kiran mengingatkan Jenny.
Tapi jenny berkeras.
"Ga mungkin, Kiran, penulis sekaligus artis sepopuler dia jadwalnya padat. Ga mungkin molor. Ayolah Kiran, kapan lagi kita bisa bertemu dia?" Pintanya memelas pada Kiran.
Akhirnya, Kiran, sahabatnya yang baik hati itu menurut diseret-seret ke tempat parkir motor.
Mereka berdua segera menuju ke toko buku tempat launching buku penulis favorit Jenny. Kiran membawa motor dengan pelan. Tetesan air hujan yang menghantam kaca helmya, ditambah jalanan yang licin, membuatnya agak susah melihat.
"Lebih cepat, Kiran, acaranya hanya bersisa setengah jam lagi." Desak Jenny.
"Jalanan licin, Jen, kita tak akan terlambat, kok." Teriak kiran, berusaha mengalahkan suara hujan yang menderu-deru disekeliling mereka.
Jalanan sepi. Hanya satu dua kendaraan yang nekat lewat dalam cuaca seburuk itu. Itupun kendaraan beroda empat.
Lalu semuanya terjadi begitu cepat. Tiba-tiba jenny merasakan tubuhnya terpental. Samar-samar ia mendengar suara ban berdecit beradu dengan aspal licin. Lalu suara benturan. Dan gemuruh hujan. Rasa sakit menyerangnya. Seperti ribuan jarum yang menusuk-nusuk kulit. Kepalanya terasa begitu berat. Seperti baru saja dihantam sebuah batu besar. Susah payan Jenny berusaha bangkit dan memfokuskan pandangannya yang berkunang-kunang. Tetapi guyuran hujan membuat lukanya bertambah pedih. Ia melihat tubuh sahabatnya terbaring di aspal dengan posisi yang mengerikan. Tubuhnya menggelepar di tengah kubangan warna semerah darah. Jenny merangkak tersaruk-saruk ingin menjangkau tubuh Kiran. Air hujan yang mengalir di aspal segera menjadi merah bercampur dengan darah Kiran. Jenny ingin berteriak minta tolong. Tapi tapi suranya hanya berupa dengusan. Itupun segera hilang ditelan gemuruh air hujan. Tak satupun kendaraan lewat. Semua suara tertelan gemuruh hujan. Ia benci hujan. Hujan membawa darah Kiran kemana-mana.
Tak ada yang menyalahkannya atas kematian Kiran. Tapi Jenny tak pernah bisa lari dari rasa bersalahnya. Seandainya tidak memaksa Kiran. Seandainya tidak jadi pergi. Seandainya tidak hujan. Sejak itu ia membenci hujan. Air hujan yang mengalir di aspal dalam pandangannya selalu berwarna merah. Semerah darah Kiran waktu itu.
Jenny mengusap setitik airmata disudut mata. Jam 5.10. Hujan seudah mereda. Tapi Jenny tidak segera bersiap-siap untuk pulang. Ia akan menunggu sampai hujan benar-benar reda. Perlahan Ia meraih cangkir dan menyeruput kembali tehnya yang sudah dingin. Ia melihat pak Slamet melewatinya dan membuka pintu depan.
"Jangan dibuka, pak, Nanti airnya masuk." pintanya pada Pak slamet.
"sudah reda, kok, mbak jenny, tadi bapak lihat pelangi, tapi dari belakang tidak terlalu jelas. nah, disini lebih jelas. mari kesini, mbak Jenny, ayo melihat pelangi. cantik,lho. jaman dulu, katanya, pelangi itu jembatan para bidadari. mereka mau mandi di sungai." Ujar pak Slamet tanpa menghiraukan larangan jenny.
Tak urung Jenny penasaran juga. Ia lupa kapan terakhir kali melihat pelangi. Ia mengikuti pak Slamet menuju pintu. Dan benar saja. Jenny melihat pelangi diujung sana. Melengkung setengah lingkaran. Dengan warna-warna selaras yang menawan. Jenny takjub sekali. Cantik. Tampak sangat indah dengan latar belakang biru cerah.
Tiba-tiba jenny menyipitkan matanya. Sepertinya ia benar-benar melihat bidadari turun dari langit. oh, bukan, bukan bidadari, Itu Kiran. Jenny yakin sekali. Ia tak pernah lupa pada rambut keriting dan senyum jenakanya. Ia melambaikan tangan kearah jenny. jennny ingin sekali datang kesana dan memeluk Kiran.
"Nah, cantik, kan, mbak. ini lho, yang bapak suka dari hujan. ia meninggalkan pelangi saat pergi. Seperti kehidupan ini, mbak, ga mungkin cobaan datang terus-terusan. Pasti ada berhentinya. Kalo kita sabar, nanti ada hadiah seindah pelangi menunggu kita. ckckckc, seandainya biadadarinya benar-benar ada, ya, mbak jenny..." Ujar Pak slamet diikuti tawanya yang terkekeh-kekeh.
jenny tersenyum. Pikirannya tak lepas dari Kiran. Mungkin ia tidak akan terlalu membenci hujan lagi. Ia akan menanti hujan, dan menungguinya sampai reda dengan sabar. Lalu akan memangang ke luar ruangan dan mencari pelangi dari sudut yang paling pas. Sehingga ia bisa melihat Kiran. Turun dari langit, meniti pelangi. Jenny rindu sekali pada Kiran. Pada senyum jenakanya, pada tawanya, pada olok-olokannya, pada kebaikan hatinya.
Jenny memandang kembali kearah pelangi. Ia masih melihat Kiran disana. Mengerling kearahnya. Tiba-tiba Jenny merasa dadanya begitu hangat.
***
ihhhh, penyakit susah tidur dan guyuran hujan membuat saya jadi mellow seperti ini:D
September 26, 2009
Septi, gadis kecil yang tak pernah ada
Bagaimana mungkin kamu merasa kehilangan, padahal kamu tak pernah memilikinya.
Saat melihatnya dari video Handphone berdurasi 3 menit milik teman saya, dan saya langsung jatuh hati pada gadis kecil itu. Pipinya begitu merah, tembem cantik dengan bulu-bulu halus disekelilingnya. Matanya terpejam. Tanganya menggapai-gapai dalam sarung tangan kecil warna biru muda. Bibirnya bergerak-gerak lucu,seakan-akan tak sabar menanti susu cair yang akan disuapkan padanya dengan sendok kecil. Saya ingin sekali menggendongnya. Saya membayangkan bau minyak telon, baby oil dan bedak bayi yang beraroma khas. Saya juga ingin menyentuh kulitnya yang pasti lembut sekali. Juga pipinya yang mengundang untuk dicium habis-habisan. Aduhhh, gemas sekali saya melihatnya.
Kemudian teman saya memperlihatkan video yang lain. Masih gadis kecil yang sama. Telanjang. perutnya menggelembung seperti balon. Matanya terpejam. Kaku. Tubuhnya membiru. Teman saya bercerita bahwa gadis kecil itu akhirnya meninggal diusia yang ke 12 hari. Saya tercekat dan terdiam. Bagaimana mungkin gadis kecil selucu itu pergi begitu cepat?. Benak sayapun dipenuhi bayangan si gadis kecil, terkubur sendirian. dikerubungi belatung. membusuk.
Dia adalah Septi, gadis kecil yang tak pernah ada. Tidak pernah saya kenal. Anak teman saya yang beberapa bulan lalu menikah, dan meminta saya menjadi juru foto jadi-jadianya. Tempat tinggal yang berpindah-pindah membuat saya lost contact denganya. Sekarangpun dia entah dimana. Kawan saya yang lain yang mengabarkan berita ini pada saya. Beberapa hari yang lalu ia lewat karena hendak pulang ke tanah jawa.
Kasihan Septi, gadis kecil itu pasti tak akan pernah tau sandiwara apa yang dimainkan ayah dan ibunya. Ia juga tak tahu, bagaimana mungkin orang-orang yang seharusnya melindunginya tega melakukan hal-hal jahat padanya. Bahkan sebelum ia dilahirkan. Ia tak tahu. Orang yang merawatnya hanya tau tiba-tiba perutnya menggelembung, dan tau-tau ia sudah tak bernyawa dengan tubuh biru. Bahkan tak ada yang mau repot membawanya kerumah sakit untuk mengetahui sebab kematiannya. Toh tak ada yang berkepentingan juga kata mereka. Mendengar cerita teman saya, saya seperti mendengar suara derit kerikil yang tidak sengaja tercampur dengan kapur saat dipakai untuk menulis di papan. miris.
Saya tidak mengenalnya. Saya menyesal sekali ia hanya berusia 12 hari. Seharusnya ia tumbuh besar dan menjadi gadis kecil berbaju renda-renda yang lucu. Meski saya tahu Tuhan selalu mempunyai jawaban atas semua pertanyaan, hati kecil saya masih menyalahkan ayah ibunya. Saya tidak pernah tau apa penyebab kematiannya, teman saya pun tak tau. saya hanya teringat cairan-cairan pekat yang diminum ibunya. Tapi entahlah
Sampai sekarang saya tidak bisa melepaskan pikiran saya dari gadis kecil itu. Gadis kecil yang tak pernah ada. kecil. terpejam. kaku. perut sebesar balon. tubuh membiru. Hanya wajahnya terlihat begitu damai. Mulutnya seakan membentuk senyuman. Mungkin malaikat membisikan sebuah rahasia padanya. Bahwa disana, di surga, ada bidadari cantik baik hati yang akan merawatnya dengan penuh cinta.
Tulisan ini saya tulis tanpa ijin sebelumnya. Tidak ada yang bisa dimintai ijin.
Saat melihatnya dari video Handphone berdurasi 3 menit milik teman saya, dan saya langsung jatuh hati pada gadis kecil itu. Pipinya begitu merah, tembem cantik dengan bulu-bulu halus disekelilingnya. Matanya terpejam. Tanganya menggapai-gapai dalam sarung tangan kecil warna biru muda. Bibirnya bergerak-gerak lucu,seakan-akan tak sabar menanti susu cair yang akan disuapkan padanya dengan sendok kecil. Saya ingin sekali menggendongnya. Saya membayangkan bau minyak telon, baby oil dan bedak bayi yang beraroma khas. Saya juga ingin menyentuh kulitnya yang pasti lembut sekali. Juga pipinya yang mengundang untuk dicium habis-habisan. Aduhhh, gemas sekali saya melihatnya.
Kemudian teman saya memperlihatkan video yang lain. Masih gadis kecil yang sama. Telanjang. perutnya menggelembung seperti balon. Matanya terpejam. Kaku. Tubuhnya membiru. Teman saya bercerita bahwa gadis kecil itu akhirnya meninggal diusia yang ke 12 hari. Saya tercekat dan terdiam. Bagaimana mungkin gadis kecil selucu itu pergi begitu cepat?. Benak sayapun dipenuhi bayangan si gadis kecil, terkubur sendirian. dikerubungi belatung. membusuk.
Dia adalah Septi, gadis kecil yang tak pernah ada. Tidak pernah saya kenal. Anak teman saya yang beberapa bulan lalu menikah, dan meminta saya menjadi juru foto jadi-jadianya. Tempat tinggal yang berpindah-pindah membuat saya lost contact denganya. Sekarangpun dia entah dimana. Kawan saya yang lain yang mengabarkan berita ini pada saya. Beberapa hari yang lalu ia lewat karena hendak pulang ke tanah jawa.
Kasihan Septi, gadis kecil itu pasti tak akan pernah tau sandiwara apa yang dimainkan ayah dan ibunya. Ia juga tak tahu, bagaimana mungkin orang-orang yang seharusnya melindunginya tega melakukan hal-hal jahat padanya. Bahkan sebelum ia dilahirkan. Ia tak tahu. Orang yang merawatnya hanya tau tiba-tiba perutnya menggelembung, dan tau-tau ia sudah tak bernyawa dengan tubuh biru. Bahkan tak ada yang mau repot membawanya kerumah sakit untuk mengetahui sebab kematiannya. Toh tak ada yang berkepentingan juga kata mereka. Mendengar cerita teman saya, saya seperti mendengar suara derit kerikil yang tidak sengaja tercampur dengan kapur saat dipakai untuk menulis di papan. miris.
Saya tidak mengenalnya. Saya menyesal sekali ia hanya berusia 12 hari. Seharusnya ia tumbuh besar dan menjadi gadis kecil berbaju renda-renda yang lucu. Meski saya tahu Tuhan selalu mempunyai jawaban atas semua pertanyaan, hati kecil saya masih menyalahkan ayah ibunya. Saya tidak pernah tau apa penyebab kematiannya, teman saya pun tak tau. saya hanya teringat cairan-cairan pekat yang diminum ibunya. Tapi entahlah
Sampai sekarang saya tidak bisa melepaskan pikiran saya dari gadis kecil itu. Gadis kecil yang tak pernah ada. kecil. terpejam. kaku. perut sebesar balon. tubuh membiru. Hanya wajahnya terlihat begitu damai. Mulutnya seakan membentuk senyuman. Mungkin malaikat membisikan sebuah rahasia padanya. Bahwa disana, di surga, ada bidadari cantik baik hati yang akan merawatnya dengan penuh cinta.
Tulisan ini saya tulis tanpa ijin sebelumnya. Tidak ada yang bisa dimintai ijin.
September 18, 2009
Pelayanan yang memuaskan
Mulutmu tajam seakan kau lebih baik dari aku, lebih baik dari segalanya.
Atau kau memang sempurna.
Bre/Sempurna
Emang, ada hubungannya antara pelayanan dengan lagunnya Bre itu?. Jawabannya ada. Karena, kalo tidak mendapatkan pelayanan yang bagus dari pemberi service, biasanya mulut saya berubah menjadi tajam. hehe.
Ya.ya. Itu salah satu sifat buruk saya, yang saya ingin buang jauh-jauh. Tapi, susah sekali menghilangknnya. Saya hanya bisa menekannya kuat-kuat. Biasanya kalo mulut saya mulai gatal ingin mengkritik si pemberi service, saya akan memalingkan muka, menenangkan gemuruh-gejolak hati saya *jaaah, bahasanya*, menghitung sampai sepuluh dalam hati, pergi, dan berusaha tidak akan datang ke tempat itu, kecuali -tentu saja- terpaksa.
Beberapa hari yang lalu saya mengalaminya lagi. Jadi ceritanya, saya mau mbenerin hape saya yang jadul dan bisa bikin tetanus kalo dipegang karena banyak karatnya itu, ke sebuah tempat service ponsel besar di kota tempat saya tinggal sekarang ini. Ya, saya memang harus menebalkan lagi muka saya yang sudah cukup tebal ini, karena hape saya jelas akan menjadi satu-satunya hape dari jaman prasejarah dikota ini. Tapi semua orang punya barang kesayangan, bukan?. Saya tau saya begitu cerewet, karena itu saya menunggu suasana sepi, baru menanyakan perihal hape saya., Apakah hape yang terendam diminuman yang bisa bikin kita jadi 100 persen ini masih bisa diperbaiki?. Kalo ia rusaknya apa, berapa biaya servicenya,berapa harga sparepart yang harus diganti, garansinya, dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi belum apa-apa, si Embak cantik-putih dan rambutnya di rebonding *ihhhh* itu menjawab pertanyaan saya dengan tidak sopan dan menjurus ke tingkat pelecehan. mungkin karena tampang saya kere, jadi ia pikir saya cuma nanya-nanya aja.
Hasilnya adalah, muka saya merah padam dan dada saya seakan mau meledak *hiperbolis banget, si, ka*. Akhirnya saya pun mengkritik si embak itu habis-habisan. menjelaskan tentang pentingnya bersikap ramah pada pelanggan dan bla-bla-bla-etc-etc. Hingga sang owner keluar, meminta maaf, menjelaskan dengan nada suara yang lebih lunak, dan memarahi si embak-rambut-rebonding itu. haha. Akhirnya saya memang tidak jadi memperbaiki ponsel saya itu. Pertama karena saya sakit hati, kedua karena ternyata memang mahal.
Beberapa kejadian tentang pelayanan yang tidak memuaskan pernah saya ceritakan disini.Kejadian yang lain lebih banyak lagi. Saya tidak tau saya yang menuntut terlalu banyak atau memang mereka yang kurang bagus memberi service.
Enggak adil, ya, kalo saya hanya menceritakn bagian jelaknya saja. Ada juga kok tempat yang memberikan service bagus. bukan perusahaan besar. Hanya sebuah tempat rental film di pojok jalan Timoho, Jogja. Tempatnya kecil. Harganya 500 rupiah lebih mahal daripada tempat lain. Tapi servicenya memuaskan menurut saya. Embak disana tidak terlalu cantik. Rambutnya juga tidak direbonding. Tidak putih pucat juga. Biasa saja. Bahkan mulutnya tidak henti-henti berasap *eh, jadi inget embak favorit saya, hey, mbak!!!!*. Dia menyapa saya dengan ramah, meminjam KTP saya dengan sopan -deselingi joke tentu saja-. Dan Ia hafal semua sipnosis film di tempat ia bekerja. Hebatnya, hanya dengan menyebutkan film favorit saya sebelumnya, ia langsung bisa memberikan rekomendasi sederet film bagus dan menceritakan semua sipnosisnya tanpa menjelaskan endingnya. Ajaibnya, semua film yang ia rekomendasikan cocok dengan selera saya. Dan catat, Ia langsung hafal nama saya.
Saya punya buku faavorit tentang perlayanan yang bagus. Judulnya Good Service is Good Busuness, ditulis oleh Catherine DeVrye. Penjelasannya mudah, disertai contoh kasus yang pas dan bahasanya pop. Intinya si, sama dengan yang tercantum di buku-buku pelajaran manajemen jasa jaman sekolah dulu. Beri perhatian penuh pada pelanggan, hingga ia merasa sebagai orang penting bagi kita. Buat semua penjelasan menjadi menguntungkan baginya, bukan bagi kita. Dengarkan kebutuhannya, dan beri solusi sebaik mungkin. Dan yang terpenting, berikan pelayanan lebih dari yang ia harapkan. Terus terang, saya lebih menyukai buku ini, daripada buku yang harus saya pelajari waktu sekolah dulu. Buku-buku teks jaman sekolah dulu selalu membuat saya mengantuk. Efeknya lebih dahsyat daripada dongeng sebelum tidur dicampur ctm. hehe.
Aduh, saya kok malah eneg dengan tulisan saya ini, ya. Kesannya saya sok tau dan belagu banget. Belagak jadi pakar service excellent aja. lha emangnya kamu siapa, ka, minta dilayani sebaik-baiknya. ehem. saya konsumen. dan konsumen masih raja, bukan?. -Padahal dulu, kalo ada yang bilang gitu, saya jawab, 'tapi penjual adalah kaisar'.hehe-. Anggap saja ini curcol. Dan, ayolah, kalian juga pernah bukan mendapatkan service yang tidak baik?. nggondog, kan rasanya?. yah, kadang-kadang rasa nggondog menbuat saya jadi sok tahu.=)
Eh iya, ada yang kelupaan. Ada kejadian konyol pas saya untuk pertama kalinya menggunakan jasa warnet di kota ini. Jadi warnet satu ini bersistem paket deposit. Depositkan uang anda sekian rupiah, dan anda bisa akses sekian jam lebih murah daripada paket perjam. Anda akan menerima ID dan passwordnya. Dan anda bisa mengecek sendiri berapa sisa waktu deposit anda. Nah, karena saya menyukai Gober Bebek, dan kadang mengikuti tingkahnya, saya selalu mengecek sisa waktu saya setiap selesai akses. dua tiga kali masih oke. semua sisa waktu sesuai. Tapi, pada saat kedatangan ke empat, ding-deng, sisa waktu saya tinggak 2 menit. Padahal saya yakin sekali masih punya sisa waktu 1,5 jam.
Seperti yang kalian duga, saya protes dan meminta perincian pemakaian deposit saya. Si mas-mas operator menyambungkan saya dengan ownernya, karena ia tidak punya wewenang untuk itu. Akhirnya si owner mengalah. -kebetulan ia tidak ada, jadi hanya per telephon saja-. Saya mendapat free akses 3 jam dari warnet tersebut. oke, saya terima. entah apa yang barusan dibicarakan dengan ownernya, karena pada saat memberikan kupon pada saya, si mas operator bermuka masam dan berbicara dengan nada tidak sopan cenderung melecehkan pada saya. Yak. kalian betul, muka saya kemudian merah padam, dan dada saya rasanya mau meledak *hiperbolis lagi*. Sayapun kembali bermulut tajam-seakan kulebih baik dari Dia-lebih baik dari segalanya-hehe. Dan bertelephon lagi dengan si owner, mengeluhkan mas operator padanya. Nah, ini bagian konyolnya, sang owner malah meminta saya untuk memeklumi si mas opertaor, karena ia sedang bermasalah dan keluarganya broken home. please, deh,memang apa peduli saya?. dia mau broken home, broken heart, broken wing, bahkan broken legs skalian, melayani kan pekerjaannya. Konsumen datang dengan membawa beban masalahnya sendiri,selain membawa uang. Ia meminta solusi. Jadi, pasti menyebalkan sekali kalo diminta memahami masalah si pemberi jasa, dan memakluminya. Saya langsung merekomendasikan buku itu pada si owner.
Jadi, dalam memberikan pelayanan yang excellent, prinsip yang tidak kalah penting adalah, bukan bagaimana kita tersenyum kepada pelanggan, tapi bagaimana caranya membuat pelanggan tersenyum karena kita.
Ah, sudahlah, saya malah jadi tampak lebih sok tau lagi.=)
Atau kau memang sempurna.
Bre/Sempurna
Emang, ada hubungannya antara pelayanan dengan lagunnya Bre itu?. Jawabannya ada. Karena, kalo tidak mendapatkan pelayanan yang bagus dari pemberi service, biasanya mulut saya berubah menjadi tajam. hehe.
Ya.ya. Itu salah satu sifat buruk saya, yang saya ingin buang jauh-jauh. Tapi, susah sekali menghilangknnya. Saya hanya bisa menekannya kuat-kuat. Biasanya kalo mulut saya mulai gatal ingin mengkritik si pemberi service, saya akan memalingkan muka, menenangkan gemuruh-gejolak hati saya *jaaah, bahasanya*, menghitung sampai sepuluh dalam hati, pergi, dan berusaha tidak akan datang ke tempat itu, kecuali -tentu saja- terpaksa.
Beberapa hari yang lalu saya mengalaminya lagi. Jadi ceritanya, saya mau mbenerin hape saya yang jadul dan bisa bikin tetanus kalo dipegang karena banyak karatnya itu, ke sebuah tempat service ponsel besar di kota tempat saya tinggal sekarang ini. Ya, saya memang harus menebalkan lagi muka saya yang sudah cukup tebal ini, karena hape saya jelas akan menjadi satu-satunya hape dari jaman prasejarah dikota ini. Tapi semua orang punya barang kesayangan, bukan?. Saya tau saya begitu cerewet, karena itu saya menunggu suasana sepi, baru menanyakan perihal hape saya., Apakah hape yang terendam diminuman yang bisa bikin kita jadi 100 persen ini masih bisa diperbaiki?. Kalo ia rusaknya apa, berapa biaya servicenya,berapa harga sparepart yang harus diganti, garansinya, dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi belum apa-apa, si Embak cantik-putih dan rambutnya di rebonding *ihhhh* itu menjawab pertanyaan saya dengan tidak sopan dan menjurus ke tingkat pelecehan. mungkin karena tampang saya kere, jadi ia pikir saya cuma nanya-nanya aja.
Hasilnya adalah, muka saya merah padam dan dada saya seakan mau meledak *hiperbolis banget, si, ka*. Akhirnya saya pun mengkritik si embak itu habis-habisan. menjelaskan tentang pentingnya bersikap ramah pada pelanggan dan bla-bla-bla-etc-etc. Hingga sang owner keluar, meminta maaf, menjelaskan dengan nada suara yang lebih lunak, dan memarahi si embak-rambut-rebonding itu. haha. Akhirnya saya memang tidak jadi memperbaiki ponsel saya itu. Pertama karena saya sakit hati, kedua karena ternyata memang mahal.
Beberapa kejadian tentang pelayanan yang tidak memuaskan pernah saya ceritakan disini.Kejadian yang lain lebih banyak lagi. Saya tidak tau saya yang menuntut terlalu banyak atau memang mereka yang kurang bagus memberi service.
Enggak adil, ya, kalo saya hanya menceritakn bagian jelaknya saja. Ada juga kok tempat yang memberikan service bagus. bukan perusahaan besar. Hanya sebuah tempat rental film di pojok jalan Timoho, Jogja. Tempatnya kecil. Harganya 500 rupiah lebih mahal daripada tempat lain. Tapi servicenya memuaskan menurut saya. Embak disana tidak terlalu cantik. Rambutnya juga tidak direbonding. Tidak putih pucat juga. Biasa saja. Bahkan mulutnya tidak henti-henti berasap *eh, jadi inget embak favorit saya, hey, mbak!!!!*. Dia menyapa saya dengan ramah, meminjam KTP saya dengan sopan -deselingi joke tentu saja-. Dan Ia hafal semua sipnosis film di tempat ia bekerja. Hebatnya, hanya dengan menyebutkan film favorit saya sebelumnya, ia langsung bisa memberikan rekomendasi sederet film bagus dan menceritakan semua sipnosisnya tanpa menjelaskan endingnya. Ajaibnya, semua film yang ia rekomendasikan cocok dengan selera saya. Dan catat, Ia langsung hafal nama saya.
Saya punya buku faavorit tentang perlayanan yang bagus. Judulnya Good Service is Good Busuness, ditulis oleh Catherine DeVrye. Penjelasannya mudah, disertai contoh kasus yang pas dan bahasanya pop. Intinya si, sama dengan yang tercantum di buku-buku pelajaran manajemen jasa jaman sekolah dulu. Beri perhatian penuh pada pelanggan, hingga ia merasa sebagai orang penting bagi kita. Buat semua penjelasan menjadi menguntungkan baginya, bukan bagi kita. Dengarkan kebutuhannya, dan beri solusi sebaik mungkin. Dan yang terpenting, berikan pelayanan lebih dari yang ia harapkan. Terus terang, saya lebih menyukai buku ini, daripada buku yang harus saya pelajari waktu sekolah dulu. Buku-buku teks jaman sekolah dulu selalu membuat saya mengantuk. Efeknya lebih dahsyat daripada dongeng sebelum tidur dicampur ctm. hehe.
Aduh, saya kok malah eneg dengan tulisan saya ini, ya. Kesannya saya sok tau dan belagu banget. Belagak jadi pakar service excellent aja. lha emangnya kamu siapa, ka, minta dilayani sebaik-baiknya. ehem. saya konsumen. dan konsumen masih raja, bukan?. -Padahal dulu, kalo ada yang bilang gitu, saya jawab, 'tapi penjual adalah kaisar'.hehe-. Anggap saja ini curcol. Dan, ayolah, kalian juga pernah bukan mendapatkan service yang tidak baik?. nggondog, kan rasanya?. yah, kadang-kadang rasa nggondog menbuat saya jadi sok tahu.=)
Eh iya, ada yang kelupaan. Ada kejadian konyol pas saya untuk pertama kalinya menggunakan jasa warnet di kota ini. Jadi warnet satu ini bersistem paket deposit. Depositkan uang anda sekian rupiah, dan anda bisa akses sekian jam lebih murah daripada paket perjam. Anda akan menerima ID dan passwordnya. Dan anda bisa mengecek sendiri berapa sisa waktu deposit anda. Nah, karena saya menyukai Gober Bebek, dan kadang mengikuti tingkahnya, saya selalu mengecek sisa waktu saya setiap selesai akses. dua tiga kali masih oke. semua sisa waktu sesuai. Tapi, pada saat kedatangan ke empat, ding-deng, sisa waktu saya tinggak 2 menit. Padahal saya yakin sekali masih punya sisa waktu 1,5 jam.
Seperti yang kalian duga, saya protes dan meminta perincian pemakaian deposit saya. Si mas-mas operator menyambungkan saya dengan ownernya, karena ia tidak punya wewenang untuk itu. Akhirnya si owner mengalah. -kebetulan ia tidak ada, jadi hanya per telephon saja-. Saya mendapat free akses 3 jam dari warnet tersebut. oke, saya terima. entah apa yang barusan dibicarakan dengan ownernya, karena pada saat memberikan kupon pada saya, si mas operator bermuka masam dan berbicara dengan nada tidak sopan cenderung melecehkan pada saya. Yak. kalian betul, muka saya kemudian merah padam, dan dada saya rasanya mau meledak *hiperbolis lagi*. Sayapun kembali bermulut tajam-seakan kulebih baik dari Dia-lebih baik dari segalanya-hehe. Dan bertelephon lagi dengan si owner, mengeluhkan mas operator padanya. Nah, ini bagian konyolnya, sang owner malah meminta saya untuk memeklumi si mas opertaor, karena ia sedang bermasalah dan keluarganya broken home. please, deh,memang apa peduli saya?. dia mau broken home, broken heart, broken wing, bahkan broken legs skalian, melayani kan pekerjaannya. Konsumen datang dengan membawa beban masalahnya sendiri,selain membawa uang. Ia meminta solusi. Jadi, pasti menyebalkan sekali kalo diminta memahami masalah si pemberi jasa, dan memakluminya. Saya langsung merekomendasikan buku itu pada si owner.
Jadi, dalam memberikan pelayanan yang excellent, prinsip yang tidak kalah penting adalah, bukan bagaimana kita tersenyum kepada pelanggan, tapi bagaimana caranya membuat pelanggan tersenyum karena kita.
Ah, sudahlah, saya malah jadi tampak lebih sok tau lagi.=)
Langganan:
Postingan (Atom)