Kalo ngomong capek, pasti ada lebih banyak orang yang lebih capek dari saya. Kalo masalah pegel-pegel, jelas lebih banyak orang yang lebih pegel dari saya. Kalo ngomong ngantuk, jelas lebih banyak orang yang lebih ngantuk dari saya. Kalo ngomong sebel, pasti lebih banyak lagi orang yang lebih sebel dari saya. Kalo masalah gondog, yakin, masih banyak lagi orang yang lebih gondog dari saya. Tapi pasti ga ada orang yang lebih penakut mengambil keputusan daripada saya. *dzig!. Jotos diri sendiri* Jadi, piye,ka, mau nyerah?. Bertahan?. Kuat-kuatan?. Atau bikin gara-gara saja biar semuanya berakhir?.
Cuma satu hal yang saya tau, jangan ambil keputusan dalam keadaan emosi. Jadi, ka, sabar, ya.
Sudah lama g posting blog. Alih-alih nulis sesuatu yang positif, saya malah mengeluh, dan pasti tidak ada yang lebih banyak mengeluh daripada saya.haha
November 28, 2008
November 02, 2008
kapas randu
Simbah saya pernah bilang pada saya, bahwa kita enggak boleh berharap apa2 kalo berbuat baik. Karena enggak ada yang gratis didunia ini. Di dunia akhirat, bahkan.. Berbuat saja. Bahkan doa yang baikpun merupakan perbuatan baik. Nanti perbuatan baik itu akan kembali lagi pada kita. Kalo tidak pada kita, pasti berbalik pada anak kita, adik kita, saudara-saudara kita, sahabat-sahabat kita. Tidak usah khawatir tidak terbalas, karena Tuhan melihat. Dan kalo kita dijahati oleh orang lain, jangan pernah dendam. Tuhan tahu, dan Ia sedang mencatat, nanti suatu saat kejahatannya akan kembali pada dirinya sendiri, kalo tidak dibalas didunia, ya di akhirat.
Dalam bayangan saya, perbuatan baik itu seperti kapas putih kecil yang terbang kesana kemari, Ia lembut, seperti kapuk randu yang baru jatuh dari pohonnya, saat buahnya yang kering jatuh dan menimpa batu dibawahnya, ia terbelah, dan segumpal kecil kapas mentahnya menyelusup keluar setiap kali kita berbuat baik, lalu kapas kecil2 itu terbang kesana kemari. Mengikuti kita. Suatu saat ia akan pergi menghinggapi orang lain. Lalu orang lain itu akan berbuat baik juga pada kita. Dan kapuk randu jatuh lagi dari pohonnya, segumpal kapas kecil menyelusup keluar. Mengikuti orang lain itu. Begitu seterusnya, berturut-turut. Seperti tabrakan beruntun. Hingga kalo ada begitu banyak kebaikan, kita seperti ada didunia hujan kapuk. Rentangkan tanganmu, dan kamu pasti bisa merasakannya, jatuh dengan lembut menyentuh kedua lenganmu.
Tapi tentu saja, perbuatan baik tidak segampang membalikkan tangan ketika melakukannya. Entah bagaimana ceritanya, kaki saya pasti terasa begitu berat melangkah saat seorang buta dengan tongkat kesulitan menyeberang di jalan timoho yang ramai itu. Atau membalikkan laju motor, ketika saya melewati seorang tengah menuntun motornya di tengah hujan, dan ban keduanya tidak bocor. Kemungkinan mereka hanya kehabisan bensin. Dan saya benar2 tau, tidak berat, menanyainya kenapa, kemudian melaju sebentar ke tukang bensin, lalu meminjam botol bensinnya. Tidak berat, tapi susah sekali memulainya. Jelas lebih mudah memaki mobil yang berbalik dengan seenaknya, Atau membunyikan klakson keras2 sambil memaki ketika seorang bapak dengan sepeda sarat mainan anak memotong jalan kita
Dan jelas tidak ada kapuk randu kering yang jatuh dan terantuk batu lalu terbelah dan kapuk putihnya menyelusup keluar. Tidak ada dunia hujan kapuk. Tapi pasti dunia tidak seburuk itu, ya?. Selalu ada manusia lain yang sedang berbuat baik. Mungkin meneriakkan konsep cinta lingkungan kemana-mana, membagi-bagikan barang-barang gratis ke orang yang membutuhkan, atau mbak-mbak dan mas-mas yang pergi ke tempat bencana, Ibu-ibu yang selalu menyiapkan sarapan untuk anaknya, Bapak-bapak kaya yang menyumbang kemana-mana, atau apa saja, hal-hal kecil baik yang kita kadang tidak menyadarinya. Pasti ada dunia hujan kapuk di luar sana. Tapi apa artinya hujan kapuk diluar sana, kalo tidak ada kapuk putih yang berasal dari buah randu kita. Tentu saja, saya masih punya banyak PR.
Trimakasih banyak untuk mbak bersms pedas, namun selalu membuat saya berpikir keras. Keras sekali, terutama untuk kapasitas otak saya yang jarang berpikir. Beruntung sekali saya mengenalmu, mbak
Dalam bayangan saya, perbuatan baik itu seperti kapas putih kecil yang terbang kesana kemari, Ia lembut, seperti kapuk randu yang baru jatuh dari pohonnya, saat buahnya yang kering jatuh dan menimpa batu dibawahnya, ia terbelah, dan segumpal kecil kapas mentahnya menyelusup keluar setiap kali kita berbuat baik, lalu kapas kecil2 itu terbang kesana kemari. Mengikuti kita. Suatu saat ia akan pergi menghinggapi orang lain. Lalu orang lain itu akan berbuat baik juga pada kita. Dan kapuk randu jatuh lagi dari pohonnya, segumpal kapas kecil menyelusup keluar. Mengikuti orang lain itu. Begitu seterusnya, berturut-turut. Seperti tabrakan beruntun. Hingga kalo ada begitu banyak kebaikan, kita seperti ada didunia hujan kapuk. Rentangkan tanganmu, dan kamu pasti bisa merasakannya, jatuh dengan lembut menyentuh kedua lenganmu.
Tapi tentu saja, perbuatan baik tidak segampang membalikkan tangan ketika melakukannya. Entah bagaimana ceritanya, kaki saya pasti terasa begitu berat melangkah saat seorang buta dengan tongkat kesulitan menyeberang di jalan timoho yang ramai itu. Atau membalikkan laju motor, ketika saya melewati seorang tengah menuntun motornya di tengah hujan, dan ban keduanya tidak bocor. Kemungkinan mereka hanya kehabisan bensin. Dan saya benar2 tau, tidak berat, menanyainya kenapa, kemudian melaju sebentar ke tukang bensin, lalu meminjam botol bensinnya. Tidak berat, tapi susah sekali memulainya. Jelas lebih mudah memaki mobil yang berbalik dengan seenaknya, Atau membunyikan klakson keras2 sambil memaki ketika seorang bapak dengan sepeda sarat mainan anak memotong jalan kita
Dan jelas tidak ada kapuk randu kering yang jatuh dan terantuk batu lalu terbelah dan kapuk putihnya menyelusup keluar. Tidak ada dunia hujan kapuk. Tapi pasti dunia tidak seburuk itu, ya?. Selalu ada manusia lain yang sedang berbuat baik. Mungkin meneriakkan konsep cinta lingkungan kemana-mana, membagi-bagikan barang-barang gratis ke orang yang membutuhkan, atau mbak-mbak dan mas-mas yang pergi ke tempat bencana, Ibu-ibu yang selalu menyiapkan sarapan untuk anaknya, Bapak-bapak kaya yang menyumbang kemana-mana, atau apa saja, hal-hal kecil baik yang kita kadang tidak menyadarinya. Pasti ada dunia hujan kapuk di luar sana. Tapi apa artinya hujan kapuk diluar sana, kalo tidak ada kapuk putih yang berasal dari buah randu kita. Tentu saja, saya masih punya banyak PR.
Trimakasih banyak untuk mbak bersms pedas, namun selalu membuat saya berpikir keras. Keras sekali, terutama untuk kapasitas otak saya yang jarang berpikir. Beruntung sekali saya mengenalmu, mbak
penuh
Wah, enggak terasa, saya udah lama sekali enggak posting blog. Dan selama itu, banyak sekali yang terjadi. Ide-ide berterbangan di kepala, tapi tak pernah ada kekuatan untuk menyalakan komputer dan menulis. Saya penuh sekali akhir-akhir ini. Dari pekerjaan yang ritmenya makin cepat, ujian bahasa inggris-hey, meski saya tetap tidak bisa membedakan akhiran ing dan ed-, belajar bersama anak-anak tetangga kos, novel-novel yang belum terbaca, film-film yang belum tertonton, hutang puasa, sakit gigi, kaki yang selalu kram, jadwal kursus baru, pendaftaran akta IV –yah, meski akhirnya saya terlambat juga. Dan terpaksa menunggu tahun depan, atau mencari universitas lain-. dan ini dan itu dan lain-lain. Aduh penuh sekali. Kadang waktu 24 jam serasa tidak cukup lagi untuk mengcover hidup sehari. Uh uh. Seandainya kita tinggal di planet yang lebih besar, ya?=)
Oktober 02, 2008
Apa yang Tidak Bisa Kita Sukuri Hari ini
2 hari lagi lebaran. Beberapa kali tarawih dikampung benar-benar membawa energi positif bagi saya. Meski sapaan-sapaan tetangga-tetangga saya masih tetap menyebalkan. "Ya ampun Ika, bocah koyo rinjing siki". Rinjing=keranjang besar dari bambu.Huhu. Tapi senang sekali bisa kembali merasakan angin yang bertiup kencang di halaman belakang rumah simbah saya dan menggoyangkan mangga-mangga harummanis yang bergelantungan. Perjalanan tiap pagi ke kuburan pun terasa enteng. Kerikil-kerikil terasa nyaman terinjak kaki -ya ampun, betapa bahagianya tidak ada yang memaksa memakai sepatu disini, sandal pun boleh tidak saya pakai-. Kepasar dengan sepeda kesayangan juga terasa begitu menyenangkan. Ditambah 3 hari tanpa dering telphon. Oh, terimakasih salah satu operator CDMA tidak bersinyal disini. Aduh, senang sekali tidak bisa dihubungi.
Dan kemudian, bagian dari hidup saya yang tidak menyenangkan mesti harus hadapi lagi. Berkabung rupanya bukan alasan untuk tidak kembali kealam nyata. Blus rapih. Sepatu. Hitungan. Komputer. Handphone. Senyuman 5 detik. Wajah bahagia. Bahkan melihat anak kecil diperempatan sana saya iri. Betapa bebasnya Ia.
Perjalanan malam sepulang kerjapun harus saya ikuti kembali ritmenya. Dan agak terhenti sebentar ketika saya mendengar ribut-ribut di pinggir lapangan bola lumayan terkenal di Yogya. Beberapa laki-laki berseragam membangunkan gelandangan dan pengemis yang tertidur disitu. memaksa mereka naik ke mobil. Sebagian meronta. Sebagian pasrah. Dan yang lebih menyebalkan, saya tidak bisa membantu apa-apa. Lebih menyesal lagi karena saya bukan orang shalih. Tadarus saja jarang. Jadi pasti doa saya pada Tuhan agar mereka baik-baik saja tidak dikabulkan. Haha.
Saya tidak pernah mengenal mereka. Tidak pernah tau siapa mereka. Tapi mereka jelas punya keluarga. Mungkin mereka sengaja disana karena menunggu zakat dari para dermawan. Anak cucu mereka menunggu dirumah, berharap Bapak atau Ibu mereka pulang membawa beras, Mie instan, sarden, Gula, Teh, sukur-sukur baju murahan dari pasar, atau sandal bekas dari orang. Siapa tahu. Lebaran kan milik semua orang.
Jadi, apa lagi to, yang tidak bisa kita sukuri hari ini?. Pekerjaan yang layak, tubuh yang sempurna fungsinya. Badan yang sehat. Rumah yang nyaman. Gaji. THR. Perut yang jarang lapar. Tetangga yang baik. Teman-teman yang selalu membantu. eh, lha kok selalu aja ada hal-hal lain yang kita cari untuk dikeluhkan.
Lalu, apa iya, kita pantas berdesak-desakan di toko baju hanya untuk sekadar beli baju buat nanti lebaran. Padahal begitu banyak baju kita bertumpuk dilemari. kemudian berebut membeli kue-kue lebaran di supermarket. Supaya kita dipuji karena kue kita paling enak diantara tetangga-tetangga. Lalu berlomba-lomba membeli parcel paling tinggi. Untuk diberikan pada relasi yang jelas-jelas dia pasti bisa membeli parcel sendiri. Dan mbak-mbak dan mas-mas yang tumplek blek dijalanan itu, yang tujuannya cuma pengen berbuka berdua-duaan, Sampai jalanan harus macet karena mereka. Coba tengok orang-orang yang tadinya ada dipinggir lapangan itu. Apa mereka enggak sakit hati dengan segala tingkah laku ini.
Saya pikir bukan begitu caranya menang.
Ah, bagaimanapun Tuhan selalu terlalu baik. Jadi apa lagi yang tidak bisa kita sukuri hari ini?. Kehidupan yang menyebalkan pun pasti ada sejengkal kisah yang bisa membuat kita tertawa. Kesendirian yang membosankan? Ah, pasti akan ada manusia lain yang menjajari langkah kita. Dosa yang bertumpuk-tumpuk? Pasti akan selalu ada pintu yang terbuka. Tuhan selalu terlalu baik, kan?. Janjinya adalah tidak memberi ujian diluar kemampuan mahlukNya. Hikmahnya ada dimana-mana. Bahkan kisah orang-orang dipinggir lapangan itu juga memberi hikmah pada saya untuk selalu bersyukur. Jadi, apa lagi?
Dan kemudian, bagian dari hidup saya yang tidak menyenangkan mesti harus hadapi lagi. Berkabung rupanya bukan alasan untuk tidak kembali kealam nyata. Blus rapih. Sepatu. Hitungan. Komputer. Handphone. Senyuman 5 detik. Wajah bahagia. Bahkan melihat anak kecil diperempatan sana saya iri. Betapa bebasnya Ia.
Perjalanan malam sepulang kerjapun harus saya ikuti kembali ritmenya. Dan agak terhenti sebentar ketika saya mendengar ribut-ribut di pinggir lapangan bola lumayan terkenal di Yogya. Beberapa laki-laki berseragam membangunkan gelandangan dan pengemis yang tertidur disitu. memaksa mereka naik ke mobil. Sebagian meronta. Sebagian pasrah. Dan yang lebih menyebalkan, saya tidak bisa membantu apa-apa. Lebih menyesal lagi karena saya bukan orang shalih. Tadarus saja jarang. Jadi pasti doa saya pada Tuhan agar mereka baik-baik saja tidak dikabulkan. Haha.
Saya tidak pernah mengenal mereka. Tidak pernah tau siapa mereka. Tapi mereka jelas punya keluarga. Mungkin mereka sengaja disana karena menunggu zakat dari para dermawan. Anak cucu mereka menunggu dirumah, berharap Bapak atau Ibu mereka pulang membawa beras, Mie instan, sarden, Gula, Teh, sukur-sukur baju murahan dari pasar, atau sandal bekas dari orang. Siapa tahu. Lebaran kan milik semua orang.
Jadi, apa lagi to, yang tidak bisa kita sukuri hari ini?. Pekerjaan yang layak, tubuh yang sempurna fungsinya. Badan yang sehat. Rumah yang nyaman. Gaji. THR. Perut yang jarang lapar. Tetangga yang baik. Teman-teman yang selalu membantu. eh, lha kok selalu aja ada hal-hal lain yang kita cari untuk dikeluhkan.
Lalu, apa iya, kita pantas berdesak-desakan di toko baju hanya untuk sekadar beli baju buat nanti lebaran. Padahal begitu banyak baju kita bertumpuk dilemari. kemudian berebut membeli kue-kue lebaran di supermarket. Supaya kita dipuji karena kue kita paling enak diantara tetangga-tetangga. Lalu berlomba-lomba membeli parcel paling tinggi. Untuk diberikan pada relasi yang jelas-jelas dia pasti bisa membeli parcel sendiri. Dan mbak-mbak dan mas-mas yang tumplek blek dijalanan itu, yang tujuannya cuma pengen berbuka berdua-duaan, Sampai jalanan harus macet karena mereka. Coba tengok orang-orang yang tadinya ada dipinggir lapangan itu. Apa mereka enggak sakit hati dengan segala tingkah laku ini.
Saya pikir bukan begitu caranya menang.
Ah, bagaimanapun Tuhan selalu terlalu baik. Jadi apa lagi yang tidak bisa kita sukuri hari ini?. Kehidupan yang menyebalkan pun pasti ada sejengkal kisah yang bisa membuat kita tertawa. Kesendirian yang membosankan? Ah, pasti akan ada manusia lain yang menjajari langkah kita. Dosa yang bertumpuk-tumpuk? Pasti akan selalu ada pintu yang terbuka. Tuhan selalu terlalu baik, kan?. Janjinya adalah tidak memberi ujian diluar kemampuan mahlukNya. Hikmahnya ada dimana-mana. Bahkan kisah orang-orang dipinggir lapangan itu juga memberi hikmah pada saya untuk selalu bersyukur. Jadi, apa lagi?
September 25, 2008
sudah pulang
Saya sukses menanamkan dalam otak saya, bahwa kematian itu semata hanya peristiwa alam biasa. Kematian tidak berbeda jauh dengan matinya pohon. Ada pohon yang mati pada saat baru tumbuh. ada juga pohon yang mati pada saat sudah tua. Pemikiran itu yang membuat saya sukses tidak menitikkan air mata pada setiap kematian. Tidak butuh emosi dalam kematian. Kenapa harus menangis tersedu-sedu untuk peristiwa yang biasa?. Kenapa harus menangis menangis untuk peristiwa yang pasti akan kita alami?. Mati berarti mengakhiri sebuah proses, dan mulai memasuki proses baru lagi.
Dan pertahanan saya benar-benar runtuh senin pagi itu. Saat saya menemui Simbah Simak saya yang sudah tidak bernyawa. Dan segala pemikiran aneh-aneh saya tentang kematian pun tidak saya ingat lagi. Saya hanya ingin menangis.menangis.menangis. Ada banyak emosi yang terlibat. Saya tidak bisa mendefinisikannya satu-satu. Padahal malam itu Simbah Simak saya masih tarawih di masjid. Masih membangunkan orang-orang serumah untuk sahur. Masih sempat puasa.
Saya masih ingat sekali malam simbah menyanyi sampe larut malam. menggulung stagen bersama simbah. Pergi kepasar sebelum Lebaran bersama simbah. Tidur dengan baju hangat yang disiapkan simbah. Obat nyamuk yang dibakarkan simbah untuk saya. Makanan yang selalu disimpan di getong beras untuk saya. Tertawa terkekeh-kekeh saat nonton tivi. Menggosok punggung simbah dengan batu apung. Cerita-serita jaman perjuangan versi beliau. Ciumannya menyambut saya pulang. Wajah kecewanya karena saya selalu terburu-buru pulanh ke Jogja. Sayur gori favorit saya. tempe bacem buatannya. Menyuapi adik saya di rel kereta. Pijatannya saat saya sakit. Wajah bahagianya pas saya godain. Cubitannya kalo saya susah bangun. Tangis sedihnya saat saya pergi. Banyak sekali yang simbah saya lakukan untuk saya. Dan saya belum berbuat apa-apa untuk beliau. Terlambat memang kata yang pantas disesali.
Tapi mungkin itu keputusan paling baik yang Tuhan buat untuk Simbah. Mungkin Tuhan kasihan melihat betapa susahnya Simbah saya timpuh saat shalat. Atau kedinginan saat mengambil air wudlhu dari padasan. Saya tahu Tuhan pasti memberi tempat yang baik untuk Simbah saya. Tempat yang lapang, terang, lembut, beralas beledu. Tuhan pasti juga sudah menyembuhkan rematiknya. Memberinya air wudlhu yang hangat. Makanan bergizi. Acara TV favoritnya. Apa saja yang simbah saya butuhkan. Tuhan pasti ingin simbah saya sholat dengan sempurna di sampingnya. Jadi Dia mengambilnya cepat-cepat.
Ah, seharusnya saya tidak terlalu sedih. Simbah simak saya yang baik itu pasti mendapat tempat yang baik. Saya yakin. Karena Beliau wanita paling baik yang pernah saya kenal. ketulusan. Keiklasan. Nrimo. Perjuangan. Rendah hati. Mau berkorban. Taat. Jujur. Dan semua sifat baik yang saya tau. Mungkin beliau memang sudah meninggal. Tapi saya tahu, dia tidak pernah mati. Dia selalu ada di hati saya. Nasehatnya masih ada. Lagu-lagu yang diajarkannya masih terkenang. Senyum tuanya masih ada. pijatannya masih terasa. Saya bangga sekali kecil dan menjadi besar dalam rawatannya.
Dan pertahanan saya benar-benar runtuh senin pagi itu. Saat saya menemui Simbah Simak saya yang sudah tidak bernyawa. Dan segala pemikiran aneh-aneh saya tentang kematian pun tidak saya ingat lagi. Saya hanya ingin menangis.menangis.menangis. Ada banyak emosi yang terlibat. Saya tidak bisa mendefinisikannya satu-satu. Padahal malam itu Simbah Simak saya masih tarawih di masjid. Masih membangunkan orang-orang serumah untuk sahur. Masih sempat puasa.
Saya masih ingat sekali malam simbah menyanyi sampe larut malam. menggulung stagen bersama simbah. Pergi kepasar sebelum Lebaran bersama simbah. Tidur dengan baju hangat yang disiapkan simbah. Obat nyamuk yang dibakarkan simbah untuk saya. Makanan yang selalu disimpan di getong beras untuk saya. Tertawa terkekeh-kekeh saat nonton tivi. Menggosok punggung simbah dengan batu apung. Cerita-serita jaman perjuangan versi beliau. Ciumannya menyambut saya pulang. Wajah kecewanya karena saya selalu terburu-buru pulanh ke Jogja. Sayur gori favorit saya. tempe bacem buatannya. Menyuapi adik saya di rel kereta. Pijatannya saat saya sakit. Wajah bahagianya pas saya godain. Cubitannya kalo saya susah bangun. Tangis sedihnya saat saya pergi. Banyak sekali yang simbah saya lakukan untuk saya. Dan saya belum berbuat apa-apa untuk beliau. Terlambat memang kata yang pantas disesali.
Tapi mungkin itu keputusan paling baik yang Tuhan buat untuk Simbah. Mungkin Tuhan kasihan melihat betapa susahnya Simbah saya timpuh saat shalat. Atau kedinginan saat mengambil air wudlhu dari padasan. Saya tahu Tuhan pasti memberi tempat yang baik untuk Simbah saya. Tempat yang lapang, terang, lembut, beralas beledu. Tuhan pasti juga sudah menyembuhkan rematiknya. Memberinya air wudlhu yang hangat. Makanan bergizi. Acara TV favoritnya. Apa saja yang simbah saya butuhkan. Tuhan pasti ingin simbah saya sholat dengan sempurna di sampingnya. Jadi Dia mengambilnya cepat-cepat.
Ah, seharusnya saya tidak terlalu sedih. Simbah simak saya yang baik itu pasti mendapat tempat yang baik. Saya yakin. Karena Beliau wanita paling baik yang pernah saya kenal. ketulusan. Keiklasan. Nrimo. Perjuangan. Rendah hati. Mau berkorban. Taat. Jujur. Dan semua sifat baik yang saya tau. Mungkin beliau memang sudah meninggal. Tapi saya tahu, dia tidak pernah mati. Dia selalu ada di hati saya. Nasehatnya masih ada. Lagu-lagu yang diajarkannya masih terkenang. Senyum tuanya masih ada. pijatannya masih terasa. Saya bangga sekali kecil dan menjadi besar dalam rawatannya.
September 17, 2008
Tenang, ika
Tenang.Tenang.Tenang.sabar.sabar.ambil nafas dalam-dalam. pejamkan mata. dan anggap saja semuanya mimpi. Semuanya akan berjalan dengan ok, kalo kamu berfikir bahwa semuanya akan baik-baik saja.baik-baik saja.baik-baik saja.
::Kata peri kecil warna biru cantik yang masuk ke jendela kamar saya yang tidak tertutup, saat saya di depan komputer. telphon tak berhenti berdering, diburu-buru, dikejar waktu, kaki saya sakit, sebuah batu mengganjal di dada. Dan hampir-hampir airmata saya tumpah.
::Kata peri kecil warna biru cantik yang masuk ke jendela kamar saya yang tidak tertutup, saat saya di depan komputer. telphon tak berhenti berdering, diburu-buru, dikejar waktu, kaki saya sakit, sebuah batu mengganjal di dada. Dan hampir-hampir airmata saya tumpah.
September 12, 2008
Bicycle memories
Tau tidak apa yang saya pikirkan ketika saya mendengar kata sepeda?
Saya selalu ingat simbah kakek saya. Setiap pulang sekolah, saya selalu diajaknya memancing ke berbagai kali di kampung saya. Kami selalu naik sepeda. Berdua saja. Jangan kira saya suka memancing. Saya tidak terlalu suka duduk merenung di pinggir kali sambil menunggui ikan memakan umpan kami satu-satu. Saya tidak terlalu sabar dalam hal itu. Biasanya saat simbah kakek saya memancing, saya lebih suka mencari bunga-bunga rumput untuk dibuat bando. Saya paling suka bagian berangkat dan pulang memancingnya. Saat saya dibonceng simbah kakek saya yang tua, dengan topi belanda putih dan celana buntung, dan saya kecil ada diboncengan, dengan gagang pancing dibahu, tempat ikan di pinggang, serta bando bunga rumput di kepala saya. Ah, saya suka sekali waktu angin sungai menampar-nampar pipi saya, dan suara derit rantai sepeda di sekitar saya, sesekali bel sepeda mbah kakek terdengar, dan bau rumput dimana-mana. Saya suka sekali.
Tau tidak apa yang saya pikirkan ketika saya mendengar kata sepeda?
Saya selalu ingat sahabat-sahabat saya. Saya sering naik sepeda beramai-ramai dengan teman-teman saya, salah satunya adalah teman saya ini. Kami sering berkhayal bahwa kami adalah lima sekawan yang sedang berpetualangan, kami memasuki daerah baru, dimana akan ada banyak penyamun dan perampok disana, dan kamilah yang akan menangkap perampok-perampok itu. Mangkir pramuka dan keliling-keliling naik sepeda adalah kegiatan favorit kami. Apalagi kalo kami menemukan jalan baru. Wuah, rasanya seperti Columbus menemukan Bahama. Waktu itu motto kami adalah, sebuntu-buntunya jalan, pasti bisa dilewati. Oh, bahkan kami sempat mengikrarkan janji persahabatan kami.
Tau tidak apa yang saya pikirkan ketika saya mendengar kata sepeda?
Saya ingat gambar Yogyakarta tempoe Doeloe, yang ditempel di warung bakso favorit saya. Ada gambar Tugu Jogja disana, dikelilingi pengendara-pengendara sepeda di kanan kirinya. Pasti menyenangkan sekali waktu itu, saat sepeda mendominasi jalan, saat suara kring-kring bel sepeda terdengar bersahut-sahutan, saat kita semua bisa saling menyapa dan tos kanan kiri. Tidak ada asap, tidak ada suara klakson menyebalkan bersahut-sahutan. Pasti kita tidak perlu mengenakan slayer kemana-mana.
Tau tidak apa yang saya pikirkan ketika saya mendengar kata sepeda?
Saya ingat foto simbah kakek saya diatas sepeda posnya, dengan 2 kantong hitam menggelembung di kanan kirinya. Saya ingat pulang, dimana saya bisa keliling-keliling naik sepeda dengan adik-adik dan keponakan-keponakan saya. Saya ingat Ibu-ibu membawa keranjang sarat sayuran, yang pergi ke pasar pagi-pagi buta. Saya ingat Bapak-bapak penjual beras di dekat stasiun kota saya. Saya ingat phanter, sepeda favorit saya yang setia, yang menemani saya ke kampus, ke kos, ke tempat kerja, kemana-mana. Berdua saja. Saya dan sepeda warna hitam .
Dan berita gembiranya adalah, saya punya sepeda lagi. Bukan sepeda cantik warna biru yang saya lihat di basement saphir Square, sekeras-kerasnya saya menabung, saya pasti tidak tega membelanjakan uang sebanyak itu untuk beli sepeda. Sepeda saya tak kalah cantik. Berwarna merah, dengan bel kecil lucu berwarna perak, dengan 5 gigi yang bisa dipindah-pindah. Genjotannya enteng, Dan sedelnya empuk. Aduh, saya suka sekali menaikinya dan angin menampar-nampar pipi saya. Menggelembungkan baju saya. Mengacak-acak rambut saya. Dan kaki saya serasa enteng sekali waktu mengayuh pedalnya. Putaran jeruji rodanya terasa nyaman sekali di hati, Saya sepeti terbang dalam putaran rodanya, aman, nyaman, damai. Apalagi ketika saya merentangkan kedua tangan saya, dan angin menyapu tubuh saya yang berkeringat. Menerbangkan bau rumput dan daun-daun yang luruh. Rasanya sungguh bebas, saya seperti menghilang, menjadi kabut, dan bersatu dengan angin……….
Saya selalu ingat simbah kakek saya. Setiap pulang sekolah, saya selalu diajaknya memancing ke berbagai kali di kampung saya. Kami selalu naik sepeda. Berdua saja. Jangan kira saya suka memancing. Saya tidak terlalu suka duduk merenung di pinggir kali sambil menunggui ikan memakan umpan kami satu-satu. Saya tidak terlalu sabar dalam hal itu. Biasanya saat simbah kakek saya memancing, saya lebih suka mencari bunga-bunga rumput untuk dibuat bando. Saya paling suka bagian berangkat dan pulang memancingnya. Saat saya dibonceng simbah kakek saya yang tua, dengan topi belanda putih dan celana buntung, dan saya kecil ada diboncengan, dengan gagang pancing dibahu, tempat ikan di pinggang, serta bando bunga rumput di kepala saya. Ah, saya suka sekali waktu angin sungai menampar-nampar pipi saya, dan suara derit rantai sepeda di sekitar saya, sesekali bel sepeda mbah kakek terdengar, dan bau rumput dimana-mana. Saya suka sekali.
Tau tidak apa yang saya pikirkan ketika saya mendengar kata sepeda?
Saya selalu ingat sahabat-sahabat saya. Saya sering naik sepeda beramai-ramai dengan teman-teman saya, salah satunya adalah teman saya ini. Kami sering berkhayal bahwa kami adalah lima sekawan yang sedang berpetualangan, kami memasuki daerah baru, dimana akan ada banyak penyamun dan perampok disana, dan kamilah yang akan menangkap perampok-perampok itu. Mangkir pramuka dan keliling-keliling naik sepeda adalah kegiatan favorit kami. Apalagi kalo kami menemukan jalan baru. Wuah, rasanya seperti Columbus menemukan Bahama. Waktu itu motto kami adalah, sebuntu-buntunya jalan, pasti bisa dilewati. Oh, bahkan kami sempat mengikrarkan janji persahabatan kami.
Tau tidak apa yang saya pikirkan ketika saya mendengar kata sepeda?
Saya ingat gambar Yogyakarta tempoe Doeloe, yang ditempel di warung bakso favorit saya. Ada gambar Tugu Jogja disana, dikelilingi pengendara-pengendara sepeda di kanan kirinya. Pasti menyenangkan sekali waktu itu, saat sepeda mendominasi jalan, saat suara kring-kring bel sepeda terdengar bersahut-sahutan, saat kita semua bisa saling menyapa dan tos kanan kiri. Tidak ada asap, tidak ada suara klakson menyebalkan bersahut-sahutan. Pasti kita tidak perlu mengenakan slayer kemana-mana.
Tau tidak apa yang saya pikirkan ketika saya mendengar kata sepeda?
Saya ingat foto simbah kakek saya diatas sepeda posnya, dengan 2 kantong hitam menggelembung di kanan kirinya. Saya ingat pulang, dimana saya bisa keliling-keliling naik sepeda dengan adik-adik dan keponakan-keponakan saya. Saya ingat Ibu-ibu membawa keranjang sarat sayuran, yang pergi ke pasar pagi-pagi buta. Saya ingat Bapak-bapak penjual beras di dekat stasiun kota saya. Saya ingat phanter, sepeda favorit saya yang setia, yang menemani saya ke kampus, ke kos, ke tempat kerja, kemana-mana. Berdua saja. Saya dan sepeda warna hitam .
Dan berita gembiranya adalah, saya punya sepeda lagi. Bukan sepeda cantik warna biru yang saya lihat di basement saphir Square, sekeras-kerasnya saya menabung, saya pasti tidak tega membelanjakan uang sebanyak itu untuk beli sepeda. Sepeda saya tak kalah cantik. Berwarna merah, dengan bel kecil lucu berwarna perak, dengan 5 gigi yang bisa dipindah-pindah. Genjotannya enteng, Dan sedelnya empuk. Aduh, saya suka sekali menaikinya dan angin menampar-nampar pipi saya. Menggelembungkan baju saya. Mengacak-acak rambut saya. Dan kaki saya serasa enteng sekali waktu mengayuh pedalnya. Putaran jeruji rodanya terasa nyaman sekali di hati, Saya sepeti terbang dalam putaran rodanya, aman, nyaman, damai. Apalagi ketika saya merentangkan kedua tangan saya, dan angin menyapu tubuh saya yang berkeringat. Menerbangkan bau rumput dan daun-daun yang luruh. Rasanya sungguh bebas, saya seperti menghilang, menjadi kabut, dan bersatu dengan angin……….
Langganan:
Postingan (Atom)